
Wulan menatap wajah kedua pelayan itu.
“Sudah tiga hari kakek pergi, kenapa nggak ada ya g memberitahu ku?” tanya Wulan lagi.
“Aku sibuk sekali mengurus rumah bu dan tidak mempunyai nomor ibu. Sedangkan tuan Arkan sibuk terus diluar jarang pulang, aku jadi jarang ketemu tuan Arkan. Bu Wulan maafin kami bu,” ucap Ani penuh penyesalan.
Sementara Yuyun, ia hanya berdiri menatap Ani yang nyaris membungkuk dihadapan Wulan.
“Yuyun, kamu yang mengurus kakek, kamu paling tau kondisi kesehatan kakek. Kenapa kamu tidak mencari kakek saat itu juga begitu kamu tau kakek pergi?!” tanya Wulan penuh seksama.
“Saya sudah mencari kakek di depan, kata mbak Ani ada taxi yang berhenti di depan. Mungkin saja kakek sudah pergi dengan taxi itu. Saya pikir kakek sudah berada di rumah bu Wulan,” ucap Yuyun.
“Bu Wulan, maafin. Kami pikir kakek sudah pergi ke rumah ibu. Kakek memang selalu menyebut nama ibu akhir akhir ini.” ujar Ani.
Wulan memejamkan matanya. Dia sadar nggak bisa marah terhadap dua pembantu itu, kakek pergi juga merupakan kesalahannya yang tidak menjaga kakek dengan baik.
“Sudah lah, kakek adalah kakekku bukan kakek kalian. Aku yang salah, aku seharusnya menjaga kakek,” ucap Wulan kemudian meninggalkan kedua pelayan itu dengan kecewa.
Arkan yang sedari tadi berdiri di belakang Wulan tak bisa berbuat apa pun. Sebelum Wulan menginterogasi kedua pelayan itu, Arkan sudah terlebihdahulu bertanya kepada mereka. Jawaban mereka hanya seperti itu. Mereka tak tau jika kakek akan pergi dari rumah, dan mereka juga tak tau dimana kakek berada saat ini.
“Aku sudah lebih dahulu menginterogasi mereka, jawaban mereka tetap sama. Mereka mengira kakek sudah berada di rumah kamu, jadi mereka merasa bukan sebuah hal yang harus dikhawatirkan,” ujar Arkan.
“Huuuufffttt,” Wulan melenguh membuang nafasnya berat. “Kakek dimana? Sedang apa? Apa kakek baik baik saja sekarang?” ucap Wulan seraya berjalan keluar dari rumah Arkan.
Sebuah panggilan masuk ke ponsel Arkan, ia langsung mengangkat ponsel nya kemudian berbincang serius dengan seseorang.
Sedangkan Wulan, ia menghubungi mbok Tini pengurus rumah nya di kampung.
Setelah bicara panjang lebar dengan mbok Tini, Wulan menghampiri Arkan yang masih terlihat sibuk dengan ponsel di telinganya.
“Gimana? Ada kabar dari kampung?” tanya Arkan kemudian menutup panggilan dari ponselnya.
“Kata mbok, kakek nggak ada di sana. Terakhir kakek telpon menghubungi kang Diman, hanya bicara soal surat kuasa kepengurusan perkebunan.” ujar Wulan.
“Polisi sudah mencari kakek ke setiap pelabuhan dan bahkan bandara. Mereka mencoba cek semua CCTV yang ada di tempat tempat umum serta daftar penumpang tiga hari terakhir, kakek pasti akan segera ketemu,” ujar Arkan.
“Mas, terima kasih.” ujar Wulan.
“Mas akan mencari kakek sampai ketemu. Kakek akan kembali dan baik baik saja,” ujar Arkan.
Wulan menghampiri pria itu kemudian memeluknya, ia menempelkan wajahnya rapat ke dada Arkan.
“Ada apa?” tanya Arkan pelan.
__ADS_1
“Aku hanya butuh dipeluk seperti ini sebentar mas,” ucap Wulan.
Waktu terus bergulir. Wulan dan juga Arkan masih terus mencari sang kakek, pihak kepolisian terus mencari keberadaan kakeknya. Bahkan tante Jenny pun ikut turun tangan mengerahkan kemampuan nya agar kakek Hendy bisa segera ketemu.
Sore hari menjelang magrib, Wulan baru saja keluar dari gedung kepolisian. Ia baru saja selesai membuat laporan resmi kehilangan sang kakek. Sudah 4 x 24 jam kakek nya menghilang. Sudah seharusnya nama kakek sekarang ikut masuk dalam daftar orang hilang.
Dengan tenaga yang tersisa Wulan terus berusaha kuat. Arkan terus menemani disisi Wulan.
“Wulan,” panggil Arkan.
Wulan melirik lemah pria yang baru saja memanggil namanya.
“Kamu baik saja kan? Kita pulang dulu. Kamu harus istirahat.” ujar Arkan.
