
Dari ruangan Lantai 59 Wulan langsung menuju lantai dasar, ia ingin segera pergi dari situ. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.06 WIB. Janji temunya dengan Renata sudah melenceng 6 menit dari waktu yang ditentukan.
“Wulan,” suara Arkan terdengar dari belakang berusaha menghampirinya.
Wulan membalik kan badan sebelum masuk ke dalam mobil.
“Wulan, kamu jalan nya terlalu cepat. Aku capek kejar kamu,” ucap Arkan ngos ngosan.
“Ngapain mas mengejarku?” tanya Wulan dengan wajah lesu.
“Aku dari ruangan Brian, kata sekertaris nya kamu baru saja turun. Aku, mencarimu ke seluruh loby tapi…”
“Aku sedang buru buru sekarang mas, temenku sedang menunggu,” ujar Wulan.
“Kamu baik baik saja kan?” tanya Arkan khawatir.
“Aku baik saja,” jawab Wulan.
“Brian tidak apa apain kamu kan?” tanya Arkan lagi.
“Nggak, dia hanya sedikit marah. Mungkin karena aku sudah lancang masuk ke ruangan nya. Tapi nggak apa mas, yang penting Wulan sudah mengantarkan makanan yang di perintahkan kakek. Tugas wulan selesai,” ujar wulan dengan nada yang memang baik baik saja.
“Syukur lah,” ucap Arkan lega.
“Pak Arman pulang saja, saya yang akan mengantar ibu pulang,” ujar Arkan pada sopir kantor yang sudah parkir disitu.
“Baik pak.”
Pak Arman menuruti ucapan Arkan, ia langsung meninggalkan Wulan dan Arkan yang masih berada disana.
“Mas pasti sibuk, ngapain repot repot nganterin Wulan?” tanya Wulan dengan nada lemah.
“Nggak sibuk juga, sekarang kan sudah jam pulang kantor,” ujar Arkan.
“Ayok,” ajak Arkan.
Mereka berjalan menuju deretan mobil yang terparkir di depan pintu masuk lobby kantor, tempat dimana para exekutive memarkir mobil mereka.
Disaat yang sama Brian dan Soraya baru saja keluar dari gedung itu.
“Hai Wulan kita ketemu lagi,” sapa Soraya yang juga ingin masuk ke dalam mohil. Kebetulan mobil Brian dan Arkan terparkir berdampingan.
Wulan hanya berdiam tak menanggapi Soraya.
“Ayo masuk,” ajak Arkan yang saat itu sudah membukakan pintu mobil untuk Wulan.
“Yan, gimana jika kita ajak Wulan dan Arkan makan malam bersama kita?” tanya Soraya menatap Brian yang wajahnya kaku saat itu.
“Ayolah Yan,” bujuk Soraya lagi.
“Terserah kamu aja,” jawab Brian datar.
“Arkan, ikut kami makan malam yuk?” ajak Soraya.
Arkan menatap Wulan kemudian langsung menjawab. “Kami sudah ada janji temu dengan seseorang,” ujar Arkan.
“Ayolah Arkan, sudah lama kita nggak ketemu. Aku kangen masa masa kuliah kita. Aku ajak Sheila juga gimana?” tanya Soraya lagi.
“Aku nggak bisa sekarang, jika mas ingin lanjut dengan mereka nggak apa apa mas. Aku bisa jalan sendiri,” ucap Wulan.
__ADS_1
“Loh bukankah kamu ingin perkenalkan aku kepada teman mu?” tanya Arkan.
“Maaf Soraya, aku sudah janji dengan Wulan dan teman nya bertemu sore ini, nggak bisa di cancel,” ujar Arkan.
“Oke, aku harap di lain hari kalian bisa ikut gabung dengan kami. Gimana Wulan?” tukas Soraya ramah.
Wulan akhirnya masuk ke dalam mobil yang pintunya sedari tadi terbuka. Arkan pun langsung bergegas masuk ke mobil meninggalkan sepasang pria dan wanita yang masih enggan beranjak dari tempat mereka.
Arkan melaju meninggalkan pekarangan Wina Graha secepatnya.
“Maaf, aku jadi berbohong. Aku tau kamu tidak ingin jalan bersama mereka jadi membuat alasan seperti itu,” ujar Arkan.
“Nggak apa mas, kita memang butuh sebuah alasan agar tidak terjebak bersama mereka,” jawab Wulan.
Arkan menatap Wulan yang sedang merenung menatap keluar jendela. Tatapan matanya kosong dipenuhi kesedihan.
“Kamu cemburu?” tanya Arkan.
“Apa mas?”
“Kamu cemburu melihat suami mu menggandeng wanita lain?” tanya Arkan lagi.
“Cemburu? Aku sudah biasa melihatnya bersama wanita lain. Aku tidak peduli dengan apa yang dilakukannnya,” jawab Wulan.
“Good, kita akan ke mana nih?” tanya Arkan.
“Hotel CALINA,” jawab Wulan.
“Kita sudah telat 15 menit, aku hubungi Renata dulu,” lanjut Wulan sambil mengutak atik ponselnya.
