Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Beri Waktu-


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirawat intensif oleh dokter, luka memar di sekujur tubuh Wulan akhir nya sembuh. Tangan yang tadi nya di gantung, sekarang sudah bisa di lepas. Walau pun masih belum bisa digunakan untuk kerja berat, setidaknya tangan Wulan sudah bisa bergerak bebas tanpa rasa sakit lagi.


Di rumah paman Richard Wulan di perlakukan seperti seorang Ratu. Setiap pelayan melarangnya melakukan hal apa pun. Mereka siap melayaninya sepanjang waktu.


“Nyah.” bi narsih dengan wajah cemberut menghampiri Wulan yang sedang duduk di depan tv.


“Kenapa bi?” tanya Wulan.


“Bibi ke dapur tapi di usir sama pekerja di sini,” ucap bibi sembari menatap beberapa pekerja di arah dapur.


“Emang bibi mau ngapain di dapur?” tanya Wulan.


“Bibi mau siapkan bumbu, mau bersih bersih, mau cuci piring. Kalau seperti ini bibi bosan Nyah,” ujar bi Narsih sedikit mengeluh.


“Emang bibi doang yang bosan? Lihat aku aja di suruh nonton drakor ama mereka. Sejak kapan bibi lihat aku nonton drama membosankan seperti ini.”


“Jadi bibi harus gimana Nyah?”


“Ya sudah, bibi temani aku nonton aja yuk. Bibi suka nonton apa?” tanya wulan seraya menyerahkan remot ke tangan bi narsih.


“Bibi nggak suka nonton, otot otot bibi sakit semua jika diam seharian. Bibi di suruh melayani nyonya saja, tapi nyonya nggak pernah menyuruh bibi lagi. Tangan nyonya sudah sembuh dan nyonya melakukan semuanya sendiri,” ujar abi Narsih masih bermuram.


Wulan menatap jam di dinding. Waktu sudah hampir jam lima sore.


“Bibi ke dapur sekarang, buatkan susu coklat panas. Hmm, bibi buatkan juga cemilan. Bibi bilang aja aku nggak suka minuman buatan orang lain,” saran Wulan.


“Benarkah? Nyonya mau cemilan apa?” tanya bi Narsih senang.


“Apa aja, semua buatan bibi enak kok.”


“Baik Nyah, bibi ke dapur sekarang,” ucap bi Narsih kemudian pergi dari ruangan itu dengan semangat.


“Emang bosan seharian di rumah. Nonton tv, semua gosip tentang KDRT. Hufftttt..” Wulan menghempaskan remot di tangannya kemudian bangkit dari kursi yang sudah di tongkrongin nya selama dua jam.


Baru saja ia akan melangkah keluar tiba tiba suara pintu terbuka. Arkan muncul dari balik pintu bersama Daniel asistennya.


“Mas.” Wulan dengan gembira menghampiri Arkan.


“Gimana kabar? kainnya udah di lepas?” tanya Arkan sambil memeriksa lengan Wulan.


“Sudah di bolehkan lepas sama dokter.”


“Kalau sakit lagi gimana?” tanya Arkan.


“Yang penting gak di pakai kerja berat, aman kok.” Wulan menatap beberapa tumpukan kardus yang baru saja di bawa masuk oleh Daniel. “Itu apa mas?” tanya Wulan.


“Itu berkas yang harus aku pelajari. Papa sedang di Amrik, jadi aku langsung di suruh ke sini. Kata papa kamu mulai bosan di rumah,” ucap Arkan.


“Kapan paman berangkat, tadi pagi masih mondar mandir di samping.”

__ADS_1


“Tiba tiba, ada urusan penting. Ayah langsung terbang, nggak sempat pulang,” ujar Arkan.


“Oh ya, kamu sudah nonton berita terkini?” tanya Arkan.


Arkan langsung menuju tv kemudian mencari chanel berita.


“Berita apa? Dari tadi aku di depan tv nggak lihat berita penting,” ucap Wulan sambil ikuti Arkan duduk di depan tv.


“Berita Pilkada yang sedang berlangsung sekarang.”


Saat itu siaran berita di tv saat itu sedang menayangkan bincang bincang bersama calon gubernur yang akan maju dalam pilkada.


Wulan masih belum mengerti maksud Arkan yang menyuruhnya melihat berita, ia pun tak ingin bertanya. Ia fokus menonton siaran tersebut.


“Pria itu Junaidi Margo, ayah dari Soraya.” tv langsung di pause Arkan saat wajah Junaidi terpampang besar di layar kaca.


“Maksud mas, ayah dari Soraya kekasih mas Brian?” tanya Wulan.


“Betul, calon terkuat untuk provinsi A dari partai Nasional. Menurut sumber, Soraya dan ayahnya menerima aliran dana dari seorang pengusaha ternama,” ucap Arkan.


“Dana dari Brian?” tanya Wulan.


Arkan mengangguk. “Sepertinya begitu.”


“Ya nggak heran, Soraya emang pernah katakan dia butuh Brian, dia hanya butuh dukungan Brian bukan untuk merebut Brian dari ku,” lanjut Wulan.


