
Wulan kembali turun menuju pintu belakang, pintu menuju taman belakang rumah. Saat itu ia memang sangat ingin menghirup udara segar. Mengingat darah nya kini berdesir panas akibat ciuman tiba tiba nya Arkan, membuat Wulan lebih kepikiran jika terus berada di dalam rumah.
“Ahhrrgg,” tubuh Wulan bergetar, angin yang berhembus menerpa tubuhnya membuat udara dingin semakin menusuk ke dalam kulitnya.
Karena piyama tipis yang di kenakan Wulan membuat ia berniat untuk kembali ke dalam kamar kemudian masuk ke dalam selimut dan melanjutkan tidurnya yang masih kurang. Namun niatnya itu di urungkan begitu pandangan nya tertuju pada deretan Anthurium andraeanum berwarna putih yang sedang mekar indah di hadapannya.
“Waahhh, white anthurium. Nggak nyangka paman Richard memiliki white antuhurium sebanyak ini,” jemari Wulan mulai menghitung satu persatu pot bunga dihadapannya. “40, 42, 44… gila kira kira 100 pot anthurium. Emang paman pedagang bunga ya?” ucap Wulan takjub.
Di ujung tak jauh dari anthurium terdapat white lily yang beda jenis tapi mirip dengan anthurium.
“White lily?” Wulan memperhatikan semua bunga itu kira kira sama banyaknya dengan anthurium. Sekitar 100 pot.
“Ada hal apa lagi di sini?” gumam Wulan kemudian memasuki sebuah gerbang yang terbuat dari bougenvile berwarna putih.
“Luar biasa. Tulip dan mawar paman juga sangat indah, mereka mekar dengan indah,” ujar Wulan. Ia merasa bahagia dengan semua tanaman kesukaan nya itu.
“Udah puas lihat lihat nya?” suara Arkan dari arah belakang nya.
“Mas, kenapa bunga di sini semua berwarna putih?” tanya Wulan yang sedari tadi sudah di buat penasaran dengan semua bunga yang serba berwarna putih.
“Warna putih warna kesukaan mama,” jawab simpel Arkan seraya menggantung cardigan ke punggung Wulan.
“Makasih mas.” Mas Arkan tau kalau aku kedinginan. Dia sengaja membawakan ini untuk ku?”
“Tante jenny beruntung.” lanjut Wulan.
“Gimana tangan kamu, masih sakit?” tanya Arkan.
“Masih harus seperti ini. Kata dokter Herniati harus di gantung seperti ini sekitar dua minggu supaya tidak banyak gerak. Tapi aku nggak betah digantung seperti ini mas, terasa gatel.”
“Yang sabar, kamu pasti ingin tangan mu benar benar sembuhkan?”
Wulan mengangguk setuju.
“Oh ya, aku akan membawa mu melihat anggrek,” Arkan membawa Wulan semakin masuk ke dalam taman dimana tergantung berbagai jenis anggrek berwarna putih.
“Siapa yang merawat bunga bunga ini mas?” tanya Wulan.
__ADS_1
“Karena ayah jarang di rumah, ada seorang tukang kebun yang khusus merawat bunga bunga ini. Jika kamu mau aku akan membuatkan kebun yang sama seperti ini, dengan warna kesukaan mu,” ucap Arkan.
“Aku suka warna hitam mas,” ujar Wulan.
“Hmm, hitam. nggak ada bunga berwarna hitam. Lagian kamu seorang wanita, kenapa menyukai warna hitam?”
“Warna hitam juga adalah sebuah warna,” ucap Wulan.
“Biasa nya wanita menyukai warna pink, hijau, putih, ungu. Tapi kamu kok malah menyukai warna hitam?”
Arkan membawa Wulan mengitari taman bunga tersebut. Hingga sang mentari mulai menampakkan sinarnya cerah di ufuk timur. Mereka segera keluar dari rumah kaca menuju samping kanan rumah dimana kolam ikan kecil dengan berbagai jenis dan warna tersedia.
“Paman juga memiliki koleksi ikan sebanyak ini,” ucap Wulan takjub.
Ia mulai mencelup kan jemarinya ke dalam air dan mulai bermain main dengan air tersebut.
“Kalau kamu mau, aku juga akan membuatkan aquarium yang besar untuk mu. Sangkar burung yang berwarna warni dan berbagai jenis hewan cantik jika kamu mau,” Arkan menggambarkan bagaimana ia akan membangun istana nya untuk Wulan.
“Mas Arkan terlalu banyak berhayal. Saat ini, membangun sebuah rumah tinggal memang lebih mudah daripada membangun mahligai rumah tangga bersama ku. Aku tidak mau mas Arkan terlalu banyak berharap dengan hal-hal yang tak pasti,” ujar Wulan.
