Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Hal Pertama-


__ADS_3

Malam itu Arkan berniat membawa Wulan makan malam dengan nya di sebuah restaurant Italy yang sudah di booking nya sejak siang.


Namun begitu masuk mobil, mata Wulan mulai tertutup, kepalanya terseok seok hingga membentur kaca jendela mobil.


Terpaksa Arkan harus memutar arah kembali pulang ke apartemen. tangan kiri Arkan menahan kepala Wulan. Ia tertidur seperti seorang yang sedang pingsan.


Setiba di apartement, Arkan membawa Wulan naik ke apartemen dan membaringkan Wulan di atas tempat tidur miliknya. Ia membuka coat tebal yang di kenakan Wulan saat itu, sepatu kets putih kemudian melepas syal yang masih melingkar di leher Wulan.


“Sekarang kamu sudah di daerah tropis, kenapa masih memakai ini?”


Setelah melepas semua pakaian tebal dari badan Wulan, Arkan menyelimutinya.


Malam belum terlalu larut, Arkan memutuskan duduk di sofa dalam kamarnya dan mulai membuka laptop. Sebaiknya ia memeriksa beberapa laporan proyek yang sedang di garap perusahan. Ia juga harus periksa beberapa anggaran yang harus ia tanda tangani.


Terlalu asik bekerja, Arkan akhirnya tertidur di sofa dengan laptop yang masih menyala di hadapannya.


.


.


.


Pukul lima dini hari Wulan terbangun dari tidurnya. Rasanya ia telah tidur sepanjang malam. Rasa pegal di badannya kini sirna, tubuhnya terasa ringan dan segar.


Saat itu Wulan langsung bangkit dari ranjang. Rasa kebelet kencing, badan lengket dan baju yang di kenakan nya itu sudah hampir dua hari melekat di badannya. Wulan memutuskan untuk langsung ke kamar mandi.


Saat berdiri, mata Wulan tertuju le arah cahaya laptop dari sofa di ujung ruangan.


“Mas Arkan? Kok tidur disini?”


Melihat betapa lelapnya Arkan tertidur. Wulan memutuskan mengambil selimut kemudian menutupi tubuh Arkan dengan selimut.


Ia pun melanjutkan langkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Sudah hampir pukul enam, Arkan masih saja terlelap.


“Sarapan nasi goreng! Sate, ayam panggang… hmmm.” batin Wulan.


Wulan memutuskan membangunkan Arkan sebelum ia keluar. Sarapan berat dan sambal pedas sudah menari nari dalam pikirannya. Rasa lapar langsung menggerogot perutnya, ia harus segera ke dapur untuk membuat semua makanan itu.


“Mas?” panggil Wulan.


“Mas?”


“Hmmm,” sahut Arkan


“Nggak pindah ke ranjang saja? Mas kenapa tidur di sofa. Punggung mas nggak sakit?” Wulan menarik selimut dari tubuh Arkan kemudian menarik tangannya.


“Ayo mas, pindah ke ranjang!”


Karena sudah di tarik Wulan, akhirnya Arkan berjalan menuju ranjang. Wulan membantu memapah tubuh Arkan hingga ke atas ranjang karena matanya saat itu masih enggan terbuka.


“Tidur lah lagi, aku akan keluar membuat sarapan,” ucap Wulan.


Belum sempat Wulan berdiri, Arkan sudah menarik tubuh Wulan ke arahnya.


“Aku merindukanmu?”


Wulan tersenyum, “aku juga.”


Ia Menatap mata Arkan yang masih tersayup sayup.


“Emang mas tidur jam berapa?” tanya Wulan.

__ADS_1


Tangannya mengusap mata Arkan yang masih tersayup sayup itu.


Arkan meraih tangan Wulan kemudian mengecupnya.


Wulan mulai meraba dagu arkan, dagu yang mulai di tumbuh janggut tipis.


“Apakah pekerjaan dikantor sesibuk itu? Bahkan mas tidak punya waktu bercukur. Dan tidur begitu saja di depan laptop.”


Arkan membuka matanya kemudian menatap Wulan. Cukup lama ia menatap wajah Wulan. Demikian Wulan, ia bisa menatap wajah arkan lebih jelas dengan jarak sedekat itu. Cahaya remang kamar tidak menjadi penghambat bagi keduanya untuk saling mengagumi.


Tanpa di sadari jarak wajah mereka sudah semakin dekat, Wulan sudah mencium bibir Arkan. Arkan memejamkan matany menikmati ciuman lembut itu. Sangat jarang Wulan berinisiatif seperti itu.


Sambil mencium, Wulan memegang pipi Arkan kemudian bibirnya.


“Apa yang kamu lakukan? Kamu tau?-“


Muah m m muah.


“Ini berbahaya. Aku tidak bisa menahan-“


Ciuman makin mendalam.


“Sayang, aku nggak akan menahan diri lagi,”


Saat itu juga Arkan sudah mengekang tubuh Wulan dibawah lengannya.


