
Keesokan pagi dini hari, Jenny terbangun dari tidurnya. Tidurnya tidak nyenyak setelah mengetahui Arkan belum jelas keberadaannya. Setelah mandi dan berdandan rapih Jenny langsung menuju ruangan kakak nya Johan.
Ternyata Johan sudah bangun pagi itu.
“Mas, sudah bangun?”
Johan menarik Oksigen mask dari hidungnya agar bisa leluasa berbicara.
“Sudah bangun sejak sejam yang lalu. Karena tidur terlalu lama, sekarang jadi susah untuk kembali tidur,” ucap Johan.
“Gimana mas udah merasa enakan?” tanya Jenny.
“Ya, sekarang ya.”
“Jantung mas sudah berdetak normal?” tanya Jenny lagi.
“Iya. Kamu kenapa pertanyaannya seperti itu?”
“Nggak ada rasa sakit setelah operasi kan mas?” tanya Jenny hanya ingin memastikan bahwa kakaknya itu sudah benar benar sehat.
“Operasi pertama terasa masih belum nyaman, sekarang aku merasa sudah sangat sehat. Kenapa?” tanya Johan.
Mendengar Johan sudah merasa sehat, Jenny langsung mendekati Johan. Ia memberanikan diri menceritakan soal Arkan yang sudah 2 minggu tak ada kabar berita.
“Arkan mas, sudah dua minggu dia nggak ada kabar. Coba mas hubungi Brian sekarang dan tanyakan di mana Arkan!” ucap jenny memelas.
“Darimana kamu tau?” Terdengar keraguan pada nada nya.
“Mas Richard semalam ke sini, dia mencari Arkan. Tapi Arkan tidak pernah datang ke sini mas.”
“Tapi kenapa harus Brian yang dituduh?” tanya Johan.
“Sejak Wulan menghilang, Arkan sibuk mencarinya. Wulan di bawa pergi oleh Brian, Brian juga pasti tau dimana Arkan.”
“Anak ini, kenapa dia terus membuat masalah!” batin Johan.
“Bawa ke sini ponselku,” perintah Johan.
Jenny langsung berjalan cepat menuju lemari dimana ia menyimpan ponsel Johan. Jenny kembali secepatnya kemudian menyerahkan ponsel itu ke tangan Johan.
Ponsel yang hanya bisa di buka oleh Johan sendiri karena memliki sandi dan sidik jarinya.
“Mas, sekalian tanyakan keberadaan Wulan ya mas,” bujuk Jenny.
“Jika Brian ingin bersama Wulan kita tidak bisa melarangnya, Wulan itu adalah istrinya.” tegas Johan.
“Hanya sekedar bertanya apakah Wulan baik baik saja,” imbuh Jenny.
“Anak anak ini, dahulu mereka tidak pernah ribut. Sekarang Arkan berani melawan Brian karena ia menginginkan istrinya!”
“Bukan, bukan seperti itu mas. Justru Arkan hanya ingin menolong Wulan, mas tau sendiri sifat Arkan. Dia tidak tertarik dengan Wulan. Dia hanya berniat menolong Wulan saja!” sanggah Jenny.
__ADS_1
“Tolong apa? Wulan itu istri Brian, bagaimana pun juga Arkan tidak bisa masuk campur terlalu jauh dalam urusan rumah tangga mereka!” ucap Johan yang memang memiliki pemikiran tersendiri kepada anaknya.
“Mas terlalu memanjakan anak mas, jika mas sedikit keras terhadapnya mungkin paman Hendy nggak akan menghilang seperti ini. Mungkin saja Brian sudah membunuhnya,” gumam Jenny sambil menunduk memain mainkan kuku di jemarinya.
“Kamu ngomong apa?! Hmmm?” Johan terlihat mulai menghubungi nomor Brian.
Jenny duduk di samping ranjang kakak nya, sambil berharap agar Brian segera mengangkat telpon saat itu juga.
Sudah ke tiga kalinya Johan menghubungi Brian namun belum di angkat oleh Brian.
“Gimana mas?” tanya Jenny.
“Ga di angkat,” jawab Johan singkat.
“Coba telpon lagi.”
Johan menatap wajah Jenny yang terlihat tidak sabaran. “Pukul berapa sekarang, kamu kalau di telpon pagi pagi begini senang?” tanya Johan.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk, kemudian seorang perawat masuk membawakan sarapan untuk mereka.