Wulan mengangguk kan kepalanya pertanda setuju. Untuk saat ini Wulan memang hampir tak bisa menopang tubuhnya. Malam sebelum nya Wulan tertidur hanya sejam. Dan malam kemaren Wulan tertidur sambil berlutut di depan kamar Brian.
Arkan meraih jemari Wulan kemudian menggenggamnya erat. Ia menuntun Wulan berjalan menuju mobilnya.
Belum sempat tiba di pintu mobil, tubuh Wulan tiba tiba terkulai lemas tak berdaya.
—ooOoo—
Pagi hari itu…
“Yaaan,” panggil Soraya.
“Yan kamu ngapain?” tanya Soraya yang ternyata sudah dalam keadaan telan jang.
Brian terus saja beraksi di atas tubuhnya.
“Sayang, aku hanya ingin melampiaskan hasratku. Kamu tahan ya sebentar lagi,” ujar Brian sambil membalikkan tubuh Soraya. Ia mulai memasukinya dari arah belakang.
“Yaan, aku mual mau muntah. Kalau di giniin aku akan muntah di atas ranjang mu,” protes Soraya yang benar benar mual di buat Brian pagi itu.
“Ueek.”
Tangan kiri Soraya menahan mulutnya sedangkan tangan kananya menepis tubuh Brian kemudian berlari menuju kamar mandi.
“Ueeekk,” ia memuntahkan semua isi perut nya ke dalam kloset duduk.
Sementara Brian, dengan kesal masih berbaring di atas ranjang nya sambil memegang torpedonya yang masih mengencang. Hasrat yang sudah melambung tinggi, tapi tak ada yang bisa di lakukannya selain mulai mengocok perlahan dengan jemarinya.
“Sayang,” panggil Brian.
__ADS_1
“Sayang Ayolah,” ajaknya lagi.
Tanpa pikir panjang, Brian menyusul masuk ke dalam kamar mandi dan mulai memaksa Soraya melakukan hal itu.
Dengan kesal dan kecewa Soraya terpaksa harus melayani nafsu liar Brian. Memang seperti itu, Brian tak segan melakukan apa pun hanya untuk melampiaskan nafsu sesaat nya pada semua wanita yang ada di sampingnya. Soal s3x Brian akan melakukan apa pun dan pada siapa pun hanya untuk melampiaskan hal tersebut.
Setelah selesai menyemburkan lava pijar nya Brian baru tersadar saat itu ia sudah menampar Soraya beberapa kali. Wanita nya itu pasti akan marah dan kecewa dengannya.
Sambil menahan tangis dan emosi Soraya berbalik badan menatap Brian.
“Sudah puas?” tanya Soraya kemudian meraih bathrobe dari gantungan kamar mandi.
“Maafin aku sayang, kamu tau aku paling nggak bisa mengontrol naf su ku,” ujar Brian sembari merayu wanita nya itu.
Dengan kecewa Soraya keluar dari kamar mandi.
“Sayang,” rayu Brian menyusul dari belakang wanita itu.
“Sayang? Kok nagmbek sih?” rayu Brian lagi.
“Kapan kamu bisa tulus terhadapku Yan?” Soraya berbalik menatap Brian yang saat itu masih dalam keadaan telan jang.
“Aku mencintaimu, hanya kamu wanita. Satu satunya wanita yang tau setiap kelemahanku,” ujar Brian.
“Tapi hanya aku satu satunya wanita yang menjadi pelampiasan *3** brutal mu,” ujar Soraya.
“Seharusnya kamu sadar, kamu tak pernah benar benar mencitai siapa pun,” batin Soraya.
“Bukan kah kamu juga suka hal seperti itu?” tanya Brian.
Soraya memejamkan matanya mengingat semua pengakuan dirinya. Ia memang pernah mengaku kepada Brian bahwa mereka sama sama menderita sadomasokis.
“Yan, jika aku tidak mengatakan hal itu, maka aku akan sama seperti wanita wanita lain dihadapan mu. Sedangkan saat ini aku membutuhkan mu. Aku butuh kekuasaan dan ambisimu untuk mengembalikan kejayaan papa. Aku butuh kamu untuk membalas dendam keluarga ku yang telah hancur,” batin Soraya.
Soraya berjalan perlahan menghampiri Brian.
“Aku mual, kamu tau betapa senangnya aku kemaren? Aku bahkan minum hingga tidak ingat apa pun. Dan sekarang isi perutku rasanya sudah tak ada apa pun untuk di keluarkan lagi. Kamu ingin aku muntah di badan mu?” tanya Soraya dengan nada melemah. Ia meraba dada bidang Brian kemudian memcium dada itu dengan lembut.
“Kamu ingin makan apa? Aku akan meminta Wulan memasakkan sesuatu untuk mu,” ujar Brian.
.
.
__ADS_1
.
TBC…