Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Hidupku Tentram-


__ADS_3

Sebulan lagi berlalu, hidup Wulan terlihat semakin bersinar. Ia menyelesaikan semua pekerjaan kantor dengan sangat baik. Ia bahkan dapat melampaui produksi di luar target penjualan. Permintaan bahan baku di perkebunan milik kakeknya terus bertambah dan keuntungan pabrik pun meningkat hampir dua ratus persen. Wulan berhasil membuat rekor penjualan tertinggi dalam lima tahun terakhir.


Dibalik itu, tentu saja ia juga harus mengorbankan sepertiga waktunya untuk berada di kantor. Ia hanya dapat meluangkan waktu menemui kakek di hari minggu. Di hari itu juga ia akan bertemu dengan Arkan dan tante Jenny sekedar kumpul kumpul keluarga.


Seperti beberapa minggu yang lalu, Wulan terlebih dahulu tiba dirumah Arkan setelah membeli beberapa keperluan barbeque.


Ikan, Ayam dan beberapa kilo daging sapi dari langganan tante Jenny. Ia melakukan ini karena tak ingin merepotkan Arkan lagi, menurut sepengetahuan Wulan pekerjaan Arkan jauh lebih padat dan utama di banding kan pekerjaan pabriknya yang hanya merupakan anak dari perusahan induk Wina Graha. Dan sudah sewajarnya jika yang pergi ke pasar adalah seorang wanita, bukan pria kaku seperti Arkan yang hanya bisa menuruti setiap keinginan ibunya.


Saat itu Wulan tengah membersihkan ikan sambil sesekali menatap keluar halaman belakang dimana sang kakek sedang mencangkok tanaman, tiba tiba Arkan muncul dari arah belakang.


“Ehm,” dehem Arkan yang sudah sedari tadi menatap Wulan dari belakang.


“Eh mas Arkan baru datang?” tanya Wulan asal.


“Udah sekitar 10 menit, menatap seorang wanita melamun sambil membersihkan ikan,” jawab Arkan.


“Kenapa baru ada suara mas?” tanya Wulan lagi.


“Sengaja,” jawab Arkan.


Wulan melirik pria yang kini sudah berdiri disampingnya. Tanpa berpikir maksud yang tersirat dari ucapan Arkan.


“Mas,” panggil Wulan.


“Hmm,” jawab nya singkat karena sedang sibuk pada layar hp.


“Mas Brian gimana kabarnya?” tanya Wulan.


Arkan langsung mengalihkan fokus dari hp nya ke wajah Wulan. “Kenapa nggak tanya sendiri sama orangnya?” jawab Arkan.


“Aku nggak berani,” jawab Wulan singkat.


“Ya dari pada kamu penasaran.”


“Sudah hampir dua bulan Wulan ga ketemu mas Brian. Beberapa kali dia pulang ke rumah tapi mas tau sendiri kamar kami berbeda. Mas Brian pulang hanya untuk tidur dan ganti pakaian, Wulan juga nggak berani samperin dia di kamarnya.”


“Bagus lah,” respon Arkan.


“Bagus apa nya mas,” tanya Wulan.


“Jadi sekarang kamu akhirnya merindukan suami mu?” Arkan balik bertanya.

__ADS_1


“Entahlah mas, sepertinya ini bukan perasaan rindu, tapi lebih seperti ingin tau apa yang dilakukan nya ,” jawab Wulan datar.


“Bagus lah.”


Wulan menatap serius pria yang berdiri disampingnya. “Bagus apanya? Tanggapan mas dari tadi seperti itu,” ucap Wulan.


“Bagus karena…” Arkan berpikir sejenak. “ga baik jika kamu merindukan mas Brian sedangkan mas Brian tidak pernah menggap dirimu ada, bukankah kamu yang rugi?” ujar Arkan mengalihkan maksud hatinya.


Wulan termenung kembali menatap keluar jendela.


“Sini sini biar mas bantu,” ucap arkan yang mulai mengambil alih hal yang dikerjakan wulan. “Tunggu kamu sadar ikan nya keburu balik ke laut.”


“Padahal mas Brian rutin datang menemui kakek, walaupun hanya sekali dalam seminggu tapi dia masih sempatkan waktunya untuk kunjungi kakek. Tapi terhadap diriku dia nggak peduli…”


“Bukannya bagus? kakek yang selama ini selalu kamu khawatirkan. Kamu nggak ingin kakek tau masalah rumah tangga kamu kan? Jika mas Brian nggak pernah muncul ke sini, apa pikir kakek?”


Wulan terlihat mengangguk. “Ya seperti itu saja sudah cukup bagus,” ucap nya pelan.


..ooo0ooo..


Usai barbeque malam itu Arkan mengantar wulan kembali ke kediamannya.


Suasana dalam mobil begitu tenang. Wulan sibuk dengan pikiran nya sendiri demikian juga Arkan.


