
Setelah menempuh waktu kurang lebih 2 jam perjalanan, Jenny dan Richard tiba di Jakarta. Dari bandara internasional Soekarno Hatta mereka langsung menuju rumah sakit Sehati.
Di rumah sakit Jenny langsung menuju resepsionis rumah sakit untuk mencari daftar pasien bernama Arkana Lee, tapi nama pasien tidak terdaftar di rumah sakit tersebut.
Jenny mulai mengamuk di depan Resepsionis, karena menurut Brian, Arkan berada di rumah sakit tersebut.
“Anak saya bernama Arkan, coba kalian cek lagi!” pinta Jenny penuh emosi.
“Tapi pasien atas nama Arkan tidak ada dalam daftar bu, kami sudah mengecek berulang ulang. Atau pasien masuk menggunakan identitas lain?” ucap wanita resepsionis itu.
“Coba kalian cek pasien VIP!” tambah Richard.
“Maaf pak, Kami tidak bisa memberikan informasi pasien VIP kepada sembarangan orang, karena data mereka sangat privacy.”
Jenny kembali menghubungi Johan.
“Mas Johan, mas yakin Arkan ada di sini?” tanya Jenny.
“Menurut Brian sih begitu, tadi kamu dengar sendiri kan.”
“Tapi pihak resepsionis mengatakan Arkan tidak ada dalam daftar pasien Mas,” suara Jenny terdengar mulai frustasi.
“Ya sudah, Aku akan hubungi Brian lagi untuk bertanya lebih jekas,” ucap Johan kemudian mengakhiri panggilan.
“Gimana mbak? Ada cara supaya saya bisa cepat bertemu anak saya?” Jenny kembali bertanya pada resepsionis.
“Begini saja bu, saya akan hubungi dokter kepala ruangan VIP. Saya akan cerita kan perihal ibu di sini. Siapa tau beliau bisa membantu.”
“Ya ya, maksud ku seperti itu. Kalian harus usaha,” ujar jenny.
Resepsionis itu langsung menghubungi kepala ruang VIP. Sedangkan Richard, ia terlihat sedang bicara di telpon tak jauh dari keberadaan Jenny. Ia mencari relasi atau siapa saja yang bisa memberikan akses kepadanya di rumah sakit tersebut.
Hingga akhirnya seorang kepala dokter tiba di situ.
“Maaf ini dengan keluarga pak Briandy Susanto?” tanya dokter itu.
“Saya tante nya Brian dok,” ucap Jenny.
“Saya dokter kepala di ruangan VIP. Nama saya dokter Edo,” ucap dokter itu memperkenalkan diri.
__ADS_1
“Kami mohon maaf karena prosedur rumah sakit, untuk pasien VIP datanya memang tidak ada di daftar umum. Apalagi pak Brian menitipkan pasien koma itu harus di rahasiakan. Jadi kami terpaksa menurut.”
“Pasien koma? Apakah pasien koma itu anak saya dok? Anak saya Arkana?” tanya Jenny. Matanya mulai berlinang air mata.
“Pasien tersebut adalah sepupu Brian, nama nya Arkan. 2 minggu yang lalu dia di bawah ke rumah sakit ini dalam keadaan kritis,” jelas dokter Edo.
“Arkan, itu anakku dok,” tangis Jenny pun pecah.
Richard langsung menghampiri Jenny kemudian memeluknya sambil menguatkannya. “Yang sabar, kita lihat dulu keadaan Arkan sekarang seperti apa.”
“Dimana anak kami sekarang dok, kami ingin melihatnya?” tanya Richard.
“Mari ikut saya pak, bu,” ajak dokter Edo.
Jenny dan Richard berjalan mengikuti dokter Edo. Mereka menuju sebuah lift kemudian menuju lantai paling atas rumah sakit tersebut.
Jenny dan Richard di tuntun menuju sebuah ruangan VIP nomor 5. Ruangan luas yang di penuhi dengan berbagai macam peralatan medis.
Saat itu Arkan sedang terbujur lemah di sebuah pembaringan. Jenny menangis sejadi jadinya melihat keadaan Arkan saat itu. Bunyi monitor disamping ranjang, selang yang menempel di dada Arkan, infus di pergelangan tangan kiri dan oksigen mask yang menutupi sebagian besar wajah Arkan. Hal yang sangat sulit di terima oleh Jenny.
