
Selang beberapa saat Wulan turun dengan sebuah koper sedang di tangan nya. Bi Narsih pun bergegas menuju kamarnya mengambil beberapa potong pakaian.
“Nggak usah bawa barang terlalu banyak, bawa yang pnting saja,” ucap Arkan dengan senyuman lembut menghiasi wajahnya.
“Hanya beberapa barang penting yang aku bawa mas, ucap Wulan.
Arkan menunggu Wulan di lantai dasar, sambil menyambut tangannya setelah Wulan setelah tiba di hadapannya.
“Berikan kopernya,” pinta Arkan. Ia pun membawa koper Wulan terlebih dahulu ke dalam mobil.
Yang di tunggu akhir nya muncul, bi Narsi! Ia dengan segala kerempongan khas ibu ibu dengan segala macam barang dalam sebuah tas jinjing yang lumayan besar.
“Ayo bi. Kita harus segera pergi dari sini,” ucap Arkan.
Mereka baru saja akan keluar dari rumah itu, tiba tiba Brian muncul dari arah pintu.
“Kalian akan kemana?” tanya Brian dengan mata menyala dan penuh emosi.
Arkan tetap berjalan maju menggenggam tangan Wulan. Ia mantap dan berani menghadapi Brian kakak sepupunya sendiri.
“Aku akan membawanya pergi dari sini,” tanggap Arkan seolah tak peduli siapa Brian.
“Berhenti,” ucap Brian lantang. Mata nya membelalak menampakkan ketidak senangan nya dengan sikap Arkan.
Brian maju menghampiri Wulan kemudian menarik tangan wanita itu dari genggaman Arkan.
“Tidak ada yang bisa membawa pergi istriku dari rumah ini.”
Arkan tak mau kalah. Ia merebut Wulan kembali. “Aku akan membawanya pergi, Wulan akan mengurus perceraian nya dengan mas segera,” ucap Arkan.
Tangan Brian langsung menggenggam kerah baju Arkan. “Lepaskan istriku, tidak ada yang akan bercerai di rumah ini. Kamu pergi dari sini, kamu tidak di terima di rumah ini,” ucap Brian kemudian melayangkan sebuah pukulan ke wajah Arkan.
Tak mau kalah Arkan pun membalas satu pukulan ke wajah Brian.
“Aku akan membawanya, mas tidak bisa mengurung nya terus seperti tawanan. Mas hanya menyiksa nya jika terus di rumah ini.”
“Dia istriku, itu hak ku. Mau mengurungnya tau tidak itu urusanku. Angkat kaki mu dari rumah ini, kamu tidak di terima lagi di rumah ini,” tegas Brian.
Ia kemudian menarik tangan wulan dan membawanya menuju tangga. Namun belum tiba di tangga Arkan sudah menghalang Brian dengan sebuah pukulan.
__ADS_1
Perkelahian hebat terjadi antara dua pria itu, mereka bertarung saling pukul dan tendang. Wulan kebingungan dia mulai menangis histeris memohon agar kedua pria itu berhenti berkelahi.
Darah menyucur dari sudat bibir Arkan, demikian juga Brian, pelipis kirinya pecah hingga mengeluarkan darah.
Sebelum terjadi sesuatu dengan kedua pria itu Wulan akhirnya angkat suara.
“Hentikan, hentikan! Tuan Brian, aku yang memutuskan pergi dari sini. Mas Arkan tidak bersalah sedikitpun,” ucap Wulan tegas.
“Tuan Brian, istrimu sendiri memanggilmu dengan sebutan tuan? Apa kamu binatang hingga memperlakukan dia seperti itu?” Arkan yang emosi kembali mendaratkan pukulan kepada Brian.
Melihat kedua pria itu tak bisa berhenti Wulan tak bisa berbuat banyak selain masuk di antara keduanya. “Hentikan!” ucap Wulan seraya merentangkan kedua tangannya.
“Aku tidak akan pergi ke mana mana, aku akan tinggal disini. Kalian bisa berhenti sekarang?!” ucap Wulan.
Ia menatap Arkan dengan tatapan memohon. Hidung pria itu berdarah, dirinya tidak bernilai sedikitpun hingga membuat Arkan menerima pukulan itu hanya agar bisa membawa dirinya pergi dari situ.
“Mas, Wulan akan tetap tinggal. Mas pulanglah, jangan berkelahi lagi,” pinta Wulan dengan penuh iba.
Arkan menggeleng. “Nggak, aku harus membawa kamu pergi dari sini,” ucap Arkan. Ia maju beberapa langkah mengampiri Wulan, menggenggam tangan wanita itu dan membawanya pergi dari situ.
Seketika tendangan Brian mendarat sempurna di punggung Arkan. Arkan tanpa persiapan langsung terlempar beberapa meter ke depan, ia terjerembab jatuh membentur meja dan jatuh ke lantai dalam keadaan tak berdaya.
Brian menghempaskan tubuh Wulan ke atas ranjang.
