
Mobil melaju meninggalkan rumah sakit menuju sebuah bilangan di Jakarta Barat. Mobil yang membawa Wulan kemudian memasuki sebuah pelataran luas . Pada bagian depan bangunan tertulis Grand Heaven dengan cetak besar dan tebal.
“Bukannya Grand Heaven ini rumah duka ya? Apa kita terlebih dahulu mengunjungi Brian?” pikir Wulan dalam hatinya.
Arkan menuntun Wulan keluar dari mobil, sementara Daniel menyiapkan kursi roda untuk Wulan.
“Mas, ini Rumah duka kan? Kita nggak ke tempat Raya dulu?” tanya Wulan.
“Iya kita akan bertemu Raya, di dalam ada bi Indun, kakek dan semua orang. Mereka sudah menunggu mu di dalam,” ucap Arkan.
“Kakek juga datang?” tanya Wulan.
“Jadi kakek sudah tau aku seperti ini?”
“Tentu saja, justru kakek yang menyuruh kamu ke sini,” ucap Arkan.
“Ooooh,” ucap Wulan seraya mengerucutkan bibirnya.
“Syukurlah,” lanjutnya.
“Syukur kenapa?”
“Artinya kakek sudah memaafkan Brian,” jawab Wulan.
“Kamu? Kamu sudah memaafkan nya?”
Wulan tak menjawab. Sejujurnya ia belum bisa memaafkan perbuatan Brian. Ia teringat betapa jahatnya perbuatan Brian terhadap kakek, terhadap Raya dan juga terhadap dirinya.
Memasuki ruangan Luas itu, Arkan terus mendorong kursi roda Wulan menuju lift. Mereka langsung menuju lantai 2 bangunan itu.
Begitu keluar dari lift, jejeran kursi dari ujung ke ujung tersusun sangat rapih. Di beberapa sekat ruangan terdapat beberapa keramaian. Yang pastinya semua yang ada di situ sedang melayat keluarga, kerabat atau kenalan mereka yang meninggal.
“Dimana kakek?” tanya Wulan.
Matanya menerawang kemana mana.
“Mereka di ruang duka nomor 1,” jawab Arkan.
Setiba di tempat yang di tuju. Arkan tidak langsung mendorong Wulan masuk. Kakek dan bi Indun langsung menyambut Wulan.
“Wulan. Kamu tidak apa apa kan?” tanya bi Indun.
“Aku baik baik saja bi, hanya luka di bagian kaki,” jawab Wulan.
Bi Indun kembali menangis tersedu sedu. “Mungkin ini jalan yang memang sudah di pilih nya. Kita hanya bisa mendoakan semoga dia bahagia di alam surga,” ucap bi Indun sambil terisak.
Bi Indun kemudian memeluk Wulan. “Kamu yang sabar nak, jangan terlalu bersedih. Raya sangat tidak suka jika kita tidak menikmati hidup kita. Dia selalu mengatakan kita harus hidup dengan baik dan selalu berbahagia,” ucap bi Indun lagi.
“Iya bi ingat kata katanya,” Wulan mengangguk.
“Bibi kenapa? Seharusnya yang nangis kejer kan aku. Aku juga mencoba acting menangis seperti bibi tapi air mataku tidak bisa kekuar sedikitpun,” batin Wulan.
“Wulan, Bagaimana pun Raya sudah tenang. Dia sudah membalaskan dendam nya, kamu yang ikhlas, jangan terlalu bersedih. Dia mau kamu hidup bahagia. Ingat itu ,” sambung kakek Hendy.
“Iya kek,” kepala Wulan menoleh ke dalam ruangan. Ia mencari sosok Raya. “Dimana Raya?” tanya Wulan.
__ADS_1
“Masuk lah,” ucap bi Indun.
Arkan berdiri di belakang Wulan, ia mendorong Wulan masuk ke dalam ruangan.
Sebuah foto wanita cantik, sexy sedang tersenyum terpajang di sebuah meja pendek. Di sekitar foto tersebut berjejer berbagai macam bunga yang di hias dengan indah.
Wanita dalam foto itu adalah Raya Karenina. Wulan hampir lupa dengan wajah cantik wanita dalam foto itu, yang ia ingat adalah sosok Raya berambut pendek dan suka mengenakan hoodie dan topi. Raya yang hidup seadanya tanpa make up tebal, Raya yang slengean dan tidak feminim sama sekali.
“Siapa itu?” tanya Wulan.
Mata Wulan mulai berkaca kaca.
“Siapa wanita itu?” tanya Wulan lagi.
Arkan terus mendorong kursi roda Wulan hingga ke samping peti jenasah.
“Siapa wanita itu? Aku tidak kenal. Dimana Raya?” Wulan bertanya pada Irma yang duduk tidak jauh dari peti itu.
Ia mencari siapa saja yang ada di situ.
“Buto dimana Raya?” tanya Raya sambil menatap Buto.
Buto menunduk kan kepalanya ia tidak berani manatap wajah Wulan.
Air mata menetes membasahi pipinya. Ia tidak ingin menerima kenyataan bahwa wanita dalam foto itu adalah Raya.
