
Wulan bangun pukul 7 pagi itu. Niatnya ingin kembali ke hotel semalam, tapi ia malah tertidur hingga pagi hari.
Entah bagaimana ia ada dalam selimut. Ia kemudian keluar dari selimut dan berjalan pincang menuju kamar mandi. Kaki yang di perban sudah ia gunakan untuk melangkah. Setelah mencuci muka, Wulan langsung keluar dari kamar Arkan.
Di luar kamar beberapa pelayan sedang membersihkan ruangan. Beberapa orang pria sedang menggulung karpet dan yang lain nya sedang mengangkat satu persatu perabotan ke tempat semula.
Wulan melewati para pekerja itu kemudian langsung menuju arah ruang makan. Di sana bi rahma sedang membersihkan meja makan.
“Pagi nona Wulan, kenapa sudah bangun? Padahal yang lain masih pada tidur,” ucap bi Rahma selaku kepala pelayan di rumah Jenny.
“Pagi bi,” jawab Wulan.
Sambil melompat lompat kecil, Wulan menuju meja makan kemudian duduk di situ.
“Nona kenapa nggak pakai kursi rodanya, kaki nona keliatan masih bengkak. Apa nggak sakit di pakai menginjak seperti itu?” tanya bi Rahma lagi.
“Masih agak sakit sih, tapi duduk di kursi roda mulu juga ga enak bi. Lagian dekat kok dari kamar ke sini,” ujar Wulan.
“Nona mau sarapan apa biar bibi buatkan,” tanya bi Rahma.
“Nanti aja bi, bareng tante Jenny dan Arkan.” ucap Wulan.
“Ya sudah, bibi buatkan minum nya aja dulu ya,” bi Rahma berjalan menuju meja panjang di ruangan itu.
Setelah beberapa saat ia kembali dengan segelas susu coklat hangat.
“Makasih bi. Ooh ya bi, di kamar mas Arkan masih ada kursi roda dan tongkatnya, apa sengaja di pajang di kamar?” tanya Wulan.
“Bukan sengaja non, kursi roda tuan muda belum sempat bibi bawa ke gudang. Takut nya pas tuan butuh kursi dan tongkatnya sudah bibi simpan.”
“Tuan jarang pakai kursi roda, mungkin hanya di pakai selama tiga hari, selebihnya tuan sudah belajar menggunakan tongkat. Tongkatnya juga belum sebulan di pakai, kaki nya udah lancar aja jalan. Penyembuhan tuan lumayan cepat,” ujar bi Rahma.
“Apa patah di kakinya parah?” tanya Wulan.
“Lumayan non, karena tuan masih muda jadi penyembuhannya lumayan cepat. Sewaktu tuan masih koma, dokter terapi setiap hari melakukan terapi, agar otot otot di kakinya tetap bergerak setiap hari. Makanya sebulan terakhir tidak butuh banyak terapi lagi, hanya mungkin kata tuan masih agak kaku di bawa jalan.” jelas bi Rahma.
“Koma?” gumam Wulan.
“Nona, bibi ke dapur dulu. Bibi lagi panggang dada ayam soalnya,” ucap bi Rahma kemudian bergegas menuju dapur.
Sepeninggal bi Rahma, Wulan duduk termenung menatap segelas coklat hangat dihadapannya.
“Arkan koma? Kata bibi Arkan koma, Atau aku salah dengar?”
Sambil terus duduk Wulan menikmati meminuman susu coklat yang di buatkan bi Rahma untuknya. Ia berniat menunggu bi Rahma keluar dari dapur, ia ingin bertanya lebih jelas mengenai Arkan. Mungkin ia salah dengar ucapan bibi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Richard tiba di ruangan itu, di susul Jenny di belakang nya.
“Wulan, kamu sudah bangun. Pagi pagi begini, kenapa nggak tidur aja lagi kalau masih ngatuk?” ucap Richard.
“Eh Paman? Paman ada di sini juga?” tanya Wulan.
Richard duduk di samping kiri Wulan sedangkan Jenny, ia duduk disamping kanannya.
“Iya, paman tinggal di sini sekarang,” jawabnya.
Wulan menatap Jenny meminta penjelasan.
“Paman dan tante sudah balikan?” tanya Wulan.
Jenny mengangguk. “Sudah sebulan, sejak Arkan siuman kami memutuskan kembali menikah. Tante nggak bisa undang kamu, tante nggak tau kamu dimana.”
“Arkan siuman? Memang mas Arkan kenapa Tante?” tanya Wulan.