“Kamu tidak menginginkan diriku?” tanya Arkan sambil menatap mata jernih Wulan.
Tiba tiba muncul keraguan dalam diri Arkan. “Apa jangan jangan kamu mencintai Brian?” tanya Arkan sedikit frustasi.
“Jika aku bisa mencintai dia, bukan kah lebih baik? Dia suamiku! Tapi nyatanya, aku tidak memiliki rasa itu terhadap nya. Tapi mas Arkan, kamu juga tidak boleh memiliki perasaan terhadap diri ku. Kamu akan jadi bahan cemoohan,” ujar Wulan.
“Aku nggak peduli, kenapa aku harus memikirkan pendapat orang lain?”
“Tapi aku peduli mas, mas Brian akan melakukan apa pun untuk menghancurkan mas. Dia pasti akan menyakiti mas dan keluarga mas. Pikirkanlah bagaimana nekat nya dia!” tegas Wulan.
“Aku akan melawannya, aku akan membuatnya jatuh. Aku akan membuatnya meminta maaf atas setiap perbuatan nya padamu. Setelah itu, apa kamu akan menerima diriku?” tanya Arkan.
Wulan mengangguk. “Aku akan menerima mas Arkan tapi dengan syarat, aku ingin perusahan Wina Graha, karana perusahan itu milik kedua kakek kita. Aku ingin perceraian dari mas Brian, dan aku ingin melihat kakek walaupun hanya jasadnya yang muncul di hadapanku. Aku ingin merasa yakin jika kakek benar benar sudah meninggal, agar aku dapat memakamkannya secara layak,” Air mata menetes membasahi wajah Wulan yang sebagian besar masih menampakkan memar kemerahan.
Tangan Arkan tak sanggup diam, ia mengusap airmata itu sambil berucap. “Aku akan memberikan hal yang kamu minta. Kamu harus menungguku di sini, dan tepati janji yang kamu ucap kan itu.”
Arkan memeluk tubuh Wulan yang sedang bergetar karena menahan tangis. “Menangis lah jika kamu ingin menagis.”
__ADS_1
Seketika itu juga tangisan itu pecah, menjadi sebuah keluh kesah yang selama ini di simpan Wulan dalam hatinya.
“Aku selalu bermimpi kakek datang menghampiriku mas. Jika memang kakek sudah meninggal, aku ingin membuatkan makam yang layak untuknya, aku ingin mendoakan kakek agar kakek bisa tenang di alam kubur. Aku ingin mengunjungi makamnya dengan membawa bunga kesukaannya. Tapi dimana kakek sekarang aku masih belum tau mas,” ujar Wulan sambil terisak.
“Aku akan mencari kakek, aku akan kembali ke Jakarta hari ini juga. Aku akan membuat perhitungan dengan Brian, setiap perbuatan yang dia lakukan akan aku kembalikan kepadanya,” ucap Arkan penuh tekat.
.
.
.
“Bagaimana Wulan?” tanya Richard pada Arkan yang sedang duduk di teras depan menatap ke arah taman.
“Wulan baru saja tertidur, dokter sudah memberikan obat penenang untuk nya.”
“Dia terlihat sangat rapuh, kamu harus lebih sabar terhadapnya,” ujar Richard menyarankan anaknya itu.
“Ayah, Arkan akan balik Jakarta sore ini, Arkan harus mencari kakek Hendy,” ucap Arkan.
“Kamu sudah tau apa yang harus kamu lakukan?” tanya Richard.
“Harga saham perusahan sedang jatuh, kerugian Brian sangat besar. Arkan harus membeli beberapa beberapa persen saham dari pemegang saham lainnya. Kemudian mencari sumber info di sekitar pelabuhan soal keberadaan kakek,” ujar Arkan.
“Apa kamu percaya info dari pengawal Wulan itu? Bagaimana pun dia orang nya Brian. Kamu jangan langsung percaya, bisa jadi itu sebuah jebakan,” ucap Richard mengingatkan.
“Hanya itu sumber informasi yang bisa aku pegang saat ini. Aku akan tetap mulai mencari petunjuk dari sana,” ujar Arkan.
“Daniel sudah mendapatkan info terbaru tentang kegiatan jual beli Brian akhir akhir ini. Banyak dana gelap yang mengalir ke rekening pribadinya. Hati hati dalam bertindak. Ibu mu sudah meyakinkan beberapa pemegang saham untuk menjual saham mereka kepada mu. Setiba di Jakarta langsung akuisisi saham sebelum Brian mengetahui rencana kamu. Jika butuh dana tambahan akan ayah siapkan. Kamu hanya cukup maju pasang badan, bagaimana pun kamu memiliki hak terhadap perusahan kakek mu itu,” saran Richard panjang lebar.
“Baik Terimakasih ayah.”
.
.
.
__ADS_1
TBC…