
Di kediaman Wulan dan Brian di Jakarta…
Sudah beberapa hari Brian tidak tinggal di rumah Soraya. Percekcokan yang terus terjadi di antara mereka, membuat mereka terpaksa memutuskan untuk tinggal terpisah.
Penyebabnya adalah Brian, dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Setiap melihat berita mengenai foto anak nya dan Raya ia menjadi begitu marah. Ia akan memukul dan menendang barang apa saja yang ada di hadapannya.
Pikiran Brian selalu galau melihat foto bayi mungil yang kini sering muncul di media sosial. Berita gosip setiap media masih hangat membicarakan putra Briandy Susanto beserta surat hasil DNA yang menunjukkan angka kecocokan hingga 99,999%.
Brian sudah mengutus beberapa orang terbaiknya untuk memburu Raya dan anaknya, mereka di minta agar langsung mengeksekusi Raya dan anaknya secepatnya.
Drrrtt
Drrrtt
Suara getaran ponsel Brian, tak menunggu lama, ia pun langusng mengangkat.
“Halo!”
“Sudah ketemu?” tanya Brian.
“Mereka sudah pindah pak?” jawab pria di telpon.
“Kalian sangat lambat, cari mereka sampai ketemu! Aku ingin mereka mati sekarang juga!”
“Baik pak,” sahut pria di telpon.
Praaakkk
Sebuah mejah berhasil menabrak dinding karena di tendang oleh Brian.
Saat itu juga panggilam dari Farel masuk ke ponselnya.
Drrrtttt
“Halo. Ada apa Farel?”
“Nona Wulan sudah di gudang, apa rencana selanjutnya?” tanya Farel.
“Aku akan menemuinya nanti, sekarang aku tidak akan menemuinya, aku males melihat wanita kampung seperti dirinya. Oh ya, Farel barang dari Philipine sudah masuk?” tanya Brian.
“Besok subuh,” jawab Farel.
“Baiklah.”
……oo0oo……
__ADS_1
Wulan sudah bangun pagi itu. Seorang pengawal yang baru ganti shift jaga datang menemuinya.
“Berdiri,” ucap pria itu sambil membuka tali yang mengikat kaki dan tangannya. “Ikut aku.” lanjutnya kemudian keluar dari gudang yang ukuran nya lumayan luas.
Wulan berdiri menuruti perkataan pria itu.
Dari gudang, Wulan berjalan melewati pekarangan luas kemudian tiba di sebuah rumah.
“Kamu tidak akan kami ikat, tapi jika kamu mencoba lari dari sini kamu akan tau akibatnya,” ucap pria itu.
“Dia akan lari ke mana Don? Di pulau seperti ini dia tidak akan bisa pergi jauh,” sahut seorang pria dari dalam ruangan.
Pria itu keluar dari dalam ruangan kemudian memberikan segepok uang kepada pria yang di tugaskan menjaga Wulan.
“Kamu jaga dia, belikan apa saja yang dia minta. Pakaian dan makanan. Dia adalah istri boss besar, jaga dia dengan baik!” ucap pria itu.
“Baik boss.”
“Saat aku tidak ada, kamu yang bertanggung jawab di rumah ini. Para pekerja lain di larang masuk ke sini. Ingat Dono?” tegas pria itu kemudian berlalu dari situ.
Pria yang bertugas menjaga Wulan langsung mempersilahkan Wulan masuk.
“Masuk lah, kamar urutan nomor dua sudah di bersihkan untuk anda nona,” ucap pria itu yang ternyata bernama Dono.
“Sudahlah, sebaiknya aku menikmati hal ini. Sambil mencari cara keluar dari sini,” batin Wulan.
Beberapa hari berlalu. Wulan mulai beradaptasi dengan keadaan di pulau itu. Walaupun sampai beberapa hari ia masih tidak tau dirinya berada di mana.
