
Tok tok tok
“Tuan muda.”
Tok tok tok
Suara bising bi rahma menggema di seantero ruangan. Tuan muda Arkan yang di panggilnya belum juga keluar dari kamarnya hingga membuat bi rahma mondar mandir di depan pintu kamar.
“Tuan muda.”
Tok tok tok
Pintu kamar kemudian terbuka dari dalam.
“Apa bi, teriak teriak mulu,” protes Arkan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Bibi kira tuan masih tidur, jadi bibi terus saja panggil,” ujar bi Rahma.
“Emang ada apa bi, nggak sabaran banget. Aku lagi mandi!” tanya Arkan.
“Itu, nona Sheila sudah menunggu di depan.” ujar bi Rahma.
“Sheila? Ngapain dia ke sini?” tanya Arkan heran.
“Nona Sheila di tugaskan ibu mengantar tuan muda ke dokter terapi,” sahut bi Rahma.
“Mama, ada ada saja. Ngapain coba suruh suruh orang. Ya sudah bibi suruh tunggu saja, aku ganti baju dulu,” perintah Arkan. Ia langsung menutup pintu kamarnya.
Arkan langsung bergegas mencari pakaian di dalam lemari. Jadwal ia konsultasi dengan dokter Yudha adalah pukul 18.30, tinggal setengah jam lagi, gimana jika jalanan macet?
Setelah rapih dengan setelan kaos dan celana pendek selutut, Arkan langsung berjalan keluar. Ia menemui Sheila yang sudah berdiri di depan pintu mobil.
Sheila langsung menyambut lengan Arkan yang terlihat kerepotan dengan kedua tongkat terapit di ketiak Arkan.
“Saya bisa sendiri,” tolak Arkan kemudian masuk ke dalam mobil.
“Daniel mana?” tanya Arkan karena saat itu Daniel tidak duduk di balik kemudi. Sheila yang mengambil posisi Daniel saat itu.
“Daniel sudah aku suruh pulang lebih awal. Aku yang akan menemani kamu malam ini,” ucap Sheila.
Kening Arkan mengerut. “Apa maksud ucapannya? Malam ini?” batin Arkan
“Kata tante kita ke dokter Yudha kan, jalan Teuku Umar?” tanya Sheila kemuidan mulai menyetir mobil keluar dari halaman rumah itu.
__ADS_1
Arkan tidak menjawab pertanyaan Sheila. “Kalau mama sudah mengatakan alamatnya kenapa masih harus bertanya kepada ku.”
“Oh ya, kata tante Jenny jadwal teraphy setiap Selasa Kamis dan Sabtu kan? Biar Kamis aku jemput kamu lebih awal. Kita nggak perlu buru buru seperti sekarang,” lanjut Sheila.
Sepanjang perjalanan wanita itu terus saja bicara, sedangkan Arkan terus tidak merespon nya. Malahan ia makin merasa bosan di dalam mobil bersama wanita yang tidak bisa berhenti bicara.
Arkan menyadarkan kepala nya di samping Jendela, ia merenungi nasibnya yang kini sedang di cerca oleh cerita lama Sheila. Lagi lagi ia membahas kenangan indahnya saat kuliah dulu.
“Aku ingat rambut kamu dulu di cat berwarna cokelat. Sampai sampai aku mengira kamu keturunan bule. Tapi ya mata kamu agak agak sipit sedikit mungkin bule Eropa campuran chinesse gitu. Eh ternyata benar, setelah aku cek nama kamu Arkana Lee, pasti ada chinesse nya,” cerita Sheila.
“Padahal aku nggak pernah ingin masuk jurusan sipil, tapi karena papa yang terus mendesak ku jadi aku ambil jurusan itu. Beruntung sih, nggak bikin nyesel. Aku menikmati masa masa kuliahku,” lanjut Sheila.
Arkan terlihat sibuk ke kiri kanan, ia sedang mencari sesuatu disekitar nya.
“Cari apa?” tanya Sheila.
“Kamu lihat Ponsel ku?” tanya Arkan.
“Oh, ini?” Sheila menyerahkan ponsel Arkan yang ia letakkan di atas speedometer.
“Bentar lagi kita sampai,” ucap Arkan.
“Oh iya, ga terasa sudah dekat,” ucap Sheila.
