Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Perasaan Yang Terpendam II-


__ADS_3

Sudah tujuh hari Wulan berada di luar kota. Setiap hari ia terus berpindah dari kota satu ke kota lainnya dimana terdapat pabrik milik Wina Graha korp. Wulan terus mengumpulkan bukti korupsi Brian disana, ia terus mencari informasi dari berbagai sumber untuk di jadikan bukti kuat bahwa kerugian pabrik pabrik tersebut adalah kesengajaan Brian.


Wulan tak bisa tinggal diam, bagaimana pun kakek nya masih memliki saham di perusahan itu. Tante Jenny dan Arkan juga masih termasuk pemilik perusahan. Brian tidak bisa seenaknya mengatur perusahan atas kemauannya sendiri.


Sore hari itu Wulan harus terbang kembali ke Jakarta. Dengan segala bukti yang ada dia harus meminta penjelasan dari Brian. Untuk itu ia butuh bantuan Arkan dan tante Jenny serta kakek nya sendiri.


Pesawat yang ditumpanginya tiba di bandara Soetta pukul 17.45. Sosok Renata sudah menunggu nya persis di depan pintu keluar penumpang.


“Rena,” panggil Wulan sambil terus berjalan keluar menghampiri Renata.


Dengan mata berbinar Renata memeluk sahabatnya itu. “Surprice,” ucap Renata lantang. Dari belakangnya Sarah muncul secara tiba tiba.


“Sarah,” pelukan berpindah ke arah Sarah sahabat nya. “Kapan tiba?” lanjut Wulan bertanya.


“Tadi, satu jam lebih cepat dari pesawat kamu,” jawab Sarah.


“Koper kamu mana? Ayok?” ajak Wulan yang ingin buru buru pergi dari situ.


“Wait,” ucap Sarah kemudian mengangkat telponnya. “Abang sudah sampai mana?” tanya Sarah kepada seseorang dari ponselnya.


“Ok Sarah tunggu.”


“Lan, Sarah masih nungguin bang Aldy, mobilnya udah di gapura bandara,” ucap Sarah.


“Yaelah, jadi kamu ke sini karena ada kencan? Bukan karena kangen diriku?” canda Wulan dengan wajah cemberut.


“Kangen kamu juga tapi sekalian ketemu bang aldy juga hehe,” Sarah terkekeh kemudian memeluk Wulan.


“Mas Arkan juga masih otw ke sini, kita bareng aja,” ucap Renata.


“Mas Arkan?”


Renata mengangguk. “Nomor kamu mati jadi dia ke sini setelah menghubungi aku,” ucap Renata kemudian berbisik di telinga Wulan. “Hari ini ulang tahun Sarah,” ucap Renata.


“Ah bener,” jawab Wulan sembari memukul jidatnya. Seminggu yang lalu dirinya dan Renata memang berencana mengadakan surprice party untuk sahabatnya itu. Jangan jangan kedatangan Sarah adalah rencana Renata.


Selang beberapa saat Arkan tiba terlebihdahulu. Ia langsung menarik koper dari tangan Wulan.


“Ayok,” ajak nya.


“Mas, Sarah masih menunggu pacarnya,” ucap Wulan menahan Arkan.


Arkan berbalik badan menatap Wulan dan Renata serta seorang wanita lagi disamping mereka.


“Teman baru lagi?” batin Arkan.


“Mas perkenalkan dia Sarah, teman Wulan dan Renata,” lanjut Wulan.


Sarah terlebihdahulu menjulurkan tangan nya kepada Arkan. “Halo mas Arkan,” ucap Sarah sedikit manjah.


“Arkan,” jawab Arkan sembari menjabat tangan Sarah si gadis mungil yang terlihat masih berumur 15 tahun.


Tak berapa lama pria yang di tunggu Sarah pun tiba.


“Bang Aldy,” teriak Sarah pada seorang pria yang sedang mencari cari keberadaan mereka. Sarah langsung menghampiri pria tersebut.

__ADS_1


Mata Wulan dan Renata terbelalak. Pria yang ditunggu Renata adalah Pria muda berusia sekitar 20 tahun.


Tangan Renata mulai mencuil cuil lengan Wulan. “Ga salah orang nih?” tanya Renata.


“Katanya abang, kirain yang bakal muncul adalah abang abang?!” lanjut Wulan yang ekspresinya masih menganga menatap Sarah dan kekasih barunya.


“Kenapa? tanya Arkan yang kini kebingungan melihat tingkah Wulan dan Renata.


“Kaget aja mas?” jawab Wulan sambil berbisik.


“Wulan, Rena, kenalkan ini Aldy. Bang, ini Renata dan itu Wulan. Mereka temen paling dekat Sarah. Dan itu Mas Arkan,” ucap Sarah memperkenalkan mereka satu persatu.


“Haloo,” ucap Renata dan Wulan hampir bersamaan.


Setelah perkenalan, Arkan langsung berjalan membawa koper Wulan. “Ayok,” ajak Arkan lagi.


“Mas Arkan,” panggil Wulan lagi.


“Kita makan malam bareng mereka mas,” ucap Wulan sembari menyusul Arkan.


“Kenapa harus bareng, temen kamu dateng ama pacarnya,” sahut Arkan.


