
Sejak ucapan terakhir Arkan, Wulan masih enggan bertemu dengan pria itu. Pembahasan sedikit saja bisa merembes ke rencana konyol pernikahan nantinya. Tapi bagaiamana? Apa Wulan harus terus menghindari percakapan dengan Arkan.
Sudah lima menit sejak Wulan selesai berpakaian, waktu sudah menunjukan pukul tujuh kurang lima belas menit. Jika tidak keluar sekarang maka Wulan akan terlambat, bukankah hari ini adalah hari ulangtahun Sarah?
Dengan berani Wulan melangkah keluar dari kamar.
Langkahnya terhenti, ternyata Arkan sudah berdiri di depan pintu.
“A aku baru saja akan mengetuk pintu kamar mu, kita hampir terlambat. Bukankah kita harus membeli sesuatu untuk teman mu!” ucap Arkan kikuk.
“Iya Wulan sudah siap,” jawab Wulan tak kalah canggung.
Arkan terus menatap penampilan Wulan malam itu, wanita itu terlihat berbeda. Dia terlihat semakin cantik dan bersinar. Dibalik mini dres hitam Wulan terlihat begitu elegan.
“Pakaian kamu nggak terlalu pendek?” ucap Arkan.
“Mas ini selutut nggak pendek mas,” jawab Wulan.
“Kita sudah hampir terlambat, aku masih harus singgah di suatu tempat,” ujar Arkan. Ia meraih jemari Wulan kemudian berjalan bersama nya menuruni anak tangga.
“Nyonya, ada acara?” tanya Bi Narsih yang sudah menunggu Wulan di lantai bawah.
“Iya bi, temen Wulan ulang tahun hari ini,” jawab bi Narsih.
“Sudah berapa bulan nyonyah nggak pernah makan dirumah. Emang gak kangen kelesatan masakan bibi?” ujar Bi Narsih sarkas.
“Bi, malam ini kami makan di Skye gedung paling menjulang di Jaksel, jenis makanan Indonesia terlengkap, nggak kalah jauh dengan masakan bibi. Wulan merasa sedang makan masakan yang di masak bibi juga,” hibur Wulan.
“Nanti bibi minta resep masakan disana, biar bibi masakkan buat nyonya,” ucap bi Narsih.
Memang benar, setelah kedatangan Renata Wulan memang tak pernah sekalipun makan siang ataupun makan malam di rumah bersama kedua asisten rumah tangganya itu. Bi Narsih dan Bi Indun pasti merasa kangen terhadapnya.
“Hmm gimana kalau besok bibi masak, aku akan pulang makan bersama temanku?” tanya Wulan.
“Baiklah Nyah, tuan Arkan juga harus ikut gabung. Jika ada request menu chat bibi aja Nyah. Bibi akan buat masakan seenak mungkin mengalahkan restoran Skye itu.” ujar bi Narsih sumeringah.
Wulan ikut senang melihat tingkah bi Narsih yang gembira, akhir akhir ini sangat jarang bertemu dengan mereka.
“Ya sudah, hari hati di jalan Nyah, Tuan,” ucap bi Narsih, terlihat keresahan di wajah wanita tua tersebut.
“Melihat nyonya dan tuan Arkan seperti itu, mereka lebih terlihat lebih cocok sebagai pasangan di bandingkan dengan tuan Brian,” batin bi Narsih
Arkan dan Wulan meninggalkan kediaman nya itu, karena harus berburu waktu, Arkan menggiring kendaraannya meluncur dengan cepat.
Mobil hitam itu pun berhenti di sebuah galeri branded tak jauh dari menara BCA tujuan mereka.
“Kebetulan, Wulan belum belikan hadiah untuk Sarah. Wulan ikut turun mas,” ucap Wulan kemudian langsung keluar dari mobil.
Arkan berjalan menyusul di belakang Wulan.
