Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Aku Menunggu Mu-


__ADS_3

Di teras sebuah kamar, Arkan tengah berbaring santai pada sebuah kursi malas. View pantai yang mempesona tak dihiraukan nya. Saat itu ia tengah asik dengan game pussle yang baru saja di download dari play store. Sekedar untuk mengusir rasa bosan nya di saat senggang.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu kamar membuatnya melepas ponselnya di atas kursi kemudian berjalan menghampiri pintu tersebut.


“Siang pak,” sapa Daniel.


“Siang,” ucap Arkan singkat.


“Bapak masih belum ingin kembali ke Jakarta?” tanya Daniel.


“Emoh,” jawabnya singkat.


“Tapi pak, pekerjaan bapak di Jakarta sudah menumpuk,” ucap Daniel.


“Ini perintah dari papa ya?” tanya Arkan.


Daniel menunduk terdiam.


“Aku belum bisa mengatasi perasaanku, jika aku bertemu Wulan gimana?” batin Arkan.


“Oh ya pak, perkembangan pencarian kepolisian yang bapak minta kemaren beberapa waktu lalu sudah ada hasilnya,” ucap Daniel.


“Gimana hasilnya?”


“Pencarian atas nama Hendy Mulya sudah di hentikan. Korban sudah di nyatakan hilang!” ujar Daniel.


“Kenapa bisa?” tanya Arkan dengan mimik tak percaya.


“Pencarian sudah hampir 30 hari, mengingat kondisi fisik dan kesehatan kakek itu jadi pihak kepolisian memutuskan seperti ini.


“Wulan? Apa dia sudah kembali dari liburan?” tanya Arkan.


“Saya tidak tau pak, menurut data imigrasi, pak Brian sudah melakukan chop passport masuk Indonesia kemaren siang.”


“Wulan?” tanya Arkan.


“Nama bu Wulan tidak ada. Apa mungkin bu Wulan memiliki identitas lain?” tanya Daniel.


Saya hanya bisa dapat daftar terbaru beberapa hari terakhir, saya tidak bisa curi data terlalu jauh. Jika ketahuan data mereka di jebol mereka akan perkuat sistem keamanan mereka,” ucap Daniel yang ternyata mencuri data dengan cara cheat.


“Siapkan ticket untuk ku hari ini.”


Tanpa basa basi Daniel langsung membuka ipad nya kemudian mencari penerbangan Jakarta saat itu juga.


“Pak, ada Garuda jam 3.15 dua jam dari sekarang. Dan ada lagi Batik air jam 9 malam nanti,” lapor Daniel.

__ADS_1


“Ambil yang tercepat. Aku akan siap siap sekarang.”


Arkan bergegas membuka kopernya di atas ranjang, ia memasukkan semua barang nya asal di dalam koper. Ada yang mengganjal, mengenai pencarian kakek. Tidak mungkin Wulan akan menghentikan pencarian tersebut. Sekarang belum 30 hari sejak kakek menghilang, kakek nggak mungkin di nyata kan hilang. Seharusnya pencarian bisa di perpanjang 30 bari lagi.


Setelah semua barang barang masuk ke dalam koper, Arkan langsung pergi dari tempat itu menuju bandara. Ia akan segera kembali ke Jakarta, mengabaikan perasaannya yang masih ingin melupakan Wulan.


__oooOoo__


Sudah berminggu minggu Wulan terkurung di rumah mewah itu. Kondisi fisik nya kini kian membaik, memar dan bekas pukulan di badannya sudah sembuh sempurna.


Sore itu Wulan tengah sibuk di taman samping rumah. Ia membenahi taman yang di tinggal pergi oleh tukang kebun, rumput liar yang tumbuh di sekitar bunga harus ia singkirkan, daun daun kering serta bunga kering di bersihkannya. Taman itu kembali terlihat cantik.


Selama beberapa minggu terakhir dalam selama masa pemulihan Wulan terus membantu bi Narsih membersihkan rumah. Ia masih sangat bersyukur di saat seperti ini ada bi Narsih yang terus menemaninya.


“Nyah, minuman hangat jahe dan gula merah bagus untuk memperlancar peredaran darah,” ucap bi Narsih yang baru saja keluar dari arah pintu samping. Bi Narsih membawa satu nampan berisi gelas dan teko air panas di atasnya.


Wulan membalas kebaikan sang bibi dengan senyuman. “Terimakasih bi,” ucap nya.


“Buto,” teriak bi Narsih sambil menatap arah pintu.


Wulan mengikut ke arah pintu, dimana Buto sedang kewalahan membawa sebuah keranjang serta piring di tangannya.


Tanpa basa basi Buto langsung meletakkan dua piring serta keranjang di atas meja.


“Kenapa banyak sekali cemilan?” tanya Wulan.