Sesekali ia mendengar percakapan para pekerja dari arah gudang bahwa Brian ada di situ, tapi untung saja Brian tidak datang mengunjungi nya Brian hanya datang melihat kapal yang membawa barang, transaksi uang kemudian pergi dari situ.
Hari hari di lalui Wulan dengan patuh, sesekali ia akan memasak lebih untuk di bagikan kepada para pekerja.
Ia terus mempelajari keadaan di sekitarnya, berapa jumlah pengawal disitu dan apa yang mereka lakukan.
Dua minggu berlalu, malam ini sebuah kapal akan berlabuh di dermaga pulau itu. Wulan berniat untuk kabur dari tempat itu. Namun ia harus mempersiapkan matang matang sebelum melangkah. Biasanya saat ada kapal, Brian akan datang ke pulau itu.
Pukul sebelas malam, suara riuh para pekerja yang sibuk mengangkut barang barang ke gudang di pekarangan depan rumah. Berarti kapal sudah sandar di dermaga saat itu.
Wulan berjalan di balik rerumputan menuju belakang gudang, ia sangat ingin melihat keadaan di luar.
Para pekerja itu masuk keluar gudang sambil mendorong gerobak berisi kotak kotak kayu.
“Apa isi dalam kotak itu?” batin Wulan.
Percakapan dua orang pekerja yang menyusun kotak kotak kayu itu terdengar oleh telinga Wulan. Sambil terus bersembunyi di balik bunga, Wulan terus menyimak percakapan mereka.
__ADS_1
“Mat, boss sudah datang?” tanya pria A.
“Belum, katanya agak lambat datang malam ini. Maklum lah orang sibuk,” ujar pria B.
“Jadi barang barang ini?” tanya A.
“Akan di muat pagi pagi, sementara kita tutup disini dengan bahan baku ini,” ucap B.
“Perahu pengangkut sudah tiba semua.” ujar pria A.
“Ya mau di apa? Mereka belum bisa terima uang karena boss belum datang.”
“Katanya nilai barang kali ini hingga ratusan miliar, dua kotak extacy dan shabu shabu 4 kotak. Heroin hanya sekotak, itu pun pesanan dari kota D,” jelas pria itu.
Mendengar pembicaraan mereka Wulan tercengang. Ia menutup mulutnya dengan jari. Matanya membulat karena kaget. Ia tak menyangka Brian telah menjadi gembong narkoba terbesar.
“Mereka transaksi barang barang haram? Dan Brian?”
“Tidak tidak, aku harus kembali ke rumah, bisa bahaya jika sampai ketahuan aku berada di sini.”
Wulan kembali menuju rumah sambil berjalan jongkok. Setelah tiba di pintu dapur rumah ia langsung masuk ke dalam rumah.
“Kamu dari mana?” tanya pria penjaga yang ternyata sudah berada di dalam rumah.
“Aku aku pergi melihat baju di jemuran,” jawab Wulan gugup.
“Mana bajunya?” pria itu menatap Wulan dengan garang sambil memperhatikan Wulan tak membawa apapun di tangannya.
“Aku mencari bajuku tapi tidak ada di jemuran, mungkin tercecer di lemari. Aku akan mencari nya di dalam,” ujar Wulan kemudian beranjak masuk ke dalam kamar.
Wulan bernafas lega, ia tidak bisa melarikan diri dengan keadaan seperti ini. Penjagaan mereka sangat ketat. Tentu saja, kegiatan haram yang mereka lakukan, mana mungkin tidak di jaga dengan baik?
Wulan kembali teringat soal perahu perahu kecil yang akan membawa barang. Terbesit dalam benaknya untuk kabur dengan perahu.
“Jika di jaga seperti ini, aku pasti tidak bisa ke mana mana, pulau ini dimana saja aku tidak tau,” batin Wulan.
“Harus sabar, cari waktu lain, saat semua orang lengah, aku akan pergi dari sini. Pasti ada jalan keluar lain. Barangkali ada seseorang yang bisa membantuku pergi dari sini.”
.
.
.
TBC…
__ADS_1