Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Tangis ku-


__ADS_3

Masih di restaurant Boutary milik Jenny. Setelah selesai menyantap menu special dari rumah makan tersebut, Jenny melanjutkan kembali percakapannya dengan Richard.


Mereka membahas kejadian yang terjadi akhir akhir ini dalam perusahan, membahas kakek Wulan yang kini menghilang, serta membahas masalah pabrik.


Setelah mendengar cerita Jenny akan kecongkakan Brian, Richard memutus kan akan mendukung Arkan merebut apa yang di inginkannya termasuk perusahan Wina Graha yang kini di kuasai Brian.


Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 3 sore. Richard harus kembali ke bandara. Sore itu ia ada penerbangan menuju Singapore pukul empat.


Sebagai vendor brand dari luar, tentu ia akan selalu bepergian keluar negri setiap saat. Waktunya setiap hari lebih banyak ia habiskan di luar negri.


—oo0oo—


Praaangg


Suara bantingan sebuah benda di atas meja terdengar begitu keras hingga membuat Wulan terbangun.


Saat itu Brian sudah berdiri di hadapannya.


Dengan keras Brian menarik tubuh Wulan. Wulan tak bisa menahan kekuatan Brian. Dalam sekejap dia sudah tersungkur di atas lantai.


Plak


Tak sempat Wulan bertanya, sebuah tamparan sudah mendarat di wajah Wulan.


“Apa yang kamu lakukan seminggu yang lalu?” tanya Brian dipenuhi emosi yang membara.


Brian menarik kerah baju Wulan, hingga mereka berdiri sejajar sekarang.


“Tu tuan ada apa?” tanya Wulan lemah.


“Kamu meyelidiki masalah pabrik di luar kota? Kamu mengusut pabrik yang tutup atas ijin siapa? Apa hak kamu diam diam mencampuri urusan ku?!” bentak Brian.


“Aku aku,”


Plak.


Plak


Lagi lagi tamparan mendarat di pipi Wulan hingga membuat tubuhnya terhuyung ke arah ranjang.


Sembari menahan pipi nya yang perih Wulan mulai menangis, terasa sangat menyakitkan di seluruh tubuhnya. Dadanya begitu sesak menahan derita batin dari pria yang nyatanya adalah suaminya.


“Hiks, sakit mas tolong jangan pukul saya,” Wulan memohon di sela isak tangis nya.


Brian tak diam saja, ia menarik Wulan lagi kemudian memukul tubuhnya berulang ulang. Tubuh Wulan tersungkur lemah di atas lantai, ia tak bisa bangkit sedikit pun untuk melawan. Setiap persendiannya terasa begitu kaku.


“Wanita bodoh. Kamu berani menyelidiki diriku. Apa ini perintah Arkan? Orang tolol, kampungan, rendahan, siapa yang menyuruhmu? cerca Brian membabi buta seraya menendang punggung dan tubuh Wulan.


Bugh


Bugh

__ADS_1


Bugh


“Yan! Kamu gila apa kamu akan membunuhnya?” cegah Soraya yang baru saja tiba sore itu.


“Wanita ini yang sudah gila, kamu tau apa yang di lakukannya? Dia menyelidiki kasus pabrik, dia berencana memenjarakan aku!”


“Jika aku ingin lakukan itu, pasti sudah aku lakukan. Tapi aku tidak melakukan hal itu sampai sekarang,” bela Wulan. Walau pun dengan sisa tenaga yang ada ia berusaha membela dirinya sendiri.


“Hah lihat, dia masih berani bicara?!”


Plak


Sebuah tamparan kembali mengenai wajah Wulan. Darah segar mengalir dari kedua hidung nya.


“Yan, kamu gila! Dia bisa mati. Kamu mau di penjara gara gara hal ini!”


“Hah. Tinggal buang saja wanita ini ke jurang, tak ada yang akan mencarinya. Bahkan kakek nya sudah meninggalkannya, tidak ada yang akan mencarinya.” ucap Brian penuh emosi.


“Pergilah, kembali ke kamar. Tenangkan emosi mu!” Soraya mendorong tubuh Brian keluar dari kamar itu kemudian mengunci pintu kamar tersebut dari dalam.


“Lan, bangun lah,” panggil Soraya sambil berusaha mengangkat tubuh Wulan dari atas lantai.


Dengan susah payah Soraya menariknya dari lantai, seperti nya Wulan sudah tak memiliki sedikitpun tenaga untuk menopang tubuhnya sendiri.


Soraya meraih sebuah tisu dari atas nakas kemudian menempelkannya ke hidung Wulan. Darah masih mengalir di sana. Soraya yang panik akhirnya keluar dari kamar karena kondisi Wulan yang begitu memprihatinkan.