“Sarapan sudah datang, Silahkan di makan,” ucap perawat itu kemudian meletakkan makanan di atas nakas.
“Langsung di makan ya pak, sebentar lagi dokter Brad akan ke ruangan ini mengontrol alat yang di pasang kemaren,” ucap perawat itu.
“Baik sus, terima kasih,” sahut Jenny. Ia langsung menghampiri perawat yang sedang menyiapkan makanan. “Ini untuk pasien kan? Biar saya yang suap.”
Jenny kembali duduk di samping ranjang Johan. Kali ini ia sedang bersiap siap menyuap kakak nya itu.
“Mas makan dulu. Bisa di Telepon lagi setelah makan.”
“Kamu kalau ada maunya baru jadi baik,” ucap Johan.
“Mas tau, sejak semalam aku ga bisa tenang. Otak ku ini terus memikirkan Arkan. Naluri ku mengatakan kalau Arkan tidak sedang baik baik saja sekarang.”
Satu sendok mulai di suap Jenny ke mulut Johan. Saat itu Jenny memang terlihat tidak fokus namun ia berusaha tenang.
Setelah merasa kenyang, Johan pun stop makan. “Sudah, cukup.”
Johan kembali menghubungi Brian anaknya.
Setelah beberapa kali ia mencoba berulang ulang akhirnya Brian mengangkat panggilan telponnya.
“Ayah, pagi pagi begini ngapain telpon?” tanya Brian dengan suara parau khas orang baru bangun.
“Kamu di mana? Kamu menyembunyikan Arkan dimana?” tanya Johan langusng pada intinya.
“Ohh operasi ayah sudah berhasil. Pantesan ayah mulai sibuk mengurus urusanku!” timpa Brian.
“Ayah bertanya kepada mu serius Brian! Kamu pikir ayah sedang bercanda dengan kamu! Dimana Arkan.” tanya Johan lagi.
__ADS_1
“Arkan sedang sekarat, aku tidak punya waktu mengurus nya. Mumpung ayah sudah sadar, sebaiknya tante Jenny bisa kembali ke Jakarta mengurus anaknya sekarang.”
“Dimana dimana Arkan!” teriak Johan.
“Mas, sabar,” ucap cemas.
“Di rumah sakit Sehati, lihat saja sendiri di sana. Aku sedang tidak ada waktu membahas Arkan.”
“Di mana Wulan?” tanya Johan kemudian.
“Sudah lah ayah, jangan buat kepalaku tambah pusing. Wulan sudah mati!” Brian langsung mengakhiri panggilan telpon sang ayah.
“Mas, dimana Arkan mas?” tanya Jenny.
“Di rumah sakit Sehati. Sebaiknya kamu kembali ke Jakarta, seperti nya Arkan di rawat di rumah sakit itu,” ucap Johan.
“Kalau Wulan?” tanya Jenny.
“Entah lah, sekarang kamu cepat pulang. Aku akan mencari tau kabar Wulan, Brian pasti menyembunyikan nya di suatu tempat,” ujar Johan.
Saat itu juga Jenny langsung menuju kamarnya untuk berbenah. Sebuah koper kecil di siapkan untuk mengisi pakaian yang akan di bawanya.
“Dasar kamu Brian, awas saja jika anak ku kenapa kenapa. Aku akan membuar perhitungan dengan mu!” gumam Jenny.
Setelah sebagian bajunya masuk ke dalam koper kecil itu, Jenny langsung kembali ke kamar Johan. Ia harus pamit sebelum meninggalkan rumah sakit tersebut.
“Mas Richard, mas di mana?” tanya Jenny dari ponselnya.
“Aku di hotel.”
“Masih di Singapore kan?”
“Iya kenapa?”
“Aku akan ke bandara sekarang. Aku sudah tau Arkan ada di mana mas,” ujar Jenny.
“Dimana?”
“Dia di rumah sakit. Sehati,” jawab Jenny.
“Ya sudah kamu tunggu di pintu keberangkatan. Aku segera menuju bandara,” ujar Richard.
Hari itu juga Richard dan Jenny langsung kembali ke Jakarta. Mereka pun langsung menuju Rumah sakit Sehati di mana Arkan sedang di rawat.
.
.
.
TBC…
__ADS_1