
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, rencana Arkan yang akan lembur kerja malam itu langsung sirna. Ia segera meninggalkan ruang kerja nya sesaat setelah Brian pergi dari situ.
Arkan menuju parkiran dimana mobilnya terparkir, ia berjalan menyusul di belakang Brian.
Seperti orang asing kedua orang ini tak saling sapa, mereka cuek satu sama lain seolah tak saling kenal.
Kemudian ponsel di dalam saku bajunya berbunyi.
“Nomor tak dikenal?”
“Ya Hallo,” sapa Arkan.
“Tuan? Benarkah ini tuan Arkan?”
“Iya benar, dengan siapa ya?” tanya Arkan.
“Kemaren saya mencari tuan di alamat rumah tuan, tapi tidak ada orang. Rumah tuan kosong,” ucap wanita itu.
“Kamu siapa?” tanya Arkan lagi.
“Saya Irma, anak dari pelayan yang bekerja di rumah tuan Brian,” ucap wanita itu.
“Kenapa kamu mencari ku?” tanya Arkan.
“Saya jauh jauh ke kota untuk menelpon di warung telepon umum tuan. Uang saya tidak cukup jika harus jelaskan disini, ceritanya panjang lebar. Saya harus menemui tuan,” ucap wanita itu.
“Baiklah, kamu datang ke rumah ku. Besok siang aku menunggu kamu di rumah,” ucap Arkan.
“Baiklah, besok siang aku ke rumah tuan.”
Tut tut tut
Suara panggilan telpon telah terputus, Arkan melanjutkan langkahnya menuju mobil.
Belum sempat ia masuk ke dalam mobil, dari arah samping mobil seorang pria sudah menunggunya.
“Tuan, tuan Arkan?” panggilnya.
“Iya benar? Siapa ya?” tanya Arkan.
Pria itu berdiri sambil memalingkan wajahnya ke arah luar, ia seperti sedang menghindar dari orang lain.
“Tuan saya ada pesan dari nyonya Wulan,” ucap pria itu seperti hampir berbisik.
Mendengar ucapan itu Arkan langsung membuka pintu mobilnya. “Masuklah, kita bicara di dalam,” ucap Arkan.
Dengan cepat pria itu ikut masuk ke dalam mobil.
“Kamu siapa?” tanya Arkan penuh selidik.
“Tuan, saya Deon. Ibu saya bekerja di rumah tuan Brian dan nyonya Wulan,” jawab Deon.
“Pekerja di rumah mas Brian lagi, wanita yang barusan telpon juga anak dari pekerja di rumah mas Brian. Ada apa ini?” batin Arkan.
“Kamu anak siapa?” tanya Arkan, ia hanya ingin lebih pasti siapa Deon.
__ADS_1
“Nama ibu saya Narsih, nyonya Wulan yang minta saya ke sini.”
“Kamu anak bi Narsih?” tanya Arkan.
“Kenapa Wulan? Kamu bertemu dengannya? Dia menyuruhmu ke sini? Dia sudah di Jakarta?” lanjut Arkan. Beberapa pertanyaan beruntun yang keluar dari mulut Arkan, pertanda ia sangat penasaran akan keberadaan Wulan sekarang. Serta mimik wajah heran karena Wulan mengutus Deon datang menemui dirinya.
“Nyonya Wulan ada dirumahnya, dia meminta saya ke sini. Mengatakan pada tuan Arkan bahwa dia menunggu tuan,” ujar Deon.
“Kenapa dia menungguku?” gumam Arkan kemudian langsung menghubungi nomor telpon Wulan.
“Kenapa nomornya nggak aktif, kapan dia tiba?” tanya Arkan.
“Nyonya Wulan tidak kemana mana, nomor ponselnya nggak aktiv karena nyonya nggak pegang hp nya. Saya sendiri harus meninggalkan hp pada pengawal pos jaga saat masuk kemaren. Untung saja pengawal yang jaga saat itu adalah rekan saya,” jelas Deon.
“Nggak pegang hp, pengawal, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Jadi selama ini Wulan ada di dalam rumah itu? Kenapa aku nggak tau apa apa soal ini? Saya akan ke sana sekarang!”
“Tu tuan, saya mohon. Jangan katakan kalau info ini dari saya. Atau tuan Brian akan membunuh saya,” ujar Deon.
“Baiklah, kamu bisa keluar sekarang,” ujar Arkan.
Saat itu juga, dengan kecepatan penuh mobil Arkan terus melaju menuju kediaman Brian dan Wulan. Perasaannya campur aduk, ia merasa dirinya dipermainkan oleh keadaan, hatinya sedih juga sakit, ia kecewa terhadap dirinya sendiri. Ia merasa terlalu lemah hingga tidak mengetahui apa yang sudah terjadi dengan Wulan.
Selang sepuluh menit, Arkan sudah tiba di gerbang masuk rumah besar tersebut.
Gerbang yang sangat tinggi dan besar hingga tidak menampakkan aktivitas seorang pun di dalam rumah itu.
