
Setelah selesai senam yoga di halaman belakang, Wulan langsung menuju dapur. Hari ini ia berencana belajar membuat kue bersama bi Narsih.
“Bibi.”
“Ya nyonya, bahan bahan sudah bibi siapkan. Nyonya nggak mandi dulu?”
“Ya sudah aku mandi dulu bi,” ucap Wulan yang seharian ini terlihat segar dan bugar.
Setelah mandi dan berganti pakaian Wulan kembali turun ke dapur.
Bahan bahan kue yang di sediakan bi Narsih mulai di kelolah oleh Wulan. Sambil membaca menu resep dari sebuah buku, Wulan mulai menuang bahan ke dalam loyang.
“Bi sudah dua hari, sejak kedatangan Deon. Tapi kok belum ada kabar ya?” tanya Wulan.
“Nyonya, tuan Arkan itu juga sibuk. Untuk bertemu dengannya ga gampang,” ucap Bi Narsih sambil membantu Wulan memisahkan kuning telur dari putih telur.
“Jika Deon ke sini lagi, aku akan menulis surat dan memintanya mengirim surat itu kepada temanku,” ucap Wulan.
“Iya, nyonya bisa menulis surat untuk teman teman nyonya,” jawab bi Narsih yang selalu mendukung setiap yang di lakukan Wulan.
Wulan dan bi Narsih terus melanjutkan pekerjaan mereka hingga benar benar sore. Mereka membuat berbagai olahan kue. Beberapa kali mereka gagal namun mereka mencoba lagi dan lagi hingga mendapatkan hasil kue yang enak.
—oo000oo—
Sementara itu di halaman parkiran kantor Wina Graha.
Sudah sejak jam empat sore, ia sudah duduk di parkiran paling dalam dekat taman. Walaupun agak jauh dari pintu keluar gedung, namun dia bisa melihat dengan jelas jika pak Arkan keluar dari pintu kantor.
Ini adalah hari kedua, ia harus menunggu pak Arkan, jika tidak bertemu hari ini, besok ia tidak bisa menunggu di sini lagi, besok Deon akan tugas kerja keluar kota lagi.
Lagian jika ketahuan tuan Brian soal info dari rumah nya keluar, Deon pasti akan menjadi satu satunya orang yang di curigai.
Deon mulai gelisah menatap arloji di pergelangan tangan nya. Sudah sejam lebih dia duduk disitu. Sosok pak Arkan belum juga terlihat.
“Aku harus menunggu sedikit lebih lama. Karena mobil yang terparkir di depan itu pasti mobil tuan Brian dan yang satunya mobil pak Arkan. Pak Arkan masih di dalam.”
Beberapa saat kemudian, Brian keluar dari pintu otomatis itu. Menyusul Arkan dibelakang nya.
“Waduh, gimana cara samperin pak Arkan? Ada tuan Brian,” batin Deon.
Deon menunduk sedikit dibalik tanaman agar tak terlihat oleh Brian.
Brian terlihat langsung menuju mobilnya sedangkan pak Arkan sedang mengeluarkan ponsel dari saku baju nya.
“Pak Arkan tunggu, ada yang ingin Deon sampaikan.”
Arkan terlihat sedang berbicara melalui telponnya. Ia masih berdiri di depan pintu lobby kantor.
__ADS_1
Beruntung bagi Deon Karen Brian langsung pergi dari situ.
Deon langsng menghampiri mobil pak Arkan.
—oooOooo—
Beberapa hari sebelumnya. Setelah mengetahui kejanggalan dalam pencarian kakek, Arkan langsung kembali ke Jakarta. Setibanya di Jakarta ia langsung mengubungi kepala polisi yang sebelumnya menangani kasus hilangnya kakek Hendy.
Dari bandara Arkan langsung menemui pak Sutrisno di kantornya di Mabes jakarta.
Arkan di sambut hangat oleh Pak Sutrisno yang sebenarnya adalah sahabat ayahnya semasa SMA. Hingga Arkan sudah di anggap seperti anak nya sendiri.
“Paman maaf, aku beberapa minggu di luar kota urusan pekerjaan. Jadi kurang memantau perkembangan pencarian kakek. Saya dengar pencarian sudah di hentikan?” tanya Arkan.
“Kasus kakek mu kameren sudah di ambil alih oleh para petinggi kepolisian, paman nggak berani mencampuri terlalu berlebihan. Karena sudah di alih kan ke Polres jakarta timur jadi paman nggak turut campur lagi di situ.”
“Padahal belum tiga puluh hari, kenapa sudah di hentikan?” tanya Arkan.
“Perintah menghentikan pencarian beberapa hari lalu, paman nggak juga selidiki karena hal itu atas permintaan keluarga,” ujarnya.
“Siapa? Cucunya?” tanya Arkan.
“Iya cucu perempuan nya. Katanya sudah menemukan kakeknya,” jawab Sutrisno.
