Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Perasaan Nyaman-


__ADS_3

Jam satu siang itu Wulan nampak mondar mandir di ruang tengah. Kepalanya sesekali menoleh ke sebuah ruangan. Ruangan yang tadinya adalah ruang penyimpanan barang barang berharga paman Richard kini di jadikan ruang kantor oleh Arkan.


Sedangkan barang barang berharga paman Richard kini berserakan di ruang tengah.


Bi narsih yang senang bukan kepalang. Hari itu dia mendapat tugas menata barang barang dari ruangan penyimpanan agar disusun rapih. Ruangan luas yang tadinya di penuhi perabotan ukiran kayu kini semakin padat. Hampir tak ada jalan untuk manusia lalu lalang.


Beberapa saat kemudian, seorang penjaga pos bolak balik masuk keluar mengangkat lima buah kardus ke dalam ruangan Arkan.


Dengan rasa penasaran akhirnya Wulan masuk ke ruang kerja baru itu. Matanya melihat lihat barang apa yang baru di beli Arkan.


Dua buah perangkat komputer, sebuah mesin printer serta beberapa elektronik kecil seperti speaker dan modem.


“Mas?” panggil Wulan.


“Hmmm,” Arkan hanya menjawab seadanya karena saat itu ia sedang sibuk menyambung kabel CPU ke kabel monitor.


Karena hanya di bantu Daniel, kedua orang itu terlihat cukup kewalahan dengan sedemikan banyaknya kardus barang dan berkas berkas map di atas meja.


“Mas? Mau di bantu gak?” ucap Wulan menawarkan diri.


“Jangan, tangan kamu masih sakit,” tolak Arkan. sebenarnya tangan sakit Wulan hanya sebuah alasan.


“Aku bisa bantu menyusun atau merapihkan barang?” tanya Wulan lagi.


“Nggak usah nanti kamu capek,” tolak Arkan lagi.


“Atau ada yang ingin di ketik mas? Kan ga perlu tenaga kalau cuman ngetik doang?” Wulan berusaha meyakini Arkan.


“Kamu ga boleh capek, takutnya sakit di tangan kamu kambuh gimana?” ujar Arkan yang memang kekeh tak memperbolehkan Wulan masuk ke situ.


“Justru aku capek hanya menonton tv setiap hari,” ucapnya sembari memasang wajah cemberut.


Arkan tidak menggubris celoteh Wulan. Ia masih fokus memasang instalasi listrik ke komputer.


“Mas?”


“Kenapa?” tanya Arkan dengan sabar.


“Mau bantu mas.”


“Nggak usah, aku lagi nggak butuh bantuan.”


“Tapi aku ingin di dekat mas.”


Ucapan Wulan berhasil menarik perhatian Arkan. Arkan langsung menoleh menatap Wulan.

__ADS_1


“Di sini banyak data keterangan soal kakek di culik. Dan jika dia tau mbak Ani sekarang sudah meninggal karena di bunuh. Dia pasti akan kepikiran. Tidak sebaik nya Wulan tidak melihat ini,” batin Arkan.


“Jangan sekarang, sebaiknya kamu nonton atau kamu bisa jalan jalan di taman belakang,”


Dengan perasaan kesal Wulan kembali ke depan tv. Tanpa menyalakan tv Ia hanya duduk berpangku tangan dengan wajah cemberut sambil sesekali menatap kesal ke arah ruangan Arkan.


“Bi?” panggil Wulan.


“Bibi, sibuk amat di panggil ga noleh,” ucap Wulan masih rada kesal.


“Kenapa si Nyah. Dari tadi sibuk aja mondar mandir ga jelas.” sahut bi Narsih dan langsung menghampiri Wulan.


“Ternyata mas Arkan saat sudah sibuk, pikirannya hanya ada pekerjaan. Dia lupa, katanya hari ini mau ngajak jalan,” ujar Wulan.


“Mungkin memang pekerjaan mendesak kali Nyah.”


“Nggak mungkin bi, aku masuk ke ruangan nya aja nggak boleh. Padahal aku sudah menawarkan bantuan.”


“Nyah, paling karena tuan Arkan nggak mau nyonya capek.”


“Sudah lah, aku ngomong apa pun soal mas Arkan tetap saja di belain bibi.” Wulan beranjak dari kursinya kemudian berjalan menuju ke lantai atas.


“Lah Nyah, kok ngambek? Serba salah deh bibi. Ya mendingan bibi lanjut kerja.”


Wulan tidak langusng menuju kamarnya, saat itu ia malah terus menuju pintu paling ujung letak kamar Arkan.


