
Jemari Raya tiba tiba mengetok dahi Wulan.
“Kenapa nggak di samperin?” ucap Raya.
“Untuk apa? Untuk membuat diriku malu?” tanya Wulan.
Raya akhirnya menggaruk kepalanya. Ia menatap jempol di kaki Wulan yang sudah hampir keluar dari sepatu yang di pakainya.
Tiba tiba Raya tertawa besar.
“Hahaha, ternyata selama setahun ini kita sudah hidup sangat menderita. Kita bahkan memakai sepatu usang yang seharusnya sudah berada di tempat sampah,” ujar Raya yang masih tertawa.
Melihat Raya tertawa besar, Wulan langsung membuka sepatu reot nya kemudian melempar sepatu itu ke belakang pintu.
“Sini!”
Raya menarik tangan Wulan masuk ke dalam kamar. Ia membawa Wulan berdiri di depan ranjang nya yang kini di penuhi banyak uang.
Sontak mata Wulan terbelalak melihat begitu banyak uang dolar dan emas batangan di atas ranjang.
“Uang siapa ini?” tanya Wulan.
“Uang kita. Besok aku tidak ingin melihat kamu memakai sepatu robek itu lagi,” ucap Raya.
“Tapi, dari mana kamu mendapat uang sebanyak ini?” tanya Wulan curiga.
“Jangan bilang kamu habis mencuri,” lanjut Wulan.
“Ini uangku, uang hasil kerja keras ku. Uang pemberian Brian dan uang kedua orang tuaku. Aku mengumpulkan pundi pundi harta ku yang tidak sebebrapa ini di berangkas bank. Tadi aku ke sana mengambilnya. Masih banyak surat tanah dan surat rumah dalam berangkas rumah ku, kita bisa pergi mengambilnya kapan kapan,” ujar Raya.
Wulan menggaruk pelipis nya yang tidak gatal.
Baru saja ia meratapi nasib dirinya yang miskin dan jelek, kini seorang peri datang memberikan uang banyak untuk dirinya.
“Ambil lah jika kamu mau, belilah apa pun yang ingin kamu beli,” ucap Raya.
“Sepatu?” tanya Wulan.
Raya mengangguk. “Kamu bisa membeli banyak sepatu dengan uang itu,” ujar Raya.
“Tapi, itu uang kamu. Kita nggak boleh boros, apalagi tanggung jawab kita sekarang sangat banyak,” ujar Wulan.
“Uang ku uang kalian juga, kalian bisa memakai nya. Bisa beli apa yang kalian mau,” ujar Raya.
“Gimana jika besok kita belanja. Kita belikan kakek kursi roda yang baru, kita belikan bibi kitchen set model terbaru, dan kita buka kan salon untuk Irma di pasar?” ujar Raya antusias.
“Kitchen set nggak muat di dapur kita sekarang ya.”
“Ya sudah kita bangun aja lagi rumah yang baru,” timpal Raya.
“Ckckck,” Wulan berdecak kagum akan sifat boros Raya.
__ADS_1
“Tanah pegunungan itu bukan tanah kita,” tambah Wulan.
“Gimana kalau kita beli gunung itu?” ide brilian tiba tiba muncul dalam benak Raya. “Dan kita buat vila di sana,” lanjut Raya.
Wulan melirik uang yang tidak seberapa banyak di atas ranjang. Untuk membeli gunung itu, membangun vila dan mengisi perabotan mungkin uang di atas ranjang itu tidak cukup.
“Apa kamu yakin uang itu cukup,” tanya Wulan ragu.
“Aku bisa pulang ke rumah menjual tanah, rumah dan apartemenku. Semua uang bisa di gabung untuk membangun vila kita di gunung.”
Wulan akhirnya mengangguk.
“Iya iya, kita akan bangun vila. Tapi untuk memikirkan ide vila mu itu, gimana kalau kita makan terlebih dahulu. Sekarang sudah waktunya makan malam.” ucap Wulan.
Wulan memungut tas jinjing dari lantai kemudian memasukkan semua uang dan emas yang ada di atas ranjang. Beberapa surat tanah dan rumah juga ikut masuk ke dalam tas.
Raya segera beranjak menuju telpon pararel di samping tv, ia menghubungi restaurant hotel itu.
“Mbak, makanan yang saya pesan tadi bisa di anatar sekarang?”
