
“Carisa?”
“Sayang?”
Raya berusaha memasukkan ****** susunya ke dalam mulut Carisa tapi bayi kecil tidak merespon nya.
“Baby, ayo mimik susu,” ujar Raya.
Baby kecil Carisa tidak bergeming. Tubuh bayi kecil itu semakin lemah dan lunglai.
“Bu,” panggil Raya.
“Bu,”
“Bu tolong anak saya bu,” teriak Raya.
“Ada apa neng?” Sahut bu Mina dari arah luar kama.
“Carisa bu, Carisa kenapa?”
Saat itu bi mina sudah berada di dalam kamar.
“Eh, bayi kecilnya kenapa. Tadi nggak ada suara ngorok. Bapak, bapak?” teriak ibu itu yang kini menjadi panik.
“Selain demam tadi baik baik saja kan neng?” ucap ibu Mina.
Raya mendekatkan telinga di dekat hidung Carisa. Carisa sudah tak mengeluarkan suara.
“Carisa jangan tinggalkan mama, Carisa,” tangis Raya.
Ia terus memeluk erat tubuh Carisa.
Bu Mina ikut meraba hidung Carisa yang kini tak lagi menghembuskan nafas. Ia pun sadar jika Carisa saat itu sudah meninggal.
Bu Mina duduk di hadapan Raya kemudian memeluknya.
“Neng, bayi neng sudah tenang bersama Allah, dia tidak merasakan sakit lagi.”
Tidak ada ucapan lain yang bisa di ucapkan bu mina kepada Raya. Ia hanya terus mengelus pundak Raya agar bersabar.
Sudah satu jam Raya masih memeluk Carisa. Ia masih enggan melepaskan kepergian bayi kecilnya itu.
Bu Mina yang masih duduk di hadapan Raya tidak bisa berbuat apa apa. Ia hanya bisa memberi dukungan moral. Ia pun mulai membujuk Raya agar mengikhlaskan kepergian anaknya.
“Neng, ikhlaskan bayinya. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Perjalanan masih jauh ke depan,” ucap Bu Minah.
“Bu, bisa tolong makam kan anak saya dengan baik,” pinta Raya.
“Pasti neng, bayi kecil akan ibu makam kan. Ibu akan panggil pak ustadz untuk mendoakannya,” ujar Bu Mina.
Bu Mina menatap Raya. Air mata tak lagi menetes dari kedua matanya. Wajahnya berubah menjadi datar tanpa ada kesedihan lagi.
“Saya serahkan bayi saya ke tangan ibu. Suatu waktu saya akan ke sini melihat makam nya,” ucap Raya kemudian menyerahkan Carisa kepada bu Mina.
“Neng mau pergi ke mana?” tanya Bu Mina.
“Aku akan mencari bapaknya,” sahut Raya.
__ADS_1
“Ta tapi neng, tubuh neng masih belum pulih. Sebaiknya neng rawat dulu luka luka di tubuh neng,”
“Tidak bu, aku harus pergi sekarang,” ucap Raya tegas.
Ia melepas sebuah gelang dari tangannya kemudian memberikan kepada bu mina.
“Terimakasih karena sudah membantu ku bu, ambillah ini sebagai ucapan terima kasihku.”
“Eh jangan neng, bibi ikhlas bantu neng. Neng bawa saja gelang neng, mungkin neng lebih butuh,” tolak bu Minah.
“Ambilah, anggap saja ini sebagai imbalan untuk ibu menjaga anak saya,” Raya meletakkan gelang itu di tangan Bu Mina kemudian pergi dari ruangan itu.
Telat Raya sudah bulat, ia akan mencari Brian untuk membalas kan dendam kedua orang tuanya dan dendam anaknya Carissa.
Dari kampung kecil di pinggiran Jawa Barat, Raya kembali ke ibukota hari itu juga.
Ia mengubah penampilan nya, sekaligus sifat lemah lembutnya. Raya kini menjadi orang yang haus akan balas dendam.
Raya mulai mencari Brian di rumah kediaman Brian. Raya melakukan perencanaan nya sendiri untuk membalaskan dendam orang orang yang di cintainya.
.
.
.
Di suatu tempat tak jauh dari Raya bersembunyi ada seorang pria lainnya yang tengah memata-matai kediaman Brian.
Buto pun mengikuti nalurinya untuk datang ke rumah utama Brian. Dari rumah itu ia bisa mengikuti jejak Brian untuk menemukan Wulan.
—ooo0ooo—
“Aku hanya ingin menemui Brian yah, aku akan membujuknya. Mungkin saja dia akan memberitahukan keberadaan Wulan saat ini,” ujar Arkan.
“Pikirkan dulu baik baik, kamu akan mencari nya dimana? Dan mereka belum resmi bercerai. Jika kamu mencari istrinya apalagi membawa kabur istrinya tentu dia akan marah,” ucap Richard.