“Wulan,” panggil Arkan.


“Iya mas,” jawab Wulan.


“Kamu nggak ingin membeli sesuatu, sebentar lagi kita sampai,” tanya Arkan.


“Nggak mas, aku nggak ada keperluan apa pun,” jawab Wulan singkat tanpa menoleh sedikitpun kepalanya dari arah luar jendela.


“Kamu kenapa?” tanya Arkan lembut.


Wulan baru melemparkan pandangannya ke arah arkan. “Mas Brian, apa yang di lakukan nya akhir akhir ini mas?” tanya nya dengan nada khawatir.


Arkan terdiam sejenak. “Mas Brian, dia dia terlalu sibuk dengan pekerjaan nya. Proyek pembangunan rekonstruksi pesisir pantai di kepulauan sejuta sedang di garapnya, dia butuh modal yang tidak sedikit. Dia harus turun tangan langsung ngeloby setiap investor dan pengajuan pinjaman di beberapa bank masih terus di gencarnya,” jelas Brian.


Wulan menatap Arkan lekat. “Aku juga mendengar hal itu dari beberapa karyawan saat aku ke kantor pusat. Mas Brian baru saja menjadi CEO perusahan tapi ambisinya sudah terlalu besar. Beberapa bank masih belum percaya dengan kinerja nya yang belum menampakkan hasil, serta saingannya bagitu gencar ingin menjatuhkannya,” ujar Wulan.


“Jadi kamu sedang mengkhawatirkan suami mu,” ucap Arkan.

__ADS_1


“Entah lah, hanya saja masa depan perusahan milik keluarga ada ditangannya. Bukan kah mengambil proyek ratusan triliun itu terlalu beresiko?”


“Aku sudah pernah melarangnya, tapi katanya ini adalah peluang dirinya untuk mendapatkan segalanya,” ucap Arkan.


“Saat ini perusahan kita sedang berkibar tegak di puncak gunung, ditengah badai dan salju. Dengan angin yang begitu kencang yang menerpa tanpa henti, sedangkan landasan yang belum terlalu kokoh, apakah bisa bertahan?” ucap Wulan lagi.


“Ternyata dia sedang mengkhawatirkan perusahan, aku pikir dia sedang mengkhawatirkan suaminya,” batin Arkan.


“Keputusan perusahan ada ditangan mas Brian, tugas ku disana hanya memantau keuangan. Selagi perusahan berjalan normal aku hanya bisa mendukungnya,” tukas Arkan.


Suasana kembali menjadi senyap beberapa saat.


“Akhir akhir ini mas Brian mengambil banyak dana dari kas perusahan, dana yang tidak sedikit. Dia tidak mengatakan kemana semua uang itu di alihkan. Kata mas Brian sudah mendapat ijin dari paman Johan, saya bisa bilang apa?” lanjut Arkan.


“Mas sudah konfirmasi ke paman Johan?” tanya wulan antusias.


Arkan menjawab Wulan dengan anggukan. “Paman mengatakan ‘Kinerja Brian akhir akhir ini sangat baik, kita lihat apa gebrakan Brian kali ini,’ aku bisa bilang apa?”


“Lagian uang yang di ambil beberapakali itu selalu dikembalikan tepat waktu, setiap bulan sebelum tutup buku uang sudah kembali ke rekening sepenuhnya. Jadi mas tidak terlalu mempermasalahkan hal itu,” lanjut Arkan.


Tak terasa mobil Opel hitam Arkan sudah berhenti di depan pintu rumah.


“Kamu nggak usah khawatir, sebenarnya mas sudah mengutus orang menyelidiki aliran dana itu. Uang itu berputar di sekitaran beberap rekan investor yang bekerja sama dengan mas Brian. Mas sedang mengumpulkan bukti agar jika terjadi sesuatu, mas Brian tidak akan mengkaitkan dengan dirimu,” ucap Arkan lembut.


“Kok malah aku mas?”


“Jika suami mu itu korupsi atau apa pun itu, kamu nggak akan terseret ke dalam masalahnya, karena kamu adalah istrinya.”


“Aku kan nggak pernah menggunakan uangnya sepeserpun,” tegas Wulan.


“Iya itu dia. Sekarang stop memikirkan yang bukan tanggung jawab kamu. Seharian ini kamu terlalu memikirkan perusahan, kamu cukup hidup bahagia, tenang dan tentram. Nggak perlu memikirkan hal lain. Dengar?”


Wulan mengangguk.


“Jika saja mas Brian memilik sedikit rasa perhatian seperti mas Arkan. Mungkin aku tak akan pernah merasakan pernikahan ini adalah sebuah kesia-siaan. Aku seperti sudah membuang sisa hidup ku kepada orang yang salah. Dan aku harus menjalani sisa hidup ku dengan kesendirian,” batin Wulan.


.


.


.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2