
Bi Indun sudah menyiapkan makan untuk Wulan, dan Irma sudah mengantar makanan itu ke kamar Wulan.
Irma kembali mengambil Zaka kemudian mulai menyuapnya makan.
“Nak, bawalah Zaka makan di ruang depan, ibu ingin bicara dangan tuan Arkan l,” ucap bi Indun pada anaknya Irma.
Sepeninggal Irma.
“Bagaimana Wulan bi?” tanya Arkan.
“Dia masih sedih, matanya merah, seperti nya banyak menangis.”
Saat itu juga kakek menatap Arkan. “Wulan tidak pernah menangis, jika ia sampai menangis artinya dia sangat kecewa.”
“Kakek, sebenarnya aku. Aku bersalah pada kakek dan Wulan. Aku selama ini sudah berbohong,” ucap Arkan, ia mendekatkan kursinya ke arah kakek kemudian memegang tangan kakek.
“Maafin Arkan kek, sebenarnya Brian belum meninggal,” ucap Arkan.
Ucapan Arkan tidak serta merta membuat kakek kaget.
Saat itu juga arkan menatap bi Indun dan Buto. Mereka bersama menggelengkan kepala mereka. Yang tau hal Brian belum meninggal hanya Buto, bi Indun dan Daniel.
“Kakek tinggal lama di pegunungan itu, tidak perlu bibi atau pun Buto memberitahukan ke kakek, kakek sudah tau Brian belum meninggal.”
Kakek menatap Arkan lebih lekat.
“Kamu tau kenapa kakek berusaha melarang kalian menikah waktu itu? Karena kakek tau Brian belum meninggal!”
“Pegunungan itu akan di jadikan hutan konversi wisata oleh pemerintah, tidak ada satupun hewan berbahaya di sana. Apa kelinci dan tupai bisa memangsa manusia hingga tersisa tulang belulang?”
Arkan tertunduk.
“Sekarang Arkan harus bagaimana menjelaskan pada Wulan? Dia sedang hamil besar, jika terus sedih seperti itu, aku takut akan mempengaruhi kehamilannya.”
“Sekarang kamu bertanya ke kami harus berbuat apa? Wulan itu seperti apa seharusnya kamu sudah tau. Dia menatap segala sesuatu memakai hatinya.”
“Sebenarnya kakek sudah tidak mendukung keluarga kalian dekati kami. Selama Wulan hidup di lingkup keluarga kalian, Wulan cucuku tidak pernah benar benar tenang. Akhirnya yang kakek khawatirkan terjadi juga,” lanjut kakek.
“Aku melakukan ini setalah pemikiran yang matang kek. Aku pikir, Dengan meninggalnya Brian semua orang bisa hidup lebih enteng tanpa harus merasa was was. Dan juga, mas Brian sudah pernah mengatakan kepadaku, ia tidak pernah akan melepaskan Wulan.”
“Terlebih, paman Johan mendukung apa yang aku lakukan. Keadaan Brian saat di bawa ke RS sangat kritis. Dokter mengatakan ia tidak akan bisa hidup normal lagi. Selamanya hanya akan berada di tempat tidur. Cidera Brian pada tulang belakng membuat saraf sebagian tubuhnya mati.”
“Johan tau hal ini?” tanya kakek Hendy kaget.
Arkan mengangguk. “Saat dalam perjalanan ke rumah sakit, aku sudah lebih dahulu menghubungi paman. Paman tau kondisi Brian seperti apa. Sebagian ide ini berasal dari paman Johan.”
“Kakek, bukankah semua orang hidup lebih baik sekarang? Bagaimana jadinya jika Brian tidak dinyatakan meninggal? Apa Wulan bisa hidup dengan bebas seperti sekarang? Aku tidak berniat membohongi Wulan, aku hanya ingin Wulan bisa hidup lebih lepas. Aku tidak pernah memikirkan hal lain selain kebahagiaan Wulan.”
Suasana di ruang makan itu menjadi hening.
Kakek Hendy tidak sepenuhnya menyalahkan Arkan. Semua yang di lakukannya adalah benar. Situasi runyam lah hingga membuat mereka berada di titik itu.
Sambil bersandar pada sandaran kursi kakek menatap meja yang masih di penuhi makanan.
__ADS_1
“Setelah Wulan sedikit tenang kakek akan bicara dengannya. Sebaiknya sekarang kita makan dulu.”
Kakek mulai mengambil lauk ke atas piring nya kemudian mulai makan makanan yang sudah di hidangkan.
Arkan juga mulai ikut makan, dengan perasaan yang masih mengkhawatirkan istrinya.
Malam itu Arkan tidur di sofa di depan kamar Wulan. Ia masih menunggu istrinya itu bangun dan keluar. Hingga pagi hari saat Arkan mengetok pintu, Wulan masih tidak membukakan pintu untuknya.
