
Sudah beberapa hari Wulan tinggal di pegunungan itu. Hidupnya terasa sangat tentram, seolah Brian tak akan lagi datang mengganggu. Terlebih sekarang ia sudah bersama sang kakek, demi keamanan nya dan kakek sebaik nya ia menetap lebih lama di situ.
Namun satu hal yang mengganjal dalam hati nya beberapa hari terakhir, yaitu Arkan. Ia harus memberitahukan keberadaan nya kepada Arkan. Sudah empat kali Wulan mencoba menghubungi nomor Arkan tapi nomor ponsel Arkan tidak pernah aktif.
Siang itu, Wulan dengan di temani Raya kembali turun gunung menuju desa terdekat menggunakan sebuah perahu.
Perahu motor satu mesin itu berjalan tidak seberapa cepat menuju sebuah desa yang lumayan banyak penduduk nya. Dari desa itu Wulan dan Raya membeli beberapa keperluan makan untuk beberapa hari ke depan, membeli obat obatan dan membeli beberapa potong pakaian.
“Sudah di beli semua, apa masih ada yang kurang?” tanya Wulan.
“Kamu yakin sudah semua nya?” Raya balik bertanya.
“Hmm, kayaknya si sudah,” sahut Wulan.
“Jadi kita balik sekarang?” tanya Raya sambil berjalan keluar dari gang kecil yang di penuhi dagangan dagangan masyarakat setempat.
“Lan?” panggil Raya saat mereka melintasi warung telpon.
“Ya?” sahutnya sambil berbalik badan menatap Raya yang berjalan di belakangnya.
“Nggak singgah lagi?” tanya Raya sambil melirik ke kanan di mana wartel berada.
“Hmm, nggak perlu. Pasti nomornya gak aktif,” ucap Wulan dengan nada kecewa.
“Kamu yakin? Kalau tiba tiba sudah aktif gimana?” ujar Raya.
Wulan terdiam. Dalam dilema ia berusaha berpikir positif.
“Mungkin mas Arkan sedang sibuk sekali, hingga ponselnya di matikan,” batin Wulan. Ia hanya perlu masuk ke dalam Wartel dan kembali menghubungi nomor Arkan.
“Baiklah, akan aku coba lagi,” akhirnya Wulan berjalan masuk ke dalam wartel tersebut.
Ia mulai memencet nomor telpon Arkan. Namun hasil nya tetap sama. Nomor yang di tuju sedang tidak aktif.
Sekali lagi Wulan mencoba keberuntungannya. Namun hasilnya tetap sama. Sebuah mesin penjawab yang berbicara di sana.
“Hari ini adalah kelima kali nya aku menghubungi nomor nya. Apa kah dia sengaja mematikan ponsel nya?” gumam Wulan.
“Jangan berpikir negatif dulu. Kamu bisa mencoba berulang ulang sampai kamu benar benar yakin dalam hatimu bahwa orang itu sudah tidak pantas di hubungi lagi,” ucap Raya.
Wulan menatap Raya, Raya yang saat itu sudah menjadi teman baik nya. Raya yang selalu membantu nya, Raya yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi tetap mendukung dirinya.
“Besok kita bisa telpon lagi,” ucap Wulan kembali bersemangat.
“Gitu dong, ga boleh nyerah,” ucap Raya.
__ADS_1
“Ayok, bi Indun pasti sudah menunggu kita,” ajak Wulan.
Raya dan Wulan akhirnya kembali ke pegunungan. Semangat mereka tak pernah menyurutkan tekad mereka untuk selalu berusaha.
Seperti hari itu, setelah mengarungi lautan beberapa kilometer jauhnya. Mereka masih harus mendaki sebuah pegunungan yang dipenuhi bermacam belukar. Sewaktu waktu binatang buas bisa menerkam mereka. Tapi mereka harus kembali demi orang orang baik yang sedang menanti mereka di rumah. Selama beberapa hari hidup bersama, rasa kekeluargaan telah terjalin di antara mereka.
Sambil terus melangkah mengarungi landainya pegunungan itu, Raya terus berdumel pelan.
“Gila, tiap hari manjat lama lama kaki ku kayak pemain bola. Udah kulit ku gosong di tambah gerah gatel eh kena semak ini makin gatel,” gerutu Raya.
