Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Upik Abu-


__ADS_3

Tanpa sengaja mata Arkan tertuju ke arah pintu keluar. Ia melihat sosok wanita yang sangat mirip Wulan sedang berdiri di pintu keluar. Setelah pintu terbuka, wanita itu segera berlari keluar.


Arkan bangkit dari kursi nya, kemudian mengejar wanita itu. Ia merasa yakin kalau wanita itu adalah Wulan. Rambutnya, punggung badan serta cara wanita itu berjalan benar benar mirip seperti Wulan.


“Wulan,” panggil Arkan sambil terus berjalan cepat menuju pintu keluar.


Namun apa lah daya, dengan menggunakan tongkat seperti itu, bagaimana pun usahanya, Arkan tidak bisa mengejar wanita itu.


Arkan mengelilingi parkiran mencari wanita yang baru saja keluar.


“Arkan,” panggil Sheila. Ia menyusul Arkan dari belakang.


“Kamu lihat wanita tadi kan? Dia adalah wulan,” ucap Arkan.


“Wanita? Wanita mana?” tanya Sheila.


“Wanita kaos coklat dengan celana hitam. Aku baru saja melihatnya keluar dari pintu itu,” ucap Arkan penuh keyakinan.


“Sudah lah, tidak ada siapa pun di sini,” ujar Sheila.


“Aku yakin, aku yakin wanita itu adalah Wulan,” Arkan bersikeras kalau wanita itu adalah Wulan.


“Wulan sudah mati, jika itu adalah Wulan dia bisa pergi kemana?” Kepala Sheila menoleh ke sekeliling yang tidak ada siapa pun di situ. “Dan jika wanita itu adalah Wulan, mengapa dia tidak menghampiri kamu?” tanya Sheila.


“Benar juga, Wulanku tidak akan pergi begitu saja.”


Arkan berdiri lesu membayangkan kebodohan nya sendiri. Ia terlalu berharap Wulan masih hidup. Ia terlalu memikirkan Wulan, hingga mulai berhalusinasi.


“Ayo masuk, dokter Yudha sudah menunggu mu di dalam,” ajak Sheila.


Arkan memutuskan kembali masuk ke dalam ruangan.


Ia berjalan sedikit lambat, pikirannya masih terusik akan sosok wanita barusan. Jika wanita itu benar benar Wulan gimana?


Arkan tidak langsung masuk ke dalam ruangan dokter, tapi ia mampir di meja perawat yang berjaga di depan ruangan dokter.


“Suster, bisa saya lihat daftar pasien hari ini?” tanya Arkan.


“Untuk apa bang, daftar pasien hari ini tidak ada yang spesial,” ujar perawat itu.


“Soalnya saya melihat teman saya baru saja keluar dari sini, apa benar itu adalah teman saya?”


Perawat itu memutuskan menyerahkan buku daftar pasien hari itu.


Arkan langsung periksa satu persatu nama nama dalam daftar itu.


Matanya terbelalak saat membaca nama kakek Hendy.


“Mbak, nama Hendy P ini apakah seorang kakek?” tanya Arkan.


Perawat itu mengangguk.


“Kakek ini pasien yang di terapi sejam yang lalu,” ujar perawat itu.


“Dia datang bersama cucu perempuannya?” tanya Arkan lagi.


Perawat itu menggeleng. “Cucu kakek ini seorang laki laki, dia seorang dokter juga, rekan dokter Yudha di rumah sakit,” jelas dokter itu.

__ADS_1


Perawat itu terlihat berpikir sejenak.


“Tapi ada seorang wanita bersama mereka, wanita itu mungkin adalah istrinya,” ujar perawat itu.


“Wulan, apakah wanita itu adalah Wulan?”


“By the way, dokter sudah menunggu kalian di dalam. Masuklah,” ucap perawat itu.


Sheila yang sudah menunggu di samping Arkan langsung menggandeng lengan Arkan masuk ke dalam ruangan dokter.


“Aku masuk sendiri saja, kamu bisa menunggu di sini,” tolak Arkan.


Terpaksa Sheila mundur dan kembali duduk di ruang tunggu.


Selama terapi, hati Arkan tidak tenang, ia terus memikirkan Wulan dan kakek Hendy.


“Gimana? Mau coba sendiri?” tanya dokter Yudha setelah selesai di terapi.


Arkan menatap wajah dokter itu.


“Ayolah, kamu masih muda. Seharusnya tulang kamu masih sehat semua,” ucap dokter Yudha.


Akhirnya Arkan memberanikan diri melepas kedua tongkatnya. Ia mulai berjalan perlahan di atas sebuah titian yang memiliki pegangan di kedua sisi.


Arkan terus berjalan pelan, walau masih terasa sakit ia terus berusaha berjalan. Jika Wulan melihat keadaannya seperti ini, Wulan pasti akan sedih.


“Hebat, progresnya sangat cepat. Saat di rumah cobalah berjalan tanpa tongkat, tapi jika ragu atau takut jatuh, sesekali tingkatnya bisa di pakai,” saran dokter Yudha.