“Jangan terlalu mubazir bi, kalau nggak habis sayang,” tegur Wulan.


“Dih nyonya, justru kalau nggak di kelola bahan makanan yang di bawa ke sini akan basi,” bela bi Narsih.


“Coba yang di berikan uang, pasti bisa di simpan, ini yang di berikan stok makanan. Lagian kapan kita bisa keluar dari sini? Sudah lama bibi nggak ke pasar. Jangan jangan pasarnya pindah,” canda bi Narsih.


“Kalau Wulan malah lebih memikirkan kakek, gimana kabar kakek sekarang? Gimana pencariannya? Apa kakek baik baik saja?”


Bi Narsih menepuk pundak Wulan. “Kakek pasti baik baik saja Nyah. Kakek nggak mungkin meninggalkan nyonyah tanpa kabar berita,” ucap bi Narsih menyemangati.


“Itu lah bi, mungkin sudah terjadi sesuatu dengan kakek. Karena kakek nggak mungkin pergi begitu saja. Apa pun kesalahan ku, kakek nggak pernah seperti ini.”


Buto yang memang sifat nya cuek tak mengucapkan sepatah kata pun. Apa pun masalah Wulan ia tak bisa berbuat apa apa. Tugas nya hanyalah mengawal Wulan seperti perintah Brian boss nya.


Kemudian terdengar suara mobil baru saja berhenti di halaman depan rumah.


“Ada yang datang Nyah,” ucap bi Narsih.


“Apa kah tuan?” bibi bergegas menuju depan melihat siapa yang datang.


Wajah Wulan menjadi sedikit takut. Jika Brian yang datang saat itu, apakah ia akan di pukul lagi? Tapi dia ingin bertemu pria itu, ia ingin meminta maaf. Ia akan mematuhi semua perkataan Brian agar tidak di kurung di rumah itu lagi.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Deon muncul dari balik pintu. Sambil di omeli sang ibu, ia berjalan menuju meja dimana Wulan sedang duduk.


“Deon bagaimana kamu masuk?” tanya Wulan.


“Penjaga di luar pagar teman saya,” jawab Deon.


“Anak ini kalau nggak di cari, sudah lupa kabari ibu, ibu memikirkan kamu setiap hari, sekarang malah muncul dengan gaya selangit,” ujar bi Narsih. Ia terus menceramahi putranya yang sudah lebih dari tiga bulan tidak datang menemuinya.


“Maaf bu, Deon sekarang ada pekerjaan di luar kota. Deon sekarang orang sibuk,” ujar nya.


Wulan dengan seksama memperhatikan gaya Deon yang tidak seperti biasanya. Semua yang di kenakan di tubuhnya adalah brand yang lumayan terkenal. Dengan gaya Deon yang hanya bekerja serabutan nggak mungkin Deon bisa membeli pakaian sebagus itu.


“Kamu kerja apa sekarang hah, kamu keluar kota kerja apa? Emang kamu bisa apa selain jadi supir?!” serang bi Narsih.


“Iya itu pekerjaanku, aku menjadi supir antar kota. Makanya aku jarang di sini,” ucap Deon.


“Yang bener?” tanya bi Narsih.


“Bener bu, gajiku sekarang lumayan. Aku berencana membelikan ibu rumah di kampung,” ucap Deon.


“Syukurlah, ibu senang jika kamu bisa berhasil. Yang penting kamu jaga diri mu, ingat selalu berdoa minta petunjuk yang maha kuasa agar selalu selamat dimana pun kamu berada,” petuah dan ceramah tak berhenti keluar dari mulut wanita yang sudah beberapa bukan tidak bertemu putranya.


Buto dengan wajah kaku nya sambil mengunyah makanan di atas meja, terus menonton pertengkaran kecil anatara ibu dan anak itu. Sedangkan Wulan, sesekali ia tersenyum, ternyata dibalik kelemah lembutan dan ramah tamah bi Narsih menyimpan kekuatan mengomel yang sangat dahsyat.


“Oh ya, sini berikan ponsel mu,” pinta sang ibu.


“Ponsel? Aku nggak bawa ponsel, sebelum masuk kesini di sita di depan,” jawab Deon.


“Kata mu, yang jaga itu temen mu. Kok disita?” tanya bi Narsih.


“Itu sudah peraturan jika ingin masuk sini bu, jika memaksa takut nya Deon di tuduh mau melawan tuan,” ujar Deon.


Bi Narsih melirik putranya itu dengan kurang puas.


“Deon gimana jika kamu temui mas Arkan. Kamu bisa kan?” tanya Wulan.


Deon berpikir sejenak. “Bisa Nyah,” jawabnya.


“Kamu katakan pada mas Arkan Wulan sedang menunggunya,” ucap Wulan.


.


.


.


TBC…

__ADS_1


__ADS_2