Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Melanjutkan Hidup-


__ADS_3

Meliahat keceriaan di mata Brian membuat Arkan sangat muak. Dia tidak berhak bahagia setelah semua yang di lakukkan nya.


Tatapan Arkan terus melekat di wajah Brian. Hari berbahagia kedua orang tua nya dirayakan bersamaan dengan pertunangan Brian, pria yang sudah membunuh banyak orang.


Semakin lama berada di ruangan itu membuat Arkan semakin mual. Tanpa pamit Arkan pun langsung memutar balik kursi rodanya dan keluar dari ruangan itu.


“Arkan, nak,” panggil Jenny namun Arkan terus berjalan keluar. Ia tak terusik oleh suara panggilan mama dan ayahnya.


“Tante, biar saya yang susul Arkan,” ucap Sheila samar di telinga Arkan.


Di luar Daniel sudah berdiri di depan pintu dengan setelan jas rapih berwarna hitam.


“Daniel?” sapa Arkan.


“Selamat tuan, akhir nya anda siuman,” ucapan yang pertama kali keluar dari mulut Daniel.


“Kenapa nggak masuk? Kamu dari tadi berdiri di sini?” tanya Arkan.


“Iya, saya menunggu tuan keluar dari dalam.”


“Kenapa menunggu ku di luar?” tanya Arkan sedikit bingung.


“Karena tuan sudah tidak memiliki posisi di perusahan, jadi saya sekarang akan menjadi sopir pribadi tuan. Saya resmi mulai bekerja hari ini,” ucap Daniel.


“Kamu tidak layak untuk posisi itu, kamu pintar dalam segala hal, untuk apa jadi sopir ku,” ucap Arkan.


“Sejak tuan menghilang dan koma, saya sudah tidak memiliki pekerjaan. Syukurlah tuan sudah sadar sekarang,” ucap Daniel lagi.


Arkan menatap wajah Daniel. Ia memang terlihat gembira dan sangat bersemangat.


“Arkan,” suara Sheila dari arah belakang menghampirinya.


“Aku akan pulang ke rumah. Kamu tidak perlu mengikutiku,” ucap Arkan pada Sheila.


“Tapi acara baru saja di mulai. Kenapa harus buru buru pulang?” tanya Sheila.


“Acara selanjutnya adalah acara Brian. Jumpa pers tentang pertunangannya, tidak ada sangkut pautnya lagi dengan ku,” ucap Arkan.


“Ya sudah, kalau begitu aku akan mengantar kamu pulang.” tawar Sheila.


“Daniel ada di sini dia yang akan mengantarku,” tolak Arkan.


“Arkan.” panggil Jenny. terdengar suara langkah Jenny dari arah dalam.


“Daniel, kamu sekalian antar Sheila pulang ya,” ucap Jenny.


“Ma, aku-,”


“Masa kamu tega biarkan Sheila pulang sendirian?” potong Jenny.


“Sheila, Terimakasih ya sudah bersedia hadir di acara tante. Tante senang sekali,” ucap Jenny ramah.

__ADS_1


“Sama sama tante, Sheila juga senang bisa berbaur dengan keluarga tante, semuanya ramah dan baik.”


“Kalau begitu saya pamit pulang duluan ya tan,” Sheila memeluk ringan tubuh Jenny.


“Iya, kalian hati hati di jalan.”


Sheila mulai mendorong kursi roda Arkan menuju lobby hotel tersebut. Di depan lobby Daniel sudah standby di dalam mobil menunggu mereka.


Sepanjang perjalanan Arkan lebih banyak diam. Saat Sheila mengajak nya bicara, ia lebih sering mengangguk dan terkadang menggeleng. Ia tidak berniat membalas ketulusan Sheila. Wulan sudah mengambil tempat dihatinya. Entah sampai kapanpun itu, ia masih akan menyimpan ruang di hatinya hanya untuk Wulan.


“Alamat kamu?” tanya Arkan singkat.


“Gang Kamboja Nomor 5, aku masih tinggal bersama orang tua. Ini masih alamat rumah ku yang dulu,” jawab Sheila.


Mobil langsung menuju ke alamat yang di berikan.


Sepanjang perjalanan Sheila berusaha mencairkan suasana dengan banyak bercerita tentang masa sekolah mereka. Ia tak menyerah sedikitpun untuk menarik perhatian Arkan. Dahulu dia memang pernah gagal mendapatkan hati Arkan, namun kali ini, Sheila merasa yakin, ia pasti bisa mendapatkan hati pria tersebut. Ia hanya butuh usaha yang lebih giat dari sebelumnya.


