Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Mengikuti Jejakmu-


__ADS_3

Arkan melangkah sambil berpegangan pada dinding kamarnya. Ia berjalan menuju pintu kamar kemudian membuka pintu tersebut.


“Bi,” teriak Arkan.


Dari arah ruangan tengah bi Rahma tergopoh gopoh menghampiri Arkan.


“Ada apa tuan?” tanya bi Rahma yang terlihat ngos ngosan.


“Bibi ngapain?” tanya Arkan.


“Lagi ngepel, tuan jangan keluar dulu lantai di ruangan tengah masih basah,” ucap bi rahma.


“Mama mana bi?” tanya Arkan.


“Ibu sudah ke kantor pukul delapan tadi,” jawab bi Rahma.


“Daniel sudah datang?” tanya Arkan kemudian.


“Belum tuan.”


Arkan keluar dari pintu kamarnya sambil berpegangan pada dinding rumah.


“Tuan, bibi ambilkan tongkat?” tanya bi Rahma yang terlihat khawatir jika tuan muda nya itu jatuh.


“Nggak usah bi, aku akan ke meja makan.”


“Ya sudah, bibi siap kan sarapan tuan sekarang.”


Bi Rahma yang begitu enerjik berjalan cepat menuju ruang makan. Ia mulai menyiapkan sarapan untuk tuan mudanya.


Sementara itu, Arkan terus berjalan perlahan hingga akhirnya tiba di meja makan.


“Bi jika Sheila ke sini bilang aku lagi jalan, jangan ajak dia masuk. Bilang saja bibi mau ke pasar,” ucap Arkan.


“Tuan ini kenapa sih, ada perempuan cantik dan baik hati malah di sia siakan,” ucap Bi Rahma.


“Sudah pokoknya lakukan saja seperti ucapanku, aku lagi banyak urusan. Males meladeni wanita itu,” ujar Arkan.


“Urusan apa? tuan sepanjang hari hanya tinggal dalam rumah,” celetuk bi Rahma hingga membuat mata Arkan melotot ke arah nya.


“Pagi tuan,” sapa Daniel dari arah pintu masuk.


“Daniel sini,” Arkan mengajaknya duduk di kursi disampingnya.


“Gimana, sudah dapat berita nya?” tanya Arkan.


“Sudah tuan, nona Wulan dan kakeknya nginap di hotel di depan tempat praktek dokter itu,” ujar Daniel.


“Kamu sudah melihatnya di sana?” tanya arkan bersemangat.


Daniel menggeleng.


“Jadi darimana kamu?”


Daniel maju mendekati Arkan kemudian berbisik.

__ADS_1


“Aku meretas daftar nama pengunjung hotel itu. Atas nama Ismail Juanda kamar 503 dan kamar 505,” ujar Daniel.


Dahi Arkan mengerut. “Siapa Ismail? tanya Arkan bingung.


“Lah bukannya kata tuan, kakek nya Wulan pergi ke dokter Yudha, setelah saya cek, nama wali pasien kakek nya Wulan adalah Ismail Juanda, seorang dokter yang baru saja mendapat kan gelar dokternya beberapa bulan lalu. Saat ini Ismail Juanda itu di tempatkan di rumah sakit umum Jakarta barat. Belum bisa buka praktek karena harus dinas dirumah sakit selama setahun,” jelas Daniel panjang lebar.


Seperti itu lah Daniel, dia sangat teliti dalam mencari sumber, walau terkadang lain yang di suruh tapi lain yang di buat.


“Apa orang itu yang aku suruh kamu lacak? Aku menyuruhmu mencari Wulan bukan pria itu,” Arkan masih mengerutkan dahinya kesal, pria saingannya lumayan meresahkan Arkan.


“Apa tuan akan menemuinya sekarang?”


“Tentu saja, aku sudah setahun kehilangan dirinya, aku tidak ingin menunda walau hanya beberapa menit lagi,” ucap Arkan.


Ia berdiri dari meja kemudian kembali ke kamarnya.


“Tuan muda, sarapannya sudah siap.” ucap bi Rahma.


“Daniel sarapan lah, aku akan ganti baju dulu,” sahut Arkan sambil berjalan perlahan menuju kamarnya.


Arkan keluar setelah lima menit.


“Daniel ayok jalan.”


“Tuan muda, tuan kan belum sarapan,” sela bi Rahma.


Arkan mengambil satu potong roti dari atas meja kemudian berjalan keluar sambil menggigit roti itu.


Daniel ikut berlari di belakang nya sambil mengunyah sisa sisa makanan di mulutnya.


