Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Bertemu Kakek-


__ADS_3

Seperti permintaan Wulan, bi indun harus membangunkan Wulan pagi hari karena Wulan ingin bertemu sang kakek.


Jadi pagi itu, sebelum kakek keluar dari kamar bi Indun harus membangunkan Wulan. Kakek pasti ingin bertemu Wulan, demikian Wulan.


“Nyonya,” panggil bi Indun pelan agar tidak membangunkan Raya.


“Nyah. Bangun lah, bentar lagi kakek keluar,” ucap bi Indun.


Mendengar kata kakek, Wulan langsung membuka matanya. Ia langusng duduk membenarkan pakaian dan rambutnya.


“Kakek Sudah bangun bi?” tanya Wulan.


“Sudah, saat kakek keluar nyonya sambut aja di depan pintu. Kakek pasti senang saat melihat nyonya,” saran bi Indun.


“Baiklah,” Wulan langusng berjalan menuju pintu kamar kakek. Ia merapihkan rambutnya dan mengusap wajahnya agar terlihat lebih segar. Dengan senyuman, Wulan tampak antusias, ia sudah tidak sabar ingin memuk kakeknya.


Saat suara gagang pintu usang itu mulai bergerak, Wulan semakin tersenyum senang. Ia menanti sang kakek keluar. Sang kakek kelaur dengan menggunakan kursi roda.


“Kakek?” sapa Wulan.


“Wulan, Wulan cucuku. Benarkah itu kamu Wulan?” tanya kakek seakan tak percaya.


“Iya kek, ini Wulan,” sahut Wulan seraya melayangkan senyuman ke wajah kakek.


Kakek Hendy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya kemudian mengangkat kedua tangannya. “Ya Rab, Terimakasih sudah menjawab doa doa ku,” tutur kakek. Ia melebarkan kedua tangannya menyambut Wulan dalam pelukannya.


“Maaf kan aku kek, aku tidak mengira akan terjadi seperti ini. Aku tidak menjaga kakek dengan baik,” ucap Wulan.


Air mata menetes di pipinya, rasa haru dan bahagia. Kakek adalah keluarga satu satunya yang dimiliki nya saat ini. Ia yang selalu memimpikan sang kakek sudah meninggal, ternyata kakek masih hidup.


“Sudah jangan menangis, kakek baik baik saja. Lihat, kakek tidak apa apa kan?” ucap kakek Hendy sambil menepuk nepuk pundak Wulan.


Selama beberapa saat Wulan masih memeluk kakek nya, kakek yang sudah membesarkan sejak ia berusia sepuluh tahun. Kakek yang begitu menyayangi dirinya.


“Semua ini karena kakek. Kakek sudah membuat kamu menderita. Seharusnya, kakek tidak menjodohkan mu dengan Brian. Kakek tidak mengira sifat nya seperti itu. Kakek menyesal Wulan,” ujar kakek penuh penyesalan.


“Apa yang sudah di lakukan Brian pada kakek?”

__ADS_1


“Dia hanya mencuri perkebunan dari kakek, dia mengambil paksa cap jempol kakek agar bisa leluasa menggadaikan perkebunan kita,” ucap Kakek Hendy.


“Kakek tau? Saat ini Brian sedang kewalahan mengurus perusahan. Dia di serang sana sini oleh rentenir. Jadi dia mulai terjun di dunia hitam. Anak buahnya ada dimana mana. Organisasi mereka menjual narkotika,” ucap Wulan.


“Syukurlah kamu sekarang tidak bersamanya lagi. Lebih baik kamu di sini, jangan pergi dari tempat ini,” ucap Kakek.


“Iya, aku akan di sini menjaga kakek. Oh ya, kakek mau sarapan kan?” tanya Wulan.


“Ya, kakek biasa sarapan di dapur bersama Zaka. Ayo ajak kakek ke dapur,” ucap bi Indun dari arah pintu masuk.


Wulan segera berdiri kemudian mendorong kursi roda kakek menuju dapur. Di dapur, Irma dan si kecil Zaka sudah duduk menghadap meja.


“Nyonya, bibi biasanya bikin oat milk untuk kakek sarapan. Bibi tau masakan yang nyonya sering buat untuk kakek,” ujar bi Indun.


“Makasih bi, sudah merawat kakek selama aku nggak ada,” ucap Wulan.


