
Mata Wulan mulai terbuka perlahan. Ia berusaha mengenali ruangan itu, ruangan yang sangat asing di matanya.
“Dimana ini?” batin Wulan.
Mata nya langsung fokus pada tiang infus yang menggantung di samping kirinya. Ia sadar dirinya kini sedang terbaring di rumah sakit.
“Wulan, kamu sudah sadar?” tanya tante Jenny yang langsung menghampiri Wulan.
“Tante,” Wulan berusaha bangun dari tidurnya.
“Istirahat lah, kata dokter kamu butuh istirahat yang cukup. Hb kamu kurang sekali. Kamu kelelehan, kepikiran hingga dehidrasi,” ujar tante Jenny.
“Gimana perkembangan pencarian kakek?” tanya Wulan yang akhirnya pasrah berbaring di atas ranjang kecil itu.
“Arkan sedang bicara dengan petugas kepolisian di luar. Oh ya, Brian juga ada, dia berjanji akan mencari kakek hingga ketemu,” ucap tante Jenny.
“Benarkah?”
“Semakin banyak yang mencari kakek, akan semakin cepat menemukan kakek. Syukurlah,” batin Wulan.
“Tante juga sudah menyuruh beberapa kenalan lama tante di kepolisian. Semua orang sedang mencari kakek mu. Kakek pasti cepat kembali,” ucap Jenny lagi.
Melihat antusias keluarga susanto Wulan begitu terharu, tanpa sadar air mata mengalir dari kedua sudut matanya.
“Kek, kakek harus cepat pulang. Wulan menunggu kakek. Semua orang menunggu kakek kembali,” ujar Wulan.
Selang beberapa saat Arkan masuk ke ruangan itu.
“Wulan kenapa?” tanya Arkan.
“Nggak kenapa kenapa mas, Wulan baik baik saja,” jawab Wulan.
Dari belakang Arkan, Brian menyusul masuk ke ruangan itu.
“Aku yang akan menangani pencarian kakek. Jika perlu semua CCTV disetiap sudut jalanan Alan di periksa. Kalian tenang lah,” ucap Brian.
“Sudah sewajarnya, kamu cucu menantu kakek Hendy. Siapa lagi yang akan mencarinya selain kamu,” sahut Jenny.
“Malam ini aku yang akan temani Wulan, tante bisa istirahat di rumah. Kamu juga Arkan, pulang lah lebih awal malam ini, bukankah besok kamu akan ke Bali?” ucap Brian lagi.
“Loh kok saya mas? Kan mas sudah sepakat, urusan di bali mas yang tangani?” ucap Arkan.
“Jadi aku harus yang harus ke Bali? Meninggalkan istriku yang sedang terbaring di rumah sakit?” ujar Arkan.
__ADS_1
“Ya nggak juga sih,” ucap Arkan terpaksa terima pekerjaan yang si tugaskan untuknya.
“Sudah kamu bantu Brian urus urusan pekerjaan nya. Biarkan dia fokus mengurus istrinya dan mencari kakek. Urusan pabrik biar mama yang tangani,” ucap Jenny.
“Mas, aku-“ Arkan masih berusaha mencari alasan agar tidak pergi ke Bali.
“Arkan!” Tegur Jenny hingga membuat Arkan terdiam. “Ayo kamu anter mama pulang sekarang.
Karena sang mama sudah memaksa akhirnya Arkan patuh dan menuruti perintah sang mama. Mereka keluar bersamaan dari ruangan itu.
Dengan langkah berat Arkan berjalan di belakang sang mama. Ia merasa enggan meninggalkan Wulan, ia tau saat ini Wulan lebih membutuhkannya daripada Brian.
“Ma?” panggil Arkan namun Jenny tak menoleh ke belakang sedikit pun.
“Ma. Urusan investor di bali adalah urusan mas Brian. Jika Arkan yang ke sana, itu sama saja menunda waktu. Kontrak kerja sama nya atas nama mas Brian.” ucap Arkan lagi.
Jenny terus berjalan menuju parkiran.
“Dimana mobil kamu?” tanya Jenny.
“Mama nggak bawa mobil?” gerutu Arkan.
“Kamu antar mama pulang, sopir mama sudah pulang duluan.”
“Mama tau aku capek sejak semalam belum tidur, malah sopir nya di suruh pulang?!” protes Arkan.
