Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Swan Sea III-


__ADS_3

Sepeninggal Brian dan Soraya, Wulan menatap nanar map coklat yang berada di atas meja.


“Akhirnya apa yang aku inginkan akan ku dapat, hanya selembar kertas ini yang aku butuhkan,” ujar Wulan.


“Lan?” panggil Sarah.


“Mereka sudah pergi?” tanya Wulan.


“Masih di bawah, Arkan menyerahkan sesuatu kepada Brian,” jawab Sarah.


“Arkan pasti memberikan surat hak nya sebagai pemegang saham untuk mendukung Brian. Yah sudah lah itu urusan kekuarga mereka,” ucap Wulan.


“Kamu ga apa kan?” tanya Sarah.


“Yah aku baik saja,” ucap Wulan lalu berjalan lunglai menuju sofa panjang di sudut ruangan. Sambil memegang erat map coklat itu ia bersandar pada sandaran sofa. “Aku akan bercerai, aku bisa bebas dari pria brengsek yang terus menindasku,” teriak Wulan.


“Sshhtt, mereka masih di bawah,” ujar Sarah.


“Biarkan saja, paling Brian hanya akan datang menampar ku seperti biasanya,” teriak Wulan.


Dari arah luar Renata menghampiri Wulan.


“Gimana sih, ga bisa minum tapi masih mau minum. Kamu tuh ga pernah miras kok mau aja di suruh minum minuman itu?” tanya Renata.


“Hanya beberapa gelas, tidak akan mengubah rasa benci ku kepada Brian Ren,” jawab Wulan asal.


“Sudah Ren kita Wulan ke dalam aja yuk,” ajak Sarah.


“Ya udah.”


“Aku akan membalas dendam kakek, kakek aku akan membalaskan dendam untuk mu,” teriak Wulan.


“Kamu ngomong apa sih Lan?” tanya Renata.


“Kakek, kakek selalu datang dalam mimpiku. Kakek sudah meninggal di bunuh oleh Brian,” teriak Wulan.


“Ssshhtt,” Sarah menutup mulut wulan agar suaranya tidak besar keluar.


“Ayo Ren, kita bawa dia ke kamar. Makin ngaco nih ngomongnya.”


Renata dan Sarah membopong tubuh Wulan ke dalam kamar. Ia terlihat sangat tidak berdaya. Mata Wulan tertutup rapat tapi mulutnya selalu berteriak tidak jelas. Pembunuhan, balas dendam, dan benci. Semua kata kata yang keluar dari mulutnya ditujukan kepada Brian.


Selang sepuluh menit Wulan terlelap, Arkan masuk ke kamar tersebut.


“Mas Arkan, mereka sudah pergi?” tanya Sarah.


“Baru saja pergi, kita harus bergerak sekarang. Sebelum pagi kita sudah harus berada di Surabaya.”


“Renata dan Sarah, kalian cari lah kamar masing masing di bawah, aku akan tidur di sini menemani Wulan,” lanjut Arkan.


“Tentu saja, kami tidak akan mengganggu kalian,” ucap Renata kemudian menarik tangan Sarah keluar dari kamar itu.


Sepeninggal Sarah dan Renata, Arkan mengambil ponsel dari kantong bajunya kemudian menghubungi ibunya Jenny.


Suara mesin penjawab terdengar, ponsel ibunya dimatikan atau tidak sedang aktif. Saat itu juga Arkan langusng menghubungi Richard.


“Yah,”


“Arkan, kamu sudah menghubungi mama mu?” tanya Richard.


“Sudah yah, nomor ponsel mama nggak aktiv,” sahutnya.


“Sejak kemaren, ponsel mama mu nggak aktiv. Ayah sudah menghubungi apartemen dimana mama mu tinggal, sekuriti mengatakan tidak melihat mama sudah beberapa hari,” ucap Richard.


“Ayah dimana?” tanya Arkan.


“Ayah masih di London,” sahut Richard.


“Aku sudah menyerahkan hak vote suara kepada Brian yah,” ucap Arkan.


“Hmm,” suara Richard terdiam. Sepertinya dia sedang berpikir sesuatu. “Ayah sudah pernah katakan, butuh waktu lama untuk mendapatkan perusahan itu. Kita butuh waktu di atas dua tahun dengan perencanaan yang matang. Ayah takut jika mama kamu ikut di sekap Brian.”


“Tapi yah, Brian nggak mungkin berlaku senekat itu.”

__ADS_1


“Ayah nya sendiri hingga sekarang tidak jelas kabar beritanya. Kamu masih mempercayai pria tidak berperasaan seperti nya?!”


“Jika mama di sekap, aku akan ke Singapore besok. Aku butuh bantuan mama,” ujar Arkan.


“Arkan, kamu nggak usah cemas soal perusahan. Selama saham kamu masih di situ, perusahan tetap menjadi milik mu. Kamu harus bersabar, kita akan memikirkan cara untuk mendapatkannya kembali,” ujar Richard.


“Iya yah.”


“Besok jangan lupa kabari ayah jika sudah bertemu ibu mu,” ucap Richard lagi.


“Iya akan Arkan kabari ayah secepatnya,”


“Bye.”


Richard sudah menutup panggilan telpon nya.


Arkan berbalik menatap wanita yang sedang terlentang tak berdaya. Ia masih memegang erat map coklat di tangannya.


“Yang penting sekarang kamu aman, apa pun itu setara harganya,” gumam Arkan.