“Maksudnya?” Jenny kembali bertanya.
“Kata tante sejak Arkan siuman? Emang mas Arkan pernah koma?” tanya Wulan.
“Loh jadi kamu nggak tau? Arkan belum cerita ke kamu?” tanya Jenny.
Wulan menggeleng.
“Wulan nggak tau, Wulan sering menghubungi nomornya tapi nggak pernah aktiv,” ujar Wulan.
“Dia terbaring selama setahun, tante sempat putus asa, tante mengira anak tante akan tidur selamanya,” ujar Jenny.
“Aku tidak tau apa pun, aku malah berprasangka buruk terhadapnya,” gumam Wulan.
“Kenapa mas Arkan bisa koma? Apa yang terjadi?” tanya Wulan, mimik nya kini berubah murung.
“Itu cerita lama, jika kamu ingin jelas ceritanya kamu tanya langsung dengan Arkan. Orang yang akan kita bahas juga sudah meninggal, seperti nya membicarakan hal ini hanya akan mengundang amarah,” ujar Richard.
“Ada sangkut pautnya dengan Brian?”
Jenny mengangguk. “Kamu juga adalah korban nya, tante tidak bisa menyalahkan dirimu. Karena waktu itu semua orang mengira kamu sudah meninggal. Yah semuanya sudah berlalu sekarang huuuffff,” desah nafas Jenny terdengar berat dan panjang.
Beberapa saat kemudian bi Rahma mulai menghidangkan makanan di atas meja. Menu ayam panggang dan kentang rebus sudah terhidang di meja.
“Bi bisa langsung bangunkan tuan. Katakan dia harus temani Wulan ke kantor pak Cahyono pagi ini,” ujar Jenny.
“Baik bu,” sahut bi Rahma kemudian langsung menuju kamar tamu.
__ADS_1
“Kenapa harus hari ini?” tanya Richard.
“Semalam pak Cahyono pesan, agar Wulan dan Arkan ke kantor nya segera. Ada beberapa dokumen yang ingin di perlihatkan kepada Wulan.” ucap Jenny.
“Kan masih bisa besok atau lusa, kan nggak harus buru buru hari ini,” ujar Richard.
“Nggak tau, dia ngomongnya begitu. Aku sudah mengiyakan, mungkin ada hal sangat penting,” ujar Jenny.
Selang beberapa saat Arkan sudah bergabung bersama mereka.
“Pagi ma, ayah,” Sapa Arkan. Sementara tangannya menghampiri kepala Wulan kemudian mengusapnya pelan.
“Ayah jam berapa tiba?” lanjut Arkan sambil mengambil tempat duduk di samping Richard.
“Jam satu, pas ayah tiba, ayah mengusir wartawan wartawan yang masih nongkrong di depan,” ujar Richard.
“Ayo makan dulu, ngobrol nya nanti aja setelah makan. Soalnya mama dan ayah harus ke Singapore siang nanti,” ujar Jenny.
“Paman Johan gimana ma?” tanya Arkan.
“Paman akan kembali di oprasi, tambah ring. Setelah urusan Wulan selesai kalian jangan lupa nyusul jenguk paman,” ujar Jenny.
“Dan kalian siap siap, acara pemegang saham nanti salah satu di antara kalian bisa gantikan posisi mama. Wulan juga bisa mengajukan diri kalau mau,” ujar Richard.
“Mengajukan diri sebagai apa paman?” tanya Wulan bingung.
“Ganti kak posisi tante di perusahan,” jawab Richard.
“Bener, tante pusing dengan masalah perusahan, kepala tante rasanya mau pecah,” sahut Jenny.
“Kenapa nggak ayah yang gantikan posisi mama?” ujar Arkan.
“Loh, bisnis ayah saja ayah kewalahan mengatur. Tubuh ayah nggak bisa di bagi lima. Ayah setiap hari terbang kesana kemari belum lagi saat mama mu lagi pusing. Ayah harus membantu nya menyelesaikan masalah di kantornya. Kenapa swkarang kamu ga coba mengambil tanggung Jawab itu?” ucap Richard.
“Jika Wulan mau, Wulan saja.” ujar Arkan.
Wulan menatap Arkan. “Kok Wulan?”
“Kamu saja Arkan, kamu tega lihat istrimu nanti sibuk kesana kemari mengurus perusahan besar itu?!”
Arkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia menatap wajah Wulan yang sedang memerah sambil tertunduk.
.
.
__ADS_1
.
TBC…