
Sepeninggal Wulan dari ruangan itu. Raya menangis tersedu. Hampir setengah jam lama nya ia menangis menatap pintu. Seolah ia sedang menangisi perpisahan.
Setelah perasaannya sedikit tenang Raya berjalan menuju lemari. Ia mengeluarkan sebuah backpack berwarna hitam berisi pakaiannya dari dalam lemari. Ia mengosongkan isi dalam backpack itu, Kemudian berjalan menuju meja dimana laptop dan ponselnya berada. Ia memasukkan laptop dan ponsel itu ke dalam backpack tersebut.
Sebelum Wulan kembali, Raya sudah harus meninggalkan kamar itu. Jika melihat Wulan, Raya mungkin akan menangis, ia tak tega meninggalkan Wulan yang sudah di anggap seperti saudara, adik dan juga sahabat karib nya.
Dan jika Wulan melihat ia menangis Wulan pasti akan curiga. Apalagi Wulan itu wanita yang sangat sensitif, ia sangat peka jika orang yang di sayanginya sedang berniat melakukan sesuatu.
Tanpa pikir panjang, Raya pun meninggalkan Hotel menuju rumahnya di kawasan sari indah. Rumah dimana ia tumbuh besar bersama kedua orang tuanya.
Rumah mewah dan besar itu menjadi terbengkalai sejak setahun terakhir tidak di huni oleh manusia. Dari rumah itu Raya mulai beraksi. Ia mengeluarkan laptop beserta ponsel lamanya dari dalam backpack.
Setelah menghidupkan ponsel, Raya langsung mengetik sesuatu pada kotak pesan.
“Hai, kamu masih ingat dengan ku?”
Setelah satu kalimat yang di ketik, Raya langsung menekan tombol send ke nomor ponsel Brian.
Ia kemudian mengirim sebuah foto transaksi narkoba di pinggir dermaga, di susul sebuah pesan.
“Kamu ingat tempat ini?”
Terlihat pesan yang dikirimnya baru saja di baca oleh Brian.
Kemudian sebuah pesan masuk.
“Kamu siapa?” tanya Brian.
“Suami ku, aku belum meninggal” jawab Raya seolah olah dirinya adalah Wulan.
“Wulan?!” jawab Brian.
Raya kembali mengirim sebuah file PDF bukti korupsi Brian dan serta beberapa dana gelap yang tersimpan di rekening sebuah bank di luar negri. Serta bukti transfer sogokan kepada gubernur propinsi A.
“Bagaimana jika semuanya aku sebarkan ke media, apa kamu masih akan terpilih sebagai the Next presiden ?” Sebuah pesan ancaman terkirim ke ponsel Brian.
“Dan masih banyak lagi bukti kejahatan yang kamu lakukan terhadap diriku dan kakek. Foto visum dan penganiayaan terhadap istrimu ini dan kakek mertua mu sudah aku siapkan. Oh ya? Bagaimana dengan bayi Raya, kamu ingin melihatnya? Begitu juga bayi Irma, namanya Zaka, dia sudah berusia dua tahun saat ini” ancaman kembali berhasil masuk ke ponsel Brian. Raya berusaha membuat Brian marah agar Brian mau bertemu dengannya.
__ADS_1
“Apa mau mu?” tanya Brian. Yang di pancing pun mulai menggigit kail.
“Aku ingin bertemu dengan mu,” balas Raya.
“Jika kamu tidak muncul, semua berita ini akan aku sebarkan ke media sosial. Oh tentu saja kamu tidak ingin pertunangan kamu dan Soraya batal kan? Ups ternyata istrimu masih hidup hahaha.”
“Kita bertemu Dimana?” tanya Brian yang sudah terpancing.
“Sepuluh kilometer dari desa pesisir kecamatan Parja di sebelah barat, terdapat sebuah dermaga kayu. Setelah kamu turun di dermaga itu kamu akan mendapat petunjuk kemana kamu harus pergi.”
“Datang pukul 3 sore ini. Setiap terlambat satu jam, aku akan memposting satu bukti kejahatan mu ke media sosial. Ingat itu!”
Raya langsung mematikan ponsel itu kemudian berjalan menuju ke dalam kamar. Ia mengisi beberapa barang ke dalam tasnya. Setelah mengganti pakaian yang lebih sesuai ia langusng keluar dari rumah itu.
