
Sementara itu, di sebuah pegunungan yang jauh dari kebisingan suara kendaraan. Pegunungan yang jauh dari polusi udara di sanalah Wulan berada.
Suasana sangat tenang walau hanya dengan irama daduanan rindang yang saling bergesekan saat di terpa angin. Suara jangkrik yang saling sahut sahutan di alam liar serta suara kicau burung yang terus berdecit di ranting dan dahan pohon.
Sebuah kedamaian yang tak bisa ia dapatkan di sudut kota manapun.
Pagi itu, Wulan sedang berjalan di sekitar hutan untuk mencari kayu bakar. Setelah mengumpulkan beberapa dahan dan ranting kering Wulan duduk sejenak di bawah sebuah pohon.
Tatapannya menatap ke arah timur dimana matahari sementara beranjak naik. Warna jingga yang sangat cantik. Karena masih pagi ia bisa menatap mentari itu secara langsung.
“Wahai sang mentari, dimana kah dibelahan bumi ini yang cahaya mu tidak sampai ke sana? Jika semua tempat engkau kuasai maka sampaikan salam ku untuk nya. Semoga dia selalu bahagia di manapun ia berada,” gumam Wulan.
Sementara dari arah belakang pohon, suara langkah kaki terdengar menghampirinya.
“Wulan ada Mail, dia mencari mu,” ucap Raya yang saat itu juga sedang mengumpulkan kayu bakar.
“Mail? Ada apa pagi pagi dia sudah di sini?” tanya Wulan.
“Tentu saja dia merindukan mu,” sahut Raya.
“Jangan bercanda, buat apa terus merindukan seorang janda seperti ku? Aku sudah mengatakan kalau aku belum bersedia menjalin hubungan lain. Tapi..”
“Tapi dia tiap hari datang menghantui mu. Seharusnya kamu bersyukur, Mail sekarang sudah menjadi dokter, dia merawat dan menjaga kakek dengan sangat baik, terima saja lamarannya,” ujar Raya.
“Aku belum bisa menerima cintanya,” ujar Wulan.
“Karena Arkan? Kamu masih mencintai Arkan? Percaya lah, Arkan sudah bahagia di luar sana. Dia tidak pernah mencari mu,” ujar Raya.
Wulan terdiam sejenak.
Walau pun Arkan sudah melupakan dirinya namun hatinya sedikitpun belum melupakan Arkan. Hati nya belum siap mengolah perasaan asing bersama Mail. Mail benar benar tidak membuat dirinya mengalihkan bayangan Arkan yang selalu terbesit dalam benaknya.
“Ayo balik Lan, kayu hari ini sudah cukup. Bibi pasti sudah menunggu kita,” ucap Raya.
Wulan pun bergegas bangun dari atas tanah beralaskan dedaunan kering itu, ia segera mengikat kayu yang sudah di kumpulkannya kemudian kembali pulang.
Setiba di rumah, Mail sedang duduk bersama kakek dan Buto di bale bale depan rumah. Mereka sedang menikmati jamuan teh pagi bersama sepiring pisang goreng panas yang baru saja di goreng bi Indun.
Melihat Wulan mendukung keranjang berisi kayu, Mail langusung mengampiri nya.
“Wulan, kenapa membawa barang seberat ini?” ucap Mail kemudian mengangkat keranjang itu lepas dari punggung Wulan.
__ADS_1
“Sudah biasa, anggap saja habis haiking pagi pagi di hutan,” sahut Wulan.
“Tapi, kan ada Buto. Kenapa bukan Buto yang mencari kayu bakar di hutan?” ujar Mail.
“Kamu lihat rumah kita sekarang? Tugas Buto setiap hari hanya membangun rumah ini, berkat Buto sekarang kami memiliki kamar yang lebih banyak. Jadi jangan menambah pekerjaan nya yang sudah melelahkan itu,” ucap Wulan.
“Tapi Buto masa kamu nggak bisa, kalau hanya kayu bakar kan tidak sulit,” ujar Mail.
“Bisa, bahkan pohon nya bisa aku tebang dan bawa pulang untuk aku jadi kan kayu bakar,” sahut Buto.
“Lihat? Jika Buto yang pergi cari kayu maka ia akan menghabiskan semua pohon di hutan ini,” ucap Wulan.
Mail menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mereka memang sangat kompak, semua orang terlihat saling mendukung satu sama lainnya. Tidak ada gunanya Mail mencari pembenaran disitu.
