Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Swan Sea-


__ADS_3

Usai menerima panggilan telpon wajah Arkan menjadi sedikit tegang. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius.


“Siapa yang menelpon mas?” tanya Wulan.


“Daniel,” sahut Arkan.


“Ada sesuatu yang penting?”


Arkan mengangguk. “Brian ingin bertemu dengan kita,” ucap Arkan.


Wajah Wulan menjadi murung. “Kenapa dia ingin bertemu dengan ku?” tanya Wulan seraya meneguk segelas air putih di hadapannya.


“Brian ingin berdamai. Dia akan menceraikan dirimu, tapi aku harus melepaskan perusahan,” ujar Arkan.


“Buat apa tawar menawar seperti itu? Urusan perusahan adalah urusan mas, urusan perceraian adalah urusanku dengan Brian. Diluar segala urusan mas Arkan dengan perusahan, aku tetap berniat menceraikan nya,” ujar Wulan.


Suasana makan menjadi tegang. Renata serta Sarah ikut menyimak pembicaraan Wulan dan Arkan.


“Brian ingin berdamai. Dia tidak akan mengganggu kamu lagi. Dia hanya ingin agar aku tidak merger dengan beberapa pemegang saham, sepertinya dia sudah tau niatku yang ingin merebut perusahan dari tangannya,” jelas Arkan.


“Apa sulit bagi mas arkan merebut posisi itu?” tanya Wulan.


“Total keseluran saham yang kita miliki hanya 32 persen. Jika pemegang saham minoritas lainnya berpihak pada Brian kita bisa kalah. Dari sifat Brian dia mungkin saja akan mengancam mereka atau menyogok. Nika sudah begitu kita pasti kalah,” ujar Arkan.


“Itu lah kenapa mama berusaha menemui paman Johan. Paman Johan belum bisa ditemui hingga sekarang,” lanjut Arkan.


“Kamu harus secepatnya menggugat cerai laki laki brengsek itu. Kamu punya bukti KDRT dan perilaku perselingkuhan nya. Kamu pasti bisa menang di pengadilan,” sela Renata.


Wulan mengangguk. “Pasti aku akan menceraikan nya.”


“Tapi Brian pernah mengancam tidak akan menceraikan Wulan, aku tidak tau apa yang ingin di lakukannnya,” ujar Arkan.


“Dan lahan perkebunan kakek sekarang ada di tangan Brian. Mungkin dia menginginkan perkebunan itu,” ucap Wulan.


Renata pun mengangguk paham.


“Aku akan terima tawarannya, dia hanya ingin bertemu dengan kita dan bicara baik baik. Kamu siap bertemu dengannya?” tanya Arkan pada Wulan.


“Kapan?” tanya Wulan.


“Malam ini? Rapat pemegang saham 2 hari lagi. Besok Brian akan menyiapkan berkas perceraian kalian. Dan aku akan mundur dari pencalonan CEO.”


Wulan menatap wajah Arkan. “Bukankah perusahan juga penting buat kita?” tanya Wulan.


“Kita tidak akan kehilangan perusahan. Aku rela kehilangan status sebagai CEO daripada harus melihat kamu terus hidup seperti ini.”


Wulan menunduk murung.


“Tapi, jika para dewan direksi tetap memilihku sebagai CEO, masih ada kemungkinan untukku menguasai perusahan. Sekarang tinggal tergantung siapa mendukung siapa. Jika para direksi berpihak kepada Brian, itu artinya mereka lebih mempercayainya dari pada diriku,” lanjut Arkan.


“Setelah perusahan hampir di buat bangkrut, apa mereka masih akan berpihak kepadanya?” tanya Wulan.


“Kita tidak tau apa yang akan terjadi. Kita lihat saja nanti.”


“Kalian akan bertemu Brian dimana?” tanya Renata.


“Disini!” jawab Arkan.


“Apa nggak terlalu beresiko?” tanya Renata dengan nada cemas.

__ADS_1


“Aku akan menghubungi Daniel dan menginfokan kepadanya. Orang akan menjemput Brian di bandara Bali kemudian membawanya ke sini,” jelas Arkan.


“Baiklah, jika kamu memutuskan seperti itu. Lagian di sini ada kami. Brian tidak mungkin macam macam,” ujar Renata.


Saat itu juga Arkan langusng menghidupkan kembali ponselnya. Ia langsung menghubungi Daniel agar membalas email yang di kirim Brian.


“Kita tinggu kabar selanjut nya,” ujar Arkan.


Namun tak selang berapa lama, Daniel langsung membalas chat Arkan. Arkan terlihat sibuk mengetik sesuatu.


“Kenapa mas?” tanya Wulan penasaran.


“Daniel sudah menguhubungi Brian. Brian bertanya akan bertemu dimana. Jadi aku sudah menginfokan akan menjemputnya di bandara Ngurah rai malam ini,” jelas Arkan.


Beberapa saat kemudian Ponsel Arkan kembali berbunyi.


“Brian setuju, katanya dia bersama Soraya dan rekan teman sekolah Soraya juga ikut,” ujar Arkan.


“Jadi malam ini mereka akan ke sini?” tanya Wulan.


“Ya, kalian siap siaplah. Anggap saja malam ini kita party bersama Brian sebelum perceraian kalian,” ucap Arkan.


“Nggak usah takut Lan, ada kita. Brian nggak mungkin macam macam,” ucap Sarah.


