
“Siapa yang tidak mengerti perasaan mu? Suami mu melakukan itu demi dirimu. Aku akhirnya mengijinkan kalian menikah adalah demi dirimu, Raya meninggal demi dirimu, Johan meminta Arkan merahasiakan putra nya masih hidup juga demi dirimu. Sebenarnya semua orang melakukan itu demi dirimu Wulan,” ucap kakek sepeninggal Wulan dari ruangan itu.
“Wulan hanya masih belum memahami keadaan kek. Dia sedang hamil besar, kekhawatiran dalam dirinya meningkat drastis. Rasa takut, cemas, khawatir, lelah, semua hal sedang ia rasakan sekarang. Di tambah masalah ini? Jadi masih butuh waktu untuk Wulan menerima kalau Brian masih hidup. Jika saja Tuan Brian benar benar sudah mati waktu itu.”
“Semoga saja dia bisa lebih dewasa dalam menyikapi masalah ini,” ucap kakek kemudian.
Sementara itu di dalam kamar…
Wulan berdiri menatap keluar jendela. Sambil mengusap perutnya yang benar benar sudah sangat besar, ia terus memikirkan cara apa yang bisa ia lakukan saat itu.
“Harus kah aku ke pabrik itu untuk membunuh Pria jahat itu.”
“Tidak, aku bukan seorang pembunuh seperti dirinya.”
“Tapi bagaimana jika dia sembuh, apa yang akan di lakukannya terhadap aku dan mas Arkan. Apa dia akan menjebloskan mas Arkan ke dalam penjara? Atau dia akan menghabisi mas Arkan?”
“Tidak tidak. Aku tidak boleh berpikir begitu. Jangan sampai terjadi kejadian seperti itu.”
Dalam kepanikan, Wulan mengambil ponsel dari dalam tasnya kemudian menghubungi Buto.
“Buto, kamu pulang jam berapa?”
“Kayak nya agak siangan Nyah,” jawab Buto.
“Jam?”
“Jam 12 nyah,” sahut Buto.
Wulan menatap jam digital di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul 9.30.
“Langsung jemput aku ya, aku ingin cari sesuatu,” ucap Wulan.
“Baik nya.”
Pukul sebelas 11.30, Buto dan Irma sudah tiba di rumah. Ia tiba lebih awal setengah jam dari ucapannya.
Saat itu juga Wulan langsung mengambil beberapa lembar kertas dari dalam laci, sebuah pulpen hitam berukir keemasan dan meterai. Ia memasukkan kertas dan pulpen ke dalam tas kemudian turun ke bawah. Serta beberapa lembar meterai dalam laci ikut masuk ke dalam tasnya.
Saat itu Buto sudah menunggunya di bawah tangga.
“Kita jalan sekarang nyah?” tanya Buto.
“Iya, ayo.”
“Irma, katakan ke kakek dan bibi aku jalan sebentar ya,” ucap Wulan.
“Kenapa nggak pamit dulu kak?” tanya Irma yang masih sibuk mengecek barang barang yang baru di belinya.
“Aku buru buru.”
Saat itu juga wanita dengan perut buncit itu berjalan keluar menuju garasi mobil. Sebelum Buto masuk ke mobil, ia sudah lebih dahulu berada di dalam mobil disusul Buto beberapa saat kemudian.
__ADS_1
“Kita akan ke mana nya?” tanya Buto setelah mesin mobil menyala.
“Kita ke tempat kemaren,” jawaban yang terdengar enteng di telinga Buto. Sepertinya majikannya itu sudah merencanakan hal ini dengan matang.
“Apa nyonya yakin akan ke sana?” tanya Buto yang sebenarnya ingin meyakinkan Wulan, bahwa hal itu mungkin akan berbahaya.
“Aku ingin meyakinkan satu hal dengan mas Brian. Aku harus bertemu dengannya.”
“Baiklah, aku akan mengantar nyonya ke sana tapi dengan syarat.”
Wulan menatap wajah pria protektif si sampingnya.
“Apa?”
“Aku harus masuk bersama nyonya ke dalam.”
“Baiklah.” jawaban singkat Wulan akhirnya membuat Buto setuju mengantar majikan nya itu ke sana.
Selang beberapa saat, Wulan dan Buto sudah tiba di parkiran pabrik.
Wulan berjalan mantap masuk ke dalam pabrik melalui rolling door. Ia terus melangkah menuju koridor diikuti Buto di belakangnya.