.
.
.
Wulan kembali ke kamar setelah perutnya terisi dengan kenyang pagi itu. Ia bahkan membungkus beberapa potong roti dalam tissue untuk dimakan Raya. Bagaimana pun Raya juga harus sarapan walau hanya beberapa potong roti garlic saja.
“Raya.” Wulan langsung mencari Raya begitu ia masuk ke dalam kamar.
Memang pagi tadi Raya sudah mengatakan ingin pulang ke rumah nya, namun Wulan masih saja berharap Raya masih berada di kamar tersebut sedang menunggunya, Wulan berharap Raya berpamitan dengan nya saat hendak keluar dari kamar.
“Raya,” Wulan memeriksa kamar mandi dan tak ada siapa pun di sana.
Wulan memperhatikan barang barang Raya dalam lemari. Ia tak membawa apa pun selain laptop dan ponselnya. Semua baju yang di bawanya dari pegunungan di keluarkan begitu saja dalam lemari.
Bahkan tas jinjing berisi uang dan emas milik Raya masih ada dalam lemari.
“Dia pergi tanpa membawa uang? Kenapa barang berharga nya di tinggal begitu saja,” gumam Wulan.
Ia menarik keluar tas jinjing itu keluar dari dalam lemari, Wulan hendak melihat barang apa saja yang di tinggalkan itu.
“Emang barang apa yang ingin dia ambil di rumah nya? Uang nya yang ini saja belum tentu habis di pakai makan sepuluh tahun. Apa jangan jangan niat nya bener bener serius ingin beli gunung itu dan membangun vila di sana?” gumam Wulan lagi sambil menghitung jumlah emas batangan dan jumlah uang dolar dalam tas.
__ADS_1
Tanpa sadar Wulan menarik sebuah map berisi surat rumah dan tanah. Saat menarik map tersebut, tanpa sengaja sebuah amplop putih jatuh ke atas lantai.
“Amplop apa ini? Kemaren tidak ada barang seperti ini di dalam tas ini?” batin Wulan yang di buat bertanya tanya akan kertas amplop putih yang di pungut nya dari lantai.
Tak mau penasaran lagi, Wulan langsung membuka amplop tersebut.
Dear Wulan sahabatku.
Mungkin kamu akan membaca surat ini setelah aku beberapa hari tidak pulang. Aku tau kamu sedang mengkhawatirkan diriku sekarang. Bahkan mungkin kamu sudah mulai semakin gelisah saat membaca surat ini.
Tenang saja, aku sudah melakukan apa yang sudah aku pendam selama setahun terakhir. Aku sudah membalas dendamku pada pria yang pernah menyakiti diri mu dan membunuh keluarga ku.
Kelak ia tidak akan mengganggu hidup mu lagi. Hidup berbahagialah My dear. Kejar cinta mu, belum ada kata terlambat untuk mendapatkannya.
Jangan pergi mencari ku. Cukup kenang diriku sebagai Raya sahabat mu yang selalu menemani diri mu saat di pegunungan.
Hug kiss and love.
-Raya-
Setelah membaca surat tersebut, pikiran Wulan langsung kacau balau. Mungkin Raya berpikir Wulan akan membaca surat tersebut beberapa hari kedepan saat ia tak kunjung kembali ke hotel. Namun Raya baru saja pergi beberapa jam surat nya sudah di temukan oleh Wulan.
Saat itu Wulan hendak berlari mengetok pintu kamar Mail namun niatnya ia urungkan. Jika kakek tau kakek pasti akan sedih.
“Raya pasti belum pergi jauh, dimana dia saat ini? gumam Wulan. Ia berdiri tenang sambil berpikir jika ia berada dalam posisi Raya, ia akan pergi ka mana mencari Brian?
Sambil memegang surat tersebut, Wulan berlari turun ke lobby hotel.
“Mbak ruang kontrol di hotel ini di mana mbak?” tanya Wulan. Ia terlihat begitu panik, namun tetap berusaha tenang. Ia harus berpikir jernih untuk menemukan keberadaan Raya sebelum wanita itu melakukan hal bodoh.
.
.
.
TBC…
__ADS_1