Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Make Plan-


__ADS_3

Keesokan pagi…


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih enam menit. Arkan bangun agak terlambat di bandingkan yang lain. Setelah rapih dengan kaos seadanya yang dipadankan dengan celana pendek. Ia langsung keluar dari kamar nya.


Karena posisi kamarnya berada di luar, maka ia harus melewati taman untuk tiba di bangunan utama.


“Pagi pak,” sapa seorang perawat yang bertugas melayani Wulan.


“Wulan dimana?” tanya Arkan.


“Bu Wulan di samping pak,” jawab perawat itu sambil menunjuk arah samping kanan bangunan utama.


Wulan melanjutkan langkah menuju arah yang di tunjuk.


Wulan dan dokter Herniati sedang duduk menghadap arah pantai yang tampak biru membentang. Di balik baju pasien dan rambut yang masih di kuncir tinggi Wulan merebahkan tubuhnya di atas kursi lesehan yang terbuat dari katu.


“Pagi ucap Arkan, pagi dok,” ucap Arkan kemudian langsung duduk di kursi di seblah Wulan.


“Pagi Arkan. Oh ya, sana sarapan dulu.” ucap dokter Herniati.


“Loh dokter?”


“Kami sudah sarapan duluan, kami sengaja nggak ganggu kamu. Biar kamu istirahat lebih. Oh ya ayah kamu masih di meja makan,” ucap dokter itu kemudian.


“Ayah?” tanya Arkan.


“Paman Richard dan tante Jenny. Kamu nggak temani mereka makan?” tanya Wulan.


“Oh ya?” tanpa basa basi Arkan langsung bergegas masuk ke dalam rumah.


Ternyata benar, dimeja makan kedua orang tuanya sedang duduk berdampingan menikmati nasi rawon di pagi hari.


“Ayah, kapan tiba?” Arkan langusng sambangi meja kemudian duduk di depan kedua orang tua nya.


“Barusan, belum sejam,” jawab Richard.


“Mama?” tanya nya lagi.


“Bersamaan,” jawab jenny singkat.


Jenny langsung memeberikan piring kosong di hadapannya kepada putra nya itu.


“Nggak usah ma, aku makan telur rebus ama roti saja.”


“Kenapa? Rawon nya enak lon nak,” Jenny.


“Rawon nya ayah sengaja bawa dari surabaya, pesanan mama. Coba deh,” ujar Richard seraya mengaduk aduk mangkok berisi kuah panas itu.

__ADS_1


“Nggak berlemak.” Tolak Arkan. Satu lapis roti tawar langsung masuk ke mulutnya dengan lahap.


“Bi, tolong olesin selai rotinya untuk Arkan,” perintah Jenny pada pelayan di ruangan itu.


“Baik nyonya.”


“Bi, Wulan sarapan apa tadi?” tanya Arkan pada pelayan yang berdiri di ujung meja seraya mengoles kan selai kaya ke atas roti.


“Nona Wulan makan bubur den, makanan nya di siap kan oleh perawat,” jawab bibi.


“Bi, nanti simpankan rawon untuk Wulan ya. Jika makan bubur terus kapan kenyang nya?”


“Baik den.”


“Malam nanti kalian akan ke Surabaya,” ucap Richard.


“Bukannya di sini lebih aman buat Wulan ayah, kenapa harus ke kota yang ramai itu?”


“Kamu akan sembunyi terus seperti ini? Justru di Surabaya lah Wulan akan lebih aman,” ucap Richard.


“Aku masih-“


“Sekarang lah waktu yang tepat, harga saham perusahan sedang jatuh. PT Belize dari Brazil itu sedang menuntut perusahan. Rupanya mereka punya kontrak tersendiri dengan Brian mengenai kerja sama jangka panjang. Mereka marah dan sedang menuntut Brian secara individu dan menuntut perusahan karena pencemaran nama baik,” potong Richard.


“Maksud ayah? Kenapa ada pencemaran nama baik?” tanya Arkan sedikit bingung, akhir akhir ini dia memang kurang mengikuti perkembangan perusahan.


Setelah menyimak konfrensi pers PT Belize, mata Arkan langsung menatap ayahnya.


“Apa ayah yang mengatur ini?” tanya Arkan.


“Ibu mu sudah menemui beberapa pemegang saham, mereka akan menjual saham perusahan. Termasuk saham ibu, kamu bisa membeli harga saham murah,”


“Tapi ayah, perusahan terancam bangkrut!”