Wulan yang berjalan di belakang Raya hanya tersenyum mendengar ocehan Raya.
“Sini biar aku di depan,” ucap Wulan.
Wulan mulai berjalan maju duluan. Ia membuka jalan untuk Raya.
“Aku pikir kamu wanita yang lemah, ternyata kamu bisa hidup di tempat seperti ini,” ucap Raya.
“Jangan salah, aku ini anak pulau. Aku biasa tinggal di perkebunan. Ladang dan ilalang adalah tempat aku bermain sewaktu kecil,” ucap Wulan.
“Tapi kamu tidak terlihat seperti gadis desa yang kampungan,” ucap Raya.
“Kata siapa? Kamu lupa kalau aku sering di sebut gadis kampung oleh si itu,” ucap Wulan, ia sengaja tidak ingin menyebut nama Brian. Raya begitu benci mendengar nama tersebut.
“Kamu kenal dekat dengan Soraya?” tanya Wulan.
“Nggak, aku hanya mendengar cerita mengenai dia dari beberapa mantan kekasih si brengsek itu,” ujar Raya.
“Bukan kah kalian dekat?” tanya Raya.
“Tidak termasuk dekat juga, Soraya orang nya friendly, dia baik dan cantik,” ucap Wulan.
“Berbeda dengan ku,” sungut Raya.
“Kamu juga memilik kecantikan mu sendiri. Mungkin pria itu yang sudah salah memilih tambatan hatinya,” ucap Wulan.
“Sebenarnya kamu lebih pantas untuk nya,” lanjut Wulan.
“Cocok karena kami sama sama jahat?”
“Bukan, karena kamu sangat mencintai nya,” jelas Wulan.
“Cih, padahal dia suami mu. Istri macam apa kamu?” desis Raya.
“Apa hubungan kami pantas di sebut suami istri? Kami hanya terikat di atas kertas bermeterai. Selebihnya kami bukan siapa siapa.”
__ADS_1
Wulan kembali teringat akan gugatan perceraian yang sudah di layangkan ke pengadilan. Jika sudah keluar surat cerai, itu arti nya ia sudah bukan istri Brian lagi. Tapi sampai hari ia di culik dari rumah, ia belum melihat surat cerainya.
Tanpa ia sadari langkah nya mulai melambat, karena terus memikirkan banyak hal.
“Kenapa, kamu lelah? Kita istirahat di sini bentar gimana?” tanya Raya.
“Kita lanjut saja, bentar lagi sampai,” ucap Wulan.
“Baiklah.”
Wulan dan Raya terus melanjutkan langkah mereka hingga beberapa ratus meter ke depan hingga akhirnya tiba di gubuk tersebut.
“Belanjaannya lumayan banyak kenapa nggak ajak Irma?” tanya bi Indun.
“Nggak usah bi, Irma sibuk ngurus bayi nya. Kami juga bisa ke pasar, emang Irma doang?” ucap Wulan.
Suara berisik dari arah belakang mengusik perhatian Wulan dan Raya.
“Suara apa itu bi?” tanya Raya heran.
“Suara gergaji, Buto lagi bikin ranjang,” sahut bi Indun.
“Apa lukanya?” Wulan berniat menghampiri Buto namun di halang oleh bi Indun.
“Sudah ga usah di larang lagi. Mungkin dia bosan tidak melakukan apa apa. Lagian tadi dia sudah ijin sama Mail, Mail sudah mengijinkan nya asal nggak terlalu memaksakan diri.”
“Mail tadi ke sini?” tanya Wulan.
“Iya, tapi karena kamu nggak ada dia langusng pulang.”
“Terima aja cinta nya, lumayan ada hiburan di gunung,” celetuk Raya.
“Hussshhh,” semprot bi Indun. “Ponakan bibi itu, jangan di permainkan. Mail tuh anak baik baik, dia belum mengerti cinta,” tegur bi Indun.
“Maaf bi, becanda,” ujar Raya sambil memasang muka manyun.
Melihat Raya di omelin, Wulan terkekeh. Tentu saja bi Indun akan membela Mail ponakannya. Bi Indun takut kalau Raya akan menerkam ponakannya yang masih sangat lugu dan polos itu.
.
.
.
TBC…
__ADS_1