Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Raya & Brian-


__ADS_3

Sudah jam sepuluh malam Wulan masih berada di rumah Arkan, ia baru akan keluar ketika Arkan tiba malam itu.


Suara mobil memasuki garasi dan suara alarm mobil terkunci berdenyit melengking pertanda Arkan baru saja keluar dari mobilnya.


“Wulan,” sapa Arkan ketika memasuki rumah.


“Mas Arkan,” sapa Wulan.


“Mau kemana?”


“Wulan baru saja mau pulang mas.”


“Ya sudah aku anter ya,” tawar Arkan.


“Nggak usah mas, wulan sudah memesan taxi, bentar lagi juga sampai,” tolak Wulan.


“Sudah terlalu larut, lebih aman jika aku mengantar mu pulang.”


“Cancel taxi mu, aku akan mengantar kamu pulang,” ucap Arkan sambil memutar balik badan nya kembali ke garasi mobil.


Wulan pun menyusul di belakang nya. Setelah membukakan pintu mobil, Arkan mempersilahkan Wulan masuk ke dalam mobil sedan Opel kemudian langsung meninggalkan kediaman nya itu.


Beberapa menit setelah mobil meninggalkan rumah Wulan sadar jika mereka tak saling ucap sepatah kata pun. Arkan terlihat sibuk dengan pikirannya dan fokus pada kemudi mobil nya, sesekali kepalan Wulan menoleh ke arah kanan nya untuk memastikan pria yang duduk di samping nya baik baik saja.


Sadar dirinya di tatap berkali kali oleh wulan, Arkan akhirnya angkat bicara.


“Maaf pikiran ku lagi mumet, urusan pekerjaan,” ucap Arkan dengan sedikit senyuman tersungging di bibirnya. “Gimana pabrik,” lanjutnya bertanya.


“Pabrik aman,” jawab Wulan singkat.


“Ada masalah apa di kantor mas?” lanjut wulan bertanya.


“Masalah beberapa Manager dan yah mungkin seluruh karyawan yang gak bisa di ajak kerjasama,” tukas Arkan sedikit kecewa.


“Mungkin karena mas baru di perusahan, jadi masih belum beradaptasi.”


“Yah, semoga saja begitu,” sahut Arkan.


“Mas, bisa mampir sebentar di apotik didepan?”


“Ada apa? Kamu sakit?”


“Nggak, hanya ingin beli beberapa stok obat,” sahut Wulan.


Mobil menepi di depan sebuah apotik besar, yang masih buka hingga larut malam.


“Mau ditemani?” tanya Arkan.


“Nggak usah mas, Wulan ingin beli beberapa keperluan wanita,” jawab Wulan kemudian keluar dari mobil.

__ADS_1


Wulan membeli beberapa obat dan barang yang di butuhkan nya dengan segera. Sambil membawa sebuah kantong belanja Wulan pun berjalan agak cepat untuk kembali ke mobil.


“Tuggg,” saking terburu buru kepalanya menghantam atap mobil saat hendak masuk kedalam mobil.


“Ouugghh,” pekik Wulan.


Dengan sigap Arkan langsung menahan kepalanya sambil mengelus ngelus kepalanya.


“Kamu hati hati dong, selow aja gak usah buru buru,” tukas Arkan sambil membelai lembut kepala Wulan. “Masih sakit?” tanya Arkan lembut dengan sesekali meniup kepala Wulan.


“Sialann, sakit bener,” batin Wulan masih dengan wajah meringis sakit.


Sadar bahwa wajah Arkan berada begitu dekat dengan dengan wajahnya, Wulan berusaha menarik kepalanya menjauh. “Uudahan mas, udah gak sakit.”


“Hah, gimana gak sakit? Benjol nya aja segede ini,” ucap Arkan sambil terus mengelus kepala Wulan.


Wulan hanya diam, baginya Arkan memang pria yang baik. Walaupun dia dan suami nya sepupu tapi sifat mereka sangat bertolak belakang.


“Jadi ki-kita akan terus disini sampai benjol nya ilang mas?” tanya Wulan dengan berani.


“Ya sudah kita lanjut sekarang,” ujar Arkan seraya mengambil kantong belanja dari tangan Wulan dan melemparnya ke jok belakang.


“Lanjut gimana?”


“Ya kita pulang dong bu boss,” jawab Arkan seraya menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.


“Bu boss? Yang ada malah pembantu boss. Boss Brian,” gumam Wulan pelan.


Wulan tak menanggapi, ia tau jika di ladeni Arkan akan semakin membujuknya, padahal dirinya baik baik saja dan tidak sedang ngambek.


Mobil terus berlalu, setelah melewati beberapa simpangan mereka akhirnya tiba di tempat tujuan.


“Makasih mas, sudah mengantar Wulan,” ucap wulan sebelum keluar dari mobil Arkan.


