
Wulan keluar terburu buru dari kamar Brian sambil menangis tersedu. Ia kaget bukan kepalang saat keluar dari pintu kamar tubuhnya menabrak Arkan yang sedang berdiri di sana.
“Oughhh,” pekik nya kesakitan.
“Wulan, ada apa?” tanya Arkan heran. Wajah Wulan memerah dengan di penuhi air mata di kedua sisi wajahnya.
“Mas Arkan?” sontak Wulan langsung memeluk pria yang berdiri di hadapannya. “Tolong Wulan mas,” ucapnya sambil tersedu.
“Ya ada apa? Apa Brian melukai mu?” tanya Arkan.
“Maaf mas,” Wulan melepaskan tangannya dari tubuh Arkan. Sambil menyeka air mata di wajahnya. Ia berusaha mengatur nafasnya.
“Apa yang terjadi? Dimana Brian?” tanya Arkan lagi.
“Dia di dalam kamar,” ucap Wulan.
“Saya ingin bertemu dengan nya,” ucap Arkan.
“Mas.” ucap Wulan mencoba menghentikan Arkan. “Dia sedang bersama kekasihnya,” ucap Wulan.
Suara raya yang tengah mengerang nikmat tertangkap telinga Arkan. Irama Des han dan era ngan mereka silih berganti terus terdengar hingga di depan pintu.
“Mereka melakukan hal itu di hadapan mu?” tanya Arkan. Wajahnya memancarkan amarah yang begitu besar.
“Sudah bukan hal baru bagi ku, mereka sudah sering melakukan hal itu di hadapan ku” ucap Wulan sudah sedikit tenang.
“Kamu duduk dulu,” ajak Arkan.
Wulan pun berjalan menuju sofa di ruangan itu disusul Arakan di belakang nya.
“Aku akan memberi Mas Brian pelajaran. Tidak seharusnya dia memperlakukan istrinya seperti ini,” ujar Arkan.
“Mas Arkan. Biarkan saja mereka, aku sama sekali tidak terganggu dengan hubungan mereka.”
“Tapi mereka tetap harus di beri pelajaran. Sampai kapan dia akan terus memperlakukan kamu seperti ini?”
“Biarkan saja Raya yang melayani nya. Pria seperti Brian lebih pantas bersama wanita seperti Raya. Mas Arkan jangan ganggu mereka,” pinta Wulan.
“Hanya saja, Wulan tidak ingin kakek tau Wulan di perlakukan seperti ini oleh mas Brian. Mas Arkan, tolong bantu Wulan,” mohon Wulan dengan mata yang masih berkaca kaca. Wajah nya terlihat benar benar khawatir.
“Aku akan menolong mu!” jawab Arkan.
“Gimana caranya agar kakek tidak tinggal di rumah ini. Aku sangat khawatir jika kakek terus disini dan melihat Brian membawa wanita wanita nya ke sini. Sakit jantung kakek sangat rentan,” ujar Wulan masih dengan wajah cemas.
“Maksud kamu kakek kembali ke kampung?” tanya Arkan.
“Tapi mas, jika kakek ke kampung terlalu jauh. Wulan nggak bisa mantau. Bisa kah kakek tinggal sementara dirumah mas Arkan?” tanya Wulan.
“Dan, aku ingin bekerja. Aku nggak betah di dalam rumah ini,” lanjut Wulan seraya menundukkan kepalanya.
“Loh kemaren kan kamu di suruh mengolah pabrik bersama ibu?” ucap Arkan.
__ADS_1
“Aku sangat kepengen tapi nggak di bolehin keluar dari rumah sama mas Brian.” ucap Wulan.
Arkan berpikir sejenak, ia mencari cara agar bisa menolong Wulan.
“Aku akan minta bantuan ibu. Secepatnya kamu bisa mulai bekerja bersama ibu.” tukas Arkan.
“Makasih mas,” ujar Wulan.
Arakan menatap Wulan dengan iba. Ia tau seperti apa sifat Brian. Entah mengapa wanita polos ini yang harus menjadi istri Brian.
“Wulan,” panggil Arkan.
“Iya mas.” Wulan mengangkat kepalanya menatap Arkan.
“Jika butuh sesuatu bisa hubungi nomorku.” Arkan menyerahkan selembar kartu nama kepada Wulan.
Wulan menerima kartu nama itu kemudian bangkit dari duduk nya. “Terima kasih mas. Wulan mandi dulu, Wulan harus menyiapkan makan malam kakek sekarang,” ujar Wulan kemudian berjalan menuju kamarnya.
“Tapi mereka masih?” Arkan menahan Wulan.
“Kamar Wulan di sini, Wulan nggak mungkin masuk ke kamar mereka mas,” ujar Wulan.
“Aahh bagus lah, mandi lah. Aku masih harus menunggu Brian di sini,” ucap Arkan.
“Mari mas,” pamit Wulan.
Sepeninggal Wulan. Arkan langsung menuju kamar Brian. Ia mengeluarkan sebuah cek bernilai 1,800 juta dari dalam tas nya.