Arkan mengangguk.


Mereka langusng menuju hotel Puri di mana Wulan dan kakeknya menginap.


Mobil melaju sedang di jalanan yang agak macet, Mereka tiba di hotel itu setelah se jam. Namun belum sempat Arkan keluar dari mobil terlihat Wulan keluar terburu buru menuju sebuah taxi yang sudah menunggu nya di depan pintu lobby.


“Daniel, itu Wulan. Mau kemana dia? Cepat ikuti taxi itu!” perintah Arkan.


.


.


.


Setengah jam sebelum nya…


Setelah menjelaskan situasi Raya kepada Manager hotel, akhir mereka membawa Wulan menuju ruangan kontrol.


Ia meminta forward kamera disaat Raya keluar dari hotel. Dari monitor cctv Raya terlihat pergi dengan taxi berwarna biru nomor 87.


Wulan bergegas keluar, ia langsung kembali ke kamar mengambil ponsel untuk menghubungi perusahan taxi tersebut.


“Selamat siang. Dengan Blue Cat ada yang bisa kami bantu?” Suara operator perusahan taxi tersebut.


“Sekitar sejam yang lalu, saya memesan taxi nomor 87 pak. Ada barang saya ketinggalan, bisa minta taxy itu ke hotel tempat ia menjemput saya tadi? tanya Wulan sedikit berbohong.

__ADS_1


“Sebentar,” terdengar operator itu sedang menghubungi si sopir taxi. Mereka berbincang sejenak kemudian.


“Tidak ada barang tertinggal di mobil bu,” ucap Operator itu.


“Bisa saya pesan taxy itu lagi, saya ingin ke suatu tempat. Sekaligus mengecek barang saya, saya yakin meletakkan barang di belakang kantong kursi,” jelas Wulan.


“Tujuan ibu ke mana?” tanya operator itu.


“Saya akan ke perumahan semarak,” jawab Wulan asal.


“Baik bu, taxy akan segera meluncur ke tempat ibu.”


“Terima kasih.”


Wulan memasukkan beberapa gepok uang dolar ke dalam tasnya dan beberapa keping emas, mungkin saja ia akan butuh saat situasi darurat.


Wulan pun segera turun ke loby hotel. Taxy pesanan nya mungkin sudah menunggu di bawa.


Begitu taxy tiba, Wulan langsung masuk ke dalam taxy tersebut.


“Ibu yang ketinggalan barang tadi?” tanya sopir itu.


“Saya yang menelpon ketinggalan barang, tapi barang saya sudah ketemu. Bapak bisa jalan dulu, saya sedang buru buru,” ucap Wulan.


Taxi itu pun langusng melaju di jalanan yang lumayan macet menjelang tengah hari itu.


“Kita akan ke mana bu?” tanya pengemudi taxi itu.


“Sejam yang lalu, kamu menjemput seorang wanita di hotel barusan. Kamu mengantarnya ke mana?” tanya Wulan.


“Ibu siapa nya wanita itu,” tanya sopir taxy yang terlihat enggan menjawab pertanyaan Wulan.


“Saya adik nya,” jawab Wulan.


Sopir taxy memperhatikan wajah Wulan dari kaca spion di hadapannya.


“Saya tidak bisa sembarangan memberikan info penumpang saya ke orang lain,” ucap sopir itu.


“Wanita tadi itu kakak saya, nama nya Raya. Katanya dia akan pulang ke rumah tapi saya tidak tau di mana dia sekarang. Dia membawa back pack warna hitam. Dia mau pergi dari rumah, itulah kenapa saya mencarinya,” jelas Wulan panjang lebar untuk meyakinkan sopir taxy itu.


“Oo, mbak adiknya beneran. Wanita tadi itu memang terlihat kabur, pakaiannya serba hitam dengan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Dia tadi menyuruh saya pulang ke rumah mengambil barang dirumah, setengah jam kemudian dia meminta di antarkan ke pelabuhan muara Angke. Dia pergi dengan speed, saya tidak tau perginya kemana,” jawab sopir itu.


“Ya sudah, kita ke pelabuhan itu sekarang,” ucap Wulan.


“Jika Raya ke pelabuhan muara Angke, kemungkinan besar Raya akan pulang ke pegunungan atau dia pergi ke pulau Silent? Sebelum terjadi apa apa dengan Raya aku hatus bergegas mencarinya.”


“Bisa lebih cepat pak, saya buru buru,” ucap Wulan tidak sabaran.


Tanpa sepengetahuan Wulan, sebuah mobil hitam terus mengikutinya dari belakang.


.


.


.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2