Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Ini hanya sebuah Mimpi-


__ADS_3

Arkan membopong tubuh Wulan dengan susah payah. Tanjakan yang lumayan jauh di laluinya. Seperti aba aba bi Indun, setelah tiba di pohon besar, ia akan melihat rumah.


Benar saja. Ada sebuah rumah kayu di tengah hutan dan langsung di datangi Arkan. Setiba nya di sana ia melepas Wulan di atas bale bale di depan Rumah.


Tubuh Wulan di tumpuk di atas beberapa anyaman tikar yang belum selesai di kerjakan.


Arkan langsung fokus memeriksa tubuh Wulan. Tidak ada sumber pendarahan dari badan, Arkan melepas sepatunya dan ternyata sumber darah itu berasal dari kakinya.


Tok tok tok


Arkan mengetuk pintu rumah itu.


Irma yang masih menggendong Zaka membuka pintu.


“Ada kain bersih?” tanya Arkan.


“Ada,” Irma bergegas masuk ke dalam mengambil kain dari dalam lemari.


“Ini,” Irma menyerahkan kain itu. Ia kini ikut keluar melihat kondisi Wulan.


Tanpa di minta Irma kembali masuk kemudian keluar dengan subuah mangkok berisi air.


“Saya bersihkan dulu lukanya, baru di balut.” ucap Irma.


Ia kembali lagi ke dalam mengambil kotak P3K. Kotak yang selalu tersedia di rumah itu. Karena mereka tinggal di hutan setiap saat mereka bisa saja terluka. Kotak P3K itu sangat bermanfaat buat mereka.


Dengan lincah Irma membersihkan luka di kaki Wulan. Luka yang tadinya sudah mulai mengering kini kembali berdarah.


“Tolong ambilkan obat merah dalam kotak,” pinta Irma.


Arkan memberikan obat yang di mintanya.


Irma terlihat sudah biasa menangani luka seperti itu. Setelah di beri antiseptik luka langsung di balutnya dengan kain kasa.


“Sudah selesai,” ucap Irma.


“Saya titip Wulan di sini, saya akan kembali ke dalam hutan,” ucap Arkan.


“Buto.” ucap Irma setelah melihat kedatangan Buto.


“Apa yang terjadi dengan nyonya! nyonya?” Ucap Buto heran “kenapa nyonya di sini?”


“Buto temani tuan ini kembali ke hutan, ibu juga masih di dalam hutan,” pinta Irma.


“Ada apa?” tanya Buto terlihat makin kebingungan.


“Cepatlah hari akan gelap, nanti saja di jelaskan.”


Buto pun mengangguk.


“Ayo tuan,” Ia dan Arkan kembali masuk ke dalam hutan.


Seperti ucapan bi Indun. Mereka harus berjalan memutar agar tiba di jurang di mana Brian dan Raya terjatuh.


Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, sinar mentari semakin melemah memendarkan cahaya nya. Sebelum benar benar gelap, mereka harus menemukan Brian dan Raya.


Saat Arkan dan Buto tiba di lokasi, bi Indun dan Daniel sudah berada di sana. Mereka sedang menyusuri leeeng itu dengan mata yang terus mencari di segala tempat.


“Kita harus segera menemukan mereka, sebelum hari semakin gelap,” ucap Bi Indun.


Bi Indun menatap ke arah atas. Ia memperhatikan lokasi disekitarnya. “Seharusnya jatuh di sekitar sini.”


Buto juga mulai bergerak cepat mengais ngais rerumputan di situ dengan menggunakan sebatang kayu. Demikian juga Daniel dan Arkan. Sebuah ranting dan dahan di gunakan mereka untuk mencari di cela cela tumbuhan.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian.


“Disini,” teriak Daniel.


Ia langsung menarik tubuh Brian yang sedang menindih tubuh Raya. Darah segar lengket di kedua tubuh mereka.


“Mereka masih hidup, kita harus bawa mereka ke rumah sakit sekarang,” ucap Arkan.


“Ada kapal di dermaga saat aku ke sini tadi,” ucap Buto.


“Itu kapal Brian, kita bawa ke kapal Brian.”


“Cepatlah, sebelum malam!” ucap bi Indun panik.


Buto langsung mengangkat tubuh Brian, demikian juga Daniel. Ia membawa tubuh Raya yang dipenuhi kumuran darah. Mereka berjalan cepat menuju kapal.


“Ada apa ini? tanya dua orang pengawal Brian.


“Tutup mulut kalian, nyalakan kan saja mesin kapal ini, kita harus segera membawa mereka ke rumah sakit.”


Kedua oengawal itu langsung menuju bagian bawah kapal. Mereka segera menyalakan mesin kapal.


“Bagaimana dengan Wulan?” tanya bi Indun.


“Aku akan menjemputnya sekarang,” ucap Arkan.


