
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 kurang sepuluh menit.
Wulan keluar dari kamar, langsung menuju ruang tengah. Ia duduk bersandar di samping Irma yang sedang bermain bersama Zaka.
“Kak Wulan kenapa?” tanya Irma.
“Aku demam ga sih ini?” tanya Wulan sambil menaruh tangan Irma di dahinya.
“Agak anget sih,”
“Hatchi, Hatchi,” bersin Wulan semakin menjadi.
“Mau irma ambilkn obat?”
“Jangan, biasa nya di bawah istirahat sembuh. Pasti karena kecapean.”
“Tapi kalau makin parah gimana?” ucap Irma.
“Mudahan nggak makin parah,” ucap Wulan.
Wulan duduk di kursi semakin meringkuk, sepertinya ia mulai meriang.
“Jika tante dan paman nggak ke sini, aku pengen nya tidur. Ngantuk banget,” ucap Wulan sambil merebahkan kepalanya di pegangan sofa. Ia mulai menutup matanya.
Saat Arkan tiba, Wulan sudah terlelap.
“Kak,” Irma hendak membangunkan Wulan tapi Arkan melarangnya.
“Sshhhtttt, ga usah di bangunin. Biar saja di tidur bentar,” ucap arkan pada Irma yang sedang duduk tak jauh dari Wulan.
Saat itu, Jenny dan Richard ikut duduk di sofa di ruangan itu tak jauh dari Wulan tidur. Empat buah kotak yang mereka bawa di letakkan di atas meja.
Mata Jenny, langung tertuju pada anak kecil berusia 2,5 tahun yang sedang duduk bermain di atas lantai.
“Irma masuk dulu, Irma akan panggil kakek ke sini,” ucap Irma kemudian meninggalkan ruangan itu.
“Mas, ini anak yang Wulan cerita kemarin. Anak nya Brian,” bisik Jenny di telinga Richard.
“Pantesan agak mirip,” sahut Richard.
“Zaka,” panggil Arkan.
“Ayo salim oma dan opa,” ucap Arkan.
Mata jenny membulat karena ucapan Arkan yang begitu blak blakan.
“Oma, kamu suruh dia panggil mama oma?” ucap Jenny.
“Iya ma, masa harus panggil tante? Kalau Zaka itu cucu paman Johan. Ya cucu mama juga kan?”
“Tapi mama belum terlihat seperti oma oma kan mas?” ucap Jenny.
“Zaka,” Arkan mendekati Zaka kemudian menaruh nya di atas pangkuannya.
“Zakaria Junaidi Susanto,” panggil Arkan.
“Susanto? Beneran namanya itu?” tanya Jenny lagi.
“Nggak ma, Arkan iseng,” ucap Arkan sambil terkekeh. “Namanya Zakaria Junaid.”
“Cih, suka jahilin mama,” desis Jenny sambil memasang wajah cemberut.
Sambil mendorong kursi roda, kakek pun tiba disitu.
“Paman,” Jenny menghampiri kakek kemudian mencium tangannya, kemudian menyusul Richard melakukan hal yang sama.
“Wulan,” panggil kakek.
“Kok malah tidur disitu. Wulan.”
__ADS_1
“Biar saja kek, Wulan mungkin kecapean. Masih jet lag. Soalnya di Swiss sekarang sudah hampir tengah malam. Sudah jam tidurnya,” ucap Jenny dengan senyuman.
Selang beberapa saat, bi Indun keluar dengan beberapa cemilan di atas nampan.
“Bi, ini juga ada kue yang saya pesan dari langganan toko kue saya,” ucap Jenny seraya menyerahkan empat kotak kue kepada bi Indun.
“Baik, Terima kasih. Akan bibi hidangkan,” sahut bi Indun.
“Paman, Jenny membawakan hadiah untuk paman. Tapi hadiahnya nggak mahal, hanya,” ia mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya kemudian menyerahkan ke tangan kakek.
“Terima kasih, tapi saya tidak membutuhkan hadiah seperti ini.” ucap Kakek.
Wajah jenny langsung terdiam.
“Paman, itu hadiah khas dari Swiss. Menggunakan kayu lokal. Proses pembuatan memakan waktu bertahun tahun untuk satu tongkat. Jadi tongkat itu sangat ringan. Dan langka di temukan, pemesanan butuh waktu yang lumayan lama,” ucap Richard berusaha mencairkan suasana.
Kakek mendorong kotak kayu itu ke hadapan Richard dan jenny. “Justru semakin mahal harga nya aku semakin tidak bisa terima,” ucap kakek.
“Itu nggak mahal kok, harga nya sangat murah,” imbuh Jenny.
“Nggak usah, saya tidak butuh tongkat lagi. Saya sekarang harus menggunakan kursi roda.” Tolak kakek.
“Hatchi, Hatchi.” Suara bersin Wulan berulang ulang.
Saat bi Indun mengantar minuman, ia langsung membangunkan Wulan.
“Wulan, bangun lah. Atau kalau mau tidur sekalian pindah ke kamar Lan,” ucap bi Indun dari belakng sandaran kursi.
“Nggak apa bi,” ucap Arkan.
Mendengar suara Arkan, perlahan Wulan membuka matanya.
“Mas Arkan,” kepalanya menoleh ke sekeliling. Tante Jenny dan paman Richard juga sudah di situ.