“Jika mas nggak singgah di sini, mungkin aku akan memeberikan isi dompet ku pada wanita cerewet itu. Mas tau, aku dan Sarah sudah berteman sejak aku masih SD? Kami tumbuh bersama sudah seperti keluarga. Dia menganggap milik ku adalah miliknya, bisa jadi setelah makan malam dia akan menyita kartu kreditku lagi,” celoteh Wulan panjang lebar sembari menyisir rak pajangan diruangan itu. Ia mencari sesuatu yang special untuk sahabatnya Sarah dengan mulut yang terus komat kamit.
“Dia menganggap pacar mu juga adalah pacarnya?” ucapan Arkan tiba tiba membuat Wulan terdiam.
“Itu hal yang berbeda mas, maksud Wulan adalah barang!”
Wulan menegakkan posisi berdiri yang tadi nya agak condong ke arah rak. Sosok Arkan sudah berdiri persis dibelakang nya, begitu dekat tanpa mengisi is sedikit ruang diantara keduanya.
Tangannya kemudian merangkul pinggang Wulan mendekat ke arah tubuhnya. Wajah Arkan semakin mendekati wajah Wulan.
Kaget sekaligus shock. Mata Wulan menatap wajah yang semakin lama semakin mendekati wajahnya.
“Apa yang dilakukan pria ini?”
__ADS_1
Wulan berusaha menahan nafasnya. Jantung nya berdetak tak beraturan. Ia tak lagi berpikir jernih.
“Dia akan menciumku?”
Dug
Dug
Dug
Wulan memejamkan matanya sambil mengernyit.
“Aku akan membeli ini,” ujar Arkan setelah memegang sebuah kotak ditangannya. Ternyata ia sedang mengambil seuatu di rak persis di belakang Wulan.
Wulan membuka kedua matanya, wajahnya memerah, sedikit berkeringat, gugup dan juga marah. Ia memukul dada Arkan kemudian mendorong pria itu sedikit menjauh darinya.
“Hhh,” gerutunya kesal kemudian berjalan pergi dari lorong itu.
“Belajar dari mana dia mempermainkan aku seperti ini? Jika ingin ambil barang kenapa harus menarik ku sedekat itu?”
“Huufffttt,” Wulan membuang nafasnya lega setelah mengatur nafas dan menengkan kembali pikirannya.
Wulan mengambil kotak apa saja yang di jumpainya di atas rak kemudian membawa ke meja kasir. Arkan sudah menunggunya di sana.
“Kamu beli apa?” tanya Arkan dengan senyum simpul.
“Entahlah,” jawab Wulan cemberut.
Arkan mengambil kartu dari dalam dompetnya kemudian menyerahkan kartu itu pada kasir.
“Bayar keduanya,” ujar Arkan.
“Aku bisa bayar sendiri,” ucap Wulan rada ketus
Wanita kasir itu memproses pembayaran menggunakan kartu debit milik Arkan.
“Sampai jumpa lagi, Terimakasih sudah berbelanja di toko kami,” ucap wanita itu.
Wulan tak merespon, ia langsung kembali ke mobil.
Perjalanan mereka lanjutkan. Tak seberapa jauh dari galeri itu, mereka akan tiba di menara BCA tujuan mereka. Gedung menjulang mewah yang memiliki spot pemandangan kota Jakarta.
Setiba di lantai 56 menara BCA dimana Skye resto berada, Wulan langsung menuju meja paling luar. Sebuah meja reservasi atas nama Wulan.
Seorang pramuniaga sudah menyiapkan meja tersebut sesuai pesanan.
“Kapan mas pesan tempat ini?” tanya Wulan.
“Tadi saat kamu mandi,” Arkan langsing duduk dikursi paling ujung dekat tembok.
“Cari meja dengan view disini kan susah, kok mas bisa dapet? Habis berapa mas menyogok?” tanya Wulan asal.
Arkan mengangkat telapak tangannya.
“Lima? lima juta?” tanya Wulan.
“Selamat datang tuan Arkan, selamat menikmati pemandangan kota dimalam hari, jika butuh bantuan bisa langsung ke nona Emma,” ucap pria berjas tak jauh dari meja mereka.
Sang pelayan langusung membungkuk memberi hormat. “Saya Emma, ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan yang berdiri di samping pria berjas tersebut.