“Ma, perusahan Santoso yang di bangun kakek, mama rela kehilangannya?!” Arkan menatap serius wajah sang ibu sekaligus meminta penjelasan darinya.


“Kamu tidak ingin tau kenapa kakek Hendy menghilang?” Jenny balik bertanya. Ia menatap wajah anak tak kalah serius. “Kepemilikan perkebunan keluarga Wulan sekarang jatuh ke tangan Brian. Pulau itu akan di jadikan sirkuit balapan. Next projek dengan Wina Graha dan PT Belize tahun. Ulah Brian semakin tak terkendali, jika kita mencari kelemahannya sekarang, kapan lagi waktunya. Setelah kamu membawa pergi Wulan, mungkin saja kamu sudah di pecat dan tidak memiliki jabatan apa pun di sana. Kamu akan melawannya seperti apa?”


“Tapi!”


Arkan sedikit bingung, kerja sama antara ayah dan ibunya.


“Nak, bawa Wulan ke Surabaya nanti malam. Pesawat akan menjemput kalian nanti malam pukul 9,” ucap Richard.


“Sejak kapan kalian merencanakan hal ini?” tanya Arkan lagi.


“Sejak kamu menyukai Wulan. Bukan kah kamu ingin mendapatkannya? Mama sudah mengatur pertemuan kamu dengan beberapa pemegang saham. Mungkin saham yang akan kita dapat tidak sebanyak saham milik Brian dan ayahnya, tapi setidaknya ada cela bagimu untuk melawannya.” Jenny memajukan kepalanya mendekati Arkan. “Jika ingin berhasil, ikuti saja arahan ayah mu.”

__ADS_1


Mengingat nasib Wulan kini ada di tangan Arkan, mungkin Arkan akan patuhi ucapan Jenny.


“Mama tau dimana kakek sekarang,” tanya Arkan lagi.


“Yang pastinya kakek Hendy di culik oleh Brian. Ayah mu sedang menyelidikinya. Semoga saja kakek masih hidup. Jika tidak hufffttt, mama kasihan dengan Wulan.”


Percakapan di meja makan itu terus berlanjut. Richard dan Arkan mulai menyusun rencana mereka dalam mengakuisisi perusahan.


…..ooOOOoo…..


Flash back ke sebulan yang lalu…


Yuyun seorang perawat yang di gaji Brian untuk merawat sang kakek sedang menyiapkan makanan rendah kalori untuk sang kakek.


Membuat makanan untuk kakek tidak butuh waktu lama. Tidak perlu di masak terlalu lama dan tidak butuh banyak bahan dan bumbu.


Ayam stim dan nasi merah untuk kakek sudah siap. Yuyun langusng berjalan menuju ruang baca di mana kakek sering menghabiskan waktunya di rumah itu.


“Kakek, bu Wulan beberapa hari yang lalu katanya ingin ke sini. Tapi mungkin karena sibuk jadi tertunda terus,” suara mbak Ani terdengar hingga keluar pintu.


Yuyun pun langsung masuk ke ruangan itu. “Kakek, makan kakek sudah siap,” ucap Yuyun sambil menghidangkan makanan di atas meja.


“Baru jam 10, belum jam makan siang Yun. Di tutup dulu, Kakek akan makan setelah kakek lapar.” ucap kakek.


“Baik kek, Yuyun tutup lagi. Nanti selesai makan, Yuyun akan siap kan obat kakek. Kakek kepengen makan buah apa biar Yuyun kupasin kek?” tanya Yuyun.


“Kupaskan beberapa jenis saja Yun biar bisa kakek pilih mau makan yang mana,” perintah mbak Ani.


“Baiklah, Yuyun ke dapur dulu mbak, kek.”


Sepeninggal Yuyun.


“Kalau bu Wulan tidak ke sini, bagaimana jika kakek yang samperin bu Wulan. Dia pasti senang melihat kakek,” saran Ani.


“Wulan sibuk di kantornya, dan juga kakek nggak perlu mengganggu ke rumah nya terus hingga kehidupan rumah tangganya,” tanggap kakek sambil terus fokus pada buku bacaan di hadapannya.


Membujuk kakek hari itu tak membuahkan hasil. Ani terpaksa keluar dari ruang baca itu menuju dapur, ia melanjutkan pekerjaan bersih bersihnya di meja dapur.


.


.


.


TBC…


#tunggu Next updatenya sore hari ini ya 😊.

__ADS_1


__ADS_2