Setelah menyadari ada yang datang, seorang pria coat putih keluar dari sebuah ruangan.
“Anda siapa?” tanya dokter itu.
“Saya Wulan istri Mas Arkan,” jawab Wulan mantap.
Dokter itu mengernyit, “Istri pak Arkan?” tanya dokter itu seakan tak percaya.
“Ada keperluan apa ibu ke sini?” Dokter itu akhirnya memutuskan percaya pada ucapan Wulan.
“Bagaimana keadaan pak Brian?” tanya Wulan.
Dokter itu sedikit kebingungan sekaligus yakin. Ia bingung apa harus menjawab pertanyaan wanita hamil di hadapannya dan ia juga merasa yakin jika Wulan memang adalah keluarga pak Arkan.
“Maksud ibu?” tanya Dokter Itu.
“Kemaren pak Brian belum siuman, apa sekarang dia sudah siuman?” tanya Wulan.
“Sudah bu, pak Brian sudah siuman sejak semalam.”
“Apa yang terjadi dengannya?”
“Pak Brian selalu berusaha melakukan bunuh diri. Ia mencoba beberapa kali melukai perawat yang jaga disini, juga beberapa kali mencoba melukai dirinya sendiri.”
“Bagaimana cara kalian mengatasi nya?” tanya Wulan sambil berjalan masuk ke dalam ruangan.
“Kami memberinya obat penenang, terkadang kami mengikat tangannya.”
“Apa pak brian bisa di sembuhkan?” tanya Wulan sambil menatap wajah donter itu.
__ADS_1
“Pak Brian lumpuh permanen, tidak bisa di sembuhkan bu. Saraf tulang bagian belakangnya sudah rusak, ia tidak mungkin bisa berjalan lagi.”
Mendengar ucapan dokter itu Wulan berpikir sejenak.
“Akhir akhir ini keadaan mental pak Brian yang semakin tidak bisa di kontrol. Ia sering melukai dirinya sendiri.”
“Hh bagaimana tidak, seorang Brian Susanto yang angkuh akhirnya berakhir seperti ini.”
“Aku ingin melihatnya,” ucap Wulan.
“Nyonya,” larang Buto.
“Aku nggak apa masuk. Kamu dengar sendiri bagaimana keadaan nya seperti apa?”
“Aku ikut masuk dengan nyonya.” ucap Buto.
“Masuk lah, dan lihat sendiri keadaannya.” ucap Wulan.
Akhirnya Wulan melangkah memasuki pintu dimana Brian sedang dirawat dan dengan setianya Buto ikut masuk bersama ke dalam ruangan itu.
Setelah Wulan memasuki ruangan, dokter pria itu langsung menghubungi Arkan.
“Pak, istri bapak ada disini.”
“Apa?”
Tanpa pikir panjang, Kendaraan yang tadinya sedang mengarah pulang ke rumah Wulan langsung berbalik arah. Arkan dengan kecepatan penuh menuju jalan Gatot Subroto dimana Brian sedang di rawat.
Sementara itu di dalam kamar yang baru saja dimasuki Wulan. Brian tengah tertidur di atas ranjang pasien, dengan selang infus dan perban yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Wulan berjalan perlahan mendekati pria yang masih terlelap itu.
Lama Wulan berdiri menatap Brian, ia dengan sabar menunggu pria itu bangun dari tidurnya.
“Seharus nya kamu sudah mati. Hidup seperti ini lebih baik dari pada seekor serigala yang terjerat dalam lubang kematian.”
Mata Brian mulai terbuka. Matanya menatap langit langit kamar, kemudian berpendar ke sekeliling ruangan. Saat matanya menangkap sosok Wulan, Wulan langsung melayangkan senyuman sinis seolah sedang tertawa mengejek.
“Seharus nya kamu sudah mati!” serapah yang tiba tiba keluar begitu saja dari bibir Wulan.
“Apa yaang kamu lakukan di sini?” suara parau dan berat Brian terdengar dipaksa keluar dari kerongkongannya.
“Kamu memiliki sebuah hutang dengan ku yang harus kamu bayar hari ini juga,” ucap Wulan.
Saat itu mata Brian tertuju pada perut buncit Wulan.
“Kalian hidup dengan sangat baik tanpa ku. Kalian berhasil. Kalian hidup dengan penuh cinta. Kalian hidup sangat harmonis. Sedangkan aku? Haha,” terdengar tawa kecil di akhir ucapannya. Ia seolah sedang menertawakan nasibnya sendiri.
.
.
__ADS_1
.
TBC…