
Pukul 4 dini hari Wulan terbangun dari tidurnya. Ia sadar jika saat itu ia tidak berganti pakaian sejak pulang makan malam bersama Renata dan Arkan. Ia langsung tertidur setelah merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Ada sedikit perasaan was was, sedih sekaligus khawatir menghampirinya. Ia berdiri dari pembaringan mengambil segelas air yang sudah tersedia di atas nakas di samping tempat tidurnya.
Wulan mencoba untuk kembali tidur. Namun pikirannya semakin tidak tenang. Wulan pun memutuskan untuk mandi kemudian turun ke dapur untuk membuat sarapan nya awal pagi itu.
Sesampainya didapur bi Indun sudah berada disana sedang membersihkan lemari.
“Pagi bik,” sapa Wulan.
“Nyonyah bangunnya gak kepagian sekarang baru pukul 5:40.” ucap bi Indun.
“Tadinya pengen tidur lagi bi, tapi nggak bisa,” sahut Wulan sambil mulai menyiapkan wajan di atas kompor.
“Nyonya mau sarapan apa?” tanya bi Indun.
“Goreng telur dimakan dengan roti,” jawab Wulan.
“Sini bibi buatkan,” tawar bi Indun.
Wulan menyerahkan pekerjaan nya itu ke tangan bi Indun. Wulan langsung membuat segelas susu kemudian duduk di meja makan yang letak nya tak seberapa jauh dari dapur. Ia menunggu bi Indun menyiapkan sarapan untuknya.
Dalam beberapa saat sandwich sudah terhidang di hadapannya.
“Ini Nyah,” ucap bi Indun.
“Bibi duduk sini aja temani aku makan,” ujar Wulan.
Bi Indun mengambil kursi di sebrang Wulan sambil menyaksikan Wulan menyantap sandwich sederhana buatannya.
“Tuan baru saja berangkat,” ucap bi Indun.
Wulan teringat sosok Brian yang menyambutnya di ujung tangga semalam, tanpa sepatah kata pun dia berdiri menatap Wulan kemudian berlalu begitu saja.
Wulan berpikir sejenak kemudian mereapon ucapan Indun. “Tuan terlihat aneh, aku tidak bisa menebak sikapnya. Terkadang dia begitu penuh emosi dan meluap luap, kemudian menjadi cuek seperti tidak mengenal ku,” ucap Wulan.
“Bibi juga merasa tuan memang agak aneh akhir akhir ini, dia jarang marah, dia bahkan tidak menganggap kami ada,” ucap Indun.
“Subuh tadi tuan di jemput oleh asistennya bersama seorang pria. Tuan pergi membawa koper besar,” lanjut Indun.
“Tuan pasti akan keluar kota lagi, kata Arkan dia sering bepergian akhir akhir ini,” jawab Wulan.
“Oh ya bi, bibi kenal dengan kekasih tuan yang bernama Soraya?” tanya Wulan kemudian.
“Bibi tau namanya saja Nyah, bibi sih nggak pernah ketemu orangnya.” jawab bi Indun.
“Yang bibi dengar dari bi Narsih, nona Soraya itu pacar tuan. Bibi ikut tuan sudah 3 tahun lebih, bibi hanya mendengar gosip dari wanita wanita yang pernah di bawa tuan ke sini,” ucap bi Indun.
“Berapa banyak wanita yang sudah di bawa tuan ke sini?” tanya Wulan lagi.
__ADS_1
“Banyak non, gonta ganti. Yang paling lama nginep sampai berbulan bulan ya non Raya,” jawab bi Indun.
“Mungkin semua wanita itu tergila gila akan uang,” ucap Wulan asal.
Bi Indun kemudian membuang nafasnya berat. “Awal bibi kerja di sini, bibi bersama putri bibi Irma.”
Wulan teringat akan ucapan Raya mengenai putri seorang pembantu bernama Irma.
Dalam keresahan Indun mulai melanjutkan ceritanya.
“Awalnya Irma hanya seorang wanita lugu berusia 15 tahun. Demi membantu pekerjaan bibi, dia ikut bibi ke sini. Tapi dia malah bergilir dengan wanita wanita murahan itu di ranjang tuan m hingga hamil anak tuan,” ucap Indun.
“Dimana anak bibi sekarang?” tanya Wulan.
“Dirumah sakit jiwa,” jawab Indun yang masih terlihat resah
“Kenapa di RSJ bi?” tanya Wulan penasaran.
“Bibi diam diam memberikan dia penggugur kandungan. Dia menjadi depresi kemudian mulai sering marah, mengamuk, tertawa dan menangis sedih. Bibi sungguh merasa bersalah,” ucap Indun yang matanya mulai berkaca kaca.
“Kenapa bibi melakukan itu?” tanya Wulan lagi.
“Bibi terpaksa, bibi mendengar tuan mengatakan akan membunuhnya jika tidak di gugurkan. Dan Irma, dia begitu mencintai tuan, saat itu dia bersikeras tidak ingin mengugurkan kandungannya,” ujar Indun lagi.
Wulan terdiam sejenak sambil mengusap tangan bi Indun. “Bagaimana pun itu anak tuan, dia tidak mungkin membunuh nya,” ucap Wulan.