Tiiinnn
Tiiinnnnnn
suara klakson mobilnya Arkan terus berbunyi di depan gerbang itu.
Karena tak ada yang keluar membukakan pintu gerbang, Arkan akhirnya keluar dari dalam mobilnya.
“Wulan,” teriak nya.
“Wulannn, kamu di dalam?” teriak Arkan.
Jarak gerbang yang lumayan jauh dari rumah tentu tak akan di dengar Wulan. Namun dua orang penjaga yang berada di dalam pos di buat kesal oleh Arkan.
“Wulan, ayo cepat keluar. Atau aku akan panjat pagar ini,” teriak Arkan sekali lagi.
Mendengar ucapan Arkan, dua orang pengawal itu akhirnya keluar.
“Kamu siapa? Berani nya ribut di rumah orang. Mau saya telpon polisi?!” ancam seorang pengawal.
“Oohh ternyata kalian sengaja sembunyi di dalam. Kalian membuat seolah olah rumah ini sedang kosong tak ada penghuni! Cepat buka pintunya sebelum aku tabrak!” ancam balik Arkan.
“Tugas kami disini berjaga agar tidak seorang pun masuk kecuali atas perintah Boss,” ucap pengawal itu lagi.
“Baiklah, kalian pikir aku tidak berani menabrak pagar ini. Uang ganti rugi pagar akan saya kirim ke Mas Brian,” ujar Arkan kemudian kembali masuk ke dalam mobil.
Mobil Arkan mulai mundur satu garis lurus menghadap pagar tinggi tersebut. Mobil nya baru akan melaju kencang, namun pagar mulai bergese terbuka. Kedua pengawal itu memutuskan untuk membuka pagar, sebelum pagar itu hancur karena di tabrak Arkan.
__ADS_1
Arkan langsung masuk ke pekarangan rumah besar itu. Ia bergegas masuk ke dalam rumah mencari Wulan.
“Wulan!” Panggilnya begitu memasuki ruangan tengah.
“Wulan?” Ia lanjut mencarinya ke arah dapur.
Suara mixer terus berbunyi dari arah ruangan dapur. Arkan yakin Wulan pasti barada di sana.
Setelah tiba di dapur, Langkah Arkan terhenti. Dari belakang ia melihat sosok Wulan yang sedang sibuk dengan mixer di tangannya.
“Wulan,” panggilnya.
Wulan menatap ke arahnya.
“Mas Arkan?” Wulan menghentikan pekerjaan nya. Ia langsung menghampiri Arkan kemudian memeluk pria itu.
Air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata Wulan. Orang yang selama ini diharapkan muncul kini sudah berada di hadapannya. Pria yang di nantikan untuk menolongnya akhirnya tiba.
Arkan membalas pelukan Wulan dengan erat, membuat wanita itu menangis semakin menjadi.
“Apa yang terjadi dengannya? Dia menangis seperti ini kenapa hatiku rasanya sakit sekali? Apa yang sudah di alaminya?”
“Aku disini. Aku akan membawa kamu pergi dari sini,” ucap Arkan sambil sesekali mengelus punggung Wulan.
Wulan semakin tenggelamkan kepalnya di dada bidang Arkan, perasaan senang, lega begitu terasa saat bersama Arkan, dia tidak perlu merasa takut lagi.
“Ayo katakan apa yang terjadi?” ucap Arkan.
Sambil terisak Wulan menatap wajah Arkan, “Mas, bawa aku pergi dari rumah ini sekarang juga,” ucap Wulan. Wajah nya kini memerah akibat menangis.
“Kita akan pergi saat ini juga,” sambil mengusap airmata di wajah gadis itu.
“Bibi akan siap kan beberapa barang nyonya,” ucap bi Narsih kemudian bergegas menuju kamar Wulan.
“Bi, bibi juga ikut dengan saya,” ucap Wulan.
Langkah Bi Narsih terhenti sejenak, ia kemudian menatap Wulan dan mengangguk setuju.
“Mas, aku bantu bi Narsih menyiapkan barang,” ucap Wulan.
“Baiklah,” sahut Arkan.
Arkan berjalan mengikut dibelakang Wulan, ia kemudian berhenti dekat tangga sambil menatap Wulan yang terus berjalan menuju kamarnya.
“Seharusnya sejak awal aku tidak pernah ragu dengan perasaan ku. Tapi belum terlambat, sekarang aku akan membawanya pergi. Aku akan menjaga nya lebih baik, aku tak akan membiarkannya terluka sedikitpun.”
.
.
.
TBC…
#stay tune terus ya, saat senggang author akan update dua episode setiap hari.
__ADS_1
#Oh ya, jangan lupa like, komentar, favorit, serta vote dari kalian. Dukungan kalian adalah penyemangat buat ku. Dan Terimakasih yang sudah mendukung semoga bahagia selalu bersama keluarga tercinta di rumah. Luv u all 😘