Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Segalanya Untukmu-


__ADS_3

Usai drama kesedihan yang di buat Soraya. Ia kini berdiri bersandar pada pagar teras tersebut. Menatap wajah pria yang kini sedang memandangnya penuh cinta.


“Brian, kamu masih seperti dulu. Masih dengan mudah aku kendalikan.” batin Soraya.


“Kamu masih ingat tempat ini?” tanya Soraya.


“Tentu saja. Tempat ini adalah tempat pertama kali kita berkencan,” jawab Brian.


“Bedanya waktu itu tempat ini adalah milik ayahku, sekarang tempat ini sudah menjadi milik dari paman Donny sepupu ayah. Ayah sekarang bekerja di sini, ia yang menjaga vila dan arena olah raga disini. Selain mendapat gaji, ia juga bisa tinggal gratis disini,” ucap Soraya.


“Dimana ayah mu sekarang? Aku ingin bertemu dengannya. Sudah lama aku tidak menyapanya,” ucap Brian.


“Ayah ku sekarang sedikit berbeda, ia jadi sedikit minder. Lain kali saat dia sudah siap aku akan membawamu bertemu dengan nya,” ujar Soraya.


“Kamu lihat stall kuda di sana? Sekarang ayah ku sedang di situ. Setiap sore ia akan mengurus makanan dan membersihkan kuda kuda milik paman Donny,” ujar Soraya terlihat antusias.


Brian berdiri menatap arah telunjuk Soraya mengarah.


Sambil mengusap rambut panjang tergerainya Brian berjanji dalam hati untuk mengembalikan apa yang dahulu adalah milik Soraya ke tangannya.


“Sekarang kamu tinggal dimana?” tanya Brian.


“Untuk sementara aku akan tinggal disini, setelah mendapat pekerjaan aku akan mencari sebuah tempat tinggal sendiri. Aku tidak ingin terus menyusahkan paman dan keluarga nya,” ujar Soraya.


“Aku akan mencarikan mu sebuah apartemen. Dan kamu tidak perlu bekerja, aku akan memenuhi semua kebutuhan mu. Kamu hanya perlu terus berada di sisiku, jangan pernah pergi lagi. Akan aku berikan segala yang ku miliki kepada mu. Harta bendaku, cintaku bahkan hidupku hanya untuk mu,” ucap Brian sambil mendaratkan sebuah kecupan di rambut Soraya.


“Bukankah aku terlalu serakah? Aku tidak ingin merebut mu dari istri mu dan si wanita selebgram itu. Atau kamu yang akhirnya menjadi serakah karena ingin memiliki kami di saat bersamaan?” singgung Soraya.


“Raya? Dia bukan siapa siapa bagiku, kami hanya teman sedangkan wanita kampung itu, aku tidak pernah menganggapnya. Aku akan menceraikannya segera.”


“Raya? Jadi namanya Raya? Usir dia sekarang dari rumah mu,” pinta Soraya. Dengan nada lembut ia sedikit memperlihatkan kecemburuan.


“Setelah dari sini aku akan langsung mengusirnya,” ucap Brian patuh.


“Dan tinggalkan rumah istri mu itu, aku tidak ingin berbagi perhatian mu dengan istri mu,” ucap Soraya.


“Jangankan perhatian, rasa kasihan dari ku pun dia tidak layak mendapatkannya. Dia menempati rumah itu hanya karena statusnya sebagai istri, bagiku dia sama statusnya dengan kedua pembantuku, tidak lebih,” ucap Brian.


Mendengar ucapan itu, Soraya mulai berinisiatif meraba raba tubuh Brian. Dengan sedikit menyenangkan pria nya itu maka ia akan mendapatkan lebih banyak apa yang di inginkannya.


Brian mulai membalas bringas setiap sentuhan Soraya. Wanita yang selalu berada dalam hatinya kini sudah kembali, ia begitu tergila gila dengan Soraya, setiap sentuhan nya membuat Brian mabuk kepayang.


Drrtttt


Drrrtttt


Drrrtttt


Bunyi getar ponsel dari saku baju Brian terus terdengar hingga mengganggu aktivitas keduanya.


“Yan,” panggil Soraya.

__ADS_1


“Brian tak bergeming, ia terus melu mat dan bahkan meraba hingga ke seluruh bagian tubuh Soraya.


Setengah pakaian wanita itu sudah terbuka. Soraya kembali menegakkan posisinya sambil mengancing beberapa kancing baju yang sudah terbuka.


“Ponsel kamu di angkat dulu,” ujar Soraya lembut.


Bibir Brian terus merayap pada belakang telinga Soraya. Dengan cepat soraya memasuk kan tangan nya ke dalam kantong celana Brian untuk menemukan ponsel yang sedari tadi tidak berhenti bergetar.


“Panggilan dari Raya. Aku akan mengangkatnya.” ucap Soraya sembari menekan tombol jawab yang tertera pada ponsel.


“Hallo,” sapa Soraya.


“Mas Brian? Kamu siapa? Berikan ponselnya ke mas Brian,” ucap Raya.


“Brian sedang sibuk, kamu jangan menghubunginya lagi,” ucap Soraya ketus.


“Emang kamu siapa berani mengatur ngatur mas Brian?” tanya Raya dengan nada mulai emosi.


“Aku Soraya, kamu pasti tau siapa aku. Kamu beruntung karena nama kita mirip hingga Brian mau mendekati mu.” Soraya mulai sengaja memanas manasi keadaan.


“Enak saja, berikan ponselnya ke mas Brian aku ingin bicara dengan nya,” teriak Raya menanggapi ucapan Soraya.