“Jangan bercanda seperti ini. Ini tidak lucu sama sekali. Kenapa semuanya pada diam?” ucap nya lirih.
Arkan langsung menghampiri Wulan kemudian berjongkok di hadapannya.
Arkan mengusap air mata di pipi Wulan. “Melihat mu seperti ini, tentu dia tidak akan senang,” lanjut Arkan.
Wulan menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya jika jenazah di hadapannya adalah Raya.
“Dia terlalu baik untukku. dia sudah menebus kesalahan yang pernah dia lakukan. Dia mengganti semuanya dengan 100 kali lipat kebaikan. Dia tidak pernah mengeluh, dia tidak pernah marah, dia tidak pernah meminta. Dia selalu ada dan menemaniku sepanjang tahun. Dia membantuku bertahan hidup di hutan, dia menyelamatkan ku saat penjahat penjahat itu mengejar ku dan Buto, dia juga menyelamatkan ku kemaren. Dia sudah menyelamatkan ku berkali kali,” ujar Wulan sambil sesenggukan.
“Dia membelikan kami makanan enak, kami makan hingga hampir muntah malam itu. Dia membelikan kami pakaian yang banyak, sepatu, tas dan handphone. Bahkan handphone untuk si kecil Zaka sudah di siapkan nya.” ucap Wulan lirih.
Mendengar ucapan Wulan, Irma menangis sejadi jadinya. Betapa Raya sangat menyayangi mereka. Saat bi Indun melarang Irma membelikan susu formula untuk Zaka, Raya yang diam diam ke pasar membelikannya susu. Kenangan itu membuat Irma semakin larut dalam tangisnya.
“Kata nya aku harus hidup bahagia, aku harus mengejar cintaku, belum terlambat untuk mendapat kan mu,” ucap Wulan sambil menatap Arkan.
Arkan mengusap kepala Wulan. Dengan senyuman Arkan berkata “lihat lah dia untuk terakhir kalinya. Kamu tidak akan menyesali apa pun setelah mengucapkan perpisahan.”
Dengan berani Wulan menggeser kursi rodanya. Ia maju lebih dekat menatap jenazah Raya dari dekat.
Melihat tubuh kaku itu Wulan menangis sejadi jadi nya. Ia meluapkan segala perasaan nya di hadapan Raya. Ia juga berjanji akan selalu mengingat ucapan Raya. Dan akan hidup dengan bahagia.
Keluh kesah Wulan di hadapan Raya membuat semua orang di ruangan itu turut menangis.
Hingga sejam kemudian, perasaan Wulan sudah mulai tenang. Ia sudah mengikhlaskan kepergian sahabatnya itu.
“Kamu belum makan siang kan?” mau makan ga?” tanya Arkan sekaligus mengalihkan perhatian Wulan.
Wulan menggeleng.
__ADS_1
“Ada makanan enak di kantin. Kamu nggak laper?” tanya Arkan lagi.
Wulan berbalik menatap Arkan. “Mas Arkan laper ya? Mas Arkan kan nggak sarapan sejak pagi,” ucap Wulan.
Arkan mengusap perutnya yang memang mulai terasa lapar.
“Ya sudah, mas turun aja makan. Aku belum laper.”
“Nggak!”
Arkan menatap pria yang duduk di hadapan mereka. “Jika aku meninggalkan kamu di sini. Buaya akan langsung menerkam mu,” ucap nya sinis.
“Buaya apa mas? Mana buaya yang akan menerkamku?” tanya Wulan.
“Tuh.” Matanya mengerling ke arah Mail.
“Oh dia itu Mail. Dia keponakan nya bi Indun,” jelas Wulan.
“Dia dokter yang terus menempel di kamu selama setahun terakhir kan?” ucap Arkan.
“Shhht, Mail merawat kakek selama setahun terakhir. Bukan menempeli ku.”
“Ohhh.”
“Ayolah. Aku lapar.”
“Pemakaman hari ini ya?” tanya Wulan.
“Iya sore..”
Kenapa nggak besok aja di makamkan?
“Jenazah nggak baik di simpan terlalu lama, di larang agama. Lagian Almarhum tidak memliki keluarga yang di tunggunya.”
“Mas, kalau pesan makan, Trus makan di sini bisa nggak?” tanya Wulan.
“Nyonya ada yang datang,” ucap Buto dari arah belakang.
“Siapa?” tanya Wulan seraya melihat keluar.
Saat itu Nindy dan Farel sudah berdiri di situ.
“Nindy? Bagaimana dia bisa ke sini?”
“Saya turut berduka, selaku orang yang pernah mengenal almarhumah saya turut merasa kehilangan. Semoga kita samua diberi ketabahan.” ucap Nindy dengan mata berkaca kaca.
Wulan tidak merespon ucapan wanita itu. Hanya bi Indun yang bersedia menghampiri nindy dan mengucapkan Terimakasih. Setelah menyerahkan sebuket bunga, Nindy dan Farel langsung meninggalkan ruangan itu.
Wulan terus berada di sisi Raya hingga sore harinya. Ia tak beranjak sedikitpun dari situ. Saat terakhir yang bisa ia berikan hanyalah menemani Raya hingga ke liang lahat nya.
.
.
.
__ADS_1
TBC…