“Aku ingat dulu kamu sering ke sini mengambil tugas kelompok. Kamu pasti ingat kan saat kita di tugaskan di kelompok Durian,” ujar Sheila membangkitkan kenangan saat mereka kuliah dulu.


Arkan mengangguk.


“Kelompok kita mendapat peringkat teratas. Karya sains kita masuk dalam the best karya dan mendapat perharian khusus dari rektor. Hanya saja waktu itu kamu terlanjur pindah, kelompok sains kita bubar. Jadi karya nya mandek nggak berkembang lagi,” ujar Sheila dengan nada kecewa.


“Daniel dari sini belok kiri,” ujar Arkan.


“Ternyata kamu masih ingat jalan ini. Jalan paling cepat untuk tiba di rumah,” ucap Sheila lagi.


Setelah berbelok kiri, mereka memasuki jalanan kecil yang agak rusak. Namun hanya tinggal beberapa meter di depan, mereka akan tiba di rumah Sheila.


“Terimakasih sudah menemaniku,” ucap Arkan setelah mobil berhenti di depan rumah.


Sheila terdiam, ucapan Arkan seolah ingin agar dia segera keluar dari mobil.


“Terimakasih juga sudah mengantarku,” balas Sheila kemudian keluar dari mobil itu.


“Chhh, mama kelewatan banget,” desis Arkan.


“Kita lanjut pulang sekarang tuan?” tanya Daniel.


“Nggak Dan, kita duduk duduk dulu sambil minum teh di sini,” celetuk Arkan.


“Tuan bisa aja,” ujar Daniel kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke rumah.


.


.


.


Keesokan harinya setelah bangun dari tidur, Arkan langsung meraih tongkat di samping tempat tidurnya. Ia masih butuh tongkat tersebut untuk menopang berat tubuhnya.

__ADS_1


Karena untuk mandi dan buang air ia tidak butuh perawat yang membuatnya lumayan risih saat terus berada di sisinya. Setidaknya dengan bantuan tongkat, Arkan sudah bisa mengerjakan segala sesuatu sendiri.


Tok tok tok


“Tuan muda.”


“Tuan.”


Tok tok tok


Suara pintu terus di ketok dari luar.


Dari kamar mandi Arkan langsung keluar.


“Iya bi, sebentar lagi aku keluar,” teriak Arkan.


Arkan langsung menyisir rambutnya yang masih basah kemudian mengenakan gel rambut bertekstur lembut agar terlihat rapih.


“Ada apa bi?” tanya Arkan begitu ia membuka pintu kamar.


“Ibu Jenny sudah berangkat ke kantor, katanya ada pertemuan penting pagi ini. Jadi tuan di suruh keluar makan sendiri,” ujar bi Rahma.


“Iya, aku keluar sekarang,” ujar Arkan.


Masih dengan tongkat di kedua tangannya Arkan berjalan menuju meja makan. Ia duduk kemudian mulai menyantap hidangan sederhana di atas meja makan.


“Ayah mana bi?” tanya Arkan.


“Bapak yang mengantar ibu, tapi katanya bapak akan langsung ke Surabaya pagi ini. Malam baru kembali ke sini,” jawab bi Rahma.


“Pasangan baru menikah, tapi sudah terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan masing masing. Kenapa nggak nikmati hidup santai di hari tua mereka?” gumam Arkan.


“Ibu memang jarang di rumah tuan. Apa lagi waktu tuan muda masih di rumah sakit, ibu nggak pernah pulang tidur di rumah,” sahut bi Rahma.


“Justru itu, nah buat apa mereka menikah jika akhirnya tujuan dan arah mereka berbeda. Ayah ke Surabaya, mama ke kantor sampai malam,” ujar Arkan


“Tapi sejak perusahan di pegang ibu, perusahan sangat baik kan tuan. Ternyata ibu punya bakat terpendam dalam mengelola perusahan,” puji bi Rahma.


“Itu bukan karena bakat mama bi, ayah adalah orang di belakangnya. Pasti ayah yang mengatur mama, percaya deh,” ucap Arkan.


“Tuan muda kok nggak percaya betul sama ibunya sendiri. Padahal ibu mengambil alih perusahan demi tuan loh,” ucap bi Rahma


Arkan terdiam.


“Mama melakukan ini untuk menyingkirkan kekuasaan Brian yang terlalu besar. Tapi untuk apa? Aku sudah tidak peduli dengan perusahan itu. Perusahan yang mama dan ayah besarkan sekarang, ujung ujung nya akan jatuh ke tangan Brian juga. Aku punya rencana sendiri untuk melanjutkan hidupku,” batin Arkan.


.


.


.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2