“Aku nggak menyangka dia akan menyukaimu seperti ini. Aku terlalu meremeh kan dirimu,” ucap Brian sembari membuka satu persatu kancing bajunya.
“Tidak tuan, jangan lakukan ini,” ucap Wulan memohon.
Sekali Wulan memohon, Brian akan menampar Wulan sekali. Wulan terus bergerak mundur hingga ke ujung ranjang. Namun dalam sekali tarikan tubuh Wulan kini sudah terlentang di atas ranjang.
“Jangan tuan, aku mohon jangan lakukan ini,” ucap Wulan dengan lirih.
Lagi lagi tamparan mendarat di pipi Wulan.
“Aku akan melakukan perintah tuan, tapi jangan lakukan ini. Tuan aku mohon,” pinta Wulan sambil terus memohon. Namun apa yang di dapatnya, sebuah pukulan lagi lagi mendarat di tubuh nya.
“Aghhhh, sakit tuan. Lepaskan,” rengek Wulan sambil berusaha lari dari cengkraman Brian.
Brian berusaha membuka baju Wulan. Perlawanan Wulan membuatnya kewalahan hingga akhirnya ia harus merobek paksa pakaian yang di kenakan wulan Saat itu.
__ADS_1
“Kamu harus melayaniku, kamu adalah istriku.” ucap Brian yang mulai di lingkupi naf su bi rahi.
“Tuan, tidak tuan,” teriak Wulan sambil berusaha menendang Brian.
Wulan menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya, sebagian bajunya yang sobek di lempar Brian ke atas lantai.
Sesekali Brian menarik rambut Wulan, menampar bagian manapun yang dilihatnya. Tak puas dengan tamparan, Brian mengambil cambuk dari dalam laci kemudian mencambuk tubuh Wulan. Wulan hanya bisa menjerit kesakitan. Semakin Wulan menjerit, Brian akan semakin bergai rah.
“Tuan jangan, aku akan mengikuti perintah mu. Aku akan patuh,” Wulan berusaha lari, menendang, memukul, namun bibir Brian kini mulai menciumnya dengan paksa.
“Jika kamu sudah ternoda, Arkan akan membuang mu istriku,” ucap Brian sambil menampar pinggul Wulan.
“Tapi di antara aku dan mas Arkan tidak ada hubungan apa pun. Jangan lakukan ini,” Wulan terus meronta, sambil menagis ia terus menghindar. Namun dengan kekuatan Brian yang begitu besar, Wulan hanya bisa pasrah saat Brian melahap bagian leher nya dengan bringas. Perlahan jilatan itu mulai merambah ke arah dada. Wulan menangis semakin menjadi. Ia terus berdoa dalam hati agar seseorang datang menolong dirinya.
Doa Wulan seolah terkabul, Arkan sudah berdiri di belakang Brian. Arkan begitu marah saat melihat Brian memaksa Wulan melakukan hal itu. Ia menarik tubuh Brian dari atas tubuh Wulan. Ia memukul Brian berkali kali. Emosinya membuat ia kalap mata. Sebuah kursi hampir saja di hantam ke tubuh Brian yang saat itu sudah terjerembab ke atas lantai.
“Tuan!” larang bi Narsih yang baru saja masuk ke kamar itu. “Tuan bisa membunuhnya. Bi Narsih mengambil kursi dari tangan Arkan dan membujuknya. “Sekarang bawa nyonya pergi dari sini tuan, cepatlah.”
Arkan berbalik badan menatap Wulan yang tengah terisak di atas ranjang, ia hanya mengenakan pakaian dalam terpuruk sedemikan rupa sambil berusaha menutup tubuhnya dengan kedua tangannya sendiri.
Arkan mengampiri Wulan kemudian memeluknya.
“Maafkan aku,” ucap nya singkat. Arkan ikut menangis bersama Wulan, ia tau penderitaan apa yang sudah di alami wanita itu. Dan hatinya teriris melihat kondisi Wulan saat itu.
Arkan mendekap Wulan erat kedalam pelukannya. Sesekali ia mencium dahi wanita itu. Beberapa kecupan sekilas mendarat di mata Wulan yang dipenuhi air mata.
“Aku tak ingin melihat mu menangis seperti ini. Aku janji hal ini tak akan terjadi lagi. Selanjutnya hanya akan ada senyuman di wajah cantik mu,” lanjut Arkan.
Wulan mengangkat kepalanya setelah mendengar ucapan Arkan. Ia mendengar ketulusan di sana. Terlebih setelah ia menatap mata pria yang ikut menangis bersamanya saat itu.
Tanpa sadar bibir Wulan mendarat di bibir Arkan. Arkan membalas hal mengejutkan itu dengan lebih antusias. Tak terasa seperti ciuman bergairah, namun lebih seperti ciuman saling percaya, Wulan telah menyerahkan hati dan perasaan nya untuk Arkan saat itu juga.
.
.
.
TBC…
__ADS_1
Happy reading Next chapter. Jamin ga ada air mata lagi 😊