“Trus?” tanya Wulan penuh rasa ingin tau.


“Itu artinya Brian sudah mengganti semua kerugian Belize. Dan proyek tol nya yang sempat terbengkalai selama seminggu kini kembali beroperasi.”


“Beberapa hutang perusahan di bank juga sudah di lunasinya.”


Wulan terus menyimak.


“Ya bagus dong, perusahan akan aman sekarang.” Wulan mendekat sedikit ke arah wajah Arkan. “Mas sudah membeli berapa banyak saham mereka?” tanya Wulan pelan.


“20 % di tambah saham mama dan kakek Hendy sekarang kita punya 48 % saham,” jawab Arkan.


“Berarti mas sudah bisa mengambil alih perusahan?” tanya Wulan.


“Belum untuk saat ini. Aku masih menyelidiki sumber dana gelap Brian, menuntut nya dengan penggelapan dana sekalian kamu ceraikan dia di saat bersamaan. Dan masalah kakek, kasus nya sudah kembali di buka. Kasus Kehilangan kakek sudah di usut kembali oleh pihak kepolisian,” ucap Arkan.


“Syukurlah,” ucap wulan senang. “Brian sangat jahat mas, jika ketahuan mas Arkan sedang menyelidiki diri nya takutnya ia akan melakukan hal jahat terhadap mas,” ucap Wulan khawatir.


“Aku sudah kumpulkan bukti untuk menyerang nya. Kamu lihat saja. Paman Johan sekarang sedang di rawat di rumah sakit Singapore. Paman Tidak boleh di jenguk oleh siapa pun. Aku merasa paman Johan pasti mengetahui sesuatu mengenai Brian.”


“Apa Brian akan segera di tangkap polisi?” tanya Arkan.


“Entah lah, tim pengacara ayah sedang mempelajari penggelapan dananya. Mungkin sekitar dua tahun penjara di tambah denda sebagai ganti rugi. Jika denda semakin besar, masa kurungan akan semakin berkurang,” jelas Brian.

__ADS_1


“Jadi kapan aku akan ke Jakarta mas?”


“Kamu ingin bertemu Brian?” tanya Arkan.


“Bukan, aku ingin menceraikan Brian dan kemudian kembali mencari kakek,” jelas Brian.


“Jangan bilang kamu merindukan pria itu setelah apa yang di lakukannya kepadamu,” Arkan menatap wajah Wulan penuh selidik.


“Aku hanya merasa bosan terus menerus dirumah. Aku ingin segera kembali bekerja,” sanggah Wulan.


“Pabrik sudah tidak beroperasi. Perkebunan sudah tidak pernah mengsuply pabrik. Semua pekerja belum di gaji. Dan perkebunan itu sekarang sudah di gadai Brian pada rentenir.”


“Perkebunan digadai? Kenapa aku nggak tau? Gimana cara nya Brian menggadaikan semua perkebunan tanpa ijin kakek?” tanya Wulan khawatir.


“Kakek sudah memberikan ijin kepada Brian untuk melakukan hal itu.”


“Kapan? Caranya?” tanya Wulan.


“Entahlah, yang pastinya ada bukti tertulis dari kakek. Brian memiliki surat kuasa dari kakek,” ucap Arkan.


“Mas aku akan menemui mas Brian, aku akan meminta penjelasan darinya. Bagaimanapun dia harus mengambil kembali perkebunan itu!”


Wulan beranjak dari duduk nya kemudian berjalan dengan tergesa gesa menuju kamarnya.


“Wulan, kamu tunggu dulu dong. Kita harus merencana kan semuanya dengan matang sebelum kamu menemui Brian. Kita bahas dulu gimana?” Arkan berjalan mengikuti Wulan dari belakang.


“Nggak mas, aku harus meminta tanggung jawabnya. Perusahan saja hampir bangkrut di buatnya, sekarang bagaimana dia akan mengembalikan perkebunan itu,” ucap Wulan tak mempedulikan ucapan Arkan.


“Kita akan bersama sama menemui Brian. Tapi bukan sekarang. Beri aku waktu!” pinta Arkan.


Wulan menghentikan langkah di depan pintu kamarnya.


“Apa karena hal itu kakek menghilang mas? Sejak awal aku sudah mencurigai Brian. Dia pasti telah melakukan sesuatu pada kakek.”


“Seharusnya aku belum menyinggung perkebunan itu kepadanya. Jika aku cerita soal kakek pernah di tawan di dermaga bagaimana reaksinya?!” batin Arkan


Arkan memegang jemari Wulan.


“Percayalah, beri aku waktu. Saat kamu menemui Brian adalah saat dimana kalian akan bercerai. Aku tidak ingin mengambil resiko, status kamu masih istrinya sekarang, tidak ada seorang pun yang bisa melarang nya jika dia ingin mengambil dirimu dariku?”


Mata Wulan berkaca kaca, tiba tiba ia memeluk tubuh Arkan erat.


.


.


.


TBC…

__ADS_1


__ADS_2