Richard hanya berusaha menenangkan Jenny dengan memeluknya erat.
“Jadi gimana Arkan dok? Apa yang membuatnya seperti ini?” tanya Richard.
“Saat anak bapak dan ibu di bawa ke sini, ia dalam kondisi kritis, saat itu kami langsung melakukan tindakan operasi. Gumpalan darah di kepalanya membuat pasien koma, pasien telah melalui dua kali operasi di kepala. Sebuah operasi di tulang rusuk nya yang patah dan sebuah operasi pada tulang kaki nya yang patah. Namun penyebab pasien belum sadar hingga kini masih di evaluasi kembali pak,” jelas dokter itu.
“Jadi semua nya ada empat kali operasi dok?” tanya Jenny shock. “Mas, bagaiamana mungkin hal ini terjadi, ini pasti hanya mimpi kan mas? Arkan melalui hal yang sangat mengerikan dan kita tidak tau apa pun mas,” sedu Jenny.
“Sebenarnya saya sangat butuh kehadiran pihak keluarga. Pak Brian hanya datang membawa pasien kemudian tidak pernah muncul lagi, dia memberikan jaminan dan tanda tangan persetujuan operasi melalui anak buahnya. Syukurlah bapak dan ibu sudah di sini sekarang,” lanjut dokter Edo.
“Apa penyebab hingga anak saya seperti ini?” tanya Jenny.
“Kemungkinan paling besar dia di pukul, saat hari pertama tiba, terdapat beberapa luka di robekan di wajah dan memar memar di seluruh tubuh,” jelas dokter Edo.
“Sekarang bagaimana kelanjutan perawatan Arkan Dok? Kenapa hingga saat ini dia belum sadar?”
“Pak, pasien butuh keluarga nya agar semangat hidupnya kembali. Usia pasien masih muda, proses pemulihan nya sangat baik tapi sepertinya dia tidak merespon pengobatan yang kami berikan,” lanjut dokter Edo.
“Jadi kami harus melakukan apa?” tanya Richard yang kini terlihat putus asa.
__ADS_1
“Banyak berdoa saja pak, berikan dukungan dan perhatian kepada pasien. Sering sering saja ajak bicara, alam bawah sadarnya akan mendengar suara bapak dan ibu,” jelas dokter tersebut.
“Ya sudah pak bu, jika ada pertanyaan lain bapak ibu bisa mencari saya di ruangan saya. Saat ini saya permisi dulu,” ujar dokter Edo.
Setelah dokter Edo keluar dari ruangan itu. Jenny langusng menghampiri Arkan. Ia memeluk tubuh Arkan sambil terisak. Jenny meratapi kelalaiannya. Ia menyesali perbuatan Brian. Brian sudah di luar kendali.
Setelah terlihat sedikit tenang. Richard kembali mengajak Jenny berdiskusi.
“Kita bawa Arkan berobat ke luar negri saja? Di sini terlalu berbahaya,” ucap Ricahard.
Jenny menggeleng, “biarkan saja tetap di sini mas, aku masih bisa mengontrol jika masih di sini,” ujar Jenny.
“Bukan nya terlalu beresiko, bagaimana jika Brian melakukan hal nekat?” tanya Jenny.
“Jika Brian ingin membunuhnya, tentu dia tidak akan membawa Arkan ke rumah sakit. Dia tidak berniat membunuh Arkan. Aku akan membuat perhitungan dengan anak itu,” ucap Jenny penuh amarah.
“Jadi apa rencana mu?”
“Aku akan merebut perusahan dari tangan Brian. Mas, bantu aku,” pinta Jenny.
“Tentu, aku akan membantu mu.”
“Bantu aku dalam mengelola perusahan. Bagaimanapun dahulu ayah sangat mempercayai mas Richard dalam mengolah perusahan. Aku inginkan posisi tertinggi agar bisa menendang Brian jauh dari sana.”
“Tentu, apa pun itu aku akan membantu mu,” ucap Richard mantap.
Jenny kembali menatap Arkan.
“Arkan, mama ada disini nak, mama akan menjaga mu. Cepat lah pulih, bukankah banyak hal yang ingin kamu lakukan?” Jenny menggenggam jemari Arkan.
Saat itu mendampingi Arkan adalah cara terbaik agar dia bisa segera sadar.
.
.
.
TBC…
__ADS_1