Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Pulang Ke Rumah-


__ADS_3

“Kek, paman Johan sekarang sedang di Singapore. Sedang dalam keadaan kritis. Besok atau lusa paman akan operasi jantung untuk ketiga kalinya. Paman akan operasi tambah ring. Kakek tau kenapa paman bisa sakit? Karena Brian. Ulah Brian hingga paman sakit seperti sekarang, sudah lebih setahun paman hidup dengan bantuan alat pada jantungnya. Bagaimana dia akan menolong Wulan saat itu?”


Setelah mendengar sedikit penjelasan Wulan, semoga kakek bisa sedikit merubah persepsi nya mengenai keluarga Susanto.


“Dan Arkan, dia baru sebulan lebih siuman. Setahun dia terbaring koma di atas ranjang. Dia pergi mencari Wulan di pulau itu, dia di Hajar habis habisan oleh anak buah Brian. Itulah kenapa hp nya tidak pernah aktiv,” lanjut Wulan.


“Sedangkan tante Jenny, ia harus mengurus perusahan besar itu. Brian sudah tidak dipercayakan menjabat di sana. Tante Jenny yang harus memegang tanggung jawab besar perusahan yang hampir bangkrut itu. Sementara ia harus mengurus anak nya yang sedang koma, ia juga mengurus perusahan, dia tidak sempat mencari Wulan. Lagian semua orang berpikir Wulan sudah mati,” ujar Wulan.


Kakek akhirnya memeluk Wulan.


“Jika kakek tidak ingin tinggal di rumah Wulan, bagaimana kalau kita beli ruma lain?” bujuk Wulan.


“Kita gunakan uang Raya? Kakek tau Raya meninggalkan banyak uang dan emas untuk kita?” ucap Wulan lagi.


“Kita bisa membeli rumah yang baru, kakek,bi Indun, Irma dan Buto bisa tinggal bersama. Tidak ada apapun yang akan berubah. Hanya lokasi kita tinggal sekarang jauh lebih strategis daripada di pegunungan,” ucap Wulan kemudian memegang tangan kakek. Ia sedang berusaha meyakinkan sang kakek.


“Dimana pun Wulan tinggal, Wulan selalu ingin ada kakek di dekat Wulan. Jangan jauh jauh dari Wulan, kakek satu-satunya keluarga Wulan. Walaupun sekarang ada bi Indun Irma dan Buto. Tapi kakek yang paling penting. Setelah urusan Wulan di sini selesai, Wulan akan memikirkan lagi untuk tinggal di pegunungan, gimana?” ucap Wulan.


Kakek Hendy menepuk nepuk punggung tangan Wulan.


“Apa kamu menyukai Arkan?” tanya Kakek.


Wulan sedikit canggung mendengar pertanyaan kakek, namun ia akhir nya mengangguk. “Arkan pria yang baik, sebelumnya Wulan juga sempat ragu dengannya. Hubungan kami sekarang walaupun sangat dekat tapi Wulan masih belum yakin akan berjalan menuju arah mana.”


“Dia tidak serius dengan mu?” tanya kakek.


“Entahlah, dia menyayangi Wulan. Tapi Wulan seorang janda, janda dari sepupunya sendiri. Apakah hubungan kami akan berhasil? Bagaimana tanggapan orang orang?”


“Kenapa harus memikirkan tanggapan orang, ikuti saja sesuai kata hatimu. Kamu tidak melakukan kesalahan, apa kah menjadi janda itu dosa?” ujar kakek.


Wulan menatap wajah kakek, sambil mengerut kan dahi Wulan berkata. “Wulan tidak melakukan kesalahan.”


“Ya sudah, kakek akan tinggal dengan kamu. Kakek akan pantau sejauh mana Arkan memperlakukan mu. Jika dia berani sedikit saja membuat kamu murung, kakek yang akan melawannya,” ucap kakek penuh semangat.


“Jadi kakek akan tinggal dengan Wulan?”


Kakek Hendy mengangguk.


“Haha asik, Wulan senang sekali.” tanpa sadar Wulan tertawa besar, suara tawanya terdengar hingga ke kamar sebelah.


Bi Indun membuka pintu kamar itu kemudian bertanya. “Sudah selesai ngobrolnya?”

__ADS_1


“Bi, Kakek mau tinggal bersama kita” ucap Wulan gembira sambil menoleh ke arah bibi.