“Maaf paman, tante, Wulan ketiduran. Kok ga dibangunin dari tadi mas?”
“Nggak apa, pengaruh jet lag.” Imbuh Jenny.
Wulan langung menoleh ke arah kakek yang posisi nya saat itu ada di belakng nya.
Tidak ada senyuman di wajah sang kakek. Bahkan kakek tidak melirik sedikitpun ke arah tante Jenny dan paman Richard. Susana sempat tenang seketika.
Tante Jenny mengambil gelas berisi minuman hangat yang di hidangkan bi Indun.
“Paman Hendy, tujuan kami ke sini karena kami ingin melamar Wulan untuk anak kami Arkan. Jika paman mengijinkan, mereka bisa secepatnya menikah. Sebelum…”
Tatapan kakek tertuju kepada Arkan. “Sebelum apa? Arkan sudah tau cucu kakek ini jelek dan kampungan, apa lagi dia seorang janda. Janda dari sepupunya sendiri, Apa dia tidak memliki niat lain untuk menikahi Wulan?” tanya Kakek blak blakan.
“Kakek kok gitu, mas Arkan sayang sama Wulan kok.” Sela wulan.
“Aku tidak punya niat lain terhadapnya kek, aku benar benar menyayangi Wulan, dan ingin menikah dengannya.” jawab Arkan.
“Saat Wulan menikah dan masuk ke keluarga kalian, aku mengira ia sudah berada di tangan yang tepat. Nyatanya aku salah. Aku sudah melepaskan cucuku ke sarang ular berbisa,” ucap kakek.
Mata Wulan menatap ke arah kakek sambil berkedip dan memasang wajah memelas. Melihat hal itu kakek langung membuang muka ke arah lain.
“Kakek, bukan kah kakek sudah merestui hubungan kami, sekarang kakek berubah pikiran lagi?!”
“Kapan? Kapan kakek mengatakan itu?”
Saat itu dari arah belakang bi Indun keluar dengan piring berisi kue yang baru saja di bawa Jenny. Kue kampung yang sebagian besar kue kesukaan kakek di hidangkan di atas meja.
“Pasti lemper dari tante kan?” tanya Wulan.
Ia langung mecomot satu. Kemudian membukanya.
“Kakek mau?”
“Kakek masih kenyang.”
__ADS_1
“Bukannya kakek paling suka kue ini? Yang di bakar seperti ini sudah jarang di Jakarta kek. Rata rata di oven. Aroma nya aja beda,” ucap Wulan yang terus berusaha mencairkan hati kakeknya.
Saat hendak memakan, Aroma ikan dari lemper menyeruak masuk hidung Wulan.
“Ueekkk,”
“Ueek,”
Wulan langsung berlari ke arah dalam rumah menuju sebuah wastafel yang letaknya tak jauh dari meja makan. Arkan mengikutinya dari belakang.
“Kamu kenapa?” tanya Arkan.
“Mual mas,”
“Kamu sih, pake acara ngecat segala. Bukannya istirahat,” protes Arkan sambil memijit mijit punggung leher Wulan.
Setelah lebih enakan Wulan dan Arkan kembali ke kursi depan.
“Udah enakan?” tanya tante Jenny.
Wulan mengangguk.
“Bi bawa ke belakng kue kue nya bi, Wulan mau muntah lagi,” ucap Wulan.
“Yang aku takutkan seperti nya terjadi mas,” ucap Jenny pelan di telinga Richard.
“Kayak nya Wulan hamil,” lanjut Jenny.
“Mama, sembarangan.” protes Richard.
“Beberapa hari terakhir kerjaan nya tidur, selama di pesawat dia tidur mulu.”
“Trus gimana dong?” tanya Richard.
“Arkan anak mu sih, keras kepala, gimana ga bunting tiap hari di pepetin terus Wulan nya. Kalo mama ga suru dia pulang duluan ke sini mana dia mau tinggalkan Wulan di Swiss?!”
“Mas, lihat wajah paman. Siap siap saja, kita akan di usir dari sini.”
Setelah bi Indun mengangkat makanan dari atas meja, wajah Wulan terlihat sedikit lega.
“Kak?” Wulan menyerahkan sebotol minyak telon milik Zaka ke tangan Wulan.
“Gimana sudah enakan?” tanya Arkan.
“Iya, sudah mendingan. Wulan heran aja, akhir akhir ini aroma bawang pada makanan membuat Wulan pengen muntah,” ujar nya.
“Irma juga seperti itu kak saat hamil Zaka. Irma ga suka semua aroma makanan.” sahut Irma dari dekat Zaka. Saat itu ia hendak membawa Zaka masuk ke dalam.
“Hamil?” pekik Wulan.
Ia kembali menghitung tanggal. Dan memang dia belum juga menstruasi. Tanggal menstruasi nya sudah lewat jauh.
“Kok akau nggak berpikir ke sana? Apa aku beneran hamil?”
Mata Wulan langsung menatap ke arah kakek.
“Ehm,” dehem kakek.
“Siapa yang menghamili kamu? Kamu benaran hamil atau?” tanya kakek.
“Paling hanya masuk angin, perubahan cuaca dan iklim biasanya gampang bikin masuk angin,” sanggah Jenny.
.
.
.
TBC…
__ADS_1