“Bi bibi,” teriak Soraya panik.


“Bi?!”


“Bi tolong Wulan bi, ambil kompres es batu. Pendarahan di hidung nya sangat banyak, kita nggak mungkin membawanya ke rumah sakit. Cepat Bi,” ucap Soraya.


“Ba baik nona,” sambil menangis bi Narsih turun menuju dapur mengambil es batu seperti yang di perintahkan Soraya.


Soraya bergegas kembali ke kamar Wulan.


Segelas air dari dalam jar dituang ke sebuah gelas di atas nakas.


“Lan, kamu bisa duduk. Minum lah sedikit,”


Wulan menggelengkan kepalanya.


“Ayo lah Lan, minum sedikit,” Soraya membantu Wulan duduk, ia menjejal gelas ke mulut Wulan. “Please jangan buat aku panik, aku takut melihat kamu seperti ini,” ucap Soraya yang memang benar benar panik.


Wulan akhirnya meneguk beberapa tegukan.


Bi Narsih sudah tiba di situ dengan kain dan semangkok batu es.


“Nona,” bi Narsih menaruh mangkok es ke atas meja kemudian membungkus beberapa es ke dalam kain.


Bi Narsih terus menangis. Ia tidak tega melihat kondisi Wulan saat itu.

__ADS_1


“Bi, bagaimana ini?” tanya Soraya.


“Di tempelin aja dulu es nya di hidung nyonyah. Sini biar bibi saja,” pinta Bi Narsih.


Soraya bangkit dari duduk nya memberikan tempat untuk bi Narsih. Ia berpindah duduk di bawah kaki Wulan.


Bi Narsih mulai mengompres es ke hidung Wulan. Sesekali ia membuang tisu yang di penuhi darah kemudian di ganti dengan tisu yang baru.


“Kenapa nyonya bisa seperti ini ya Tuhan. Nyonya orang yang baik, jaga dan lindungi lah dia. Dia seperti ini aku tidak tega.”


“Nyah,” panggil bi Narsih.


“Gimana Nyah?” tanya bi Narsih.


Sedari tadi Wulan hanya berdiam tak mengucapkan sepatah katapun.


“Nyonya, jika ingin sesuatu bilang ke bibi Nyah. Nona Soraya juga masih disini. Nyonya baik saja? Atau kita bawa ke rumah sakit aja ya non?” ucap bi Narsih panik melihat Wulan yang terus diam.


“Lan, gimana? Aku akan bujuk Brian. Kita ke rumah sakit ya?” tanya Soraya.


Wulan menggeleng pelan.


“Aku nggak apa apa,” ucap Wulan, ia tak ingin merepotkan siapa pun disitu.


“Nyah, pendarahan di hidung sudah berkurang, tadi bibi sudah buatkan bubur. Sedari siang nyonya belum makan siang,” ucap bi Narsih.


“Dimana buburnya bi, biar aku yang ambil,” tanya Soraya.


“Di dalam lemari dekat microwave non,” jawab bi Narsih.


Sepeninggal Soraya.


“Nyonya, daripada disiksa di sini, bibi saranin nyonya tinggalkan saja rumah ini. Minta cerai saja, ini bukti KDRT nyonya, pengadilan pasti akan langsung putuskan dan tuan Brian itu bisa di penjara,” saran bi Narsih.


Wulan hanya diam tak menanggapi.


“Nyah, jika kakek tau nyonya di perlakukan seperti ini kakek pasti akan marah. Bagaimana pun kakek sangat menyayangi nyonya, dia pasti akan menjaga nyonya bahkan membantu nyonya agar pisah dari tuan Brian,” lanjut bi Narsih.


Mendengar ucapan bi Narsih Wulan malah menangis sesenggukan.


“Kakek, kakek dimana saja aku nggak tau. Aku tidak bisa menemukan kakek. Jika kakek tau aku diperlakukan seperti ini kakek, kakek akan jatuh sakit.”


“Lah Nyah, bibi salah ngomong yah? Kok malah nangis?”


“Tangis ku lah yang menjadi obat untuk rasa perih ini. Aku bisa apa? Balas dendam? Bahkan untuk bangkit dari sini saja aku nggak bisa. Bagaimana aku melindungi kakek, untuk melindungi diriku sendiri aku tidak bisa.”


Saat itu wulan terus menangis, menangis untuk mengobati hatinya yang sakit. Ia hanya bisa melakukan hal itu, dia begitu lemah dan tidak bisa melakukan apa pun. Ia tak berdaya. Jika ia masih bisa menangis mungkin itu adalah sebuah hal baik.


.


.

__ADS_1


.


TBC…


__ADS_2