Tok tok tok
Tok tok tok
Sekali lagi Arkan mengetok pintu kamar tersebut.
Gagang pintu bergerak pertanda sedang di buka dari dalam.
“Ada apa?” tanya Brian kasar. Namun begitu melihat Arkan yang berdiri di sana ia langsung melunak.
“Aku nggak bisa transfer, limit nya terlalu gede. Dan aku nggak bisa ambil tunai karena tadi kamu minta pencairan sudah terlalu sore. Ini cek nya, cairkan saja sendiri besok,” ucap Arkan kemudian menyerahkan lembar kertas ditangannya kepada Arkan.
“Terima kasih,” ucap Brian dengan senyuman puas.
Arkan menatap pria yang sedang bertelanjang dada di hadapannya. Tubuhnya di penuhi keringat, nafasnya masih terlihat cepat.
“Oh ya, ibu meminta Wulan segera bekerja besok. Ia sangat butuh bantuan Wulan di pabrik,” tegas Arkan.
“Kenapa harus istriku, dia tidak harus bekerja. Dia hanya cukup menjadi ratu di rumah ini. Katakan pada bibi, Brian nggak mengijinkan istri kesayangannya untuk bekerja,” tukas Brian.
“Jika nggak bisa, ibu akan ke sini langsung membujuk mu,” ucap Arakan.
“Hmm, apakah bibi sebutuh itu dengan tenaga istriku?” tanya Brian.
__ADS_1
“Ibu hanya merasa lebih nyaman bekerja bersama keluarga sendiri. Lagian pabrik itu mendapat suplai dari perkebunan milik keluarga Wulan. Seharusnya Wulan adalah orang yang paling tepat berada di sana,” ujar Arkan.
“Hhh baiklah, aku mengijinkan. Tapi janji lah satu hal, bilang ke bibi jangan buat istriku bekerja terlalu lelah, karena dia masih harus melayani ku saat di rumah,” ucap Brian.
Tanpa membalas ucapan Brian, Arkan langsung berbalik badan kemudian berlalu dari hadapan Brian.
Arkan menuruni satu persatu anak tangga. Kakek Hendy sudah menunggunya di bawah sambil tersenyum cerah.
“Arkan, ternyata benar kamu. Kakek berpikir kakek salah mengenali orang,” ujar Kakek Hendy.
“Arkan baru saja akan menemui kakek, eh kakek sudah di sini.” ucap Arkan ramah.
“Kamu ke sini mencari Brian?” tanya Kakek.
“Iya kek, urusan kerjaan. Jadi saya akan sering sering ke sini menemuinya,” ujar Arkan.
Mata kakek Hendy terus menoleh ke atas. Seperti sedang menunggu seseorang.
“Kakek menunggu Wulan?” tanya Arkan.
“Iya, kakek sangat lapar. Seperti nya dia sangat lambat hari ini. Apa dia baik baik saja?” tanya kakek.
“Tentu saja dia baik kek. Mungin dia sedang mandi, paling sebentar lagi turun. Ayo kita ke ruangan makan. Arkan akan meminta bibi memberikan kakek beberapa cemilan,” ajak Arkan.
“Baiklah.”
Di ruang makan kakek terlihat sangat gembira. Ia telah menghabiskan beberapa potong kue pemberian bibi Narsih.
“Kakek,” tegur Wulan. Wulan berjalan menghampiri sang kakek, ia menarik piring berisi kue dari hadapan kakek nya. “Kakek kan sudah Wulan larang makan kue seperti ini. Banyak kandungan gula dan telur, kandungan kolesterol dalam sepotong kue ini sangat tinggi.”
“Benarkan kata kakek, Wulan selalu memilih milih makanan yang di berikan untuk kakek,” bisik kakek di telinga Arkan.
“Kakek hanya makan dua potong kok,” ujar Arkan memberi pembelaan.
Wulan langsung berjalan menuju dapur dimana makan malam sedang di siapkan.
“Wulan bukan sedang marah, dia hanya nggak ingin kakek sakit lagi,” ucap kakek dengan senyuman.
“Jika kakek nggak bisa makan sembarangan lagi, berarti kakek nggak bisa di ajak jalan dong. Padahal Arkan ingin mengajak kakek ke rumah Arkan,” ujar pria itu ramah.
“Bukan nggak boleh jalan, kakek hanya nggak boleh makan makanan yang produk gula dan susu nya tinggi. Pemicu kolesterol akan bahaya buat kesehatan kakek,” ralat Wulan.
“Makanan kakek hanya boleh yang seperti ini,” lanjut Wulan. Ia sudah meletakkan seporsi makanan milik kakek di depan sang kakek.
“Ohh itu mah gampang, aku juga bisa masak yang seperti itu. Kakek mau tinggal dengan Arkan ngga? Seminggu aja gimana?” bujuk Arkan.
“Boleh jika hanya seminggu,” ujar kakek ramah.
.
.
__ADS_1
.
TBC…