Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Rumah Gubuk-


__ADS_3

Begitu juga dengan kakek, bi Indun bertemu kakek saat kakek berada di depan rumah. Kakek seperti orang kebingungan yang sedang kehilangan arah. Bi Indun terpaksa membawa kakek pulang karena kakek terlihat kesakitan saat itu. Sedangkan di rumah besar Wulan tidak ada seorang pun di sana.


“Oh ya, bibi sering kunjungi rumah untuk apa?” tanya Wulan.


“Bibi sering ke sana diam diam Nyah. Bibi ingin bertemu bi Narsih, tanpa sepengetahuan tuan Brian,” ucap bi Indun.


“Kenapa dengan bi Narsih?”


“Bi Narsih setiap bulan mengirim uang kepada bibi, bibi hendak memberitahu kan bi Narsih agar stop mengirimkan uang nya pada bibi lagi. Bibi tidak tau bagaimana harus menggantinya. Bahkan beberapa bulan terakhir bi Narsih mengirimkan bibi uang yang banyak. Itulah kenapa bibi lebih sering ke sana akhir akhir ini,” jelas bi Indun.


“Bi Narsih sudah tidak tinggal di rumah itu lagi. Sekarang bi Narsih berada di Surabaya di rumah paman Richard, ayahnya Arkan. Mungkin yang mengirim uang itu adalah Deon anak nya bi Narsih. Akhir akhir ini Deon punya banyak uang. Dan mungkin saja itu atas permintaan bi Narsih,” jelas Wulan.


“Syukurlah, di sana bi Narsih lebih aman. Bibi baru tau sifat jahatnya tuan Brian setelah bertemu Raya, bibi tidak menyangka dia akan membunuh orang dengan begitu mudahnya,” ujar bi Indun.


“Dia sudah membunuh begitu banyak orang, siapa saja yang menghalangi jalannya pasti akan di singkirkan!” ujar Raya.


Wulan menoleh ke kiri menatap Raya. “Aku turut berduka cita atas kehilangan keluarga mu. Dan aku berharap kamu bisa mengurungkan niat balas dendam mu, sangat berbahaya menghadapi Brian saat ini, dia tidak memiliki peri kemanusiaan,” ujar Wulan.


“Jadi aku harus hidup seperti ini hingga aku tua? Terus dipenuhi rasa bersalah pada kedua orang tua dan anakku?! Jika aku sudah membalas kan dendam ku, aku baru bisa tenang,” ujar Raya penuh tekat.


“Aku bisa membantu,” suara seorang pria tiba tiba dari arah belakang menginterupsi percakapan mereka.


Sontak wajah ketiga wanita itu langsung menoleh ke arah belakang. Buto berdiri di belakang mereka sambil memegang perutnya.


“Buto apa yang kamu lakukan disini?” tanya Wulan.


“Syukur lah akhirnya kamu sadar,” ucap bi Indun senang.


“Ayo kembali ke ranjang, kamu belum bisa banyak gerak,” ucap Wulan dengan nada tegas.


“Kembali lah ke ranjang mu, bibi akan ambilkan kamu makanan. Kamu pasti lapar,” ucap bi Indun.


“Aku baik baik saja?” ucap Buto.


“Nggak nggak, kamu jangan melanggar ucapan dokter. Jika kamu nggak kembali, aku akan membawa kamu masuk,” Wulan bergegas beridiri dari bale bale bambu di depan rumah. Ia langsung memapah Buto agar kembali ke dalam rumah.


Begitu juga dengan Raya, ia bergegas membantu Wulan dari samping kiri Buto.


“Patuh lah, kamu tidak tau bagaiaman khawatirnya Wulan tadi?” ujar Raya.


Buto akhirnya mengikuti arahan mereka, ia kembali ke dalam rumah.

__ADS_1


“Berbaringlah, kata dokter kamu jangan banyak gerak, luka kamu nggak akan sembuh jika banyak gerak,” protes Wulan lagi.


Setelah mendengar ucapan Raya, Buto menjadi patuh dan akhirnya berbaring kembali di atas ranjang nya.


Wulan mengangkat kaos yang di kenakan Buto, ia melihat keadaan luka yang sudah di perban itu.


“Aku tidak apa apa Nyah,” ucap Buto.


“Tidak apa apa? Lihat, berdarah kembali. Luka kamu nggak bisa sembuh jika kamu gerak terus, atau kami bawa kamu ke rumah sakit kemudian polisi akan datang menangkap mu?” tanya Wulan mulai geram.


“Salah aku apa?” gumam Buto.