Sekali tarik, tali pengikat bathrobe yang di kenakan Wulan langusng terlepas.


Wulan tidak mengenakan apa pun di balik bathrobe yang menutupi tubuhnya.


Tangan Arkan langsung menyusup masuk ke dalam bathrobe. Ia meraba apapun yang yang ada di dalam sana.


Pertempuran semakin sengit. Arkan terus melakukan aksinya. Wajah Wulan menatap sendu ke arah Arkan. Sepertinya ia sudah siap melakukan hal itu. Ia bergelinjang dan mend esah semakin besar. Membuat Arkan semakin blingsatan menggempur tubuh Wulan.


Mereka melakukannya perlahan, hingga rasa sakit berubah menjadi sebuah kenik matan. Pertempuran terus berpacu hingga keduanya tiba di titik puncak.


Arkan terkulai di samping tubuh Wulan.


dengan berbantalkan lengan Arkan, ia memeluk tubuh berlumur keringat yang sedang mendekapnya. Denyut jantung Arkan terdengar seperti gendang berirama cepat. Namun begitu merdu di telinga Wulan. Kepalanya terus mendekam di dalam dada bidang kekasihnya itu.


Tak ada kata keluar dari keduanya selama beberapa waktu. Mereka masih menikmati sisa sisa perasaan menggebu itu.


Tangan Wulan bahkan kembali meraba tubuh Arkan. Mulai dari leher hingga ke bagian dada bidang Arkan. Jarinya menelusuri setiap inci tubuh pria itu.


“Masih mau lagi?” tanya Arkan karena sepertinya Wulan mulai membangkitkan kembali libido nya.


“Kamu lelah,” ucap Wulan.


“Aku tidak lelah.” jawab Arkan.


Jemari Wulan terus meraba lengan kemudian berpindah ke punggung bagian belakang. Tangannya terhenti di bagian kulit yang terasa kasar memanjang dari punggung hingga rusuk kiri bawah.


“Ini apa mas?” tanya Wulan dengan nada pelan tapi penasaran.


“Bekas operasi,” jawab Arkan.


Jari wulan kembali meraba garis memanjang sekitar dua jengkal dari punggung hingga mendekati pinggang kiri Arkan.


“Operasi?”


“Ya aku melakukan tiga kali operasi waktu itu,”


Arkan menarik jemari wulan menuju arah kepalanya, sebuah bekas sayatan yang sama di bagian belakang kepala Arkan.

__ADS_1


“Di kepala juga?” tanya Wulan.


“Gumpalan dan pendarahan di belakang otak,” ucap Arkan.


Wulan merangkak naik hingga wajahnya sejajar dengan wajah arkan.


Wulan langsung mencium wajah Arkan. “Maafin aku mas,” ujar nya.


“Ini bukan salah mu.”


“Sama saja itu salah ku, hal itu terjadi karena mas Arkan ingin menolong ku.”


“Walaupun aku tau hal itu akan terjadi, aku akan tetap ke sana mencari mu. Jadi jangan salahkan diri mu lagi. Ok?”


Arkan kembali menaruh jemari Wulan di tubuhnya.


“Kita lanjutin lagi sayang, rasanya masih kurang.”


Arkan kembali mengekang tubuh Wulan, bibirnya mulai menjilat seluruh tubuh Wulan, mulai dari leher ia turun ke dada hingga bagian perut.”


Krueekkkkkrrrruuukk.


Suara bunyi keroncongan di perut Wulan membuat Arkan menghentikan aksinya.


“Kamu lapar?” tanya Arkan.


Wulan mengangguk.


“Terakhir aku makan kemaren jam sepuluh sebelum naik pesawat.”


Arkan langsung bangun dari posisinya. Ia kemudian menarik tubuh Wulan bangun dari pembaringan.


Tanpa berpakaian Arkan menuju lantai di mana bathrobe Wulan terlempar. Ia mengenakan bathrobe itu ke tubuh Wulan.


“Koper kita masih di luar, aku akan mengambilnya,” ujar Arkan.


“Mas,”


“Mas akan keluar seperti itu?”


Wulan mengambil celana boxer di atas ranjang kemudian memeberikan kepada arkan.


“Pakai ini.”


Setelah memakai boxer, Arkan langsung berjalan keluar kamar. Disusul Wulan di belakangnya.


Wulan berjalan menuju dapur dan ternyata tante Jenny sudah berada di sana.


“Tante?” sapa Wulan yang agak sedikit kaget.


“Kamu sudah bangun? Ayo makan, sudah tante panasin,” ucap jenny sambil berjalan ke ruangan depan.


“Arkan, mana baju kamu?” teriak Jenny saat melihat Arkan mondar mandir di ruangan hanya dengan boxer menutupi badanya.


Saat itu Wulan sudah berada di meja makan di samping Jenny.


Mata Jenny menatap Wulan kemudian kembali menatap Arkan. Ia kemudian menggelengkan kepalanya.


.


.


.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2