
Wulan berjalan mundur beberapa langkah. Masih sedikit shock ia kembali berjalan keluar dan berjongkok di bawa meja yang tadi ia gunakan untuk bersembunyi.
Selama beberapa saat Wulan mencerna apa yang baru saja di lihatnya. Ia terus meringkuk di bawah meja sampai dokter yang mengantar Arkan kembali ke ruangan nya.
Wulan langung meninggalkan tempat itu begitu ia memastikan keadaan disekitar sudah aman.
Memasuki mobil Wulan langung menginstrusikan kepada Buto agar segera meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanan Wulan terus berdiam diri. Beberapa pertanyaan Buto tidak di gubrisnya. Pikirannya larut dalam bayangan pria yang selama ini sudah di anggap meninggal oleh nya.
“Nyonya kita akan ke mana?” tanya Buto.
“Kita pulang saja,” akhirnya Wulan menjawab.
Buto tak ingin bertanya lebih banyak, mobilnya segera di pacu menuju jalanan padat kendaraan.
Setiba mereka di rumah, mobil Arkan sudah terparkir di pekarangan.
“Buto Please, Tolong jangan katakan kita mengikuti mas Arkan ke pabrik tadi,” ucap Wulan sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari mobil.
Arkan langsung menyambut lengan Wulan begitu Wulan memasuki rumah.
“Sayang, kalian dari mana? Maaf tadi aku ada pertemuan mendadak, jadi aku harus buru buru kembali ke kantor.”
Wulan tidak menjawab ucapan Arkan. Ia memilih terus berjalan masuk ke dalam rumah menuju tangga ke ke lantai atas.
“Kamu mau ke mana? Kok malah ke kamar? Kita nggak jadi singgah belanja keperluan yang kamu katakan tadi?” Arkan terus mengikut di belakang Wulan.
Sudah beberapa pertanyaan yang dilontarkan nya namun Wulan tidak menjawab satu pun pertanyaan nya. Arkan sadar ada sesuatu yang membuat istrinya ngambek seperti itu. Selama lebih dari enam bulan pernikahan mereka Wulan tidak pernah berlaku seperti itu.
“Sayang?” panggil Arkan sebelum Wulan melangkah masuk ke dalam kamar.
“Mas pulang lah, aku akan tidur di sini malam ini!”
Arkan menahan pintu sebelum benar benar tertutup. Ia ikut masuk ke dalam kamar menyusul sang istri yang ngambek tanpa kejelasan.
“Mas pulang lah, malam ini aku akan tidur di sini!”
“Kalau aku pulang kamu juga harus pulang, kalau kamu nggak mau pulang, aku juga tidak akan pulang.” Arkan melangkah mendekati Wulan yang saat itu tengah duduk di atas ranjang. “Kamu ngambek kenapa?” tanya Arkan sambil menatap wajah Wulan yang terlihat sangat murung.
“Kamu sakit?” tanya Arkan lagi.
“Mas tidak ingin menjelaskan sesuatu?” tanya Wulan.
Tiba tiba airmatanya mengalir begitu saja keluar dari pelupuk matanya.
__ADS_1
“Jadi selama ini hubungan kita ini apa mas?” tanya Wulan yang akhirnya membuat tangisnya pecah.
“Hei, sayang apa maksud kamu?” tanya Arkan berusaha mendekati dan memeluk Wulan, namun tubuh nya itu di dorong perlahan oleh tangan wulan agar menjauh.
“Sayang jika kamu tidak cerita bagaimana aku tau masalah kita apa?” Arkan terlihat semakin frustasi akan sikap sang istri yang tiba tiba sesenggukan tanpa alasan jelas.
“Kamu nangis seperti ini, bagaimana perasaan anak kita?” Arkan mengusap perut Wulan yang ikut bergetar akibat sesenggukan.
“Seharusnya aku yang mengatakan itu. Mas tidak memikirkan perasaan ku. Selama ini mas Arkan sudah menyimpan kebohongan besar. Mas tidak pernah jujur. Mas Arkan menipuku selama ini!”
Ucapan Wulan sontak membuat hati Arkan teriris. Bagaimana ia tega melakukan hal itu pada wanita yang di cintainya.
Dalam waktu sesingkat itu juga Arkan sadar, dari mana Wulan barusan? Apa ia sudah tau soal Brian?