“Aku saja tuan, aku bisa berlari lebih cepat ke atas,” ucap Buto.


“Sebaik nya Buto yang naik. Kita tidak bisa menunggu lama disini,” ujar bi Indun.


Tanpa di suruh, Buto kembali berlari ke atas gunung. Ia membawa Wulan hanya dalam sekejap. Kapal tersebut langsung meninggalkan dermaga kayu menuju rumah sakit terdekat.


.


.


.


Sudah sangat lama Wulan tidak pernah merasa tidur se nyenyak dan sepulas hari ini. Kehangatan sebuah tangan yang terus menggenggam tangannya erat.


“Sepertinya aku sudah tidur terlalu lama. Aku ingin bangun namun mataku masih terasa sangat berat,”


Perlahan Wulan membuka matanya. Pertama yang di lihatnya saat itu adalah wajah Arkan. Arkan sedang tertidur bersandar di sisi ranjangnya sambil menggenggam tangannya.


Wulan mengangkat tangannya. Ia mengelus wajah Arkan perlahan.


“Andai saja ini mimpi, aku tidak ingin bangun dari mimpiku ini.”


Air mata menetes dari kedua matanya.


“Raya, semua terasa sangat nyata. Aku akan memukul kepalamu saat aku bangun nanti. Bahkan dalam mimpi sekalipun kamu tidak bisa berbuat seenaknya.”


“Wulan? Sayang kamu sudah bangun,” ucap Arkan.


Jemari Wulan kembali meraba wajah Arkan.


“Akhirnya kamu bangun, kamu membuatku sangat khawatir,dimana yang sakit?” ucap Arkan lagi sambil meremas jemari Wulan.


“Jadi ini bukan mimpi?”


Wulan berusaha bangun dari tidurnya. Ia menarik kakinya dengan kasar dan hendak duduk.


“Aagghhh,” pekiknya.

__ADS_1


Rasa perih di kakinya terasa begitu nyata.


“Ini bukan mimpi?” tanya Wulan.


“Aku tidak sedang bermimpi?”


“Dimana Raya?” tanya Wulan seketika.


Ingatannya langsung kembali ke kejadian sebelum dia pingsan.


“Dimana Raya?”


“Sayang, tenang dulu. Kamu baru saja bangun. Gimana jika kita menunggu dokter dulu?” ucap Arkan yang terus berusaha menenangkan Wulan.


“Dimana Raya?” tanya nya lagi.


“Raya ada, kamu akan pergi menemuinya.” ucap Arkan.


“Benarkah?”


Akhirnya Wulan menjadi sedikit tenang.


“Apa yang terjadi?” gumam Wulan berusaha mengingat secara detail kejadian sebelumnya.


Air mata mengalir di kedua pipinya.


“Raya, dia jatuh ke jurang. Wanita bodoh itu ingin mengorbankan dirinya begitu saja,” ucap Wulan.


Arkan mengangguk setuju, ia kemudian memeluk Wulan sambil berbisik. “Semuanya akan baik baik saja sayang,” ucap Arkan.


Sambil menangis Wulan membalas pelukan Arkan.


Beberapa saat kemudian seorang dokter masuk ke ruangan itu.


Dokter langsung memeriksa keadaan Wulan.


“Gimana Wulan dok?” tanya Arkan.


“Pasien masih shock. Selain itu semuanya baik baik saja,” jawab dokter itu.


“Dok apa pasien sudah bisa pulang hari ini?” tanya Arkan.


Arkan kemudian menatap ke arah Wulan, Wulan terus menatap wajah Arkan.


“Dok, saya ingin bicara di luar,” ajak Arkan kemudian keluar dari ruangan itu.


“Saya ingin membawa Wulan keluar hari ini. Dia harus menghadiri pemakaman sahabatnya,” ujar Arkan.


Dokter Diana terlihat berpikir sejenak.


“Pasien masih salam keadaan shock, jika dia ke sana bukankah akan membuatnya tambah kacau?” ucap dokter Diana.


“Cepat atau lambat dia akan tau sahabatnya sudah meninggal, alangkah baiknya jika dia datang mengantar kepergian sahabatnya ke liang lahat,” ujar Arkan.


“Baiklah, nanti saya akan resepkan obat untuknya. Jika dia baik baik saja bisa langsung pulang ke rumah. Kaki nya bisa rawat jalan, setiap tiga hari ke klinik saya untuk mengganti perban dan mengecek jahitannya,” ujar dokter Diana.


“Baik dok terima kasih.” ucap Arkan.


Dokter Diana segera pergi dari situ. Sedangkan Arkan ia masih berdiam di depan pintu. Ia masih memikirkan cara menyampaikan kematian Raya kepada Wulan. Atau ia langsung saja membawa Wulan ke rumah duka?!


.


.

__ADS_1


.


TBC…


__ADS_2