
Dari kantor pengacara, Wulan dan Arkan menuju hotel Puri dimana kakek, bi Indun dan Irma menginap. Hari itu Wulan hendak menjemput mereka untuk kembali ke rumah.
Sepanjang perjalanan Wulan masih kepikiran akan aset Brian yang sangat banyak itu. Wulan pun memberanikan diri bertanya kepada Arkan.
“Mas, semua harta Brian dari mana dia memiliki uang sebanyak itu?” tanya Wulan.
“Sejak paman sakit, paman sudah melimpahkan sebagian harta miliknya ke tangan Brian. Wajar dia putra tunggal paman, lagian sekarang paman sering sakit sakitan,” ujar Arkan.
“Kalau soal simpanan nya di luar negri?” tanya Wulan.
“Apa uang hasil jualan narkoba? Di gudang di pulau itu banyak sekali tumpukan peti kayu berisi barang itu,” ujar Wulan.
“Pasti uang simpanan nya berasal dari situ, makanya dia menyimpan uang itu di bank A. Mungkin uang itu akan ia gunakan untuk pencalonan dirinya menjadi presiden,” ucap Arkan.
“Jadi dipulau itu?” tanya Wulan lagi.
“Sudah nggak beroperasi. Setelah kejadian itu, paman menghentikan dia dari jabatannya sebagai CEO, digantikan oleh mama. Dan paman juga mengancam akan membongkar semua kejahatannya jika ia tidak meninggalkan dunia hitam itu. Paman sudah membersihkan namanya, dia tidak mungkin berani tampil sebagai capres dengan semua jejak hitamnya itu,” ucap Arkan.
“Mau di apakan uang sebanyak itu? Sumbernya aja nggak jelas.”
Arkan tersenyum mendengar ucapan Wulan.
“Ya jangan di pakai, kamu bisa gunakan itu untuk amal, membangun yayasan untuk anak yatim, atau kamu ingin memberikan uang itu kepada yayasan amal?” ujar ArkanZ
Perkataan Arkan ada benarnya. Uang haram bisa dipakai untuk kebaikan, ada banyak sekali orang di luar sana yang hidupnya masih kekurangan.
Uang yang tadinya membebani pikiran Wulan akhirnya sedikit tercerahkan. Ia berharap bisa melakukan hal baik untuk orang banyak.
Arkan dan Wulan tiba di hotel Puri menjelang siang hari. Wulan dan Arkan masuk bersamaan ke lobi hotel. Kaki Wulan yang masih di balut perban membuatnya harus melangkah dengan hati hati. Sandal khusus yang ia kenakan tak sedikitpun membuat kaki nya bisa melangkah leluasa.
Begitu tiba di loby hotel, mereka berpas pasan dengan Mail yang juga baru tiba di situ.
“Wulan,” ucap Mail seraya menghampiri Wulan.
“Mail, baru datang juga?” tanya Wulan karena saat itu Mail menghampirinya dari arah luar.
Mail membantu memegang lengan Wulan dari sebelah kiri, membuat Arkan yang saat itu berdiri di sebelah kanan Wulan, menatap tangan Mail tidak senang.
“Mail, kamu sudah kenal kan ini Arkan,” ucap Wulan untuk mengalihkan situasi canggun di antara Arkan dan Mail.
“Aku sudah kenal, kemaren kan ketemu di pemakaman nya Raya,” ujar Mail.
“Oh ya?” tanya Wulan pura pura lupa.
“Mas, Mail ini yang merawat kakek selama kami di pegunungan,” jelas Wulan yang sebenarnya juga sudah pernah ia ceritakan kepada Arkan.
Arkan hanya diam.
“Mail kamu nggak ada kerjaan di rumah sakit?” tanya Wulan.
“Sudah ijin, aku tukar shif malam dengan teman di rumah sakit,” ucap Mail. Ia masih memegang tangan Wulan menuju lift.
__ADS_1
“Aku pikir kamu nggak ke sini, aku berniat mengajak kakek keluar makan siang ini,” ucap Mail.
“Aku ke sini justru ingin menjemput kakek,” sahut Wulan.
Saat itu mereka sudah berdiri di depan pintu lift sambil menunggu lift tiba di lantai itu.
“Aku akan membawa kakek pulang,” ucap Wulan.
“Pulang ke?” tanya Mail.
“Pulang ke rumah.”
Wulan kini menatap pria kaku yang sedang berdiri di seblah kanannya.
“Mas, kenapa diam nggak bicara?” tanya Wulan mendongak menatap wajah Arkan yang datar tanpa ekspresi.
Siku Wulan menyenggol pinggang Arkan sambil tersenyum manis menatap Arkan.
Akhirnya Arkan melirik dan membalas senyuman itu.
Hati Mail seperti teriris melihat Wulan, ia menatap Arkan dengan cara berbeda.
