
Keesokan harinya.
Yuyun sedang menyiapkan sarapan pagi kakek berupa segelas susu, dan sepiring oath rasa Strawberry.
Kakek Hendy tampak gelisah. Ia seperti sedang mencemaskan Wulan cucunya. Karena sedari tadi ia terus bertanya soal Wulan.
“Yuyun, Wulan biasanya datang setiap hari apa?” tanya kakek tiba tiba.
“Biasanya sabtu dan minggu kek.”
“Sekarang hari Senin, kemaren kenapa Wulan nggak datang?”
“Mungkin sibuk kek.”
“Oh ya, ponsel kakek lowbat, tolang di cas ya. Kakek ingin menelpon Wulan,” ujar kakek Hendy.
“Baik kek. Ini sarapan kakek dimakan selagi hangat, hp kakek akan Yuyun cas sekarang,” ujar Yuyun.
Yuyun kembali ke dapur karena saat tak ada pekerjaan Yuyun akan membantu mbak Ani di dapur.
“Yun, kamu bersihkan sayur ya, mbak mau ke warung depan,” ucap mbak ini.
“Baik mbak.”
Ani berlalu dari dapur, ia menuju ruang makan di mana kakek sedang sarapan.
“Ani, benarkah katamu?” tanya kakek dengan penasaran.
“Soal apa kek?” tanya Ani.
“Soal Wulan yang sering bertengkar dengan suaminya?” tanya kakek yang makan nya jadi tidak tenang pagi itu.
“Bener kek, tapi jangan bilang jika Ani yang bilang ke kakek ya?!”
“Aku harus temui Brian. Oh ya berikan tongkat ku, aku akan pergi ke rumah mereka. Aku akan bicara dengan Brian.”
“Kakek ingin pergi sekarang?” tanya Ani.
“Lebih cepat lebih baik.”
“Tapi jam segini Nyonya dan Tuan tidak di rumah. Mereka pasti sudah berangkat bekerja,” cegah Ani.
“Kakek akan menunggu di sana. Kakek bisa bertemu mereka di sore hari saat mereka pulang kerja.”
“Baiklah jika kakek sangat ingin ke sana sekarang, Ani akan hubungi taksi untuk kakek.”
Ani segera menyiapkan keperluan kakek kemudian menghubungi taksi melalui ponsel kakek. Sekitar setengah jam, taksi sudah menunggu di depan Rumah.
“Kek, taxy sudah di depan. Ayo jalan,” ucap Ani kemudian menuntun kakek hanya sampai pintu depan rumah.
“Mbak, kenapa mbak nggak ikut? Kakek akan pergi sendiri?” tanya Yuyun tiba tiba dari dalam ruangan. “Biar Yuyun saja yang ikut dengan kakek kalau begitu.”
Ani menarik lengan Yuyun. “Jika kamu mencampuri urusan tuan Brian kamu akan tau akibatnya.”
“Tapi mbak, kakek sudah tua. Kalau begitu Yuyun akan menemui sopirnya dulu agar bisa mengantar kakek ke tempat yang benar!”
Ani menyeret Yuyun masuk ke dalam rumah kemudian mengancam nya.
“Jika kamu berani buka mulut soal ini, maka tuan Brian akan membunuh mu.”
__ADS_1
“Apa yang mbak Ani rencanakan. Aku nggak takut dengan tuan Brian. Aku akan menghubungi pak Arkan atau bu jenny sekarang.”
Ani langsung menarik tubuh Yuyun ke arah dapur. Ia membekap tangan dan kakinya kemudian menghubungi Brian.
“Tuan, kakek sudah dalam perjalanan. Setengah jam lagi akan tiba di tempat tujuan. Oh ya tuan, Yuyun ingin menghubungi tuan Arkan. Apa yang harus aku lakukan dengannya?” tanya Ani seraya menarik Yuyun ke arahnya. Ponsel di tangannya di dekatkan ke telinga Yuyun.
“Ibu mu yang sedang berjualan di pasar akan sangat mudah jika di rekayasa dengan sebuah kecelakaan. Sedikit saja kamu mengungkap masalah ini, maka nyawa ibu mu akan segera melayang,” ancam Brian.
Wajah yuyun seketika berubah pucat ia tak berani melawan. Tubuhnya gemetar, matanya menahan linangan airmata.
“Dasar sial. Tadinya aku ingin menggunakan Yuyun untuk melakukan hal ini. Tapi ternyata aku salah mencari seorang pekerja.”
“Tuan, tapi sudah saya kerjakan. Bayaran saya?” tanya Ani.
“Akan saya transfer sekarang juga. Tapi ingat, kamu harus jaga wanita itu, jangan sampai dia buka mulut.”
“Baik tuan, akan saya lakukan.”
Sementara itu, mobil taxi yang ditumpangi kakek terus melaju menuju bilangan Jakarta utara. Mobil tersebut bergerak menuju alamat yang di tuju. Gate 2 pelabuhan gudang peti kemas Tanto.
“Pak, kita dimana ini?” tanya kakek yang mulai merasa aneh dengan tempat yang asing itu.
“Kita sudah hampir tiba kek. Tuan Brian sudah menunggu kakek di dalam.” ucap Sopir taxi itu.
“Brian?”
Kakek sedikit bingung, padahal sebelumnya ia ingin ke rumah cucu nya Wulan.
“Kenapa Brian ingin bertemu kakek di sini?” tanya kakek.
“Saya kurang tau kek, saya hanya di tugaskan membawa kakek ke sini.”
