
Setiba Jenny di rumah sakit. Rosita baru juga tiba dari Swiss. Rosita langsung menuju ruangan dokter Teguh untuk membahas pengobatan lanjutan Johan.
Sedangkan Jenny, ia langsung menuju ruangan pasien.
Seorang perawat yang bertugas jaga di ruangan itu langung menghampiri Jenny.
“Ibu Jenny?” tanya perawat itu.
“Masuklah, dari tadi pasien terus menyebut nama anda,” ucap perawat itu.
Jenny pun bergegas masuk ke dalam ruangan yang di penuhi berbagai macam alat dan mesin medis.
Begitu melihat Jenny, Johan berusaha melepas pengait masker oksigen di hidungnya.
“Mas Johan, di gimana mas? Apa mas sudah merasa lebih baik?” tanya Jenny.
Masker oksigen di wajah Johan berhasil di lepas.
“Jenny, mungkin umur mas sudah tidak lama lagi, mas tidak ingin ada operasi operasi lagi. Biarkan saja jantung mas ini bekerja sebagaimana adanya,” ujar Johan.
“Mas jangan berkata begitu, mas pasti bisa sembuh lagi. Mas pasti bisa sehat,” ujar jenny menyemangati.
Johan menggeleng.
“Mana suami dan anak mu?” tanya Johan.
“Mereka ada di luar, Mas Richard, Arkan dan juga Wulan,” ucap Jenny.
“Aku aku ingin bertemu mereka,” pinta Johan.
Dari arah belakang Rosita masuk ke ruangan itu dengan wajah sedih.
“Mas, bagaimana perasaan mas? Apa sudah lebih baik?” tanya Rosita. Ia berusaha terlihat tenang.
Johan mengangguk.
“Mas aku penggil mereka masuk, Mas Richard Arkan dan juga Wulan,” ucap Jenny.
Jenny keluar untuk memanggil Richard, Arkan dan juga Wulan.
“Masuk lah, paman menunggu kalian di dalam,” ucap Jenny begitu berada di luar pintu.
Richard, Arkan dan Wulan masuk bersamaan ke dalam ruangan.
Johan terlihat tersenyum kecil.
Setelah menarik nafas panjang kemudian membuangnya serempak, Johan mengangkat tangannya ke arah Richard.
“Richard,” panggil Johan.
Richard berjalan mendekati Johan.
“Aku minta maaf, aku pernah berbuat curang terhadap mu,” ucap Johan.
“Aku sudah melupakan hal itu, jangan di ingat lagi mas.”
“Aku terlalu serakah, sehingga sifat anak ku juga jadi seperti diriku.”
Mata Johan kemudian menatap Wulan dan Arkan.
“Arkan, paman serahkan Wulan sama kamu. Anak paman tidak bisa membuat nya bahagia. Wulan adalah amanah dari mendiang kakek mu pada keluarga kita sejak kematian orang tuanya.”
__ADS_1
Johan menatap langit langit kamar itu kemudian mulai bercerita.
“Sebenarnya, perusahan Wina Graha di bangun atas usaha dan dana dari keluarga paman Hendy. Sejak tragedi kematian kedua orang tua Wulan. Paman Hendy memutuskan untuk membawa Wulan tinggal di perkebunan. Ia tidak ingin campur tangan lagi dalam perusahan. Hanya sedikit saham yang dia sisahkan untuk Wulan.” Johan bercerita sambil tersengal namun ia berusaha melanjutkan kata katanya.
“Mendiang Ayah pernah menitipkan Wulan pada ku, agar Wulan di nikahkan dengan Brian atau pun Arkan. Siapa yang menikahi Wulan akan menjadi pewaris perusahan. Niat ayah agar keturunan paman Hendy tidak hidup kesusahan. Sekaligus sebagai balas Budi terhadap keluarga paman Hendy. Siapa menyangka Brian melakukan begitu banyak kejahaatan kepada paman dan juga Wulan.”
“Setahun terakhir aku hidup di penuhi rasa bersalah pada mendiang ayah. Jadi aku mohon, Arkan mau kah kamu mengambil wulan menjadi istri mu. Sebagai Amanah dari kakek mu, mau kah kamu menjaga nya dengan baik?” tanya Johan.
“Arkan akan menikahi Wulan, Arkan akan menjaga nya di sisa hidup Arkan.”
“Syukurlah, paman tau kalian saling mencintai. Paman tidak memliki beban lain lagi. Jika kalian bisa menikah di hadapan paman, alangkah baiknya,”
Suara tangis Jenny pun pecah. Ia berdiri di belakang sambil meneteskan air mata.
“Mas Johan akan sembuh, jangan membuat Jenny takut mas. Jenny akan mencari dokter terbaik untuk menyembuhkan mas,” ujar jenny.
“Tidak perlu, aku tau keadaan tubuhku sekarang seperti apa. Aku hanya ingin pulang ke rumah dan menghabiskan sisa umur ku di rumah. Aku tidak ingin berakhir di atas meja operasi,” ujar Johan.
Suasana dalam kamar itu begitu pilu, Jenny telah berusaha membujuk sang kakak untuk terbang ke negara lain untuk mencari rumah sakit terbaik. Namun Johan melarang nya.