Saat itu Wulan duduk di samping Irma. Irma terlihat begitu kerepotan menyuap bayinya yang nggak bisa diam.


“Halo Zaka,” sapa Wulan.


“Ngga apa, sarapan roti emang paling pas. Aku nggak suka makanan berat di pagi hari. Tapi, please jangan panggil aku nyonya. Kamu bisa panggil aku kakak, karena umur ku dua tahun di atas kamu,” pinta Wulan.


“Bibi juga, aku nggak nyaman di panggil nyonya sekarang. Bibi bisa saja panggil aku Wulan. Bisa kan bi?” tanya Wulan.


“Baik Nyah. Maksud bibi Wulan.” bibi tersenyum kecil melihat wajah Wulan berubah manyun saat bi Indun menyebut Nyonya.


“Bagaimana Wulan tau kakek ada disini?” tanya kakek sambil menikmati makanan nya.


“Aku di jemput sama Raya. Dia yang membawa aku ke sini,” ucap Wulan.


“Hmm Raya? Jangan jangan ini adalah jebakan? Dia pasti akan memberitahukan keberadaan kita kepada Brian,” ujar kakek dengan mimik kurang senang. “Kakek tau sejak awal niatnya tidak baik. Dia pasti sudah merencanakan sesuatu,” lanjut kakek.


“Kek, Raya orang baik kok.”


“Trus siapa pria yang tidur di ruang tengah itu?” tanya kakek penuh waspada.


“Itu pengawal aku kek, demi menyelamatkan aku dia terkena tembakan. Untung Raya tiba tepat waktu, kalau tidak, kami pasti tidak akan selamat,” jelas Wulan.

__ADS_1


Kakek Hendy memgangguk ngangguk mengerti.


Seharian Wulan terus menemani kakek nya. Ia membawa kakek berjalan jalan keliling gubuk itu. Siang hari ia akan membantu bi Indun masak, dan sore hari ia membantu bi Indun membuat anyaman tikar. Saat makan malam pukul tujuh kakek akan makan terlebih dahulu kemudian kembali ke kamar.


Malam harinya, setelah semua tugas dan pekerjaannya selesai, Wulan akhirnya keluar dari dalam rumah untuk menghirup udara segar. Bi Indun datang menghampiri Wulan.


“Wulan,” panggil bi Indun.


“Bi, kenapa belum masuk tidur?” tanya Wulan.


“Seharusnya yang istirahat itu kamu, seharian kamu hanya tidur sejam. Kamu nggak capek?” tanya bi Indun.


“Mungkin karena aku bertemu kakek, semua rasa lelah dan beban ku sirna bi. Perasaan ku terasa lega, seperti hutang rasa bersalah ku sudah terbayar,” ujar Wulan.


Beberapa saat kemudian dari arah belakang Raya datang menghampiri Wulan dan bi Indun.


“Kanapa belum istirahat?” tanya Raya.


“Raya, maafkan kakek. Kakek jutek, kasar dan benci sama kamu mungkin karena apa yang sudah di laluinya. Kakek hanya tau bagaimana kamu pernah bersekongkol bersama Brian. Kakek tidak tau apa yang sudah kamu lalui karena Brian.” ucap Wulan.


“Nggak apa, aku yang salah. Wajar jika kakek membenciku. Sejak awal aku di sini kakek sudah tidak suka aku di dekatnya. Makanya aku lebih sering menjauhi kakek,” jawab Raya.


Bi Indun mengangguk. “Jika di bujuk terus dan bersikap baik, kakek pasti tidak akan marah lagi,” imbuh bi Indun.


“Oh ya, rambut kamu. Kenapa di potong seperti ini. Aku sampai tidak bisa mengenali mu,” ucap Raya.


“Aku sudah tidak memiliki apa pun, aku bukan lagi Raya Karenina si gadis cantik yang mendambakan kehidupan mewah. Aku hidup hanya untuk membalaskan dendam kedua orang tua dan anak ku,” ujar Raya.


Wulan teringat yang di ceritakan bi Indun, bagaimana Raya terlihat seperti orang gila yang sangat ingin masuk ke rumah untuk membunuh Brian. Ia bahkan ingin memukul kedua pengawal yang sedang berjaga di rumah itu. Untung saja bi Indun ada di situ dan membawanya pulang ke sini. Ternyata seluruh keluarga Raya di bunuh oleh Brian termasuk anaknya.


.


.


.


TBC…

__ADS_1


__ADS_2