Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Duka Yang Mendalam III-


__ADS_3

Soraya yang saat itu status nya adalah tunangan Brian, hadir pada acara tahlilan Brian. Ayahnya sang gubernur kota A juga turut hadir di tempat itu.


Serta beberapa orang penting petinggi partai, pengusaha, rekanan bisnis Brian serta beberapa pemegang saham sudah berkumpul disitu.


Melihat suasana semakin ramai, Jenny pun menghampiri Wulan.


“Wulan, tante akan bawa kamu ke depan. Bagaimana pun kamu istrinya Brian, ada baiknya jika kamu menunjukkan dirimu pada tamu tamu di luar sana,” ujar Jenny pada Wulan yang masih duduk di meja makan.


“Nggak tante, sebaiknya aku tetap disini. Bagaimana perasaan Soraya. Posisi nya adalah tunangan Brian, jangan buat dia merasa risih karena aku berada di sana,” tolak Wulan.


“Tapi, orang orang di depan terus mempertanyakan mu. Tante ingin mereka melihat dirimu, kamu benar benar masih hidup. Kamu belum meninggal “ ujar Jenny.


“Wulan hidup atau pun tidak itu bukan hal penting lagi tante. Toh Brian sudah tiada, Wulan tidak pernah ada sangkut paut apa pun dengan Brian selain selembar akta nikah yang menjadi pengikat hubungan kami,” ucap Wulan.


“Ma, sudahlah. Mungkin Wulan belum siap bertemu orang orang di luar itu. Dia juga baru mengalami musibah, dia butuh istirahat,” ucap Arkan.


“Tapi pak Cahyono menanyakan Wulan nak,” ucap Jenny.


“Ya sudah mama akan menemuinya dan mengatakan Wulan belum bisa bertemu dengannya,” Jenny pun meninggalkan ruangan itu.


“Siapa pak Cahyono?” tanya Wulan sepeninggal Jenny dari situ.


“Pak Cahyono adalah salah satu pemegang saham di perusahan. Dia merangkap pengacara keluarga sekaligus pengacara Brian,” jelas Arkan.


“Apa yang dia inginkan dariku?” tanya Wulan.


“Tentu saja mengenai hal warisan Brian,” jawab Arkan.


“Kenapa dengan warisan nya?” tanya Wulan. Sempat terbesit dalam benaknya, bahwa seluruh harta Brian kini akan jadi miliknya.


“Semua harta Brian akan menjadi milik mu.”


Tebakan nya benar! Sementara menyelami kata semua harta Brian, mulut dan wajah Wulan mengerucut.


“Selembar akta nikah yang mengikat diriku dan Brian. Selambar akta itu akan memberikan segala milik Brian kepada ku!” batin Wulan.


“Saat kamu sudah siap, kamu bisa bertemu dengan nya. Pak Cahyono hanya ingin memastikan bahwa kamu adalah pewaris semua harta milik Brian. Itu saja,” ujar Arkan.


Wulan tak bergeming. Seberapa banyak harta milik Brian? Semua mobil mewah, rumah dan saham perusahan akan menjadi milik Wulan.


“Kenapa? Kamu baik baik saja?” tanya Arkan.


“Aku hanya terlalu lelah, aku ingin kembali ke hotel sekarang.”


“Bagaimana kamu akan keluar dari sini? Semua orang berada di luar. Di halaman depan juga dipenuhi wartawan. Kamu akan meninggalkan acara tahlilan suami mu? Besok berita itu akan menghiasi seluruh surat kabar.”


Wulan mengurut pelipisnya yang terasa pening. Pikirannya kacau, ia ingin menyendiri. Suasana rumah itu terlalu ramai buatnya menjernihkan pikiran.

__ADS_1


“Aku akan membawa mu ke kamarku. Kamu bisa istrirahat di sana,” ucap Arkan.


Wulan mengangguk.


Saat Arkan hendak mendorong Wulan masuk, tiba tiba Soraya tiba disitu.


“Wulan, akhirnya kita bertemu lagi,” ucap Soraya.


Wulan mendongak menatap wanita yang sudah berdiri di sampingnya.


“Bisa kita bicara sebentar,” tanya Soraya.


Wulan mengangguk setuju.


“Bicaralah disini, aku akan keluar sebentar,” ucap Arkan.


Soraya menarik kursi kemudian duduk di hadapan Wulan.


“Sudah setahun lebih kita tidak bertemu,” Soraya tersenyum simpul menatap Wulan. Wajahnya terlihat sangat sedih dan terluka. Ia terlihat benar benar merasa kehilangan Brian.