Setelah menyerahkan menu ke tangan Arkan dan Wulan, pelayan tersebut langsung berdiri tak jauh dari meja tanpa mengganggu keberadaan para pengunjung.
Selang beberapa saat Sarah dan kekasihnya tiba disitu. “Lan, maaf agak telat. Macet di simpangan HI,” ujar Sarah.
__ADS_1
Aldy kekasih sarah ikut nimbrung dan duduk tak jauh dari Arkan.
“Kami juga belum lama tiba, Rena kok belum sampai juga, tadi katanya sudah otw ke sini,” ujar Wulan.
“Jangan jangan nyasar tuh anak.” Sarah terlihat menarik ponsel dari dalam pouch kemudian menghubungi Renata.
“Bang Aldy menunya bang,” Wulan menyerahkan menu ke tangan Aldy.
“Mas Arkan mau makan apa?” tanya Wulan.
Arkan mendekati Wulan kemudian berbisik. “Makanan yang kamu makan, disuap juga boleh,” goda Arkan.
“Mulai deh, mas mulai jahil lagi. Aku serius nanya di becandain,” protes Wulan.
Melihat Wulan cemberut Arkan pun menanggapinya serius. “Aku sudah pesan paket ulangtahun, kalau ada yang ingin kamu tambah pilih aja sendiri. Oh ya minuman request sesuai selera masing masing,” ujar Arkan.
“Pacar cantiknya jangan di bikin bete bang,” ujar Aldy.
Arkan tersemyum, “aku seneng, semakin cemberut dia semakin cantik,” ucap Arkan menanggapi Aldy.
“Apa pun ekspresinya tetep cantik ya bang?”
“Haiii, maaf telat. Macet tadi,” ucap Renata.
“Tadi aku singgah beli kue, udah titip ke Manager nya, setelah selesai makan akan di anter ke sini,” bisik Renata ke telinga Wulan.
“Udah pesen makan belum?” tanya Rena.
“Udah, kata mas Arkan udah pesen paket Ulang Tahun. Kalau mau pesen minum atau pingin makan yang lain pesen aja sendiri,” ucap Wulan.
“Gila, untuk pesan disini biasanya waiting list berhari hari. Kudu bayar biar bisa dapet terasnya Skye, Mas Arkan habis berapa? Apalagi paket ultah disini lumayan lah harganya,” ucap Renata.
“Kata mas Arkan habis 5 juta.”
“Lima juta? Nggak mungkin. 50 atau 100 juta iya, diluar menu yee,” ujar Renata.
“50 juta?” teriak Wulan.
“Iya. Kamu kok heran? Tuh yang disudut sana, itu pesanan orang. Yang di bagian dalam pinggir kaca harganya beda lagi,” jelas Renata.
“Bisik bisik apa sih? Kok nggak bagi bagi rahasia?” tanya Sarah tiba tiba.
“Kamu temenin aja tuh brondong kamu, kami lagi bahas uang,” bisik Renata pada Sarah yang duduk disampingnya.
“Rena ga punya uang? Nih.” Sarah langsung menyerahkan kredit card nya ke tangan Renata.
“Ya elah ni anak, belom ada tagihan ini. Bentar deh kalau sudah mau pulang kamu yang bayar ya,” ujar Renata.
“Nggak apa, itu kredit card Wulan kok,” ujar Sarah.
“Haha, sudah berapa tahun di tangan kamu, kredit card lupa tuan. Sekarang baru tau jalan pulang ya,” tawa Renata terbahak.
Ketiga wanita itu terdengar sibuk membahas uang, mereka seperti sedang hitung hitungan soal uang. Terkadang mereka akan bertengkar kemudian sedih. Tapi akhirnya mereka akan tertawa bersama.
Arkan dan Aldy yang terpojok di ujung meja tak bergeming, malam ini adalah malam ketiga wanita itu. Mereka berada disitu hanya untuk menyaksikan kesenangan mereka. Seperti tak di anggap, Arkan dan Aldy duduk terpaku ditengah hiruk pikuk alunan lagu di iringi suara canda tawa Wulan, Renata dan Sarah.
.
.
.
TBC…
__ADS_1