Arkan kembali teringat sosok Wulan, sebaiknya ia bertanya langsung dengan dokter. Barangkali dokter Yudha akrab dengan mereka.


“Anda kenal kakek Hendy?” Dokter Yudha balik bertanya.


“Kakek Hendy adalah kakek teman teman saya Wulan, aku kaget melihatnya ada disini.”


“Mungkin Wulan itu wanita yang di taksir adik kejuruan saya. Dia yang membawa kakek itu ke sini, katanya kakek itu adalah temannya. Hari ini adalah praktek pertama kakek Hendy di sini. Sebelumnya dia adalah pasien dokter Abram, dokter specialis ortopedi senior,” cerita Dokter Yudha.


“Maksud anda teman dokter itu naksir dengan Wulan?” tanya Arkan lebih jelas.


Dokter Yudha mengangguk setuju.


Arkan mengepalkan jemari tangannya. Ia merasa tidak terima mendengar dokter itu punya hubungan dengan Wulan.


“Dokter tau dimana alamat mereka?” tanya Arkan.


“Soal alamat rumah aku tidak tau, kami tidak meminta data selengkap itu pada pasien,” jawab dokter Yudha.


Tanpa sadar kaki Arkan sudah berjalan sedikit demi sedikit. Sambil membahas Wulan ia sudah berani melangkah keluar dari walk treat nya.


“Hebat, jika sudah bisa berjalan sebaiknya tongkat itu tidak usah di pakai lagi. Biasakan jalan pelan seperti itu. Tingkatkan kecepatannya setiap hari,” ujar dokter Yudha senang. Pasien yang di rawat nya menunjukkan kesembuhan yang sangat signifikan.


“Kapan jadwal terapi kakek Hendy dok?” tanya Arkan lagi.


“Kakek Hendy seminggu tiga sampai empat kali, mungkin lusa jadwalnya terapi,” jawab dokter.


“Baiklah Terimakasih dok,” ucap Arkan. Ia berjalan perlahan menuju kursi nya.


“Lusa kamu bisa kembali lagi, tapi jika kakimu sudah bisa di bawa jalan. Terapinya mungkin di kurangi jadi seminggu sekali.

__ADS_1


“Nggak dok, lusa aku akan ke sini. Semakin sering terapi semakin baik dok,” ucap Arkan.


Dokter Yudha sedikit bingung. “Baiklah, datang saja,” ucap dokter sambil mengangguk setujui.


Arkan keluar dari ruang operasi dengan wajah gembira. Secerca harapan baru muncul dalam hidupnya. Wulan belum meninggal, Wulan masih hidup. Ia dan kakeknya masih hidup.


.


.


.


Sementara itu di depan sebuah lift.


Wulan masih berjongkok di tempat yang sama sudah hampir setengah jam. Beberapa orang yang lalu lalang, menatap risih kepadanya yang tertunduk lesu tanpa semangat di depan pintu.


“Mbak,” Panggil seorang sekuriti.


Wulan mengangkat kepalanya menatap pria tegap berseragam hitam yang berdiri di hadapannya.


“Mbak, banyak yang keluar masuk dalam lift. Mbak bisa duduk di kursi loby jika ingin duduk. Jangan berjongkok di situ,” ucap sekuriti itu.


Akhirnya Wulan berdiri dan melangkah masuk ke dalam lift.


Setelah memencet angka 5, lift membawanya naik menuju lantai 5.


Setiba di lantai 5, Wulan berjalan lemah keluar dari lift. Hati nya terasa hampa, hati nya tak memiliki semangat lagi. Ia merasa sedih sekaligus remuk di dalam dadanya.


Ting tong.. ting tong.


Wulan mulai memencet tombol bel pintu kamarnya.


dan dalam sekejap Raya sudah berdiri di depannya.


“Kenapa muka kamu kusut gitu Lan?” tanya Raya bingung.


“Hati ku sakit sekali Ya, ternyata sakit hati itu rasanya seperti ini,” ucap Wulan.


“Ayo masuk dulu,” Raya menarik tangan Wulan ke dalam kamar.


“Hati kamu sakit kenapa?” tanya Raya setelah menutup pintu kamar.


Wulan berdiam diri seperti seorang yang sudah tidak memiliki harapan hidup.


“Aku bertemu Arkan di tempat dokter. Dia bersama seorang wanita. Teman nya semasa kuliah, nama nya Sheila. Sheila wanita yang sangat cantik, mereka terlihat sangat serasi,” jelas Wulan lemah.


“Arkan? Apa yang dia katakan setelah melihat mu masih hidup?” tanya Raya penasaran.


Wulan menggeleng. “Dia tidak melihat ku. Aku kabur begitu saja, aku tidak ingin dia melihatku si Upik abu ini,” ucap Wulan semakin tertunduk lesu.


.


.


.


TBC…

__ADS_1


__ADS_2