“Oh ya, dan lagi, sebenarnya paman tidak melihat pencarian kakek di jadwal tugas kepolisian Jakarta Timur. Kata teman leting paman yang tugas di sana nggak pernah ada himbauan pencarian. Menurut mereka kakek itu sudah di temukan, dan sudah berada di kampung halamannya,” ujar Sutrisno.
“Pantesan Wulan terlihat santai liburan di luar negri, ternyata kakek sudah pulang dikampungnya,” batin Arkan.
Setelah mengetahui kakek baik baik saja, Arkan langsung kembali ke rumahnya.
Setiba di rumah Arkan. Ia menemukan sepucuk surat di atas meja dapur.
“Tuan, Ani pulang ke kampung dulu. Ibu Ani sakit keras. Maaf pulang nya buru buru tidak pamit secara langsung.”
Rumah yang ditinggalkannya selama dua minggu itu terlihat kosong. Tak ada aktivitas selama beberapa hari terakhir dirumah itu. Karena mbak Ani pergi, tukang kebun dan penjaga pun ikut pergi. Wajar saja karena jika mereka tinggal, nggak ada yang bisa mereka makan di sini.
Saat itu juga Arkan memutuskan untuk pulang ke rumah Jenny ibunya.
Dua hari pun berlalu. Arkan sudah kembali beraktivitas seperti biasa di kantor. Banyak sekali laporan yang harus diperiksa nya. Laporan keuangan yang begitu morat marit tak jelas membuat Arkan kebingungan sekaligus pusing tujuh keliling.
“Ada apa ini? Kenapa bisa? Farel asisten Brian diberikan dana sebanyak ini?” tanya Arkan pada dua orang staf akuntan yang berdiri di hadapannya.
“Perintah dari bos pak.” ucap wanita itu seraya menunduk.
“Tapi prosedur harus tetap di jalankan, kalian memberikan dia uang untuk keperluan apa? Ada di jelaskan?”
Staf wanita itu menggeleng.
__ADS_1
“Gila, Farel mengambil uang miliaran beberapa kali dalam seminggu. Kalian kenapa nggak ada satupun yang hubungi saya?” tanya Arkan penuh emosi.
“Di larang sama pak bos, kami di ancam akan di pecat,” ujar karyawan itu.
“Saya minta laporan dana kas yang tersisa ke meja saya sekarang!” bentak Arkan.
“Baik pak,” kedua orang karyawan itu pun bergegas keluar menuruti perintah Arkan.
Selang beberapa saat, tiba tiba Brian menghampiri Arkan di ruangan nya. Dengan sangat emosi brian menghantam meja kerja Arkan.
Plaakkk
Terjadi pertengkaran hebat antara Arkan dan Brian. Segala umpatan dan makian dikeluarkan Brian.
Ia begitu emosi mengenai investor perusahan Brazil nya yang di ganti oleh perusahan Italy oleh Arkan.
Arkan terus memberikan penjelasan yang masuk akal kenapa perusahan Brazilnya itu gagal teken kontrak. Arkan berada di posisi yang benar, ia tidak mau mengalah, ia tetap meminta agar Brian bersikap rasional dalam menjalankan perusahan.
“Kenapa mas? Kenapa mas ngotot harus teken kontrak dengan perusahan Belize itu? Apa mas tau mereka ngelunjak dengan berbagai alasan yang sangat merugikan perusahan? Undang undang dalam kontrak banyak yang di rubah, jika para pemegang saham tau cara mas menjalankan perusahan seperti ini, takutnya mas hanya akan di keluarkan dari posisi mas sekarang!”
Brian maju selangkah kemudian menarik kerah baju Arkan.
“Sekarang kamu berani melawan ku?” tanya Brian penuh emosi.
“Oh ya mas, dana kas perusahan beberapa kali di cairkan oleh asisten mas? Kenapa nggak ada keterangan dana nya dipakai untuk apa?” tanya Arkan.
“Itu urusanku!”
“Itu urusanku mas, aku duduk di ruangan ini karena harus tau mas kemanakan semua uang itu? Aku disini atas perintah paman, bagaimana jika hal ini sampai ke telinga paman Johan?” ancam Arkan.
“Laporkan saja, apa kamu pikir ayah ku akan membela dirimu? Perusahan ini milik ku, kamu bukan siapa siapa disini selain staf biasa. Mulai hari ini kamu saya pecat!” Ucap Brian.
Arkan berbalik menarik kerah baju Brian.
“Ini perusahan milik keluarga Susanto. Perusahan ini di bangun oleh kakek. Aku punya hak disini.” ujar Arkan.
“Tapi kamu bisa apa? Sudah tugas ku memecat karyawan yang melanggar perintah atasan. Kamu Silahkan tinggalkan ruangan ini. Kamu sudah di pecat,” ucap Brian.
“Aku akan membawa masalah ini dalam rapat pemegang saham. Biar mereka tau bagaimana kamu akan membuat perusahan ini hancur,” ucap Arkan.
“Silahkan saja,” tantang Brian.
.
.
.
__ADS_1
TBC…