Ia mendekati ranjang tidak seberapa besar itu kemudian menutupi tubuh Wulan dengan selimut. Kemudian ia pun berbaring di sisi ranjang sambil terus menatap Wulan. Rasa kantuk tiba tiba menghampiri Arkan, ia akhirnya terlelap disamping Wulan.


Akibat sebuah tendangan kecil membuat Arkan terbangun dari tidurnya.


Wulan seperti orang kegelisahan, berputar ke kanan kemudian kekiri berulang ulang.


“Wulan,” panggil Arkan.


“Wulan kamu kenapa?” tanya Arkan pelan.


Saat itu juga Wulan terbangun.


“Kamu kenapa?” tanya Arkan lagi.


“Aku kebelet mas,” jawab Wulan sambil mengernyit dan memegang kepalanya.


“Ayok,” Arkan membantu Wulan bangkit dari ranjang kemudian menuju toilet.


“Kamu ga papa?” tanya Arkan cemas sambil ikut masuk ke dalam toilete.


“Keluar mas, aku lagi muntah,” usir Wulan.


Namun Arkan tak beranjak, ia malah maju mendekati Wulan kemudian mengusap ngusap punggung leher Wulan.


“Di muntahin aja, kalau sudah keluar semua sudah enakan,” ujar Arkan.


“Mas keluar, aku malu,” ucap Wulan.


“Ueekkk,” Wulan memuntahkan keluar makanan dan minuman keras yang di minumnya semalam.


“Mas pergilah,” usir Wulan.


Arkan memencet tombol fluse pada dudukan kloset. “Aku akan tetap disini.”


“Aku mau kencing mas,” ucap Wulan sambil berdiri menahan perutnya.


“Oh baiklah,” Arkan akhirnya keluar dari ruangan sempit itu.


Ia masih berdiri di depan pintu menunggu Wulan keluar dari sana.


“Wulan,” panggil Arkan.


“Hmm,” jawab Wulan singkat.


“Sudah?” tanya nya.


“Belum mas?” sahut Wulan.


“Aku akan masuk,” ucap Arkan.


“Jangan,” teriak Wulan dari dalam.


Selang beberapa saat Wulan masih belum keluar.

__ADS_1


Tok tok tok


“Wulan?” panggilnya lagi, kali ini di iringi dengan ketukan pintu. “Kamu ngapain,” tanya nya.


Wulan tidak menjawabnya.


“Wulan, kamu pingsan di dalam?”


“Wulan, jangan becanda deh,” ucap arkan khawatir.


“Pintu aku dobrak a-“ ucapan nya terhenti, Wulan sudah keluar dari dalam kamar mandi.


Kali ini wajah Wulan sudah terlihat lebih segar, make up di wajahnya tidak berantakan seperti sebelumnya.


“Aku tidak pingsan mas,” ucap Wulan dengan senyuman.


Arkan langsung menyambutnya dengan pelukan lembut.


“Jika terjadi apa apa dengan mu, aku harus bagaimana?” tanya Arkan.


“Aku baik baik saja mas,” ucap Wulan.


“Gimana perasaan kamu? Masih mules?” tanya Arkan.


“Sedikit, masih pusing juga. Dan sedikit laper,” ujar Wulan.


“Kamu mau makan? Sekarang baru jam 3, makanan semalam mungkin masih ada. Kita lihat ke luar?” ajak Arkan.


Wulan mengangguk setuju. Mereka langsung berjalan keluar dari kamar itu.


Saat itu yacht tengah melaju cepat, mereka melewati gelap malam. Cakarawala seakan menyatu dalam kegelapan. Mereka terus melaju menembus hitamnya malam.


Sesekali kapal itu melewati cahaya kelip lampu dari kejauhan yang tampak seperti kilau bintang. Kelap kelip lampu perahu perahu kecil para nalayan yang tengah sibuk mencari nafkah untuk keluarga tercinta.


Setelah perut terisi, rasa keroncongan dan mual Wulan sedikit berkurang.


“Mas. Aku ingin ke depan.” tanya Wulan sambil menunjuk ujung lancip di arah depan yacht.


“Nggak boleh, kapal sedang melaju cepat, kamu bisa jatuh,” larang Arkan.


“Kalau begitu, di depan situ?” tanya Wulan lagi sambil menunjuk pagar penghalang tak jauh dari keberadaan mereka.


“Boleh.”


Wulan berdiri berpegang pada pagar besi. Angin yang berhembus kencang membuat rambutnya melayang merepa wajah Arkan.


Arkan yang berdiri di belakang Wulan memeluknya erat.


“Mas,” panggil Wulan.


“Ya.”


“Hubungan seperti apa yang mas inginkan dariku?” tanya Wulan serius.


“Maksud kamu?” tanya Arkan.


Wulan berbalik badan menatap wajah Arkan. Kaki nya menjinjit menghampiri tubuh Arkan kemudian menciumnya lembut.


“Kapan kita akan melakukan itu, aku ingin memberikan milik ku yang berharga hanya untuk mas,” ucap Wulan kemudian melanjutkan aksinya.


Arkan membalas mencium mesra wanita yang di cintainya itu. Rambut Wulan, tergerai karena terpaan angin kencang, hingga ia harus kembali menggulung rambut panjang nya itu.


“Bisakah kita menunggu sehari lagi? Setelah setelah kalian resmi bercerai? Setidaknya aku tidak mencumbu istri sepupuku sendiri. Dan aku tak akan merasa terlalu bersalah terhadap keluarga ku,” ujar Arkan.


Wulan mengangguk senang. Ia merangkul Arkan pada pundaknya. Ia terlihat begitu bahagia memiliki Arkan disisinya.


.


.


.


TBC…

__ADS_1


__ADS_2