Saat itu juga bi Indun tiba di situ.
“Tuan belum pulang?”
“Aku masih menunggu Wulan bi, sepertinya dia masih marah.”
“Nanti bibi bicarakan lagi dengannya.”
Bi Indun berdiri di pintu kamar kemudian mengetok pintu.
“Wulan buka, ini bibi. Bibi bawakan sarapan untukmu,” ucap Indun.
“Bi, mas Arkan masih di situ?” tanya Wulan dari dalam.
“Masih, semalaman tuan tidur di sofa menunggu kamu. Ayolah buka pintunya,” bujuk bi Indun.
“Aku masih kesal sama mas Arkan.”
“Tapi bayi mu butuh nutrisi. Kamu juga butuh tenaga, ayolah dibuka,” ucap bi Indun lagi.
“Sayang, buka lah. Mas tidak akan masuk, mas akan pulang ke rumah ganti pakaian kemudian ke kantor. Gimana kalau kamu buka pintu dan ambil susu mu, mas janji mas nggak akan masuk. Bukankah anak kita juga butuh makan?” bujuk Arkan.
“Bi, aku akan pulang dulu. Jam sepuluh pagi ini masih ada meeting dengan para kontraktor. Usai meeting aku akan langsung kembali ke sini.”
“Baik tuan,” jawab bi Indun.
Selang beberapa saat kepergian Arkan, bibi di. Kembali mengetuk pintu.
“Wulan, bukalah, suami kamu sudah pulang.”
“Mas Arkan sudah pergi bi?” tanya Wulan dari dalam ruangan.
“Sudah. Ayo sarapan dulu nak, bibi sudah siap kan makanan kamu di bawah,” ucap bi Indun.
Perlahan pintu di bukanya. Setelah meminum segelas susu pemberian bi Indun, Wulan berjalan turun menuju ruang makan.
“Aku butuh banyak kalori, aku perlu tenaga extra, aku perlu energi yang kuat…”
Wulan menatap menu jagung rebus dan sayur bening serta beberapa menu lainnya di atas meja.
“Bi, tumben masak sarapan sebanyak ini,” tanya Wulan.
“Suami kamu belum sarapan sudah pergi.”
“Irma mana?” tanya Wulan.
__ADS_1
“Irma mengantar Zaka ke sekolah di temani Buto sekaligus singgah belanja. Ia sedang mencari barang barang untuk salonnya.”
“Kakek?”
“Tuh,” bi Indun menunjuk kakek yang baru saja tiba di situ.
“Kakek, maaf Wulan makan duluan.”
“Mana suami mu?” tanya kakek.
“Sudah pergi.”
“Kamu bukan lagi seorang yang hanya memikirkan perasaan kamu sendiri wulan. Sekarang kamu memiliki tanggung jawab sebagai seorang ibu, istri. Sifat ngambek seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah.”
“Apa lagi kamu sedang hamil besar. Suami kamu sangat mencemaskan mu. Kamu nggak kasihan dengannya?”
“Kakek nggak tau apa yang mas Arkan lakukan, jika kakek tau pasti kakek akan semakin membencinya.”
“Kakek sudah tau. Soal Brian? Kakek sudah tau lama sejak kejadian di gunung itu.”
“Kakek tau dan kakek membiarkannya?”
“Dia punya alasan nya sendiri melakukan hal itu.”
Kakek mendorong kursi roda nya mendekati meja.
“Cih, kebohongan sebesar itu dan berani menikah dengan ku,” dumel Wulan kesal.
“Bukankah kakek sudah melarang kalian menikah?” ucap kakek di sertai tekanan.
Melihat sang kakek mulai emosi, Wulan menunduk. Ternyata itulah alasan kenapa kakek tidak ingin mereka menikah waktu itu.
“Jadi sekarang Wulan harus gimana?” tanya Wulan.
“Harus gimana lagi? Anggap saja Brian itu sudah mati,” jawab Kakek.
“Tapi perasaan ku tidak bisa bohong kek. Brian belum mati, artinya dia masih ada sangkutan pernikahan dengan ku. Aku begitu membencinya, mengingat hubungan di atas kertas kami, rasanya aku mau muntah.”
“Bagaimana jika suatu hari nanti ia kembali dan menuntut mas Arkan? Pria jahat itu tidak akan pernah melepaskan aku!”
Sejenak Wulan tersadar akan sikap nya.
“Maafkan Wulan kek, Wulan mulai kasar. Sebaiknya Wulan kembali ke kamar. Bicara panjang lebar sekalipun tidak ada satu orang pun yang mengerti perasaan Wulan saat ini.”
Dengan mata berlinang Wulan meninggalkan meja makan. Ia kembali menuju kamarnya.
.
.
.
TBC…
__ADS_1