“Renata sudah menyiapkan pesta kejutan untuk Sarah, hari ini ulang tahunnya,” jelas Wulan.


Arkan berhenti mendadak.


“Bugh,” suara Wulan menabrak koper ditangan Arkan.


“Auhghh, Mas Maaf,” ucap Wulan sembari meringis kesakitan.


Arkan berbalik badan menatap Wulan yang sedang memegang lututnya.


Arkan hendak mengusap lutut Wulan namun niatnya itu di urungkan.


“Alamatnya dimana? Kita langsung ke sana,” ucap Arkan.


“Bentar mas,” Wulan langsung berbalik berlari menghampiri Renata. “Ayok Rena, ikut kami,” ajak Wulan.


“Aku kan bawa mobil sendiri!” ucap Renata.


“Loh jadi kita jalan masing masing?!” ucap Wulan.


“Ya bagus, aku ga jadi obat nyamuk kalian berdua,” ujar Renata.


“Jadi kita nongkrong dimana Lan?” tanya Sarah kemudian berjalan mendekati Wulan.


“Makan dimana? aku nggak tau,” ujar Wulan.


“Sayang, kamu mau makan apa? Makanan tradisional? Masakan korea? Barat? Italy?” tanya Sarah mesra pada pacar muda nya itu.


“Teraerah kamu aja sayang biar aku yang traktir,” ujar kekasihnya itu sambil mencium dahi Sarah.


“Waooo, silau. Main nyosor aja,” gumam Renata dengan wajah takjub.


“Mas Arkan mau makan dimana?” teriak Renata pada Arkan yang masih berdiri jauh dari mereka.

__ADS_1


Wulan menatap Arkan sambil tersenyum. “Mas Arkan suka makan apa?” canda Wulan dengan nada manjah mengikuti gaya Sarah.


Arkan menatap Wulan. “Kita makan di Skye Thamrin,” sahut Arkan.


“Oke kita ke Skye, ketemu disana jam 7 yah gaes,” ucap Renata.


“Sampai jumpa dua jam lagi Wulan, Rena,” pamit Sarah kepada Wulan dan Renata kemudian pergi terlebih dahulu.


“Bye Ren, hati hati dijalan.”


“See ya.”


Wulan menghampir Arkan. “Mas lagi nggak sibuk? Padahal aku bisa aja pulang bareng Renata.”


Arkan langsung menggenggam jemari Wulan. Ia menuntun Wulan menyebrangi jalan menuju parkiran. Bahkan setelah tiba di parkiran arkan masih enggan melepaskan tangannya itu.


Hingga tiba di mobil sedan hitam yang sedang terparkir. Arkan membukakan pintu mobil untuk wulan masuk kemudian membawa kopernya ke bagasi mobil.


Wulan duduk diam dengan canggung.


“Mas Arkan kenapa? Perasaan ku kok jadi nggak enak! Saat bicara di telpon biasa aja, sekarang kok terasa lain, bukan seperti biasanya mas Arkan.”


Begitu Arkan masuk ke dalam mobil, suasana makin mencekam. Wulan bahkan tidak berani menatap ke arah Arkan.


“Gimana kabar kamu? Seminggu di luar kota betah?” tanya Arkan.


Wulan hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Arkan mulai sibuk dibalik kemudi kendaraan. Matanya fokus menghadap lalu lalang kendaraan di depan.


“Berkas berkas yang kamu bawa, serahkan kepadaku. Jika Brian tau ada di tangan mu, bisa bahaya,” ucap Arkan.


“Mas, jika semua pabrik sepakat melapor ke pihak berwajib maka seharus nya Mas Brian sudah bisa di proses pihak hukum. Tapi samapi sekarang ini semua orang seperti nya takut,” ucap Wulan.


“Jika kita laporkan hal ini ke kepolisian para Manager pabrik itu akan ikut terseret ke kantor polisi, tapi jika kita bawa hal ini ke dewan direksi perusahan maka jabatan Brian akan terancam. Dia tidak pantas menduduki jabatan CEO karena sudah memgambil keputusan sendiri tanpa sepengetahuan kita,” ujar Arkan.


“Tapi, harga saham perusahan terus naik, skala bonafit perusahan terus meningkat, harga saham menembus pasar dunia dan banyak terjual di bursa efek dunia. Nggak mudah menggeser posisi mas Brian saat ini,” ujar Wulan.


“Maka kamu harus menceraikan nya, menikah lah dengan ku. Gabungkan saham kita dan jatuhkan Brian,” ucap Arkan


Wulan tertegun.


“Me menikah?” gumam Wulan.


Otak nya belum bisa mencerna pernikahan dirinya dengan Arkan. Menikah lagi dengan pria yang sudah dianggap kakak baginya?


Selama ini Wulan memang sedang mencari alasan untuk bercerai dari Brian, namun bukan untuk menikah lagi, apalagi menikahi sepupu Brian. Bukan kah itu terlalu konyol jika setelah bercerai ia masih harus hidup dalam lingkungan keluarga Susanto?


Wulan menatap Arkan.


“Ahh mungkin saja mas Arkan sedang bercanda dengan ku!”


.


.

__ADS_1


.


TBC…


__ADS_2