Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Pelayan Kekasih Suamiku -


__ADS_3

Pukul 1 dini hari saat Wulan baru sepuluh menit memejam kan mata, suara hantaman pintu yang sangat keras mengusik nya.


Duaarrrr


Antara sadar dan tidur Wulan berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya.


Brian berdiri dengan kedua tangan di pinggang sambil menghardik nya.


“Bangun, kamu pikir aku senang dengan perlakuanmu hari ini?” ujar Brian.


Wulan baru saja akan bangkit dari pembaringan, namun Brian sudah menyeret nya jatuh dari atas tempat tidurnya.


“Apa kurang jelas ucapanku saat di Skye?” tanya nya sambil meremas rahang Wulan. Aroma alkohol menyeruak ke hidung Wulan.


Dengan posisi tersungkur di atas lantai Wulan hanya bisa meringkih menahan sakit.


“Mas, maksudnya apa?” tanya Wulan


Plaak


Sebuah tamparan mendadak di pipi Wulan.


“Mas? Kamu lupa status kamu itu hanya seorang pembantu?” ucap Brian geram.


Wulan menahan pipi kirinya yang perih. Darah menetes dari sudut bibir Wulan.


“Apa salah ku?” gumamnya sambil menahan isak.


“Kamu tau salah mu? Kamu salah karena berani menentang ucapanku!” Brian berjongkok, matanya melototin Wulan.


“Ayo, sekarang kamu keluar. Sebagai hukuman, aku ingin kamu bersujud di depan pintu kamar ku!” Brian menarik kasar Wulan hingga keluar dari kamarnya.


Ternyata Soraya sedang berdiri di luar tak jauh dari pintu kamar Wulan. Sambil bersandar pada sandaran kursi soraya sibuk menatap kuteks pada jari jarinya.


“Salah aku apa?” tanya Wulan.


“Masih berani bertanya?” Brian menginjak jemari Wulan yang sedang memegang lantai.


“Aghhhh sakiit tuan,” ucap Wulan merintih kesakitan.


“Saat aku mengatakan kamu pulang bersama ku? Apa kamu menurut apa yang ku katakan?” tanya Brian.


“Apa itu sebuah kesalahan besar? Lagian dia sedang bersama kekasihnya. Dan Arkan yang mengantar ku, bukan orang lain.” Sesal Wulan.


“Maaf tuan, aku…” Wulan menangis. Ia mengepal jemarinya yang baru saja di injak Brian. Dengan berat hati dia harus meminta maaf agar bisa mengurangi emosi Brian. “aku tidak mengira jika hal itu akan membuat mu marah. Lain kali aku akan patuh setiap ucapanmu,” ujar Wulan.


“Sekarang apa aku harus menyeretmu ke depan pintu kamarku? Sekali ucapan ku tidak kamu patuhi aku akan menampar ku sepuluh kali lipat!” ancam Brian.


Tertatih Wulan bangkit, ia berjalan menuju depan pintu kamar Brian kemudian berlutut.

__ADS_1


“Berlutut hingga pagi di situ. Saat nona Soraya butuh sesuatu kamu harus melayani nya,” ujar Brian.


Brian membawa kekasihnya Soraya masuk ke dalam kamar meninggalkan Wulan di depan pintu.


“Tuan?” panggil Wulan, namun Brian sudah membanting pintu kamar tersebut.


“Tuan, Wulan akan pergi bekerja pukul delapan. Wulan akan melayani nona soraya di luar jam kerja Wulan. Tuan mohon ijinkan Wulan pergi bekerja,” ucap nya nyaring. Ia hanya berharap besok ia tetap dapat pergi bekerja seperti biasa.


Seketika ruangan menjadi sepi, ia tak berani lagi berucap apalagi mengetok pintu kamar tersebut. Ia hanya bisa patuh, dengan terus berlutut di depan pintu kamar, ia tentu tidak akan memicu emosi Brian.


“Sabar, aku sedang mengumpulkan bukti bukti korupsi Brian. Aku butuh bukti lebih banyak dan lebih kuat untuk membuat jatuh,” batin Wulan.


Sudah pukul empat, Wulan masih duduk di depan pintu kamar Brian. Rasa kantuk mulai menghampirinya. Ia mencoba berbaring di lantai untuk tidur sejenak. Tidur sejam sudah cukup untuk Wulan beraktivitas seharian di kantor.


Beberapa saat kemudian.


“Nyonya,” panggil bi Narsih.


“Nyah,” panggil bi Narsih lagi.


Wulan membuka kedua matanya. Bi Narsih sedang duduk disamping nya berusaha membangunkannya.


“Kenapa tidur di sini, bangun Nyah,” ucap bi Narsih lagi.


“Aduh Nyah, wajah nyonya kenapa bengkak dan?” Bi Narsih mengelap luka yang sudah mengering di dudut bibir Wulan.


