Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Family Lunch-


__ADS_3

Setelah menerima telpon dari Daniel, Arkan langsung membuka laptop kerja nya. Ia mulai terlihat sibuk memencet tuts pada laptopnya dengan cepat. Sepertinya ia sedang mengetik sesuatu di sana.


Setelah suara pintu terbuka Arkan langsung menatap Wulan yang baru saja keluar dari pintu kamar.


Arkan mempercepat ketikannya kemudian menekan tombol enter.


Ia meraih ponselnya kemudian menghubungi Daniel.


“Dan, sudah aku kirim, nanti minta pak Marley pelajari lagi. Jika ada yang kurang kamu bisa cek sendiri, dan tambahkan dengan dana yang ada,” ujar Arkan.


Wulan berjalan mendekati Arkan.


“Dan gambar nya kamu email, biar aku cek dan tentukan akan menggunakan sketsa yang mana,” lanjut Arkan.


“Iya, boleh.” Arkan langsung mengakhiri panggilan telponnya.


Ia menatap Wulan, yang terlihat santai dengan rok hitam leter A di bawah lutut serta kemeja crop warna senada.


“You look so baautifull,” puji Arkan.


“Oh ya?”


“Kita jalan sekarang?” tanya Arkan.


“Ayok.”


Mereka keluar barengan dari pintu apartemen menuju lift kemudian turun menuju basement.


Begitu memasuki pintu mobil, suara ponsel Arkan berdering.


“Iya ma,” sahut Arkan.


“Kalian dimana?” tanya Jenny.


“Kami di basement, baru mau jalan,” ujar Arkan.


“Mama dan ayah sekarang menuju Skai swisshotel, mama dan ayah tunggu kalian di sana,” ucap Jenny.


“Baik ma.”


“Mama menunggu kita di skai, kita makan siang bersama mama dan ayah,” ujar Arkan.


“Aku mau makan nasi sayang, aku laper. Ogah kalau cuman makan roti lagi, atau mie. Aku ga kenyang.”


“Ada lah nasi, kamu bisa juga pesan fried rice atau pesan stick makan ama nasi,” ucap Arkan.


Arkan dan Wulan langsung menuju Skai yang terletak di jalan Stamford.

__ADS_1


Setiba di skai, Arkan langung mencari keberadaan kedua orang tuanya. Jenny dan Richard duduk di pinggiran kaca sambil menikmati segelas white wine di hadapan mereka.


“Ma,” ucap Arkan.


“Eh kalian sudah tiba, duduk. Tadi mama sudah pesan Grand Plateau untuk berempat. Kalau kurang bisa kalian tambah, ini menunya,” Jenny menyerahkan menu ke tanyan Wulan.


Seorang pelayan yang sudah stand by di belakang sudah siap menerima Next order dari dua orang pengunjung yang baru tiba itu.


“Mineral water 2,” ucap Wulan.


“So you have rice here?” tanya Arkan.


“I want 2 servings of rice,” ucap Arkan lagi.


“Okay, We will Prepare it for you,” ujar pelayan itu.


“Ma, mama ngapain makan di tempat ginian. Kita mau lunch bukan datang refreshing,” ujar Arkan.


“Kepala mama pusing, mama ke sini karena ngejar white pinot blanc nya,” ujar Jenny.


Jenny menggerak gerakkan gelas sambil menghirup aroma white burgundi di tangannya.


“Oh ya Wulan, dalam waktu dekat kami akan menemui kakek mu,” ucap Richard.


“Akan Wulan sampaikan ke kakek,” ucap Wulan.


Ternyata beberapa gelas yang burgundi yang di minum Jenny sudah membuatnya sedikit cerewet.


“Sekarang, kakek mu nggak sudi anak ku bersama denganmu. Padahal anak ku juga sudah melalui rintangan besar untuk mu. Kakek mu tidak melihat ketulusan nya. Malang nya nasib anakku,” ucap Jenny lagi.


“Ma mama minum sudah berapa banyak?” Arkan mencoba mengambil gelas dari tangan mamanya.


“Biarkan saja Arkan, mama hanya sedang ingin mengeluarkan uneg uneg nya.” cegah sang ayah.


“Sebenarnya, kakek tidak melarang hubungan kami. Kakek hanya ingin melihat seberapa jauh sikap mas arkan kepada wulan,” lanjut Wulan.


“Benarkah?” tanya Arkan.


“Kapan kakek mengatakan itu?”


“Mas ingat saat kita menjemput kakek di hotel puri? Kakek sudah merestui kita, hanya kakek mungkin masih kesal hingga dia sengaja ketus setiap membahas keluarga Susanto,” ucap wulan dengan nada pelan.


“Mama dengar kan? Paman orang nya berpikiran luas, dia juga tau kalau kita sangat menyayangi wulan,” ucap Richard.


“Ya sudah, cepatlah kalian menikah. Temui paman mu trus kita temui kakek Hendy.”


“Excusme, your serving mam,”

__ADS_1


Pesanan satu persatu di hidangkan di atas meja termasuk 2 porsi nasi putih milik Wulan.


“Ayo makan, ma mama juga makan,” ucap Richard. Ia begitu memperhatikan Jenny.


“Ini piring ma,” ucap nya lagi.


Mereka mulai makan makanan yang di hidangkan di atas meja. Maine lobster, oyster, prawns, crab, Venus clams, mussels, tuna, tatar with mignonette and chilli sauce.


Menu yang lumayan banyak untuk mereka berempat.


Wulan makan dengan lahap semua makanan yang ada di atas meja. Ia bahkan menghabiskan dia porsi nasi yang di pesan Arkan saat itu.


“Sayang kamu kelaperan banget ya?” tanya jenny sambil memindahkan potongan terakhir mussels di atas meja.


“Tante, dua minggu Wulan hanya makan roti, melihat nasi tentu saja harus di habiskan,”


Richard tertawa. “Pertama kali paman juga seperti itu, setiap terbang ke kuar negri pasti memikirkan nasi. Tali lama lama paman sudah tau lokasi rumah makan indo di samua negara yang paman datangi,” ucap Richard.


“Nanti kalau kalian ke LN lagi, paman share lokasinya,” lanjut Richard.


“Ala tante aja lan, bawa sambal goreng dari rumah,” ucap Jenny.


“Bener, Next time wulan bakal bikin tempe oreg dan sambal bawang,” ucap Wulan.


“Jadi selama di negara A kamu sudah ke mana saja?” tanya jenny.


“Selain belanja, Wulan hanya di hotel. Nggak berani jalan jauh juga, takut nyasar.” Ucap wulan.


Percakapan makan siang itu terus berlanjut hingga pukul dua menjelang sore itu. Karena sebuah panggilan masuk yang menginterupsi cengkrama mereka.


“Hallo, bu Jenny. Pak Johan sudah siuman,” ucap dokter Teguh, dokter yang me rawat Johan kakak nya.


Jenny bangkit dari duduknya, ia berdiri dengan sedikit oleng.


“Benarkah? Baiklah, kami akan ke sana sekarang,” sahut Jenny.


“Mas johan sudah siuman. Kita akan ke rumah sakit sekarang,” ucap Jenny.


Saat itu juga mereka ber empat langung meninggalkan skai bar and resto. Mereka langung menuju RS queen Elisabeth dimana Johan di Rawat.


.


.


.


TBC…

__ADS_1


__ADS_2