“Pa, ma, hingga saat ini Wulan belum menemukan kakek. Sudah beberapa bulan kakek menghilang, apakah sebaiknya Wulan menyerah saja? Namun dengan kondisi kakek, apa mungkin kakek bertahan hidup tanpa perawatan medis hingga sekarang? Dan juga perkebunan milik kakek saat ini berada di tangan Brian. Jika Wulan bercerai dengan nya apakah perkebunan bisa Wulan dapatkan? Pa, ma, atau sebaiknya Wulan tidak bercerai saja? ….”


Wulan terus menatap foto kedua orang tuanya hingga akhirnya ia terlelap di atas ranjang milik Arkan.


Entah sejak kapan Wulan bisa merasakan tidur begitu nyenyak. Kelembutan balaian tangan yang sesekali mengusap punggungnya membuat ia semakin terlena dalam dekapan hangat. Sesekali udara menerpa wajahnya, aroma tubuh pria yang akhir akhir ini selalu memeluknya. Pria yang selalu membuatnya merasa nyaman saat ia menumpahkan segala keluh dan kesahnya. Mas Arkan selalu membuatnya merasakan sebuah mimpi yang indah.


“Mas Arkan,” Wulan mengigau seraya tersenyum.


“Ya sayang,” sahut pria dalam mimpinya.


“Tidak tidak, ini bukan mimpi. Suara nya terasa begitu nyata.”


Antara sadar dan tidak Wulan mulai merasakan kenyataan bahwa tangan Arkan sedang memeluknya saat itu.


“Bangun lah,” ucap arkan.


Spontan mata Wulan langsung terbuka. “Apa yang mas lakukan di sini?”


Arkan hanya tersenyum sambil mengusap kening Wulan yang terlihat berkerut. “Ini kamarku, wajar jika aku dsini.”

__ADS_1


Mata Wulan menoleh ke atap kamar, kamar itu memang bukan kamarnya. Ternyata ia tertidur di kamar Arkan saat sedang melihat lihat album foto lama.


“Ya ini bukan kamarku, rupanya aku tertidur disini, maaf mas.”


Wulan hendak bangun, namun Arkan memeluknya semakin erat.


“Bukannya katamu tadi kamu ingin dekat dekat aku? Sekarang aku sudah sedekat ini. Nikmatilah,” ujar Arkan sambil makin membenamkan kepala Wulan dalam dekapannya.


Wajah Wulan memerah, ia sedikit malu. Maksud dari ucapannya itu agar Arkan membiarkan dia membantu pekerjaannya.


Namun rasa hangat, tenang dan nyaman begitu terasa, aroma tubuh Arkan sangat harum. Parfume yang beraroma maskulin. Wulan menghirup dalam kemudian melingkarkan kedua tangannya di tubuh Arkan.


“Mas, aku suka aroma ini,” ucap Wulan yang sengaja mengendus tubuh Arkan.


“Apa mas selalu seharum ini?” tanya Wulan.


“Harum?”


Wulan tersenyum seraya mendongak ke wajah Arkan. Selama ia mengenal Arkan mungkin ini kali pertama ia menatap setiap lekuk di wajahnya pria itu. Jemari lentiknya tanpa sadar berpindah ke wajah putih bersih. Bulu buku halus mulai tumbuh di dagu dan sekitar rahang, bibirnya sempurna, alisnya tebal menampakkan kegagahan pria sejati.


Wulan mengelus alis mata, hidung kemudian bibir tersebut. Ia takjub betapa Arkan memiliki ketampanan yang luar biasa. Selama ini, ia menganggap Arkan hanya sebagai keluarga, saudara dan bahkan kakak laki laki. Namun hari itu, untuk kali pertama hati Wulan berdesir. Pria di hadapannya ternyata begitu memikat. Terlebih saat bibir yang disentuhnya menyunggingkan seulas senyum tipis.


“Sudah puas lihat lihatnya?” Suara lembut namun ngebas keluar dari bibir itu.


“Belum,” jawab Wulan asal.


Arkan membuka matanya kemudian membalas tatapan mata Wulan. “Jika seperti ini, aku jadi ingin memcium mu.”


Tanpa basa basi bibirnya mendarat lembut di bibir Wulan.


“Masih ingin menatapku!” tanya Arkan.


Wulan mengangguk pelan.


Kecupan lembut yang tadi nya sekilas kini semakin di perdalam.


“Lagi?” ucap Arkan.


Wulan hanya berdiam sambil terus menatap wajah yang kini tak menyisahkan jarak se inci pun dari wajahnya.


.


.


.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2