“Jadi kapan kita pindahan?” tanya bi Indun.


“Hari ini.”


“Kalau gitu bibi siap siap ya.”


Bi Indun dengan semangat memasukkan barang barang yang di belikan Raya di atas lantai kamar itu.


Ia tidak lagi menggunakan koper, tapi kardus yang di mintanya dari karyawan hotel di situ.


Wulan ikut membantu bi Indun dan Irma memasukkan barang barang itu ke dalam kardus.


Di sudut ruangan Arkan duduk dengan tangan yang terlipat ke dadanya. Sejak ada Mail, wajah Arkan tidak pernah tersenyum sedikit pun. Apalagi Mail dan kakek terlihat sangat akrab. Mereka berbincang dan bercanda, terlihat seperti seorang kakek sedang bermain dengan cucunya.


Bagaimana dengan dirinya. Ia dicuekin kakek, kakek tidak pernah menganggap Arkan ada disitu. Sepertinya perasaan kakek terhadap keluarga Susanto masih belum sepenuhnya ikhlas.


Tiba tiba Mail duduk di samping Wulan, ia meluruskan kaki Wulan yang saat itu sedang terlipat.


“Duduk yang benar, jahitan di kaki kamu belum kering,” ucap Mail sambil membetulkan posisi kaki Wulan.


“Mail ngapain? Seperti nya Arkan akan semakin meradang. Mana sentuh sentuh lagi!” batin Wulan.


Arkan memang terlihat semakin kesal. Matanya terus menatap ke arah Wulan tidak pernah beralih ke tempat lain.


Mail berdiri dan tersenyum puas menatap wajah Arkan. Mail merasa berada di atas angin, bagaimana pun kakek ada di pihaknya sekarang. Ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Wulan.


Suasana ruangan jadi sedikit tegang, hanya suara Mail dan kakek yang terus terdengar. Mereka sedang berdiskusi berita yang sedang viral di tv akhir akhir ini.


Bi Indun mengerlingkan matanya. Bi Indun memberi kode pada Wulan.


“Apa bi?” tanya Wulan pelan.


“Kamu duluan lah bawa tuan Arkan pergi. Bawa sebagian barang juga, sisanya kami yang bawa.”


“Jadi Irma ikut kami sekarang?” tanya Wulan.


“Bibi, Buto dan kakek bisa bareng.” lanjut Wulan.


Irma mengangguk.

__ADS_1


Sebelum pergi, Wulan menuju lemari dimana uang dan surat rumah peninggalan Raya berada. Ia menyerahkan semua uang itu kepada bi Indun.


“Wulan serahkan ini kepada bibi. Bibi bisa menggunakan yang ini untuk apa saja,” ucap Wulan.


“Wulan ini apa?” tanya bi Indun.


“Ini peninggalan Raya,” jawab Wulan sambil membuka isi dalam tas itu.


“Kenapa di berikan kepada bibi? Bibi nggak berhak menerima itu,” ucap bibi sedikit kaget melihat isi di dalam nya.


“Ya sudah, bibi simpan saja. Beli keperluan sehari hari. Atau bibi bisa simpan. Kata Raya, Irma bisa kembali membuka salon kecantikan dengan uang ini,” ujar Wulan.


“Uang sebanyak ini bibi?” ucap bi Indun kebingungan.


Tas yang lumayan berat itu di berikan kepada bibi.


“Pegang saja bi, itu amanah dari Raya,” ucap Wulan.


Ia berdiri kemudian menuju kursi roda kakek.


“Wulan duluan ke rumah, Kakek mau bareng Wulan sekarang?” tanya Wulan.


“Kakek bareng mail saja,” jawab kakek.


“Kakek, ngerepotin Mail. Sore Mail harus balik rumah sakit loh, ia bertugas jaga malam ini,” ucap Wulan.


“Masih sempat, aku akan mengantar kakek pulang.” sahut Mail.


“Buto bareng bibi, Irma mau bareng aku?” tanya Wulan.


“Aku ikut ibu saja deh,” jawab Irma.


“Ya sudah. Kita Makan siang bereng dirumah saja, Wulan akan pesan makanan. Nanti langsng pulang ya, jangan singgah singgah.” Setelah berpamitan Wulan langsung pergi dari situ.


.


.


.


TBC…

__ADS_1


__ADS_2