Ting
Setelah lift berbunyi, pintu lift mulai terbuka. Beberapa orang keluar sari dalam lift, kemudian mereka bertiga masuk ke dalam. Lift membawa Arkan, Wulan dan Mail menuju lantai 5.
Tok tok tok
Pintu kemudian terbuka, Irma yang sedang menggendong Zaka berdiri di balik pintu.
“Zaka,” ucap Wulan dengan gembira.
Wulan dan juga Mail ikut masuk ke kamar itu. Wulan langung menuju kamar kakek yang memang tidak di kunci. Buto dan kakek sedang duduk sambil menonton acara berita siang itu.
“Kek,” sapa Wulan.
Wulan mengeluarkan sebuah kunci mobil ke tangan Buto. “Buto sementara pakai mobil mas Arkan dulu. Nanti setiba di rumah kamu bisa pilih mau pakai mobil yang mana,” ujar Wulan.
“Kakek, kita akan kembali ke rumah! Daripada tinggal terus di hotel ini, agak repot buat kakek naik turun lift setiap pagi,” ujar Wulan.
“Rumah yang mana?” tanya kakek.
“Rumah Wulan yang mana lagi, emang wulan pernah tinggal di mana?” ujar Wulan.
Kakek Hendy menatap wajah Wulan. “Kakek nggak mau tinggal di rumah itu, lebih baik kakek kembali tinggal di pegunungan. Disana kakek merasa lebih aman,” ujar kakek Hendy.
Arkan yang sudah berada di kamar itu mendekati kakek. “Atau kakek kembali tinggal di rumah Arkan kek?” tanya Arkan.
“Kakek juga nggak mau ke sana,” tolak kakek.
Wulan menjadi sedikit bingung dengan tingkah sang kakek.
__ADS_1
“Jadi kakek ingin tinggal di pegunungan sendiri?” tanya Wulan.
“Kamu tidak akan kembali ke sana?” tanya kakek.
“Wulan akan kembali ke sana kek, tapi di sini, di kota besar akan lebih mudah merawat sakit kaki kakek, donter nya ada di sini,” ucap Wulan.
“Ada Indun dan Irma, kakek akan pulang beraama mereka,” ucap kakek lagi.
“Kek, masa kakek ingin Irma dan bi Indun terus menganyam tikar setiap hari. Lagian Zaka juga tahun depan sudah mulai sekolah, di pegunungan dia akan sekolah dimana?” tanya Wulan.
Kakek terdiam sejenak. Ucapan Wulan memang benar. Tapi kakek tidak ingin tinggal di rumah keluarga Susanto lagi.
“Kakek, tidak ingin tinggal di rumah mu ataupun rumah Arkan,” ucap kakek yang terlihat lebih seperti seorang anak kecil yang sedang ngambek.
“Oke, kita akan cari apartemen.” ucap Wulan.
Kakek terus diam.
“Kek, jadi kakek mau tinggal dimana?” tanya Wulan lagi.
Tiba tiba bi Indun sudah berdiri di belakang Wulan.
“Ayo kita samua keluar dulu, biar Wulan bicara dengan kakeknya,” ajak bi Indun mengarah pada Arkan dan Buto.
Arkan dan Buto pun keluar dari kamar itu.
“Kakek ingin ngomong sesuatu dengan Wulan?” tanya Wulan sepeninggal Arkan dari ruangan itu.
“Kakek tidak setuju kamu menjalin hubungan dengan keluarga Susanto lagi. Sebenarnya kakek sudah tidak ingin punya urusan dengan keluarga itu. Setahun kita tinggal di pegunungan dan melihatmu hidup bebas, hati kakek sudah sangat bersyukur,” ujar kekek Hendy.
“Kek, tidak semua orang memliki sifat yang sama,” ujar Wulan dengan nada lembut.
“Satu penyesalan terbesar dalam hidup kakek, adalah menikahkan kamu dengan keluarga itu.”
“Kek, keluarga itu? Yang salah di sini adalah Brian. Dia sumber masalahnya. Wulan juga merasa menyesal menikah dengan nya, tapi Wulan tidak menyesal telah mengenal mas arkan.” ujar Wulan.
“Bukankah mereka sama saja? Apa yang mereka lakukan saat Brian berbuat jahat padamu? Johan? Dia diam saja dan tidak melakukan apapun. Arkan dia membiarkan dirimu setahun di pegunungan. Dia tidak pernah mencari mu. Kakek tau setiap hari kamu menghubunginya tapi tidak pernah terhubung,” ujar kakek.
Wulan memejamkan matanya.
“Ternyata kakek tau semua yang aku alami. Selama ini kakek diam saja, dia tidak pernah membahas hal ini.”
“Kakek tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya, kakek tidak ingin cucu kakek di perlakukan tidak adil oleh keluarga mereka.” ucap kakek dengan mata mulai berkaca kaca.
.
.
.
TBC…
__ADS_1