“Yan ayo ngomong,” ucap Soraya pada Brian.


“Raya, tunggu di rumah. Aku akan segera pulang dan bicara dengan mu,” ucap Brian.


Soraya langsung memutus panggilan tersebut.


“Always,” sahut Brian.


Brian melanjutkan aktivitas panas yang dilakukannya. Entah berapa lama mereka bercumbu di sana. Hingga akhirnya malam pun menjelang.


Jam sembilan malam Brian tiba dirumah, Raya yang saat itu tak bisa tenang sudah menunggunya di ruangan tamu.


Begitu mendengar suara mobil, Raya langsung bergegas keluar menyambut Brian.


“Sayang,” sambut Raya dengan senyuman yang ramah.


Dengan wajah datar Brian menatap Raya, “bereskan barang barang mu dan pergi dari sini,” ucap Brian sambil terus berjalan masuk menuju kamarnya.


“Sayang? Kenapa?” tanya Raya sambil berjalan mengikuti di belakang Brian.


“Cepat lah, aku sedang banyak urusan tidak sempat mengurus mu di rumah ini,” ucap Brian sambil terus berjalan.


“Sayang? Apa yang terjadi?” tanya Raya sambil berusaha menggoda Brian.


“Sudah lah, hentikan!”


“Tapi sayang aku sedang bergairah sekarang, aku ingin,” Raya terus melakukan aksi rayuan maut nya untuk membuat Brian tak berkutik. Tapi…


“Hentikan Raya, aku sedang lelah dan tidak tertarik dengan diri mu lagi!” bentak Brian setelah sebagian kancing baju di bagian dadanya terbuka.

__ADS_1


Raya terdiam, tubuhnya terasa kaku untuk melanjutkan aksinya.


“Jadi benar itu dia? Wanita itu sudah kembali? Hingga dengan mudah kamu menyuruh ku pergi begitu saja?” tanya Raya lirih.


“Aku akan memberikan kompensasi yang tidak sedikit, kamu bisa hidup mewah tanpa haris luntang lantung bekerja.”


Raya menatap marah pria yang berdiri dihadapannya.


“Aku sedang hamil?” ucap Raya lantang.


Brian mengangkat kepalanya menatap tajam wanita yang baru saja mengucapkan sebuah lelucon.


“Aku sudah terlambat datang bulan selama lima hari, sore tadi aku langsung menemui dokter kandungan.” Wajahnya berusaha memohon dikasihani oleh Brian.


“Apa kata dokter?” tanya Brian masih dengan tatapan tajam.


“Belum terlihat dengan alat USG, tapi kata dokter kemungkinan besar aku memang sedang hamil, karena hasil tes lab kadar HCG ku meningkat,” jelas Raya.


Brian berjalan cepat menarik Raya lebih dekat dengan wajah nya. “Bukankah aku sudah peringatkan untuk tidak boleh main main dengan ku, aku sudah menyuruh mu menggunakan kontrasepsi,” ucap Brian.


“Aku sudah, kita ke dokter bersama. Sebulan yang lalu kita melakukan itu di mobil, sebelum tiba di tempat dokter Nita,” ucap Raya mengingatkan.


Brian mengepal telapak tangannya sambil membulatkan kedua bola matanya. “Gugurkan anak itu, atau aku tidak memberikan kamu sepeserpun uang. Pergi jauh dari hidup ku dan jangan muncul lagi dihadapanku,” ucap Brian marah.


Raya mendorong sekuat tenaga pria dihadapannya.


“Tidak, aku akan membesarkan anak ini. Ini anak mu, aki akan terus membayangi mu dengan darah daging mu sendiri hingga kamu mau mengakui anak ini,” ujar Raya.


Brian mendekati raya kemudian mencekik leher wanita itu dengan sebuah tangannya. “Kamu berani melawan?”


Raya berteriak histeris, ia menarik barang apa saja yang bisa di jangkau nya kemudian memukulkan benda benda itu ke tubuh Brian.


Ruangan kamar menjadi begitu berantakan. Pergulatan terjadi di sana. Raya berusaha melindungi diri dengan apa pun yang ada di sekitarnya.


Percekcokan, adu mulut dan saling melempar barang terus terjadi hingga ke lantai dasar. Melihat pertengkaran besar itu, bi Narsih dan bi Indun tidak berani menghalangi. Raya dan Brian terus bertengkar sambil mengeluarkan sumpah serapah mereka masing masing.


“Berhenti! Jika kamu berani mendekat,” Raya mengancam Brian dengan sebuah pecahan kaca yang di ambilnya dari atas lantai. “Mulai saat ini kita sudah tidak ada hubungan apa pun, aku akan bertanggung jawab atas diriku termasuk anak yang ada dalam perutku.”


Raya berjalan cepat naik ke kamar dan kembali turun dengan sebuah koper, ia menarik sebuah kunci mobil dari atas bufet kemudian pergi dari ruangan itu.


“Pergi, jangan pernah kamu menginjakkan kaki mu di rumah ini lagi, jangan pernah muncul dihadapanku selamanya atau kamu akan tau akibatnya,” teriak Brian.


Raya terus berjalan menuju mobil kemudian pergi dari rumah besar tersebut. Ia tak lagi berharap untuk kembali, ia tak lagi butuh Brian. Yang ada dalam pikirannya hanyalah dirinya harus menghidupi bayi yang tak di akui oleh ayahnya. Ia harus terus hidup untuk si kecil yang sekarang sedang tumbuh dalam rahimnya. Si kecil tak berdosa yang seharusnya tak pernah ada.


.


.


.


TBC…

__ADS_1


__ADS_2