“Sayang, kamu dari mana barusan?”
“Menurut mas aku dari mana?” Wulan balik bertanya sambil menantang tatapan Arkan.
Arkan mengusap rambut di kepalanya dengan kasar.
“Kamu sudah tau hal itu?”
“Aku bukan bermaksud ingin menyembunyikan hal itu darimu! Aku hanya melakukan hal yang menurut ku paling baik yang tidak akan merugikan banyak orang.”
“Aku tidak peduli, apa pun alasan mas aku nggak mau dengar.”
“Kita tidak akan bisa menikah selamanya! Menurut ku Yang terjadi saat ini sudah sewajarnya.”
“Jadi yang ada dalam otak mas hanya masalah agar kita bisa menikah? Mas tidak tau apa status kita sekarang? Sebenarnya mas Brian masih hidup, apa pernikahan kita di anggap sah? Mas sudah melakukan penipuan besar, dengan mengatakan mas Brian sudah meninggal. Kemuidan mas menikahi istrinya.”
“Bukan kah sifat mas sama saja dengan sifat nya? Dan apa hubungan kita ini? Aku merasa seperti sedang berselingkuh dengan mas!”
“Sayang, semua orang tau kita sudah menikah secara sah-“
“Tapi semua orang itu tidak tau kalau mas Brian masih hidup, status pernikahan kita tidak sah!” teriak Wulan memotong ucapan Arkan. Di saat yang sama juga Wulan memegang perutnya. Wajah nya sedikit menahan sakit.
“Sayang kamu baik baik saja kan, tenang kan dirimu!”
“Sebaiknya mas Arkan pergi sari sini, aku ingin sendiri mas, aku ingin menenangkan pikiranku,” Wulan berjalan menuju pintu, ia membuka pintu dan mempersilahkan Arkan keluar dari situ.
“Sayang, Kita bicarakan hal ini baik baik. Lihat lah anak kita yang akan lahir, aku memang salah telah membohongi mu-”
“Keluar lah mas Arkan, aku butuh ruang untuk berpikir. Aku ingin sendiri,”
“Baiklah aku keluar. Aku akan menunggu mu di luar.” Arkan akhirnya mengalah. Jika ia terus di dalam kamar, emosi Wulan akan semakin terpicu.
__ADS_1
Setelah Arkan keluar, Wulan segera mengunci kamar itu dari dalam. Sedangkan Arkan, ia duduk di sebuah sofa tak jauh dari pintu kamar.
Sore hari kini berganti malam, dan waktu sudah menujukkan pukul tujuh malam. Wulan masih berada di dalam kamarnya.
Arkan bangkit sadis sofa dan kembali mengetuk pintu kamar itu.
Tok tok tok
“Sayang?” panggil Arkan.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar.
Arkan turun ke lantai bawah, ia mencari bi Indun. Mungkin saja jika bi Indun yang memanggilnya ia akan keluar.
“Bi?”
Arkan terus berjalan menuju ruang makan, di sana bi Indun dan Irma sedang menyiapkan meja makan.
“Bi?” panggil Arkan sambil menatap wajah bi Indun dengan sedih.
“Sangat jarang Wulan marah, mungkin karena pengaruh kehamilan nya yang sudah semakin mendekat. Biasanya ibu hamil akan memiliki kecemasan berlebih saat mendekati masa masa bersalinnya.”
“Bibi bisa coba bujuk dia?” tanya Arkan.
“Bibi akan naik ke atas, bagaimana pun dia harus makan,” ucap bi Indun.
“Tuan duduk lah.”
“Nak, panggil kakek dan Buto makan,” perintah bi Indun pada anaknya Irma, kemudian bi Indun menuju lantai atas untuk memanggil Wulan makan.
Selang beberapa saat kakek dan Buto juga Irma sudah bergabung di meja makan.
Wajah Arkan terlihat cemas, sudah beberapa menit bi Indun naik tapi belum juga kembali. Sesekali ia menatap ke arah pintu, apa kah Wulan baik baik saja?
Beberapa saat kemudian bi Indun turun sendiri tanpa Wulan bersamanya.
“Gimana Wulan bi?” tanya Arkan.
“Wulan tidak gabung makan bersama. Bibi akan siap kan makanan nya dan meminta Irma mengantar ke atas.”
.
.
.
__ADS_1
TBC…