Mobil Arkan langsung memasuki halaman parkir tersebut kemudian memarkir mobil tepat di depan pintu masuk.
Sheila membantu Arkan turun dari mobil, kemudian dengan sigap menyerahkan tongkat ke tangan arkan.
Sheila hendak memapah tubuh Arkan namun Arkan menolak bantuannya itu.
“Aku bisa sendiri,” tolak Arkan. Ia berjalan masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan kemudian melapor pada perawat yang berjaga di situ.
.
.
.
Satu jam sebelumnya di ruang praktek dokter Yudha..
Kakek Hendy baru saja selesai di terapi infra red. Kakek juga di latih berdiri dan duduk oleh dokter Yudha. Karena lutut kakek sudah jarang di gerak kan jadi butuh beberapa kali terapi untuk melumaskan kembali persendian kakek yang sudah kaku.
Saran dari dokter Yudha kakek harus melakukan terapi rutin minimal seminggu tiga sampai empat kali.
__ADS_1
Begitu keluar dari ruangan dokter, Mail lebih dahulu membawa kakek kembali ke hotel. Sedangkan Wulan, ia masih harus antri di apotek menunggu obat.
Sambil berdiri menunggu, Wulan membaca sebuah brosur vitamin omega 3 yang di pajang di atas meja kasir.
“Berapa harga omega 3 ini mba?” tanya Wulan pada kasir itu.
“Tiga ratus enam puluh ribu,” jawab wanita kasir itu.
“Sama ini satu ya,” ucap Wulan sembari menyerahkan satu botol omega tiga ke hadapan kasir.
Setelah beberapa saat kemudian, seorang apoteker keluar dari dalam ruangan menyerahkan satu bungkus obat kepada Wulan.
“Obatnya kakek Hendy,” ucap apoteker itu
“Berapa mba?” tanya Wulan.
“Obatnya di minum sehari satu kapsul. Kalau ini di berikan saat sakit saja, kalau tidak ada rasa sakit tidak perlu di konsumsi. Total semuanya 980 ribu sudah dengan biaya terapi ya mbak,” ucap apoteker itu.
Wulan membayar sejumlah uang sesuai nominal obat kepada kasir. Setelah memasukkan obat ke dalam tas, Wulan pun bergegas keluar dari ruangan itu.
Saat hendak menyebrangi koridor tanpa sadar matanya tertuju ke ujung koridor dimana beberapa pasien terapi sedang antri. Tatapannya langsung tertuju pada Arkan.
“Itu mas Arkan?” Wulan bertanya tanya dalam hatinya.
“Benar itu mas Arkan. Dan wanita di sampingnya adalah Sheila. Ternyata mas Arkan sekarang bersama Sheila. Pantesan dia tidak pernah mencari ku. Sudah ribuan kali aku menghubungi Nomor ponsel nya namun tidak pernah aktiv. Dia sengaja menghindariku karena ternyata dia sekarang bersama Sheila teman kuliahnya.”
Wulan menutup wajahnya dengan tas selempang yang dibawa nya. Ia melintas di koridor terang itu sambil sedikit berlari cepat.
Wulan berdiri sejenak di depan pintu kaca sensorik, menunggu pintu itu terbuka. Ia tidak ingin berlama lama di tempat itu. Ia tidak ingin Arkan melihatnya.
Setiba di luar, Wulan langsung berlari menuju trotoar ia langsung menyebrang jalan hingga tiba di hotel tempat ia menginap.
Setiba di dalam hotel, Wulan langsung berjongkok tepat di depan lift. Kakinya terasa lemas, seperti nya barusan ia berlari terlalu cepat.
Sambil berjongkok Wulan menatap sepatu reot yang dikenakannya saat itu. Gaya berpakaiannya yang sangat kampungan, kulitnya yang kini terlihat hitam legam akibat sinar matahari pantai yang membakar kulitnya saat menjual anyaman di pasar.
Jika dibandingkan dengan Sheila, Wulan sangat jauh di bawahnya. Wulan menjadi minder dan tidak pantas bertemu Arkan lagi. Itulah mengapa ia menghindar bertemu dengannya. Lagian di mata semua orang Wulandari Iskan sudah mati, biar lah ia terkubur selamanya di dalam hari Arkan.
.
.
.
__ADS_1
TBC…