Setelah hari itu, Johan menolak untuk menjalani pengobatan. Ia kembali pulang ke rumah dan memilih untuk di rawat di rumah saja.
Keesokan harinya Johan dan Rosita bertolak kembali ke Swiss di kediaman mereka. Hanya seminggu Johan di rawat di rumah, keadaan nya menjadi semakin kritis. Selang beberapa hari kemudian Johan pun menghembuskan nafas terakhir nya.
.
.
.
Dua minggu setelah kematian Johan. Wulan dan Jenny kembali ke Jakarta.
Dari bandara Wulan langsung pulang ke rumahnya. Ia sudah meninggalkan kakek hampir dua bulan sejak berurusan di negara A dan C.
“Wulan cucuku, akhirnya kamu pulang juga. Kakek sempat berpikir akan menyusul mu ke Swiss. Kakek mengira Keluarga Susanto ingin mengambil mu daribkakek.”
“Kakek ngomong apa? Siapa yang akan mengambil Wulan dari kakek, Wulan tetap cucu kakek selamanya.”
Wulan memeluk kakeknya dengan erat.
Bi Indun dan Irma juga langsung menghampiri Wulan.
“Bibi,” Wulan menghampiri bi Indun dan memeluknya.
“Irma. Terimakasih sudah menjaga kakek dan bibi selama aku ga ada,” ucap wulan sambil memeluk Irma.
“Bibi,” panggil si kecil Zaka yang saat itu sedang beridiri di samping Irma.
“Hai Zaka. Bibi? Kamu memanggilku bibi. Hmm bibi suka panggilan seperti itu. Kamu makin tinggi ya?!” Wulan pun menggendong Zaka sambil bermain main dengan tangannya.
Tiba tiba dari arah pintu Arkan masuk sambil menarik dua buah koper dan satu tas tangan.
ia meletakkan koper kemudian kembali ke mobil. Ia membawa masuk dua koper lagi. Lagi lagi dia keluar dan menarik dua koper lainnya.
“Tuan, sini Irma bantu,” ucap Irma kemudian berlari keluar hendak membantu Arkan.
“Sudah, tinggal dua koper lagi,” ucap Arkan menolak bantuan Irma.
“Kenapa banyak sekali koper?” tanya bi Indun.
“Belanjaan Wulan saat di negara A dan C. Ada juga beberapa yang Wulan beli di Swiss. Oleh oleh untuk bibi Irma dan kakek juga ada,” sahut Wulan senang.
__ADS_1
Saat itu Arkan masuk untuk menghampiri kakek, tapi kakek langsung berlalu dan masuk ke dalam.
“Kakek,” panggil Wulan sambil ikut di belakang kakek.
“Bukannya kakek sudah merestui kami? Kenapa masih menghindari mas arkan kek.”
“Kakek masih kesal.” sahut kakek.
“Kakek kesal sama mas Arkan? Kan dia nggak salah?”
“Kakek tau dia nggak salah, kakek ke sini mau ambil air saja.”
“Dih, padahal mas Arkan mau bilang ke kakek, besok tante Jenny dan paman Richard akan ke sini bertemu kakek.”
“Untuk apa?”
“Mereka akan melamar Wulan. Kakek nggak suka Wulan menikahi mas Arkan ya?” tanya Wulan sembari memasang wajah cemberut.
“Kata siapa? Mana Arkan nya?” tanya Kakek.
Wulan berlari kecil menuju ruang depan. Ia menarik lengan Arkan agar menemui kakek di meja makan.
Bi Indun menggeleng kepala melihat tingkah kakek, semakin hari kakek Hendy semakin bertingkah kekanak kanakan.
“Kakek,”
Arkan sudah duduk di meja makan. Ia sangat canggung dan juga takut.
Namun ia memberanikan diri nya.
“Kakek masih marah dengan Arkan? Maaf kalau aku tidak menjaga Wulan dengan baik,” ucap Arkan.
“Hmm,” jawab kakek singkat. Matanya tidak sedikitpun menengok wajah Arkan.
“Tapi kedepannya Aku akan menjaga nya dengan baik. Aku tidak akan membuatnya sedih. Aku akan melindunginya dengan dengan hidupku sendiri!”
“Berlebihan sekali, tapi kamu sudah pernah hampir mengorbankan hidupmu untuk cucuku,” batin kakek.
“Ya sudah. Kakek capek mau ke kamar,” ucap kakek tiba tiba. Ia langsung mendorong kursi rodanya menuju kamarnya.
“Loh kek, kok main tinggal. Kakek, Arkan belum selesai ngomong.”
Wulan menyusul kakek nya hingga sepan pintu kamar kakek.
“Besok suruh Jenny dan Richar ke sini,” ucap kakek dari dalam kamar.
Wulan kembali ke meja makan dimana Arkan duduk.
“Jadi gimana? Mama bisa ke sini kan besok?” tanya Arkan.
Wulan mengangguk.
“Maafin kakek, dia begitu karena….”
“Sudah aku mengerti. Kakek salah satu korban juga, dia pasti masih trauma dengan hal yang pernah menimpanya.” ujar Arkan.
.
.
.
__ADS_1
TBC…