“Baik bu, kamar 503 kan bu?” tanya Waitrees itu.
“Iya.”
“Baik bu, Akan kami antar sekarang.”
Wulan menyerahkan tas jinjing itu ke tangan Raya. “Nih uangnya di simpan. Kita hanya beli sesuai kebutuhan, jangan boros.” ucap Wulan ketus.
Wulan menuju pintu yang terhubung ke kamar kakek. Ia mengetok beberapa kali pintu itu.
“Kakek, Mail. Ayo gabung kita makan,” ajak Wulan.
Beberapa saat kemudian pintu sudah terbuka. Mail mendorong kakek masuk ke kamar Wulan dan Raya.
“Kakek harus makan awal, kemudian minum obat kakek,” ucap Wulan.
Sementara menunggu makanan dari restaurant hotel, Wulan menyajikan tempe orek dan sambal bawang yang sudah di siapkan bi Indun.
Ting tong
Mendengar bel pintu, Raya bergegas membuka pintu.
Kemudian seorang pelayan masuk ke kamar itu dengan sebuah meja dorong berisi penuh dengan makanan.
Pelayan itu meletakkan makanan di atas meja di samping tempe dan sambal orek.
Setelah itu seorang pelayan lain masuk dengan sebuah meja dorong berisi berbagai menu.
“Banyak banget,” gumam Wulan.
Raya menggaruk pelipis nya. “Harus siap siap di omelin wulan nih,” batin Raya.
__ADS_1
“Kami hanya berempat kenapa lauk nya banyak sekali?” ujar Wulan.
“Saya mengantar sesuai pesanan bu,” ujar pelayan itu.
Mata wulan melirik ke arah Raya yang kini duduk di atas ranjang. Matanya membulat seakan protes terhadapnya.
“Kamu bisa habiskan semua ini?” tanya Wulan masih dengan mata bulat nya.
Belum sempat Wulan mengomel, masuk lagi seorang pelayan yang membawa berbagai jenis minuman dan makanan pencuci mulut.
“Ada lagi?”
Kakek dan Mail terpana menatap semua makanan di meja. Beberapa makanan lain yang tidak muat di meja, di letakkan di atas nakas di samping ranjang.
“Ada pesta ya?” tanya kakek.
“Atau ada yang ulang tahun?” timpal Mail.
“Total semuanya delapan juta tujuh ratus empat puluh ribu mbak,” ucap pelayan itu seraya menyerahkan nota makanan ke tangan Raya.
Wulan melompat dari tempatnya berdiri meraih nota makanan itu. Ia memeriksa harga makanan yang ada disitu.
Matanya terkesima menatap harga lobster senilai delapan ratus ribu sebanyak empat ekor. Dan beberapa makanan lainnya yang totalnya hampir seharga lobster itu.
Raya bergegas menuju lemari mengambil enam lembar uang seratus dolar kemudian menyerahkan uang tersebut kepada pelayan.
“Ini mbak, terima kasih,” ucap Raya kemudian menutup pintu kamar itu.
“Raya kamu kelaparan?” tanya Wulan.
“Hmm iya aku laper. Ayo makan.” ajak Raya. Ia mengambil piring untuk kakek, Mail dan terakhir untuk Wulan.
“Makanan ini banyak sekali. Lagian ini sudah malam, makan makanan sebanyak ini bisa bikin begah.”
“Karena sudah di pesan, ayo dimakan. Kalau ada sisa bisa untuk sarapan besok pagi,” ucap Kakek.
“Tapi besok kita ada sarapan gratis di hotel kek,” ujar Wulan.
Kakek Hendy terdiam. Setahun terakhir Wulan memang sudah belajar banyak dari kesusahan hidup yang di alaminya. Wulan sadar betapa uang itu sangat berguna dan sangat penting untuk kelangsungan hidup. Itulah sebabnya ia bekerja mati matian membantu bi Indun karena dia sudah merasakan bagaimana susahnya mencari uang.
Melihat pemborosan yang di lakukan Raya, wajar saja jika Wulan kecewa.
“Aku lapar, aku bisa makan separuh makanan ini. Mumpung ada makanan enak bagaimana jika kita makan sepuasnya malam ini?” ucap Mail berusaha mencairkan suasana.
.
.
.
TBC…
__ADS_1