“Apakah se takut ini diriku pada Brian sehingga semua orang harus melindungiku? Aku harus berani melawan Brian. Gugatan cerai tetap harus di layangkan, ada atau tidak adanya kalian, aku harus melawan Brian dengan diriku sendiri!”


.


.


.


Pukul delapan malam, sebuah yacht berukuran lebih kecil berjalan cepat mendekati yacht Swan Sea. Yacht kecil itu berhenti tepat di samping yacht Swan Sea yang ternyata memiliki nama yang sama Swan Sea II.


Di atas kapal paling atas, Wulan menatap satu persatu para tamu undangan yang sedari tadi di tunggu mereka.


Renata meremas tangan Wulan, ia yakin saat itu Wulan sangat tertekan. Ia berusaha menenangkan hati Wulan walau hanya dengan sebuah genggaman tangan.


Di samping kanan, Sarah merangkul pinggang Wulan. Ia menujukkan jika ia juga bersama Wulan saat itu.


“Soraya terlihat begitu berwibawa,” ucap Wulan.


“Shht, kamu juga cantik. Kamu nggak kalah cantik dibanding kan Soraya!” ralat Renata.


“Kamu sedang cemburu dengan mereka?” tanya Sarah asal.


“Cemburu? Tentu saja nggak. Ngapain?” tutur Wulan menyangkal apa yang diucapkan Sarah.


“Kalau begitu, tegakkan dada mu dan angkat kepala mu. Tunjukkan kalau kamu bukan wanita yang lemah.” tegas Renata.


Wulan mengangkat kepalanya kemudian berdiri tegak seperti aba aba Renata. “Seperti ini?” tanya Wulan.


“Hihi,” Sarah terkekeh melihat tingkah Wulan. “Kamu kaku kalau seperti itu, santai aja Lan, jadi diri kamu sendiri,” ujar Sarah.


Mendengar cekikikan Sarah, mata Soraya kini tertuju ke atas dek dimana Wulan, Sarah dan Renata berdiri.


“Wulan,” panggil Soraya bersahabat.


Wulan membalas Soraya dengan sebuah lambaian tangan kemudian tersenyum.

__ADS_1


Arkan dan Aldy terlihat menyambut Brian di bawah sana. Arkan dan Brian tampak seperti dua orang keluarga yang lama tak bertemu. Terlihat akrab dengan senyum yang menghias wajah mereka.


Brian ikut melirik ke arah Wulan. Ia menggandeng Soraya kemudian berjalan menuju tangga naik.


“Siapa wanita itu? Arkan terlihat akrab dengannya,” tanya Sarah.


Wulan mengangkat bahunya seraya berkata. “Aku nggak kenal.”


Dalam beberapa saat Brian dan Soraya sudah berdiri di hadapan Wulan. Soraya berinisiatif menghampiri Wulan kemudian memeluknya.


“Kamu pa kabar Lan?” tanya Soraya.


“Baik,” jawab Wulan singkat.


“Oh ya, perkenalkan. Ini temanku Sheila. Dia teman Brian dan juga teman Arkan,” ujar Soraya memperkenalkan temannya.


Sheila menyambangi Wulan dengan sebuah senyuman dan menjabat tangannya.


Soraya juga menghampiri Renata dan Sarah mereka berkenalan satu sama lainnya. Hanya butuh waktu sebentar bagi wanita wanita itu untuk akrab.


“Kita duduk dulu. Berdiri di atas kapal capek,” ajak Wulan.


Brian dan Arkan menuju bagian dalam dimana meja bar berada, sedangkan Wulan dan lainnya duduk tak jauh dari meja makan


Tiba tiba, Soraya datang menghampiri Wulan kemudian duduk di sampingnya.


“Maaf Lan, aku nggak sempat pamit sama kamu saat keluar dari rumah. Aku terlalu sibuk. Dan waktu itu rumah yang di renovasi sudah selesai jadi aku langsung pindah,” ujar Soraya.


“Nggak apa non,” ucap Wulan.


“Sshhh, jangan panggil seperti itu. Panggil nama saja. Kita bukan sedang di rumah, jadi sekarang kamu tidak perlu takut dengan Brian,” ucap Soraya pelan.


“Baiklah, aku akan panggil?” tanya Wulan.


“Panggil Aya atau sora. Jangan memanggilku dengan sebutan Raya. Aku masih lebih baik dari wanita itu,” canda Soraya.


“Baiklah, Sora “ ujar Wulan.


“Soraya, dan Sheila. Makan malam sudah siap. Ayok makan,” ajak Ranata.


“Baiklah, aku memang laper Lan. Perut aku mules, dari Jakarta belum isi perut. Ayok Lan, Sheila yok,” ajak Soraya.


“Kalian?” tanya Soraya pada Sarah dan Aldy.


“Kami kenyang,” jawab Sarah cuek.


Wulan berjalan di samping Soraya. “Aku akan temani kalian makan, sebenarnya tadi kami sudah makan duluan. Ikannya segar hasil pancingan mas Arkan dan hasilnya lumayan banyak. Jadi kami ke kekenyangan ikan,” ujar Wulan.


“Renata?” panggil Soraya.


“Duluan aja,” sahut Renata.


Wulan, Sheila dan Soraya langsung menuju meja makan. Mereka langsung menikmati makan malam di atas kapal yang terus mengapung di lautan.


Di dalam ruangan, Arkan dan Brian terlihat serius dengan percakapan keduanya. Wulan atau siapa ou tak ada yang ingin mengganggu pembicaraan serius mereka.


.


.

__ADS_1


.


TBC…


__ADS_2