Wulan sedang membalas pesan untuk Renata. Mereka mungkin agak telat tiba karena jalanan yang mulai padat setelah jam pulang kantor.
“Soraya wanita yang sangat cantik, dia lembut dan sangat ramah. Mencerminkan seorang wanita berkelas.” Kalimat yang asal keluar begitu saja dari mulut Wulan.
“Kenapa mas tidak menerima ajakan nya makan malam barusan? Dia teman mas juga kan?” tanya Wulan.
“Teman? Kami tidak seakrab itu,” jawab Arkan.
“Tapi kalau kamu mau, aku akan menerima tawaran mereka asal kamu ikut denganku,” lanjut Arkan.
“Wulan akan cari waktu,” jawab Wulan.
Arkan kembali menatap Wulan. “Makan malam bersama suami dan kekasihnya?” tanya Arkan.
“Ya kenapa tidak!” sahut Wulan.
Mobil terus meluncur menembus kepadatan lalu lintas ibu kota. Mereka tiba di hotel Calina sudah hampir jam 6 sore.
Wulan bergegas masuk ke dalam lobby hotel mencari seorang wanita yang sudah menunggunya selama setengah jam di sana.
“Renaaa.” Dengan wajah riang Wulan berjalan cepat menghampiri Renata.
Pelukan hangat dan haru dari kedua orang sahabat yang tak bertemu selama beberapa bulan.
“Kamu kok kurusan Lan,” respon Renata setelah membolak balikkan tibuh Wulan. “Pakaian apa ini?” tanya Renata setelah melihat gaya berpakaian Wulan.
“Aku lebih nyaman berpakaian seperti ini,” jawab Wulan dengan senyuman yang masih terkembang di wajahnya. “Aku senang ada bisa memeluk mu Ren,” sekali lagi Wulan memeluk Renata.
Renata membalas pelukan Wulan beberapa saat kemudian sadar jika ada seorang pria yang tengah memperhatikan mereka sambil ikut tersenyum senyum.
__ADS_1
“Wow, itu siapa?” bisik Renata.
“Oh ya Ren, kenalkan ini.”
“Suami kamu?” tanya Renata.
“Arkan,” Arkan maju beberapa langkah sembari mengulurkan tangan nya.
“Renata,” jawab Renata sambil menerima jabatan tangan Arkan.
“Arkan ini sepupu Brian Ren,” jelas Wulan.
“Ayo kita duduk di dalem, jam segini masih macet. Kamu pengen makan di Roughbay kan?” tanya Wulan.
“Roughbay? Aku booking kan tempat?” tanya Arkan.
“Ga usah mas, sudah dipesan Renata tadi,” jawab Wulan.
Mereka duduk disebuah mini cafe diloby hotel tersebut. Hanya butuh beberapa menit untuk Renata menjadi akrab dengan Arkan. Baginya teman sahabat nya Wulan adalah temannya juga.
Dalam waktu sebentar itu juga Wulan berubah menjadi orang yang berbeda, ia menjadi seorang Wulan yang ceria, karena Renata sahabatnya tau bagaimana membuat Wulan tertawa.
“Haha, nggak Ren, aku nggak punya perasaan apa pun dengannya,” ujar Wulan sambil terus terkekeh akibat ulah Renata.
“Buktinya kamu suka ceritain suami mu ke kami,” pancing Renata lagi.
“Itu karena aku kesal dengannya, aku cuman mau berbagi uneg uneg dengan kalian aja,” ucap Wulan yang terus di pojokkan oleh Renata.
“Ooh soalnya aku inget dulu saat masih di bangku kuliah, inget gak kamu pernah naksir dengan kakak kelas sebelah?” ucap Renata mengingatkan kembali kisah cinta Wulan saat di bangku kuliah.
“Udah jangan bahas itu lagi ah,” ujar Wulan yang terlihat agak kesal.
Melihat nya seperti itu Arkan jadi tertawa.
“Mas juga ketawa, emang lucu?”
“Iya kamu emang lucu Wulan, hehe,” ujar Arkan.
“Nah, mas Arkan. Sebagai seorang manusia wajar kan jika kita menyukai seseorang, kita harus berani mengutarakan perasaan jangan di simpan,” ucap Renata.
Kedua bola mata Wulan mengerling. “Renaaa, jadi maksud kamu aku harus utarakan perasaan aku ke mas Brian gitu?”
“Ya iya jika kamu suka,” jawab Renata.
“Ogah,” tolak Wulan.
“Apa Wulan benar menyukai Brian? Menyukai suami sendiri kan wajar, kenapa aku malah berharap Wulan dan Brian tidak boleh bersama?” batin Arkan. Wajahnya terlihat sedikit kecewa.
“Kamu dan Brian suami istri, wajar jika kamu menyukainya,” kata kata yang akhirnya keluar dari dalam benak Arkan.
“Mas juga berpikiran sama dengan Renaa?”
Wulan terdiam sejenak.
“Jika aku mengatakan ingin bercerai dari mas Brian, apa ada yang akan mendukungku? Perjodohan kami sudah di tetapkan sejak aku masih dalam perut. Aku hanya bisa mencari cara ku sendiri agar pria itu menceraikan ku,” batin Wulan.
.
.
__ADS_1
.
TBC…