“Dia sudah menipu ku, dia melakukan kecurangan. Padahal aku sudah melepaskan hak vote dari rapat pemegang saham. Aku mendukung jya sebagai direktur dengan syarat ia harus menceraikan Wulan. Nyatanya? Tidak pokoknya, aku harus ke perusahan. Brian pasti ada di sana,” ucap Arkan.
Richard memejamkan matanya. Bagaiaman anaknya ini menjadi seperti orang gila sejak Wulan menghilang. Ia bahkan berencana masuk ke sarang Brian. Jika dia pergi sendirian tanpa perencanaan tentu dia tidak akan selamat.
“Baiklah jika kamu akan pergi ke perusahan. Ayah hanya minta jangan pergi ke tempat dimana anak buahnya berkumpul. Kamu pikir logika saja, jika kamu sendiri kamu akan bagaiamana?” ucap Richard yang terus mewanti wanti anaknya.
“Aku hanya akan menemuinya di perusahan, aku akan membujuknya. Aku akan memohon agar dia melepaskan Wulan,” ucap Arkan.
“Baiklah jika itu keputusanmu, ingat pesan ayah jangan gegabah. Ayah sudah mengutus orang terbaik untuk mencari Wulan. Seharusnya kamu tinggu saja kabar dari mereka. Mereka pasti akan membawa Wulan kembali,” Richard masih berusaha membujuk Arkan.
“Aku tidak bisa diam di rumah seperti ini. Setidak nya aku harus berusaha. Ayah jangan khawatir. Di kantor, Brian tidak bisa berbuat macam macam kepadaku,” ucap Arkan meyakinkan ayahnya.
Richard tak bisa berkata kata. Tekad Arkan sudah bulat.
“Arkan pamit pergi dulu,” Arkan menghampiri ayahnya kemudian memeluknya.
“Hati hati, jangan lupa hubungi ayah. Jika terjadi sesuatu kabari ayah secepatnya.”
“Baiklah.”
Arkan langsung pergi dari kediaman sang ayah. Hari itu juga dia langsung terbang menuju Jakarta.
__ADS_1
Hari pertama setiba di Jakarta Arkan langsung pergi ke perusahan mencari Brian, namun ia tidak berhasil bertemu Brian hari itu. Sekertaris Brian meminta Arkan untuk kembali keesokan harinya.
Keesokan harinya Arkan kembali ke perusahan untuk menemui Brian namun Brian belum juga menampakkan batang hidungnya di sana.
“Sebenarnya apa yang di kerjakannya. Di hari sibuk seperti ini, tapi dia tidak pernah ngantor. Begini caranya mengurus perusahan. Datang dan pergi semau mau dia!” dumel Arkan di depan ruangan Brian.
“Nindi, sudah berapa hari pak Brian nggak ngantor?” tanya Arkan.
“Hari ini hari ke tiga,” ujar Nindi.
“Apa kamu tau proyek yang di kerjakannya di mana?”
“Tidak, pak Brian hanya mengatakan akan meninjau proyek. Saya tidak tau proyek yang mana,” jelas Nindi.
“Dasar pria nggak becus, tapi masih mau menjalankan perusahan,” dumel nya lagi.
Saat itu juga ia teringat Soraya.
“Oh ya Soraya. Nindi kamu punya nomor telpon Soraya?” tanya Arkan.
Nindi menggeleng.
“Alamat rumahnya?”
“Nindi tidak tau pak, tugas nindi di sini hanya melayani pak Brian mengenai pekerjaan. Nindi tidak pernah tau urusan pribadi pak Brian.”
Saat itu Arkan masih terus menunggu di depan pintu ruangan Brian hingga sore hari.
Setelah pukul lima, Arkan memutuskan untuk pergi meninggalkan gedung tersebut.
Dari kantor, Arkan menuju kediaman Brian dan Wulan. Seperti biasa, rumah itu terlihat sepi dan kosong.
Tiiinnnnn
Tiiiinnnnn
Arkan terus memencet klakson mobilnya. Ia tau penjaga pasti akan keluar jika ia melakukan hal itu.
Benar saja, selang beberapa saat seorang pria keluar mengintip dari balik pintu kecil.
“Cari siapa pak?” ucap Pria itu.
Brian menurunkan kaca jendela mobilnya.
“Apa Brian ada di dalam?” tanya Arkan
“Bos lagi keluar kota. Sudah tiga hari belum kembali, mungkin belum akan kembali dalam waktu dekat,” ujar pria penjaga itu.
“Pak Brian ke mana?” tanya Arkan.
“Saya tidak tau, saya tidak punya hak menanyakan hal itu,” ujar penjaga itu ketus.
Arkan memutuskan memarkir mobilnya persisi di depan pagar. Tak ada yang bisa dilakukannya, tak ada salahnya jika ia menunggu di situ.
.
.
__ADS_1
.
TBC…