“Kamu nggak salah, kamu hanya sedang sakit,” ucap Wulan sambil memeriksa perban di perutnya. Sepertinya hanya pendarahan kecil, hingga mereka tidak perlu mengganti perban. Besok Mail sendiri yang akan mengganti perban sekaligus memeriksa lukanya.


“Sudah sudah jangan berdebat terus, ini di makan dulu makanan nya kemudian di minum obatnya,” ucap bi Narsih.


“Bersandarlah di sini. Setelah makan nasi, minum obat ini agar luka mu cepat kering. Minum obat penambah darah dua butir. Kalau terasa sakit kata Irma yang ini adalah penghilang rasa sakit dan ini antibiotik,” jelas bi Indun kepada Buto.


Buto duduk bersandar pada sandaran ranjang dan mulai memakan makanan yang di berikan kepadanya. Sesekali ia akan menatap tiga orang wanita yang sedang serius mengawasinya makan. Seperti seorang anak kecil ia di awasi agar secepatnya meminum obat yang di berikan.


“Aku butuh air,” ucap Buto.


Buto langsung meminum habis segelas air yang diberikan bi Indun.


“Bisa tambah lagi?” tanya Buto dengan perasaan segan.


Bi Indun kembali ke dapur membawa satu cerek air putih.


“Makanlah yang banyak, jika banyak makan kamu akan cepat pulih,” ujar bi Indun.


“Baiklah, aku akan makan.”


Tanpa segan lagi Buto langusng memakan habis nasi dan lauk di piring itu. Ia terlihat begitu kelaparan. Setelah selesai makan, ia langsung menelan semua jenis obat yang di berikan bi Indun kepadanya.


“Apa kita ganti perbannya bi?” tanya Wulan.


Raya mengguk, “Berdarahnya lumayan banyak.”


“Nggak perlu Nyah, aku bisa ganti sendiri. Berikan saja perbannya kepadaku,” tolak Buto.


Bi Indun memberikan kotak P3K kepada Buto.

__ADS_1


Ia terlihat sibuk membuka perban kemudian mengobati lukanya.


Dilihat dari cara Buto, seperti nya ia sudah terbiasa mengobati lukanya sendiri. Walau pun terlihat asal asalan tapi cara dia membersih kan lukanya jauh lebih baik dari Wulan dan bi Indun.


“Sepertinya dia sudah sembuh, lihat dia begitu gesit mengobati dirinya sendiri,” bisik Raya di telinga Wulan.


“Sudah, perban sudah di ganti,” ucap Buto. Ia berharap mata mata wanita itu tidak mengawasinya dengan awas.


“Ya sudah, aku mau tidur, aku ngantuk,” Raya berbalik badan menuju lemari tempat ia menyimpan tikar kemudian menggerainya di atas lantai.


“Kamu kembali lah tidur,” ucap Wulan pada Buto.


“Bi Aku ngantuk, bibi juga istirahat lah,” lanjut Wulan menatap bi Indun.


Ia kemudian berjalan menuju lantai dimana Raya sedang berbaring kemudian ikut berbaring di samping Raya.


“Loh nyonya, kenapa tidur di situ?” ucap Buto heran.


Indun pun langsung mengambil anyaman tikar yang baru saja di buatnya siang tadi kemudian menggerai tikar itu di samping Wulan. Setelah mematikan lampu Bi Indun ikut bergabung bersama Wulan dan Raya.


“Aku, aku bisa tidur di lantai. Kalian tidur di sini saja.” ucap Buto.


“Ranjang mu itu nggak muat untuk kami bertiga. Cepatlah tidur agar kamu cepat sembuh,” ucap Wulan.


“Nyonya, aku akan buatkan ranjang yang lebih besar untuk nyonya tidur. Aku nggak bisa melihat nyonya tidur di atas lantai,” ucap Buto.


“Kamu bisa melakukan itu jika luka mu sudah sembuh,” ucap Wulan.


“Aku juga akan membuatkan sebuah kamar lain untuk nyonya, nyonya tidak boleh tidur di luar seperti ini,” ucap Buto.


“Ya ya. Cepat lah sembuh, kamu bisa melakukan apa pun kalau luka mu sudah sembuh,” ucap Wulan dengan nada yang semakin mengecil. Ia akhirnya terlelap.


Setelah beraktivitas seharian tentu membuat tubuh Wulan tidak bisa menahan kantuknya saat itu. Ia tertidur sangat nyenyak dengan mimpi indah.


.


.


.


TBC…

__ADS_1


__ADS_2