“Oh ya, semalam aku sudah bertemu dokter Yudha, dokter Yudha adalah kakak tingkat saat kuliah. Dokter Yudha sudah setuju, ia meminta ku membawa kakek ke klinik fisioterapi miliknya,” ucap Mail.
“Kapan?” tanya Wulan yang kini terlihat antusias.
“Hari kalau bisa.”
“Hari ini?” ucap Wulan sedikit kaget.
“Sore ini? Kenapa mendadak sekali. Aku belum siap siap, dan perjalanan ke Jakarta agak jauh, apa waktunya nggak terlalu mepet?” ujar Wulan.
“Kita akan ke desa Pesisir dulu, dari sana bisa naik kapal cepat. Kita tiba di pelabuhan muara Angke tiga jam, dari sana kita langsung ke klinik dokter Yudha,” ucap Mail yang sudah menyiapkan rute perjalanan mereka dengan matang.
“Karena dokter sudah berikan jadwal hari ini, sebaiknya bawa kakek hari ini, jangan di tunda lagi Lan,” ucap bi Indun dari arah belakang.
“Tapi aku belum ada persiapan bi,” ucap Wulan.
“Bermalam saja di sana beberapa malam, ajak Raya juga biar dia bisa temani kamu,” ucap bi Indun.
Wulan melirik wanita yang sedang jongkok di atas tanah sambil mengunyah pisang goreng.
“Kamu ikut kan Ya?” ajak Wulan.
Raya mengangguk setuju.
“Baiklah, aku akan siap siap sekarang,” ucap Wulan.
“Sini sarapan dulu. Bibi sudah goreng nasi sisa semalam. Ada bibi buatkan ikan goreng tepung,”
__ADS_1
“Irma,” teriak bi Indun. “Bawa lauk di meja dapur ke sini nak,” lanjut bi Indun.
Beberapa saat kemudian Irma keluar dengan dua piring lauk di tangannya.
Zaka kecil terus mengekor di belakang Irma, di mana pun Irma berada ia pasti berdiri di belakang Irma.
“Zaka, ayo kita makan bareng nak,” ucap Wulan. Ia mengangkat Zaka agar duduk di atas bale bale di samping kakek.
“Ayo dimakan, setelah makan baru kalian jalan,” ucap bi Indun.
Mail ikut makan pagi bersama mereka. Ia bahkan mengambilkan nadi untuk kakek, bersama ikan yang sudah di keluarkan tulang nya.
“Ini kek,” ucap Mail.
Raya juga ikut duduk bersama mereka, walau hanya makan sedikit namun kebersamaan di pagi hari seperti itu tidak pernah ia lewatkan. Menggabiskan waktu bersama membuatnya merasa kembali memiliki sebuah keluarga.
“Kakek, setelah rutin melakukan fisioterapi, kakek tidak perlu duduk di kursi roda lagi. Walau agak lambat jalannya tapi sebaiknya kakek menggunakan kedua kaki untuk berjalan. Biar tulang kaki kakek kembali menjadi kuat seperti dulu,” ucap Mail sambil menikmati nasi goreng sederhana buatan bi Indun.
“Kakek sudah tua, umur kakek sudah tidak lama lagi. Bisa jalan ya syukur, bisa melihat kalian saja kakek sudah senang,” ujar kakek.
“Kakek tetep harus sembuh, kakek harus hidup lebih panjang, dan bahagia,” ucap Wulan.
“Haha, kakek sekarang sudah bahagia,” balas kakek Hendy.
“Kakek harus ingat, sekarang kakek memliki Buto. Buto dan Wulan adalah cucu kakek,” ucap Buto asal.
“Jangan bilang kamu dan wulan bersaudara, wajah, kulit, rambut kalian beda jauh. Jangan mimpi,” celetuk Raya.
“Itu karena Buto kelamaan di oven, jadi keriting dan gosong,” canda Buto.
“Haha, iya iya. Buto juga adalah cucu kakek. Raya dan Irma juga cucu kakek. Dan si kecil Zaka adalah cicit kakek. Kalian akan dapat warisan dari kakek. Semuanya dapat,” ucap kakek senang.
Mendengar semua orang tertawa, si kecil Zaka ikut tertawa. Si pemilik senyuman yang mirip dengan Brian itu mebuat semua orang terhibur akibat tawa renyah nya.
.
.
.
TBC…
__ADS_1