Badan nya segera berbalik dan langsung menabrak kepala Arkan yang saat itu sedang condong ke arahnya. Tanpa sengaja bibir keduanya saling bertemu.


“Wulan bukan sengaja ingin mencium mas, Wulan hanya ingin mengambil kantong belanja saja,” ucap nya kikuk.


“Mas juga hanya berencana memberikan kantong belanjaan kamu,” ucap Arkan dengan tak kalah canggung.


“Ya sudah Terimakasih mas,” jawab Wulan kemudian buru buru keluar dari mobil itu.


“Ihhh, dasar upik abu. Abis nyiumin pangeran bentar lagi bakal berubah jadi putri salju nih,” batin wulan di penuhi perasaan menggelitik akibat mencium sepupu suaminya.


Sambil terus larut dalam pikirannya wulan berjalan masuk menyusuri ruangan luas dirumah itu. Terlihat gelap dan sedikit berbeda malam itu. Sebuah vas dan bunga berserakan di atas lantai. Porselen biru di sudut ruangan pecah berserakan diatas lantai.


“Bi!” panggil Wulan dengan nada pelan sambil terus berjalan ke arah dapur.


“Bi Narsih?!” Wulan mulai mencari hingga ke kamar bi Narsih dan bi Indun.

__ADS_1


“Nggak ada siapa pun? Apa yang terjadi di sini?” batin Wulan.


Wulan pun melanjutkan langkahnya menuju lantai dua melewati beberapa barang yang berserakan di atas lantai.


“Bi?” panggilnya dengan suara yang lebih lantang.


“Bi Narsih!?”


“Iya Nyah,” sahut bi narsih yang tiba tiba keluar dari kamar Brian.


“Ada apa bi? Kenapa rumah sangat berantakan?” tanya Wulan panik.


“Itu Nyah, tuan dan non Raya bertengkar.”


“Bertengkar? Bukannya mereka terlihat semakin harmonis akhir akhir ini?”


“Bibi juga nggak tau masalah nya apa, tapi non Raya terlihat sangat marah. Ia melempar semua barang di rumah ini kemudian memukul tuan Brian dengan penuh amarah,” jelas bi narsih yang masih berdiri di pintu kamar Brian.


Wulan menengadahkan kepalanya ke dalam kamar. Matanya sedikit melotot melihat keadaan kamar yang begitu berantakan.


“Sepertinya perang dunia ke dua baru saja usai,” ucap Wulan sambil melangkah masuk ke dalam kamar.


Bi indun terlihat sedang mengumpulkan satu persatu beling yang bertebaran di atas lantai.


“Nyah, jangan masuk, sandal nyonyah kurang tebal, berbahaya jika ke sini,” larang bi Indun.


“Oke, aku hanya berdiri disini,” sahut Wulan sambil menelaah seisi ruangan kamar yang telah hancur.


“Maaf Nyah, bibi belum bersihkan ruangan bawah, takutnya tuan akan pulang tidur malam ini sedangkan kamar nya sangat berantakan.”


Wulan menganggukkan kepalanya. “Kapan kejadian nya bi?” tanya Wulan penasaran.


“Kira kira sejam yang lalu. Bibi senang nyonyah pulang larut hari ini. Jika nyonyah di rumah, pasti nyonyah juga ikut jadi bulan bulanan nya non Raya.”


“Yah, tapi aku penasaran. Hal apa yang mereka ributkan hingga jadi seperti ini?”


“Ya nyonyah, kami aja nggak berani nguping tadi, takut ikut kecipratan vas dan guci Nyah,” ucap bi Narsih sambil melanjutkan aktivitasnya.


“Baguslah bibi berdua aman. Ya udah Wulan ke kamar dulu bi, mau mandi biar bisa bantu bantu bibi membersihkan rumah.”


“Nggak usah Nyah, Deon sebentar lagi ke sini untuk membantu kami. Kalau kami butuh bantuan kami juga bisa menyuruh kang Parto ke sini. Nyonya sudah capek bekerja seharian, ayo sana mandi kemudian istirahat,” ucap bi Narsih sambil mendorong paksa tubuh Wulan keluar dari kamar.


Dalam hati Wulan tersenyum, ia begitu gembira melihat kejadian hari ini. Jika saja dia dapat menyaksikan bagaimana Raya dan Brian bertengkar pasti akan sedikit mengobati rasa dendam nya terhadap kedua orang itu.


“Tapiii, yah sekarang Raya sudah pergi. Berarti akan ada wanita lain lagi yang datang ke rumah ini. Bagaimana jika dia mendekatiku?” Membayangkan betapa Brian gila akan wanita membuat tubuh Wulan bergidik ngeri. Ia pun bergegas masuk ke dalam kamarnya mencari daster kesayangan miliknya. Daster yang paling di benci Brian ketika di kenakannya. Daster yang bisa membuat Brian ilfil saat menatap dirinya.


.


.

__ADS_1


.


TBC…


__ADS_2