“Aku turut berduka atas kehilangan mu,” sebuah kalimat yang terucap dari mulut Wulan, hanya ucapan itu yang bisa ia lontarkan setelah melihat kesedihan di mata Soraya.


“Terima kasih,” ucap Soraya.


“Aku pikir kamu sudah meninggal. Ternyata kamu masih hidup, bagus lah.”


“Brian sudah meninggal, apa yang akan kamu lakukan sekarang?” lanjut Wulan bertanya.


“Tentu saja aku harus meneruskan hidupku. Jalan masih panjang, aku akan melanjutkan cita cita ku,” ujar Soraya.


“Kamu tidak membenci ku kan?” tanya Soraya.


“Tentu saja tidak, kenapa aku harus membenci mu?” timpal Wulan.


Percakapan yang tadinya sedikit canggung kini mulai mencair.


“Aku tau semua perbuatan jahat Brian, aku tau saat kamu di tawan di pulau itu. Tapi aku tidak melakukan apa pun untuk mu,” ujar Soraya.


Wulan menunduk, hatinya sebenarnya kecewa. Tapi apa boleh buat, toh pelakunya kini sudah meninggal.


“Aku tau, aku tau bagaimana sifat Brian. Aku tidak menyalahkan mu.”


“Terima kasih Wulan,” Soraya menggenggam tangan Wulan. “Aku akan pamit pulang, besok subuh aku harus berangkat ke Medan. Next time, aku akan mengundang kamu dan Arkan makan malam bersama. Oh ya, Arkan, dia sangat mencintai mu. Jangan menyia nyiakan perasaan nya. Brian sudah meninggal, kamu bisa mulai mengejar kebahagian mu sendiri.”


Wulan mengangguk kemudian tersenyum. Soraya memeluk nya sebentar kemudian pergi dari ruangan itu.


Wulan masih menatap punggung Soraya yang pergi meninggalkan ruang makan itu.

__ADS_1


“Soraya hanyalah seorang Wanita yang terobsesi dengan karir dan jabatan. Semoga dia bisa bertemu pasangan yang lebih baik di masa mendatang.”


Wulan masih menatap Soraya yang mulai menghilang di balik tembok, tiba tiba Mata Wulan tertuju pada sebuah lemari kaca. Arkan dan Sheila juga soraya sedang berbincang di balik tembok itu.


Dengan Wajah kesal Wulan berjalan masuk ke dalam dapur. Beberapa orang pekerja sedang melakukan pekerjaan mereka di sana.


“Bibi?” panggil Wulan pada siapa saja yang ada di situ.


“Nona, butuh sesuatu?” tanya Bi Rahma.


“Kamar tamu di sebelah mana?” tanya Wulan.


“Kamar tamu di bagian depan, nona mau bibi antar ke sana?” tanya bi Rahma.


“Nggak perlu bi, masih banyak orang di luar.”


“Atau nona mau ke kamar tuan muda saja?” tanya bi Rahma.


“Dimana kamarnya?”


“Kamar tuan muda juga di depan, tapi nona bisa lewat pintu samping, tembus ke teras kamar tuan,” ucap bi Rahma.


“Ya sudah, bawa saya ke sana bi,” pinta Wulan.


“Rika, kamu dorong nona lewat samping. Bibi akan masuk ke kamar tuan untuk membukakan pintu dari dalam.” ucap bi rahma pada seorang wanita muda di situ.


Wulan di bawa menuju samping rumah melewati sebuah kolam kemudian tiba di sebuah pintu.


“Nona, masuk lah,” ajak bi Rahma yang sudah membukakan pintu kamar untuk Wulan masuk.


“Terima kasih bi,” ucap Wulan.


“Nona istirahat lah. Bibi tinggal ke dapur dulu ya,” pamit bi Rahma.


Wulan masuk ke kamar luas itu. Matanya langsung tertuju ke sebuah kursi roda dalam keadaan terlipat di dekat pintu. Kursi roda itu terlihat masih sangat baru, dan di samping kursi roda terdapat dia buah tongkat.


“Apa yang terjadi dengan Mas Arkan, apa dia tidak pernah mencariku karena kecelakaan yang menimpanya setahun lalu? Aku terus menghubunginya tapi nomornya tidak pernah aktif. Dia sengaja menghindariku hanya karena kakinya?”


Wulan mendorong kursi rodanya menuju ranjang luas milik Arkan. Ia bangun dari kursi roda kemudian pindah ke atas ranjang.


“Aku hanya akan istirahat sebentar. Setelah di luar agak sepi, aku akan meminta mas Arkan mengantarku kembali ke hotel.”


.


.


.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2