“Ma.”
“Sudah mama perhatikan sikap kamu terhadapnya. Kamu jangan bohongi mama Arkan. Besok kamu ke Bali. Mama akan hubungi tante Elsye, kamu akan bertemu anak tante Elsye di Bali,” ucap Jenny tegas.
Arkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ma, emang kenapa kalau aku menyukai Wulan, toh Brian tidak mencintai nya,” ucap Arkan.
Lagi lagi jemari Jenny mendarat di punggung anaknya.
“Apa kamu bodoh? Brian itu sepupu kamu, Wulan juga adalah sepupu kamu sekarang!” tegas Jenny sembari melototi anaknya.
“Arkan nggak peduli, mereka akan bercerai. Mas Brian tidak pernah mencintai Wulan,” ujar Arkan memaksakan keinginan dalam hatinya.
“Trus apa Wulan menyukai kamu? Tidak juga! Arkan dimata Wulan kamu hanya seperti seorang kakak tidak lebih, mama tidak ingin kamu menyesal nantinya,” ujar Jenny.
“Aku nggak peduli ma, Wulan harus menceraikan Mas Brian. Dia mencintaiku atau tidak Wulan harus hidup bahagia.”
“Anak ini! Apa kata paman dan bibi mu nanti? Apa kata orang? Keluarga kita selalu di sorot dunia luar, kamu ingin membuat mama malu?” ucap Jenny.
__ADS_1
Jenny tak tau racun apa yang sudah meracuni otak anaknya. Biasanya Arkan adalah anak yang penurut dan patuh. Kini ia menjadi orang berbeda hanya karena menyukai seorang wanita yang belum jelas akan seperti apa hubungan mereka kelak.
Arkan mendekati Jenny kemudian memegang tangan ibunya itu.
“Ma. Jadi karena itu kah mama menceraikan ayah? Karena mama malu?” tanya Arkan.
“Aku tidak menceraikan ayah mu, dia yang ingin menceraikan ku!” tegas Jenny.
“Mama tidak melarang ayah. Mama tidak menahan ayah agar tidak pergi dari rumah. Mama malah terhasut omongan paman Johan agar menceraikan ayah. Sebenarnya sampai sekarang kalian masih saling mencintai. Perceraian mama dan ayah karena di hasut paman dan bibi Rosita. Mama tau kenapa? Agar ayah tidak banyak ikut campur urusan pekerjaan. Mama lupa apa kata kakek? Ayah lebih becus menjalankan perusahan dari pada paman?”
“Kamu tau apa? Kamu masih kecil, kamu tidak paham kejadian waktu itu,” ucap Jenny marah.
“Seharusnya yang paling tau kejadiannya adalah mama sendiri,” ucap Arkan
“Jadi tujuan kamu ke Surabaya kemaren karena ayah mu? Dia pasti sudah mencuci otak mu.”
“Ma, sudahlah. Lunakkan hati mama. Ayah masih mencintai mama. Dia masih setia seperti pertama kali bertemu mama,” ucap Arkan.
“Pria bodoh itu. Beraninya dia mencuci otak anak ku. Awas saja kamu,” jenny berjalan cepat meninggalkan Arkan.
“Ma, mama mau ke mana?” tanya Arkan berusaha mengejar Jenny.
“Mama akan pulang sendiri.” jawab Jenny.
“Kata mama sopir mama sudah pulang duluan?” ujar Arkan.
“Mama akan naik taxy.”
“Sudah hampir jam sebelas ma, mama nggak takut di culik?”
Mendengar ucapan anaknya, langkah Jenny pun melambat.
“Mama tunggu di sini, mobil Arkan disitu. Sebentar Arkan ambil.”
Jenny berbalik badan manatap punggung anaknya yang kini tengah berlari menuju mobilnya.
“Kamu sudah besar Arkan, sekarang kamu bahkan menentang mama…. Tapi kamu belum cukup kuat, jika kamu melawan paman mu, nasib kamu akan sama seperti ayah mu. Kamu akan di tendang jauh dari perusahan bahkan dihapus dari daftar keluarga,” batin Jenny sambil terus menatap Arkan dari kejauhan.
“Aku harus melakukan sesuatu untuk Arkan!”
.
.
__ADS_1
.
TBC…