“Ah sakit bi,” rintih Wulan.


“Sudah jam berapa bi?” tanya Wulan.


“Jam 6 lebih,” jawab bibi.


“Tuan biasanya bangun jam berapa?” tanya Wulan.


“Biasanya sih jam 8, tapi nggak menentu juga sih. Kenapa Nyah?” tanya bi Narsih heran.


“Aku harus ngantor, tapi kalau tuan bangun jam 8 seperti nya aku bakal telat,” jelas Wulan.


“Kenapa, kan gada urusan soal tuan bangun jam 8 sama nyonya telat ngantor.”


“Aku di hukum berlutut disini bi, aku harus ijin ke tuan jika harus pergi.”


“Ya ampun Nyah, kenapa seperti ini? Lantainya dingin, kalau seperti ini nanti nyonya sakit,” ucap bi Narsih penuh khawatir. Jika sudah perintah tuan ia tak bisa berbuat apa pun. “Bibi ambilkan mantel hangat ya Nyah,” bibi segera bangun dari duduknya menuju kamar Wulan.


Setelah memakaikan mantel, ia turun ke dapur mengambilkan minuman hangat untuk Wulan.


“Bibi kira tuan sudah ada perubahan sejak kepergian non Raya, sekarang dia membawa wanita lain dan mulai menyiksa nyonya lagi,” ucap bi Narsih dengan mata berkaca kaca.


“Shhttt, bibi jangan ngomong gitu. Kalau didengar tuan bisa dimarah tuan,” larang Wulan.

__ADS_1


“Ya sudah diminum minuman nya selagi hangat. Sebentar lagi tuan bangun, nyonya jangan melawan tuan, sebaik nya nurut saja, atau tuan akan semakin kasar,” saran bi Narsih.


“Wulan tau bi, makasih minum nya,” ucap Wulan sambil menyeruput minuman di tangannya.


Selang beberapa saat sepeninggal bi Narsih, Wulan kembali berlutut dengan benar. Ia kembali berlutut menghadap pintu kamar. Mungkin sebentar lagi Brian akan bangun.


Benar saja, pintu kamar itu terbuka. Namun yang berdiri dihadapannya adalah seorang wanita. Dengan telanjang kaki Soraya berdiri di hadapan Wulan. Pakaian tidur tipis transparan mengumbar seluruh bagian tubuhnya.


Wulan mendongak menatap Soraya. Tatapan wanita itu datar, dengan senyum yang sengaja dibuatnya sekan sedang menatap kasihan terhadap Wulan.


“Kamu kenapa mau diperlakukan seperti ini?” tanya Soraya.


Wulan hanya diam, hatinya terasa teriris. “ya, kenapa aku mau diperlakukan seperti ini?”


“Semalam Brian mabuk, dia bisa lebih kejam lagi dan tak terkontrol saat sedang marah apalagi sedang dalam pengaruh alkohol. Jadi aku tidak bisa menolong mu semalam,” ujar Soraya.


“Aku tidak apa apa,” ucap Wulan.


“Berdiri lah,” ajak Soraya.


“Tapi,” ucap Wulan ragu.


“Berdirilah, sekarang belum jam bangunnya. Sejam atau dua jam lagi kamu bisa kembali berlutut,” ujar Soraya.


“Dua jam? Aku harus bekerja,” ucap Wulan menatap Soraya.


“Kamu akan bekerja dengan keadaan seperti ini? Cih,” Soraya tertawa kecil menatap kebodohan Wulan. “Wajah kamu bengkak semua, luka di bibir. Apa kamu sengaja ingin semua orang tau kamu di pukul Brian?”


Wulan sedikit menggeleng. “Benar juga, jika terlihat tante Jenny bisa lebih runyam,” batinnya.


“Temani aku turun, buatkan sarapan untuk Brian,” ajak Soraya.


Wulan ikut Soraya turun menuju dapur.


“Nyonya? Non, ada perlu apa?” tanya bi Narsih.


“Wulan ingin membuat sarapan untuk Brian, bibi keluarlah. Kerjakan pekerjaan yang lain,” ucap Soraya ramah.


“Ba baik non,” bi Narsih langsung meninggalkan ruang dapur tersebut.


“Kamu buatkan sesuatu yang disukai Brian kemudian minta maaf lah dengan nya. Sebagai istrinya kamu harus tau apa yang paling di sukainya dan apa yang paling tidak disukainya.”


Wulan terdiam. Apa yang di ucapkan Soraya adalah benar. Tapi… Soraya adalah sahabat atau musuh Wulan masih belum tau. Wanita itu terlihat begitu misterius. Sikapnya susah di tebak. Namun untuk sekarang Wulan hanya bisa mengikuti apa yang diperintahkan Soraya. Bagaimana pun ia di tugas kan untuk melayani Soraya, kekasih dari suaminya.


.


.


.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2