“Siapa yang menugaskan?” tanya kakek Hendy.
“Bawa saya kembali keluar, atau saya akan menghubungi Arkan sekarang.” tegas kakek Hendy dengan ponsel jadul yang sedang di genggamnya.
“Kita sudah sampai kek,” sopir itu langsung merampas ponsel dari tangan kakek. “Tujuan kakek adalah di sini. Kakek jangan melawan atau kakek akan tau akibatnya,” ancam pria itu.
“Ka kalian berani berani melakukan hal ini kepada ku. Panggil Brian ke sini sekarang, apa yang dia inginkan dariku?!”
Sopir itu keluar dari mobil. Ia membuka pintu mobil dan menarik kakek keluar dari dalam mobil.
“Nanti juga kakek akan bertemu tuan Brian.”
Kakek akhirnya di bawa masuk ke dalam gang dimana deretan peti kemas tersusun rapih dan berjejer sempurna. Mereka terus berjalan hingga beberapa puluh meter jauhnya.
Kakek Hendy yang selalu bermasalah dengan kakinya dibuat kewalahan. Ia terlihat ngos ngosan. Di tambah emosi yang sangat mencuat membuat kakek jatuh dan tersungkur ke atas lantai.
“Uuti, Dar,” teriak pria pengemudi taxi itu.
Beberapa saat keluar beberapa orang pria dari arah lorong lorong kecil di celah celah peti kemas.
“Kenapa pit? Lah belum di apa apain kok malah pingsan duluan?” tanya salah seorang pria yang baru saja tiba.
“Angkat bawa dia masuk. Ingat setelah dia sadar langsung hubungi tuan. Aku jalan dulu, masih ada penumpang yang harus aku jemput,” ujar pria pengemudi taxi itu.
Kakek Hendy segera di bawah masuk ke tempat perkumpulan mereka.
Empat jam kemudian, kakek sudah sadar dari pingsan nya. Pria pria kekar itu langsung mengerumuni dirinya.
__ADS_1
“Dimana Brian?” tanya Kakek.
Seorang Pria melempar satu kotak stereo foam berisi makanan ke hadapan kakek. “Ini di makan dulu, biar umur kakek bisa bertahan lebih lama,” ucap pria itu kasar.
“Mana Brian, aku ingin bertemu dengannya!”
“Boss akan datang ke sini malam ini, bertahan lah hingga malam hari kakek. Setelah bertemu boss, kakek bisa memutuskan sendiri ingin mati dengan cara seperti apa!” jawab pria lainnya.
“Tidak tau kemanusiaan, kalian binatang,” tongkat kakek langsung menghantam seorang pria berjarak terdekat dengannya menggunakan tongkat.
“Dasar pria tua, kamu cari mati ya.” Pria yang di pukul oleh kakek hendak menendang kakek, namun di cegah oleh pria lainnya.
“Dar, sudah lah. Sabar aja dulu. Ingat apa kata boss?”
Mendengar ucapan temannya, pria keriting itu langsung mengurungkan niatnya.
Sepanjang siang mereka melayani kakek dengan baik. Walau pun kakek berulang ulang menyerang mereka namun tidak ada yang berani membalas kakek.
Hingga malam pun tiba, pria pria yang tadi nya berlima kini bertambah menjadi delapan orang. Sepertinya mereka adalah pekerja lepas di dermaga itu. Sekaligus merangkap sebagai anak buah Brian.
Mereka melakukan berbagai pekerjaan yang di perintahkan Brian. Dimulai dari mengeksekusi orang, menyiksa, menyandra dan membunuh siapa saja yang menjadi target Brian. Dermaga sepi itu menjadi base pria pria sangar yang hidup di bawah gaji Brian Susanto. Meraka akan melakukan hal apa saja untuk Brian.
Beberapa saat Kemudian silau cahaya lampu menerpa. Beberapa pria yang sedang duduk bermain kartu langsung bangkit dari duduk nya. Mereka berbaris rapih menyambut si pria yang baru saja tiba.
“Bos,” ucap mereka serempak.
Ternyata yang datang malam itu adalah Brian. Boss dari perkumpulan itu.
“Kamu ambil kotak dari bagasi mobil,” perintah Brian pada seprang pria. Kotak berisi botol botol minuman dan beberapa kotak rokok di angkut keluar dari dalam mobil. “Hadiah pesta kalian malam ini.”
“Terimakasih bos,” ucap mereka.
“Dimana kakek?” tanya Brian.
“Di dalam,” mereka menujuk sebuah peti kemas.
Brian menuju peti kemas yang sengaja tidak di tutup rapat.
Kakek Hendy sedang terbaring di atas lantai dengan tangan yang di ikat dan mulut yang di sumpal dengan kain.
“Apa yang kalian lakukan dengan nya? Siapa yang membuat kakek seperti ini. Bukankah sudah aku katakan, layani dia dengan baik?” ucap Brian penuh amarah.
“Maaf Boss, kakek ini begitu tempramen. Beberapa kali kami di pukul olehnya. Dan dia terus berteriak menyebut nama Arkan. Kami hanya takut jika di dengar orang lain yang melintas,” jelas seorang anak buahnya.
“Buka ikatannya.”
Beberapa pria membuka tali yang mengikat kaki dan tangan kakek, serta kain yang membekap mulutnya.
“Kakek,” panggil Brian.
“Kakek!”
Ia mengunakan kaki nya untuk membangunkan kakek yang saat itu sedang tergeletak tak berdaya.
“Kakek?!”
.
.
__ADS_1
.
TBC…