“Tuan yang menyuruh menggugurkan kandungannya?” tanya Wulan.
Indun menggeleng. “Itu ide non Raya, dia juga yang berikan obat itu kepada bibi. Bibi hanya bisa patuh. Bibi takut terjadi apa apa dengan Irma,” ucap Indun dengan nada sedih. Ada penyesalan dalam ucapan nya juga perasaan bersalah pada anaknya.
“Jika bibi dan anak bibi diperlakukan seperti itu, kanapa bibi masih betah di rumah ini?! Bibi bisa pergi, tanpa harus tiap hari bertemu tuan Brian,” ucap Wulan.
“Nyah, tuan sudah berbaik hati membelikan suami bibi sawah. Bahkan tuan juga memberikan modal usaha untuk putra sulung bibi. Bagaiamana pun bibi tidak bisa berbuat apa pun sekarang, malah merasa berhutang budi pada tuan,” ucap Indun.
“Bagaiamana pun kekuasaan dan uang lebih besar nilainya dari pada harga sebuah kehidupan. Jika Irma melahirkan anak tersebut, posisi Raya akan terancam, mungkin itulah sebabnya Raya menyuruh agar di gugurkan,” batin Wulan.
Waktu terus bergulir, percakapan Wulan dan bi Indun harus di akhiri. Bi Narsih kini bergabung bersama mereka dan akhirnya Wulan harus bersiap siap untuk berangkat kerja.
Wulan turun setelah rapih dengan setelan berwarna peach. Setelan dari designer ternama yang telah lama mendekam dalam lemarinya.
“Nyah, rapih bener hari ini,” ucap Bi Narsih.
“Aku akan bertemu temen bi, bibirnya lebih tajam dari pisau dapur, aku harus rapi atau dia akan mengomeliku sepanjang malam. Oh ya bi nggak usah siapkan makan malam. Aku makan malam di luar hari ini,” ucap Wulan kemudian meninggalkan bi Narsih yang sedang bersih bersih.
Pak Arman sopir kantor Wulan sudah menunggu di depan rumah.
Waktu terus bergulir. Seperti biasa, Wulan bekerja hingga jam 5 sore bahkan dia akan lembur satu hingga dua jam setiap hari karena tak ada yang di lakukannya di rumah.
Berbeda dengan hari ini, Renata sudah menunggunya di parkiran pabrik, otomatis Wulan harus segera turun menemui temannya itu.
__ADS_1
“Rena, cepat bener tiba.” sapa Wulan pada sahabat yang sudah menunggunya lebih dari 10 menit itu.
“Ya harus, kebetulan jalanan ke sini agak lengang,” sahut Renata dari balik kemudi.
“Dapet mobil dari siapa?” tanya Wulan yang akhirnya masuk kedalam mobil.
“Mobil papa, dia mengirim mobilnya untuk keperluan disini. Lumayan Lan, biar nggak ngerepotin pria mu itu,” ujar Renata.
“Pria ku?” protes Wulan ga terima.
“Iya, pria yang menyukai kamu itu tuh,” goda Renata.
“Jangan asal deh Ren, jika di denger Arkan bisa tersinggung dia,” larang Wulan.
“Kamu nggak percaya? Aku akan buktikan,” Renata masih ngotot dengan pemikirannya.
“Sudah lah Ren, Arkan itu sepupu suami ku, kami sudah seperti keluarga,” tegas Wulan.
“Iya iya, kalian keluarga. Aku percaya,” ujar renata yang akhirnya mengalah ikuti apa kata Wulan.
Mobil terus meluncur menembus kepadatan ibu kota kemudian berhenti di sebuah salon ternama.
Mata Wulan mengerling kurang setuju melihat tempat tujuan mereka.
“Apa apaan sih?” ucap Wulan masih enggan keluar dari mobil.
“Kemaren kan kamu sudah janji akan temani aku selama di sini. Ayo turun,” ajak Renata.
Wulan akhirnya keluar dari mobil, berhubung pintu mobil sudah di bukakan Renata.
“Aku bosan liat rambut mu itu. Itu potongan model terakhir, hampir 9 bulan yang lalu Lan. Setelah itu aku sudah beberapa kali mengubah model rambut dan rambutmu masih seperti itu.” Renata terus menceramahi Wulan sepanjang perjalanan masuk ke dalam salon. “Bagi wanita rambut itu mahkota nah mahkota di kepala kamu terus di ikat seperti itu, bentar lagi bakal rontok tuh rambut,” lanjut Renata.
“Selamat sore, silahkan masuk mbak,” sapa seorang wanita yang menyambut Wulan dan Renata didepan pintu.
“Mbak, hairstylish terbaiknya mana?” tanya Renata pada wanita itu.
“Baik,” ucap wanita itu kemudian membawa Wulan dan Renata masuk.
Renata langsung menyerahkan Wulan pada seorang Stylist profesional di salon tersebut.
Renata mengajukan warna dan potongan rambut yang di inginkan. Begitu pun Wulan, walau pun ada penolakan tapi akhirnya Wulan mau di rubah gaya rambutnya seperti yang di inginkan Renata.
.
.
.
TBC…
__ADS_1